
"Apaaa??? Kamu nggak salah informasi khan?" tanya Arben pada petugas piket jaga.
"Siap tidak..!!!"
Rinto memijat pangkal hidungnya. Dari pos penjagaan mengabarkan bahwa tadi ada sopir online yang mengantar seorang wanita yang sedang menangis dan terlihat begitu lemah meskipun akhirnya wanita itu nampak tegar.
Kamu kenapa sih dek? Kenapa nggak bilang sama Abang.
Rinto segera berlari ke parkiran mobil dan langsung menuju kampus.
-_-_-_-
Anye berjalan dengan langkah gontai. Entah kenapa kepalanya tidak bisa berpikir dengan jernih. Biasanya ia bisa melawan apapun terpaan yang terjadi padanya, tapi kali ini ia sungguh tidak bisa berpikir.
Saat naik ke lantai atas, ia berpapasan dengan Seruni yang akan turun ke lantai bawah. Tak disangka Seruni menunduk, ia terpekik membuat Anye terkejut langsung menoleh ke arah Seruni dan refleks tangan Anye memegangi tangan Seruni yang terlepas dari pegangan anak tangga.
Anye tertarik tangan Seruni hingga keduanya jatuh berguling hingga ke lantai dasar.
"Anyeeeee..." mata Bang Rinto terbelalak melihat Anye nampak mengejang di lantai bawah. Rinto segera berlari kencang menghampiri istrinya. Tepat saat itu Hengky pun sedang menjemput Seruni. Hengky yang juga terkejut dengan kejadian itu segera menghampiri Seruni.
"Ya Allah dek.. Kenapa jadi begini????" Rinto sudah berlinang air mata.
"Seruni.. Kamu nggak apa-apa??" tanya Hengky pada Seruni.
"Nggak apa-apa Bang. Anye mendorongku. Untung aku masih bisa selamatkan anak Abang. Aku takut sekali" ucapnya dengan nada ketakutan.
"Heh b******k, Kalau sampai ada apa-apa dengan anak ku, ku pastikan akan kucincang istrimu itu. Bagaimana bisa seorang adik melukai kakaknya" bentak Hengky pada Rinto.
Rinto tak menggubris ucapan Hengky, yang ia tau saat ini hanya menyelamatkan anak dan istrinya. Rinto segera membawa istrinya ke rumah sakit.
-_-_-_-
Rinto lemas tidak berdaya di kursi ruang tunggu. Wajahnya sangat pucat. Ayah Rama tak kalah paniknya apalagi melihat seragam Rinto bersimbah darah dan tidak bisa di tanyai sama sekali.
Hengky datang dengan marahnya membawa Seruni. Nampaknya Hengky belum puas memaki.
Rama tak kalah marahnya, tapi saat ini Rinto yang lebih punya kuasa untuk menyelesaikan masalah ini.
"Heh Rinto.. Bagaimana caramu mendidik istrimu??? Tidak bisa mengarahkan istri liar"
"Jaga omonganmu..!!!!!" bentak Gathan tidak terima dengan ucapan Hengky.
"Anye sudah mendorong Seruni hingga ke lantai bawah. Untung saja kandungannya tidak bermasalah. Ini anak pertamaku. Tidak akan aku biarkan kalian menyakiti anak ku. Anye akan aku jebloskan ke penjara karena mencoba menganiaya Seruni" ucap Hengky berapi-api.
__ADS_1
"Apa kamu bilang????" Rinto berdiri dari posisinya. Hatinya panas mendengar ucapan Hengky. Rinto menarik kerah baju Hengky dengan emosi memuncak.
"Kemana logikamu? Kalau istriku yang mendorong.. Pasti istriku bisa lebih menjaga diri. Dia tidak akan terluka. Tapi kamu lihat..!!!! Istriku sedang terbaring lemah di dalam sana...!!!!!!"
Dokter Wira keluar dari ruang tindakan. Ia menghela nafas karena harus melihat Anye kembali lagi ke rumah sakit padahal baru satu hari Anye diijinkan pulang.
"Sudah selesai kalian buat keributan. Ini rumah sakit. Bukan pasar" ucap Dokter Wira menegur keributan yang terjadi di dalam rumah sakit tentara.
Ardi berlari masuk bersama Gathan. Dokter Wira melihat sudah banyak yang berkumpul disana.
"Tadi sudah saya jelaskan. Kandungan Seruni tidak ada masalah dan untuk masalah beberapa waktu yang lalu.. itu karena terlalu lelah saja"
Ardi menatap wajah putrinya.
"Tapi kandungan Anye.. bermasalah sejak awal. Jatuh dari lantai atas sangat fatal" saya sambung dokter Wira.
Dokter Wira seakan tak sanggup berbicara. Keluarga Rama dan Ardi sudah menjadi bagian dari hidupnya juga. Sudah seperti keluarga.
