Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 109. Takut menyakitimu.


__ADS_3

Arnes berhenti berjalan saat Bang Zaldi menggandengnya ke sebuah hotel yang jaraknya tidak jauh dari alun-alun kota.


"Kenapa kita kesini Bang?"


"Terlalu banyak orang di rumah. Abang pengen punya quality time sama kamu" jawab Bang Zaldi.


Wajah Arnes masih terpaku heran. Kalau sudah seperti ini pasti Bang Zaldi tidak akan mudah melepaskannya begitu saja.. lalu bagaimana dengan anak-anak.


"Anak-anak sama Oma dan Opa nya. Kamu tenang saja" ucap Bang Zaldi seolah tau pikiran istrinya. Ia segera mengajak Arnes berjalan ke lobby hotel.


...


Arnes terdiam karena masih kesal pada suaminya. Ia juga seorang istri yang ingin mendapatkan perhatian lebih lama.


"Sebenarnya tadi sudah lama lho dek. Tapi karena kamu masih pengen jadi Abang bawa kamu kesini" kata Bang Zaldi.


"Sudah nggak lagi. Abang tau khan bagaimana kalau rasa sudah hilang. Ayo kita pulang..!!" Arnes bersiap membuka pintu kamar tapi Bang Zaldi menghalanginya.


"Maaf dek. Tadi Abang benar-benar capek.. jadi nggak bisa seperti biasanya. Sekarang mau Abang ganti nggak?? Mumpung Abang sudah segar ini" kata Bang Zaldi.


"Abang sudah persiapan khusus untuk Bu DanSat"


Arnes tersenyum malu tapi masih sempat menyembunyikannya.


"Malu-malu kucing segala. Gaaasss ayooo...!!!!!!!"


...


Bang Zaldi dan Arnes tidak tau bahwa pihak pengacara dari Ibu Inggrid menyampaikan rasa keberatan atas tuntutan Kapten Erzaldi meskipun kesalahan ibu walikota itu sudah di proses secara final. Pihak ibu Inggrid meminta maaf dan ingin pihak Kapten Erzaldi menarik tuntutan atas dirinya.


"Saat ini Kapten Erzaldi beserta istri sedang tidak berada di tempat. Tapi mewakili pihak Kapten Erzaldi.. kami menolak pencabutan tuntutan atas Ibu Inggrid" jawab Papa Rinto.


"Apa Kapten Erzaldi ingin hunian di Central Green?" tanya pengacara tersebut.


"Tidak.."


"Atau jalan-jalan ke Singapura? keliling Dunia??" tanya pengacara itu lagi.


"Uang Kapten Erzaldi bahkan bisa membeli mulut anda pak" jawab Papa Rinto mulai geram.


"Bagaimana kalau 'hiburan' untuk 'liburan' Kapten Erzaldi"


Seketika Papa Rinto terbakar emosi. Beliau tidak terima pengacara itu menawarkan wanita untuk Zaldi.


"Keluar kamu dari rumah ini atau kamu akan pulang hanya tinggal nama" bentak Papa Rinto.


***


Arnes menggeliat di ranjangnya. Hari belum subuh tapi dirinya terbangun karena badannya terasa sakit. Bahkan pahanya pun rasanya sangat kaku untuk di gerakkan.


Bang Zaldi akhirnya terbangun mendengar kasak kusuk di sebelahnya.


"Kenapa dek?" tanya Bang Zaldi dengan suara khas baru bangun tidur.


"Badan Arnes sakit Bang" jawabnya jujur.

__ADS_1


Dengan sigap Bang Zaldi langsung duduk dan memijat badan Arnes terutama kakinya.


"Kamu sendiri lho ya yang minta. Abang sih manut saja, sekuatmu. Tapi kalau jadinya sakit begini terus bagaimana? Perutnya sakit nggak??"


Bang Zaldi harus mengakui sejak hamil memang Arnes begitu menggairahkann dan menyilaukan matanya. Bahkan dirinya sampai tidak tahan meskipun hanya melihat leher bersih dan mulus milik istrinya itu.


"Nggak Bang. Kaki saja yang sakit" jawabnya jujur.


"Ya sudah cepat tidur, Abang pijat. Nanti Abang bangunkan kalau sudah adzan subuh" kata Bang Zaldi.


Sambil memijat, ia melihat berita di ponselnya. Ada rekaman video dari Bima yang belum ia buka karena Arnes belum benar-benar tidur. Ia hanya membaca informasi dari kakak iparnya itu.


Bim : Abang sudah di sediakan penyemangat tuh kalau mau bebaskan si Inggrid.


Me : Adikmu saja sudah merepotkan, saya nggak mau hancur di hantam adik cantikmu.


Bim : Tawaran langka nih Bang.


Me : Matamuuuu... Kalau ada yang rahasia sih boleh 😜🤣🤫.


Bim : Lah, saya kira nolak Bang 🤣.


Me : Diam lu. Adikmu bangun bisa mati saya di hantamnya"


Bang Zaldi memperhatikan wajah polos Arnes. Tak tega rasanya jika istrinya harus terus menerus di hadapkan dengan masalah seperti ini.


