Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 6. Memang kebangetan.


__ADS_3

"Papa bilang apa Bang???" tanya Arnes lagi.


"Nggak bilang apa-apa. Memangnya kamu maunya Abang bilang apa neng. Abang lamar kamu gitu?" bisik Bang Zaldi balik bertanya.


"Arnes juga ogah di lamar om-om" jawab Arnes kemudian mematikan sambungan telepon.


Bang Zaldi hanya tersenyum kaku penuh tanda tanya. Senyumnya seketika hilang melihat ekspresi wajah Bang Seno yang menatapnya seolah meledek.


"Awas kalau bibirmu itu ghibah kesana kemari" Bang Zaldi menegur Bang Seno.


"Siapa yang mau ghibahin Abang. Saya juga nggak mau di sikap tobat sama Abang" jawab Bang Seno.


"Baguslah kalau kamu sadar posisi"


"Tapi kalau Abang jadi ipar saya, sungkem juga Abang sama saya" kata Bang Seno sambil memainkan alisnya.


"Nggak sudi" jawab Bang Zaldi.


"Eeiittss.. nggak ada restu dari kakak, Abang bisa apa???" ancam Bang Seno.


"Aahh kampret, repot betul kalau kakak iparnya macam begini" Bang Zaldi bersandar gemas di sisi samping Reo.


...


Hari sudah sore akhirnya truk reo itu hidup mesin juga. Tak diragukan lagi keahlian Bang Zaldi disana.


Arnes sejak tadi menatap Bang Zaldi. Bang Seno sungguh kasihan melihat adik perempuannya itu. Gadis lembut kesayangannya itu tak seceria dulu lagi.


"Saya duluan ke mess ya Sen. Badan sudah lengket banget nih" pamit Bang Zaldi.


"Nggak mau pamit sama nyonya dulu Bang?" goda Bang Seno.


Bang Zaldi tersenyum tipis sambil meminum kopi terakhirnya.


"Titip salam aja buat Arnes. Banyak makan, biar badannya nggak tipis seperti papan tulis"


Bang Seno tertawa mendengarnya. Ia baru tau ternyata Bang Zaldi diam-diam menyimpan rasa untuk sang adik.


***


"Selamat siang.. Letda Sangaji Bima Cakrasheta, Mohon ijin menghadap..!!"


"Silakan duduk..!!" Bang Zaldi menerima Letda Bima di ruangannya.


"Ijin Bang.. Bisa saya cari kost di luar?" tanya Bima.


"Bisa, tapi kamu hanya boleh tidur di kost kalau IB saja. Saya juga ada tempat kost. Dulu berdua dengan Irfan. Tapi dia menikah hari ini, jadi sekarang saya tinggal sendiri. Kamu mau sama saya??" Bang Zaldi menawari Bima.


"Boleh Bang kalau tidak merepotkan"


"Nggak lah, saya senang kalau ada teman" jawab Bang Zaldi.


"Nanti malam datang ke acara pernikahan Irfan ya. Biar kenal juga kamu sama anggota di sini dan sekarang kamu boleh menata barangmu di mess. Kamarmu di sebelah kamar saya khan?" kata Bang Zaldi.


"Siap Abang"


...


Siang hari saat Bang Seno mengisi bahan bakar. Tepat di depannya ia melihat Bryna yang sedang kebingungan. Ia pun menyapa Bryna.


"Hai Bryna.. Cari apa?"


"Sepertinya dompetku ketinggalan Bang" jawab Bryna.


"Ya sudah tinggal saja. Biar saya yang urus"


//


"Terima kasih banyak ya Bang atas bantuannya. Saya sudah panik karena dompet saya nggak ada" kata Bryna.


"Cuma masalah kecil, nggak usah di pikirkan" jawab Bang Seno.


"Ngomong-ngomong kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Aku mengajar anak-anak jalanan Bang" jawab Bryna.


Senyum Bang Seno mengembang tulus. Hatinya sungguh merasa bangga bisa bertemu wanita secantik Bryna.


"Aku berangkat dulu ya Bang..!!" pamit Bryna.


"Silakan dek"


...


