Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 13. Lumayan berat.


__ADS_3

Cukup tenang jika ada kesamaan.


🌹🌹🌹


Sesampainya di mess. Bang Zaldi menatap lingkungan sekitar. Amat sangat berbeda dan jauh dengan keadaan di Jawa. Di Sini segalanya amat sederhana. Bang Zaldi menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mulai berpikir apa nanti Arnes akan kuat hidup di lingkungan seperti ini.


Dilihatnya kardus besar dan bebek dari Arnes untuknya. Senyumnya mengembang lepas.


"Dasar.. bisa aja kamu dek" gumamnya lalu membuka kardus yang membuatnya penasaran.


"Ya ampun.." satu persatu Bang Zaldi mengeluarkan isinya. Ada banyak bahan makanan disana, obat-obatan. Yang lucu lagi, Arnes membawakan air mineral disana.


"Pantas berat sekali, apa disini nggak ada air bersih sampai air saja harus di bawakan dari Jawa??" Bang Zaldi menggeleng geli.


"Racun tikus?? Ya Allah dek, kamu ini benar-benar ya"


Bang Zaldi masih membiarkan barang bawaannya. Ia menyambar boneka bebek dari Arnes dan menciumnya.


"Kapan majikanmu yang bawel itu ikut Abang kesini?? Masa hanya anak buahnya saja yang ikut" tak lama Bang Zaldi tertidur sambil memeluk boneka bebek milik Arnes. Ada wangi Arnes yang membuatnya tenang.


***


Tiga bulan kemudian.


"Dimana kamu??" tanya Bang Zaldi.


"Masih kerjakan laporan skripsi Bang. Sebentar lagi selesai" jawab Arnes yang menerima panggilan video call Bang Zaldi di jam sembilan malam.


"Ya Allah dek.. ini sudah malam. Tau jam nggak kamu??"


"Khan Abang yang minta Arnes cepat wisuda" jawab Arnes.


"Tapi yang tau waktu donk dek. Sudah malam ini. Bahaya perempuan keluar malam sendirian" Bang Zaldi mulai naik darah kalau tau Arnes belum pulang juga.


"Iihh.. Ini nih lihat.. Arnes sama Bang Bima. Abang nih marah terus" protes Arnes.


"Siapa suruh kamu berbelit-belit. Abang disini kerja sampai pikiran mau pecah. Kamu lagi ada aja bikin naik darah" tegur Bang Zaldi.


"Besok pagi Abang pulang lah, mau pastikan kamu nakal apa nggak disana"


***


Sore hari Arnes duduk di ruang tamu. Kakinya di naikan di atas kursi sambil makan kue kering di dalam toples yang ia letakan di atas perutnya.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. Abaaaanngg???" Arnes begitu kaget saat melihat Bang Zaldi ada di rumahnya.


"Kamu tau nggak ada anggota yang jaga rumah, ganti pakaian..!!!!!!!" perintah Bang Zaldi tegas.


Arnes langsung melompat dari kursinya karena takut melihat tatapan mata Bang Zaldi.


//


"Ya sudah sana. Keburu malam..!!" Papa Rinto mengijinkan Bang Zaldi untuk menemui ibunya karena Bang Zaldi hanya punya waktu lima hari saja di Jawa.


"Siap Dan.. terima kasih" jawab Bang Zaldi masih formal.


//


Di terminal, Bang Zaldi mengecek semua laporan keuangan pekerjaan sampingan nya lalu segera naik ke atas bus bersama Arnes. Hanya dua jam perjalanan saja menuju desa tempat ibu Bang Zaldi berada.


//

__ADS_1


Ibu Bang Zaldi membuka pintu rumahnya, Ibu tersenyum karena ternyata tengah malam itu putranya yang datang, tapi senyum ibu semakin lebar saat tau Bang Zaldi membawa seorang wanita pulang ke rumah.


Arnes berdiri dan bersembunyi di belakang punggung Bang Zaldi.


"Ini ibunya Abang. Ayo salim dulu sama Ibu..!!" kata Bang Zaldi.


Arnes menunduk mencium tangan ibu Bang Zaldi.