Apapun akan Abang lakukan untuk kamu dan anak-anak. Sehat-sehat ya kamu sayang.


...


"Abang mau ke kantor dulu ya. Kamu istirahat saja dan jangan kemana-mana" perintah Bang Zaldi.


Para lelaki mengikuti Bang Zaldi. Tak biasanya Opa Rama dan Papa Rinto ikut ke kantor bersama suaminya.


"Ada apa ma? Kenapa Opa dan Papa ikut Abang ke kantor?"


"Opa penasaran sama mini zoo buatan suamimu, makanya pengen lihat sama papa" jawab Oma Dinda.


"Ooohh.. aku kira ada masalah" Arnes memasang wajah seolah tak peduli, tapi ia tidak bisa begitu saja percaya ucapan Mama dan Oma.


"Arnes mau tidur ya ma. Capek nih" alasannya.


...


Bang Zaldi sudah emosi saat menerima surat dari pengacara.


"Apapun yang akan mereka lakukan, aku tidak akan menarik tuntutan ku pa"


"Iya Papa tau. Makanya papa semalam sudah bilang sama pengacara itu kalau kita menolak tawarannya" kata Papa Rinto.


"T*i, dia pikir saya ini laki-laki macam apa?" gerutu Bang Zaldi.


"Ditawari kok cuma satu" gumamnya pelan.


Papa Rinto dan Opa Rama tertawa mendengar gerutuan Bang Zaldi.

__ADS_1


"Kalau berani sama Nyonya Zaldi ya silakan saja ngelaba. Papa ijinkan.. tapi siapkan badanmu juga, barangkali tulangmu langsung remuk" kata Papa Rinto.


"Kita ini laki pa. Bukannya nggak berani, tapi buat apa sih kita pertaruhkan pernikahan hanya karena hal yang istri kita juga punya. Cantik atau tidaknya istri.. semua tergantung kita para suami" jawab Bang Zaldi malas.


"Hmm.. dia ingin bertemu denganmu. Kalau tidak.. dia akan mengambil Ryan darimu juga melaporkan kasusmu ke atasan karena kamu memakai obat terlarang" kata Opa Rama.


"Tidak ada yang bisa mengambil Ryan dariku. Dia memang bukan darahku. Tapi dia hidup dari kerja kerasku" ucap Bang Zaldi tidak main-main.


"Dan tolong Arnes jangan sampai tau segala masalah ini. Dia sangat menyayangi Ryan. Saya tidak mau kehamilannya terganggu karena hal ini"


//


Bang Zaldi melihat Arnes sedang memberi makan Om Chiko.


"Sejak kapan kamu disini? Kenapa nggak ke ruangan Abang?" tanya Bang Zaldi karena tidak biasanya Arnes tidak menemuinya.


"Baru saja" jawab Arnes.


"Apa si Chiko itu lebih tampan daripada Abang?"


"Iyalah.. setidaknya dia tidak bohong pada pasangan dalam hal apapun" kata Arnes.


"Sok tau..!! Banyak ngayal kamu"


"Itu faktanya Bang"


"Abang nggak pernah berniat membohongimu. Yang Abang lakukan hanya ingin melindungimu" jawab Bang Zaldi.


"Arnes bukan hewan langka yang butuh di lindungi. Abang butuh suami yang jujur dalam segala hal. Tapi Abang selalu menyimpan banyak kebohongan di depan Arnes" pekik Arnes.


"Siapa yang anggap kamu hewan langka?? Abang tidak ada niat bohong. Apa Abang salah kalau Abang berusaha mengurangi beban pikiranmu. Tingkat stress mu sudah terlalu tinggi dan itu tidak baik untuk anak kita"


"Dengan Abang bohong, Abang akan semakin buat Arnes stress" Arnes sampai berteriak di hadapan Bang Zaldi.


"Abang sudah pernah peringatkan kamu agar tidak berteriak di hadapan Abang karena Abang paling benci perempuan yang tidak menghargai laki-laki" ucap Bang Zaldi terpancing amarah.


"Terus Abang mau apa? Pukul Arnes???" tantang Arnes tanpa rasa takut. Arnes kesal sekali melihat tatapan mata Bang Zaldi, ia menendang lengan Bang Zaldi dengan kencang.


Bang Zaldi menepis kaki Arnes, menangkap tangannya lalu menekuk tangan Arnes. Secepatnya Bang Zaldi mendekap Arnes dari belakang.


"Ternyata diam-diam kamu sudah mencuri dengar obrolan para laki-laki. Itu perbuatan yang tidak di benarkan. Jangan sampai informasi di telingamu baru setengah, tapi semua sudah kamu telan mentah-mentah" Bang Zaldi semakin mengencangkan dekapannya.


"Sekarang Abang tanya.. kamu kuat kalau Abang menemui Inggrid hanya berdua saja?? Kalau Abang tidak menemuinya, Inggrid akan mengambil anakmu Ryan"


Arnes seketika membisu mendengar ucapan Bang Zaldi.


"Jawab..!!!!!!!" bentak Bang Zaldi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2