Seorang pria menunggui Bryna yang sedang mengajar di bawah jembatan. Lama sekali tak bertemu dengan sahabatnya Bryna membuat Bima merasa rindu. Bima memang menaruh hati dengan gadis itu sejak lama. Keyakinan mereka yang berbeda membuat Bima masih belum berani mengungkapkan perasaannya.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Bryna selesai juga dari tugasnya. Bima pun menghampiri Bryna.


"Hai Bryn.. apa kabar?" tanya Bryna.


"Bang Bima??" mata Bryna berbinar melihat Bang Bima kembali hadir di hadapannya. Sudah lama sekali tak ada kontak lagi di antara mereka berdua. Bang Bima adalah kakak kelas Bryna yang paling baik dan selalu ada untuknya.


"Kapan Abang datang?" tanya Bryna.


"Semalam. Tadi pagi lapor datang dulu di Batalyon. Baru deh temui kamu disini" jawab Bang Bima.


"Jalan yuk..!!" ajak Bima.


-_-_-_-


Sore hari Bang Zaldi bergerak kesana kemari tak duduk tenang. Hatinya resah memikirkan Arnes yang tidak mau hilang dari pikirannya.


"Gimana ya caranya ketemu kamu dek. Papamu pasti marah" gumamnya.


Bang Zaldi bangkit dan memutuskan merokok saja di depan kamar mess nya. Tak lama Bima keluar dari kamarnya.


"Mau kemana Bim?" sapa Bang Zaldi.


"Mau ke rumah Dan Rinto Bang. Mau antar barang pesanan putrinya" jawab Bima.


"Kamu kenal putrinya??" tanya Bang Zaldi bernada sedikit kecewa.


Melihat raut wajah tajam Bang Zaldi, Bima pun bertanya-tanya dalam hati tapi tak mungkin ia berselisih dengan seniornya itu.


"Sini biar saya yang antar..!!" Bang Zaldi meminta kardus besar yang ada di tangan Bima.


"Tapi Bang.. ini...."


"Jangan suka bantah senior..!!" ancam Bang Zaldi.


"Siap salah"


...


Pak Rinto terpaku saat melihat Zaldi yang datang ke rumahnya membawa kardus besar.


"Bukankah seharusnya Bima yang bawa kesini??" tanya Pak Rinto.


"Ijin Dan.. Bima tidak bisa jadi saya yang mengantarkan kesini" jawab Bang Zaldi.


Kini Pak Rinto paham, pasti Zaldi sengaja membawa barang itu agar bisa mencuri waktu untuk melihat putrinya karena tidak mungkin anggota baru sampai tidak bisa menjalankan perintah 'komandannya' dan malah sampai meminta tolong pada senior.


"Kurang ajar betul itu si Bima. Saya suruh dia temui Arnes malah tidak datang. Apa maunya?" ucap Pak Rinto di buat sangat kecewa.


Ternyata Pak Rinto sudah menjodohkan Bima dan Arnes.


Wajah Bang Zaldi langsung berubah pias. Hatinya semakin gelisah saja karena Pak Rinto sudah 'memilih' Bima untuk putrinya.


"Ijin Dan.. Saya permisi dulu" pamit Bang Zaldi kehilangan semangatnya.


"Sudah terlanjur sampai sini. Ngopi dulu lah sama saya..!!" ajak Pak Rinto sedikit tidak tega menatap wajah Zaldi.


"Siap..." jawab Bang Zaldi yang tidak mungkin menolak ajakan atasannya.


//


"Rokok Zal..!!" Pak Rinto menegur Zaldi yang sedari tadi belum bicara sepatah kata pun.

__ADS_1


"Terima kasih Dan. Saya bawa..!!" Zaldi baru berani merokok setelah Komandannya itu menyulut rokok.


"Aahh.. Si Bima nggak datang. Terus siapa yang akan temani Arnes datang ke undangan" gumam Pak Rinto pelan.


"Ijin Dan.. Jika di perbolehkan, biar saya yang temani" kata Bang Zaldi tanpa takut dan patah semangat.


"Jangan harap. Dia belum mengenal kamu" tolak Pak Rinto.