"Assalamualaikum Bu. Maaf Arnes datang malam-malam" ucapnya lirih.


"Owalah ndhuk.. kalem tenan. Makanya Mas Zaldi mu ini sampai kepincut" kata ibu.


"Ehemm.." Bang Zaldi menerobos masuk agar ibunya tidak bicara macam-macam.


"Dia biasa panggil Abang Bu, lingkungannya sudah biasa begitu"


"Oohh.. ya wes.. Nggak masalah mau panggil apa juga"


"Kok datang nggak kasih kabar. Sudah pada makan apa belum?" tanya Ibu Bang Zaldi.


"Sudah Bu. Ibu nggak usah bingung" kata Bang Zaldi.


"Ya sudah Ayo.. Ibu antar ke kamarmu ndhuk..!!" ajak Ibu menggandeng tangan Arnes.


"Maaf ya ndhuk, kamu tidurnya pisah sama ibu. Kamu khan nggak biasa tidur di dipan. Kalau ibu nggak bisa tidur di kasur..!!" kata ibu sambil membuka pintu kamar.


"Ini kamarnya Bang Zaldi kalau lagi pulang. Kamu tidur disini ya. Bang Zaldi tidur di ruang tv"


"Iya Bu" Arnes sedikit gelisah karena ranjang di kamar Bang Zaldi hanya berukuran satu kali dua meter. Arnes menelan ludah dengan kasar tapi ia menyembunyikan rasa gelisahnya.


...


Arnes tidak tenang di ranjangnya. Hanya bergeser kesana kemari tidak jelas. Memang sudah kebiasaan sebelum tidur, ia harus ke kamar mandi dulu. Tapi kali ini rasanya ia cukup malu mengatakannya karena gengsi minta di antar Bang Zaldi. Di depan rumah Bang Zaldi hanya ada pancuran dari gentong berukuran sedang untuk mencuci tangan dan kaki.


Arnes membuka pintu belakang dan mengendap pelan. Tidak ada cahaya disana hingga tanpa sengaja dirinya terpeleset.


buugghh... kreeeeekkk.. bluuunggghh..


Suara keras itu mengagetkan Bang Zaldi sampai pria itu berjingkat dari tidurnya.


"Aawwhh.. aarhhh.. sakiiit"


Secepatnya Bang Zaldi mendatangi sumber suara di belakang rumah. Ibu Bang Zaldi pun ikut bangun dari tidurnya.


"Suara opo le?"


Bang Zaldi belum menjawab ibunya tapi matanya sudah tertuju pada Arnes yang terjungkal di kubangan sapi dan kerbau milik ibunya.


"Astagfirullah hal adzim dek. Ya Allah.. kok bisa itu lho kamu sampai terjungkal di situ??" Bang Zaldi langsung menolong Arnes.


"Haduuhh ndhuk.. mana yang sakit??" ibu Bang Zaldi jadi ikut panik.


//


Bang Zaldi membawakan segelas teh hangat untuk Arnes yang masih menggigil kedinginan di dalam rumah.


"Air panasnya sudah le?" tanya Ibu.


"Sebentar lagi Bu" jawab Bang Zaldi sambil meniup teh hangat lalu meminumkan teh itu pada Arnes.


"Pelan-pelan..!! Sebenarnya kamu mau apa tengah malam kelayapan seperti maling?" tanya Bang Zaldi.


"Arnes mau pipis"

__ADS_1


"Apa tenggorokanmu itu sudah nggak bisa bersuara lagi sampai nggak bisa bangunkan Abang??" ucap kesal Bang Zaldi.


"Malu lah Bang.. Masa pipis aja harus bangunkan Abang. Arnes khan belum jadi istri Abang" mendengar itu, Bang Zaldi tidak bisa berkata apapun lagi.


Ia segera menimba air di tengah malam. Paling tidak, saat ini adalah waktu yang tepat untuk Arnes belajar karena di tempat tugasnya, di Sulawesi sana.. seperti inilah keadaannya.


