Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
142. Uji kesabaran Bang Rinto.


__ADS_3

Suasana ramai terjadi di Batalyon dan Markas sekaligus. Para istri anggota begitu gembira karena komandan markas banyak memberi door price hari itu.


Acara hari ini menjadi sangat santai.


"Kapten Rinto nyanyi dulu..!! Lama saya nggak dengar suara merdunya" perintah Bang Satriyo. Bang Ucok pun akhirnya ikut menyetujui usul Bang Satriyo.


"Lagi batuk saya Bang." alasan Bang Rinto.


"Saya temani..!!" kata Anye tiba-tiba mengajukan diri untuk bernyanyi. Seorang anggota akhirnya menyerahkan sebuah mic pada Anye


Unine batin dungoku


Ra luput ko jenengmu


Anye mulai menyanyikan bait pertama. Karena sudah terlanjur, Bang Rinto pun melanjutkannya.


Aku ngedem - ngedem atimu


Bakoh mempertahankanmu


Gusti kulo pun manut dalane


Mung jenengan sing ngatur critane


Sing jelas aku mikir kedepane. Opo bakal hubungan satru seteruse


Tulung percaya aku sayang awakmu


Bang Rinto mendekap pinggang Anye seolah mengutarakan bahwa dirinya begitu mencintai Anye.


Buktine sampean nglirik liane


Sumpah ra koyo sing mbok pikir selama iki


Mas isoku meneng, ngajeni awakmu


Sepurane yen pancen salah


Sepurane yen aku neng uripmu mung masalah


Rangkulen aku. iki gur mung salah pahamku


Satru hubungan mung salah pahammu


Sampean kudu ngerteni, aku cemburu


Gusti kulo pun manut dalane


Mung jenengan sing ngatur critane


Bang Rinto mengecup sayang kening Anye gak peduli dengan keadaan sekitar.


Sing jelas aku mikir kedepane


Opo bakal hubungan satru seteruse


Tulung percaya aku sayang awakmu


Buktine sampean nglirik liane


Sumpah ra koyo sing mbok pikir selama iki


Mas isoku meneng, ngajeni awakmu


Sepurane yen pancen salah


Sepurane yen aku neng uripmu mung masalah


Rangkulen aku iki gur mung salah pahamku

__ADS_1


Unine batin dungoku


Ra luput ko jenengmu


Musik pun berhenti. Tepuk tangan meriah khusus untuk romantisnya Pak Danki untuk sang istri.


"Heii jabrik.. lupa kau masih ada kami disini??" tegur Bang Satriyo.


"Iyalah.. hanya ada saya dan Anye disini" jawab Bang Rinto tak kalah menyebalkan.


"Kau kira kami ini bukan orang??" kata Bang Satriyo lagi.


Bang Rinto tertawa renyah melihat wajah Bang Satriyo bersungut-sungut.


Anye kembali lagi pada tempatnya dan bergabung dengan Dira dan Ariani. Mereka bertiga langsung bisa bercanda dan tertawa bahagia seolah tanpa beban.


"Ayo kita keliling Batalyon dan Markas naik sepeda..!!" ajak Bang Satriyo.


"Jalan kaki khan bisa Bang" kata Bang Rinto heran.


"Nggak mau..!! nanti kakiku sakit, pegal, lecet semua Bang" jawab Bang Satriyo yang manja bagai wanita membuat Bang Rinto jadi geli mendengarnya. Apalagi tangan Bang Satriyo mencolek gemas pinggang Rinto.


"Astaga Bang, kalau mau bengkak.. biar bengkak deh. Biar Abang hidup Abang nggak ribet" kata Bang Rinto.


"Kalau nggak mau naik sepeda, gendong saja..!!" ancam Bang Satriyo.


"Ayo.. naik sepeda semua..!!" perintah Bang Rinto pada anggotanya karena menuruti keinginan komandan markas yang baru.


"Saya naik di depan..!!" kata Bang Satriyo langsung menyela duduk di depan sepeda Bang Rinto.


"Alaahh gustiii..!!!" Bang Rinto mengusap wajahnya dengan kasar karena sudah mulai kesal menghadapi seniornya yang usil itu.


"Kita mesra ya Bang" ucap Bang Satriyo menggoda Bang Rinto.


"Kalau nggak senior, sudah kucatok itu bibir Abang pakai catok rambut Anye" jawab Bang Rinto.


"Eeiittss.. ini senior..!! Mau saya jungkir kamu..!!" kata Bang Satriyo mengingatkan.


...


"Mundur sedikit Rin.. saya kejepit nih" protes Bang Satriyo.


"Harusnya Abang berdiri di belakang, bukannya duduk di depan bagai anak gadis..!!" jawab Bang Rinto.


"Nggak mau, saya maunya disini..!!" belum sampai Bang Satriyo menutup mulutnya, seekor nyamuk masuk ke dalam mulutnya itu membuatnya batuk dan tersedak.