"Saya hanya akan menemaninya saja. Tidak berniat buruk". kata Bang Zaldi.


//


Arnes tidak bicara sedikitpun di dalam mobil. Tanpa sadar baju mereka berwarna senada, warna nude yang kalem.


Bang Zaldi mencuri pandang ke arah wajah Arnes yang membuat jantungnya jedag jedug tak berarah. Bang Zaldi melonggarkan kancing jas nya karena keringatnya mengucur membasahi wajah.


Ayune tenan dek.. Bang Zaldi hampir tidak fokus dengan penampilan Arnes hari ini.


"Kenapa sih Bang, penampilan Arnes jelek ya. Daritadi kenapa melirik Arnes terus" tanya Arnes yang menyadari Bang Zaldi yang meliriknya.


"Sudah tau jelek kok tanya" jawab dingin Bang Zaldi.


"Asal Abang tau ya. Arnes ini sejak dulu jadi rebutan. Mungkin mata Abang silinder tipe katarak sampai bilang Arnes jelek" ucap Arnes dengan bangga.


"Kucing pakai bedak sama gayamu ini saja masih cantik kucing"


Arnes mencibir kesal mengikuti gaya bang Zaldi.


//


Bang Zaldi membukakan pintu mobil untuk Arnes. Para tamu undangan pun melihat cantiknya paras Arnes, sama seperti ibunya. Melihat banyak tatapan mata mengarah pada Arnes, Bang Zaldi sedikit tidak nyaman pasalnya baju Arnes itu menunjukan bahunya yang putih mulus.


"Jalan di belakang Abang..!!" perintah Bang Zaldi.


"Sejak kapan Om-om berubah jadi Abangnya Arnes" jawab Arnes tak mau tau.


"Sejak detik ini..!!" nada Bang Zaldi penuh penekanan.


"Nes..!!" tegur Bang Bima yang sudah rindu pada Arnes.


Baru saja Bang Bima merentangkan tangannya, Bang Zaldi memalang langkah Bang Bima.


"Jaga sikapmu Bima..!!" tegur Bang Zaldi.


Bang Bima pun tidak bisa berbuat apapun disana.


//


Bang Zaldi mengambilkan ice cream untuk Arnes dan tidak membiarkan Arnes kemana-mana membuat Arnes jengkel dibuatnya karena tidak bisa beranjak jauh.


"Abang di tugaskan Komandan untuk menjagamu. Bekerja samalah sedikit" kata Bang Zaldi sambil memberikan ponselnya juga pada Arnes agar putri Komandan itu tidak bosan karena ternyata ponsel Arnes tertinggal di mobil.


"Iisshh.. Abang nih" Arnes memonyongkan bibirnya, ngedumel tanpa bisa berbuat apapun sedangkan Bang Zaldi asyik berdiri di sampingnya sambil mengobrol dengan rekan-rekannya.


Sudah sekitar lima belas menit dia hanya duduk diam memainkan ponsel Bang Zaldi. Ia iseng mengecek isi ponsel itu, tak ada nama wanita satupun kecuali urusan pekerjaan.


Halah.. pencitraan.. pasti sudah di hapusnya tadi.


Arnes menoleh melihat Bang Zaldi yang sepertinya sudah lengah, ia pun perlahan beranjak dan ingin kabur untuk menemui Bang Bima.


Tau Arnes ingin kabur darinya. Bang Zaldi langsung menduduki rok milik Arnes yang tanpa pemiliknya sadari sudah menjuntai mekar sampai ke kursi Bang Zaldi dan karena hal itu sampai pengait di rok Arnes terlepas.


"Iihh Abang"


Bang Zaldi mendengarnya tapi seolah pria itu tak peduli karena sedang mengobrol.


"Baanng.. pengait rok Arnes lepas" bisik Arnes sedikit mendekat di belakang Bang Zaldi.


Bang Zaldi pun sedikit merapat pada Arnes. Tangannya beralih memegangi belakang rok Arnes yang terlepas pengaitnya.


Arnes hanya bisa melirik kesal merasakan sikap dingin dan kaku Bang Zaldi padanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2