//


"Bang.. kenapa rumah ibu seperti ini??" tanya Arnes yang penasaran sambil mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


"Ya ini keinginan ibu, dulu waktu rumah ini masih apa adanya seperti ini, bapak meninggal waktu usia Abang masih tiga tahun. Jadi ibu tidak mau lagi rumah ini di ubah karena ini kenangan dari almarhum bapak. Yang bisa Abang kasih untuk bahagiakan ibu ya sapi, kerbau, kambing, ayam, tanah, sawah.. ya semacam itulah. Tradisional saja meskipun Abang juga yang mengawasi pengelolaan peternakannya. Kalau Abang khan punya armada, bengkel, perkebunan, lebih modern sedikit"


"Oohh.." ucapnya sambil menyelesaikan acara mandi terakhirnya.


"Ayo Bang.. Arnes sudah selesai" ajak Arnes.


Jantung Bang Zaldi nyaris melompat saat melihat Arnes hanya berbalut handuk selutut yang melingkar di badannya. Bang Zaldi menundukkan pandangan. Sungguh Bang Zaldi bingung harus bagaimana. Disisi lain Arnes belum halal baginya, tapinya batinnya berontak dan bergejolak.


"Pakaianmu mana??" tanya Bang Zaldi.


"Di kamar Bang" jawab Arnes tanpa rasa bersalah.


"Kenapa tadi lihatnya begitu?? Abang pengen ya??"


Bang Zaldi berdecih lalu berjalan menghindari Arnes.


"Nggak usah banyak berkhayal, lihat yang begituan Abang biasa saja"


Arnes yang kesal segera mengikuti langkah Bang Zaldi karena ibu sudah kembali tidur. Bang Zaldi mempercepat langkahnya.


"Ya Allah.. kuatkan batinku.. Aku ini selayaknya pria lain yang mudah tergoda indahnya dunia"


//


Bang Zaldi sudah mematikan lampu rumahnya kembali, terakhir ia akan mematikan lampu kamar. Arnes berlari lalu menubruk Bang Zaldi. Tangan itu bergelayut di belakang tengkuk Bang Zaldi.


"Jangan pergi ya Bang..!! Arnes takut" ucapnya.


"Kita khan satu rumah dek" jawab Bang Zaldi dengan suara berat.


"Nggak mauuu" Arnes merengek berjinjit di hadapan Bang Zaldi. Wajahnya terlihat sedih dan ketakutan.


"Abang temani, tapi tolong jangan begini.!!" Bang Zaldi melingkarkan tangannya ke pinggang Arnes. Sebelah tangannya lagi mematikan lampu kamar dan mengunci pintunya rapat. Nafas Bang Zaldi mulai memburu.


"Abang kenapa??" tanya Arnes sedikit takut dengan perlakuan Bang Zaldi.


"Kenapa dek.. Kenapa menuju halal rasanya begitu berat. Abang takut nggak bisa menjagamu" ucapnya tapi tidak sebanding dengan kelakuannya yang terus menyerang Arnes penuh nafsu birahi.


Rasanya Arnes ingin menangis, tapi ia harus kuat dan tegar menghadapi cobaan dari sang calon pendamping hidup. Arnes melepaskan pelukannya.


"Abang mau? Kalau Abang menginginkannya sekarang, Abang boleh ambil sekarang" perlahan Arnes melepas kancing bajunya lalu sekilas mengecup bibir Bang Zaldi. Bang Zaldi pun menagih dan terus ingin menyerang Arnes. Arnes meraih tangan Bang Zaldi lalu menyentuhkan di perutnya.


"Ingat ibumu Bang.. dari sini juga nanti anak-anak Abang akan tumbuh. Abang tega melampiaskannya sekarang dengan menyakiti hati Arnes?? Arnes ingin Abang perlakukan sebaik-baiknya seorang istri.. bukan sebagai wanita penghibur Abang" ucapnya lembut berusaha menyadarkan Bang Zaldi.


"Astagfirullah.. Maaf dek. Maafin Abang. Abang nggak sengaja"


"Memang sebaiknya Abang keluar. Kamu tidurlah. Nanti Abang jaga kamu di depan pintu" Bang Zaldi pun segera keluar dari kamar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2