Bang Rinto yang sedang mengendalikan sepeda, menjadi oleng dan tidak seimbang.


"Rem Rin..!!!!!" perintah Bang Rinto berjingkat panik di jalan turunan menuju pemancingan Batalyon.


Sialnya karena terlalu panik, rem sepeda itu jadi patah.


"Allahu Akbar.. rem nya patah Bang..!!!" pekik Bang Rinto. Tangannya pun mengambil HT yang masih bertengger di sakunya lalu melemparnya ke segala arah karena HT adalah benda sakral bagi pasukan.


"Hwaaaaa... saya mau loncat Rin..!! Saya nggak mau jadi gurame di empang" teriak Bang Satriyo ikut membuat panik anggota di belakangnya.


"Jangan banyak tingkah Bang...!!!!!" Bang Rinto sulit mengendalikan sepedanya.


Mata Bang Rinto terbelalak, di depan matanya sudah terlihat bilik bambu sebagai dinding lokasi pemancingan Batalyon.


"Awas Rin..!!!!" pekik Bang Arben.


Para anggota berteriak cemas dan akhirnya.


braaaaakkkkk.. byuuuurrrrr...


"Abaaaaang..!!!!!!" Anye berteriak ngeri karena Bang Rinto terjungkal ke dalam kolam ikan.


Bang Rinto dan Bang Satriyo tercebur ke dalam kolam pemancingan.

__ADS_1


"Hhkk.." Bang Rinto mual karena bau amis ikan.


Bang Satriyo pun akhirnya ikut mual karena tidak sengaja meneguk air kolam.


"Aduuhh Bang. Kok bisa sih" kata Arben berlari cepat mendekati Bang Rinto dan Bang Satriyo.


Arben, Gathan, Brian dan Ucok segera turun dari sepeda dan membantu kedua perwira yang tertimpa sial itu.


"Abaaaang..!!" dari jauh Anye sudah berlari menghampiri Bang Rinto yang sedang di tolong beberapa rekan anggotanya.


"Ya ampun Rin. Bagaimana caramu naik sepeda" tegur Bang Satriyo tanpa rasa bersalah.


"Abang menyalahkan saya?? Lihat Bang, disana terparkir rapi nama di depan sepeda 'khusus DanMarkas' " tunjuk Bang Rinto pada satu sepeda.


"Tapi saya mau yang itu" tunjuk Bang Satriyo yang sudah karam di kolam.


"Kalau saja bukan senior, gimana kalau kita saling tonjok Bang????" Bang Rinto mengusap dadanya.


"Lama-lama saya bisa usus buntu mikir Abang" jawab Bang Rinto.


"Kau ini berani-beraninya" gerutu Bang Satriyo.


Anye mengusap wajah Bang Rinto yang acak-acakan terkena kotoran dari kolam pancing.


"Apa yang sakit Bang?" tanya Anye.


"Nggak ada dek, tapi pinggang Abang keseleo" jawab Bang Rinto sambil memercing merasakan sakit.


"Kamu jangan pegang Abang. Abang bau sekali" kata Bang Rinto menolak tangan Anye dan sedikit menghindar.


"Benar Bang hanya keseleo saja..!!!!" tanya Anye memastikan.


"Benar dek" jawab Bang Rinto kembali mual lagi.


...


Bang Rinto bertelanjang dada setelah badannya disiram menggunakan air bersih. Rokok terselip di bibirnya yang sensual dari seorang pria. Tetesan air masih berjatuhan dari jambulnya yang menantang langit.


Anye sedikit risih saat para ibu muda memandang Bang Rinto dengan tatapan usil.


"Ayo ke ruangan Abang..!!" ajak Anye.


"Sebentar dek. Badan Abang masih berat, malas gerak" Jawab Bang Rinto.


"Abang mau ibu-ibu itu melihat perut Abang yang kotak-kotak seperti roti bantal?? Apa mau pamer badan Abang yang bikin mata para ibu muda itu jadi jelalatan??" tegur Anye.


Bang Rinto menunduk menyembunyikan senyumnya saat sadar Anye sedang kembali cemburu.


"Ayoo.. kita ke ruangan Abang"


#


"Cepat pakai baju yang benar Bang..!!" Anye sedikit mendorong dada Bang Rinto karena suaminya itu memepetnya hingga ke sudut dinding.


"Pakaikan..!!" rengek Bang Rinto manja, bibirnya sudah ingin menyambar bibir Anye.


"Bang.. ini di kantor. Jangan nakal.!!"


"Sedikit aja lah dek" Bang Rinto semakin nakal menggoda Anye. Desiran di dalam dadanya mulai naik turun.


tok..tok..tok..


"Rinto.. buka pintu..!! Pinjam baju donk..!!!" teriak seseorang di luar ruangannya.


"Duuhh.. Bang Sat..!!!!!!!!" gumam Bang Rinto sambil mengacak-acak rambutnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2