Rinto melepaskan cengkeramannya pada Hengky. Ia menatap tajam pada Seruni.
"Anye mendorongku.." ucap Seruni, ia bersembunyi di belakang punggung Hengky.
"Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa melibatkan Seruni???" tanya Papa Ardi.
"Kamu tanyakan saja apa yang dilakukan putrimu" ucap ayah Rama tanpa daya.
"Anye pendarahan hebat, jika besok pagi pendarahan berkurang.. calon bayimu masih bisa di selamatkan Rin" ucap dokter Wira penuh sesal.
Rasanya kaki Rinto tak bisa menapak. Ayah Rama dan Gathan menopang tubuh Rinto yang melemah. Mulutnya terkunci. Rinto begitu terpukul dengan kejadian ini. Saat ini pandangan nya antara sadar dan tidak.
Ezhar berdiri di hadapan Hengky lalu menarik lengan Seruni dengan kasar.
plaaaakk...
"Kamu adik Abang, Anye juga adik Abang. Abang sayang kalian berdua.. tapi tindakanmu ini sangat keterlaluan dan kelewat batas" tegur Ezhar dengan keras.
"Aku nggak melakukan apa-apa Bang" ucap Seruni dengan cemas.
"Kamu jangan berkilah. Abang punya buktinya..!!!!!!!" Ezhar menunjukan bukti itu di hadapan keluarga. Seruni berusaha merebutnya tapi tidak mudah mengambilnya dari tangan Ezhar.
Bukti itu menunjukan kalau Seruni berpura-pura terpeleset saat berpapasan dengan Anye. Anye yang panik berusaha menolong Seruni tapi Seruni menjegal dan mendorong Anye hingga terpelanting jatuh ke lantai bawah.
"Jika terjadi sesuatu pada anak dan istriku.. kamu pasti mati di tanganku..!!!!!" teriak Rinto tak terkendali. Saat ini Rinto sangat hancur dan berantakan. Hengky syok sampai tidak sanggup berkata-kata.
__ADS_1
"Maaf aku salah" ucap Seruni.
"Papa nggak nyangka hatimu sejahat ini. Tidak kasihan kah kamu sama mama papa yang mendidikmu?" tanya papa Ardi.
"Mamaku hanya mama Vania dan Mama Dinda. Karena Mama Yasmin, Mama Vania sakit" Mama Yasmin sudah membuat Mama Vania meninggal. Aku benci Mama Yasmin" teriak Seruni.
"Seruniiii..!!!" bentakan Papa Ardi begitu kencang hingga mengagetkan semua orang. Papa Ardi memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Papa menikahi Mama Yasmin bukan tanpa alasan" Ardi menitikkan air mata.
"Aku nggak mau dengar pa. Aku sudah tau kalau Mama Yasmin merebut papa dari Mama Yasmin" pekik Seruni menutup telinganya.
"Kamu salah..!!!!!!" ucap tegas Papa Ardi.
"Mama Yasmin menikah dengan Papa karena permintaan Mama Vania. Mama Vania sakit sebelum papa bertemu Mama Yasmin"
"Papa bohong.." Seruni berlari meninggalkan semua yang berada disana.
"Seruni....!!"
"Maaf pa, biar saya yang kejar Seruni" ucap Hengky.
-_-_-_-
"Ayo le, kamu jangan lemah..!! Bagaimana kalau nanti Anye bangun?? Dia sangat membutuhkanmu" kata Ayah Rama membujuk Rinto. Perasaan Rinto sangat hancur, mengapa selalu ini yang terjadi pada hidupnya. Ia begitu menginginkan hadirnya seorang anak.
"Anyee..." Rinto terus menggenggam tangan Anye yang belum juga sadar.
"Aku ingin anak ku yah" ucapnya sendu.
Papa Ardi sungguh tidak tega melihat Rinto. Dulu saat ia kehilangan anak pertamanya dari Dinda ( kini istri Rama ). Ia mengalami hal yang sama.
"Aku takut bila sesuatu yang buruk terjadi pada anak ku. Bagaimana aku harus menjelaskan pada Anye. Sekarang bernafas pun rasanya aku nggak berani pa" ucap Rinto pada Papa Ardi.
"Papa tau, papa tidak pantas untuk mengatakan hal ini. Tapi.. atas nama Seruni. Papa mohon maaf" Papa Ardi sampai menunduk meminta maaf pada Rinto.
Rinto tak bisa mengatakan apapun. Meskipun Papa Ardi meminta maaf padanya tapi perasaan kesal itu tidak bisa ia pendam.
"Maaf pa, aku bukan orang yang munafik. Aku tidak bisa memaafkan Seruni"
Tiba-tiba Anye menarik nafas panjang. Tangan itu menggenggam tangan Rinto dengan kencang.
.
__ADS_1
.
.