Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 54. Saat aku di rumah.


__ADS_3

Sejak melihat papanya si kecil Ibra begitu lengket dengan papanya. Bahkan saat jamuan makan malam pun Ibra menolak berpisah dengan papanya.


...


"Saya permisi mendahului Bang.. semuanya..!! Anak saya sudah rewel nyari mamanya. Ngantuk ini sepertinya" pamit Bang Zaldi pada senior dan para rekan lainnya.


"Anaknya apa papanya nih yang rewel????" ledek Bang Acep.


"Ijin Bang. Dua-duanya" jawabnya dengan cool meskipun sangat memalukan.


"Ini mau persiapan juga, mumpung malam Jum'at nih Bang. Ibadah bareng istri dulu" ucapnya kalem tapi terkesan nakal.


"Lanjuuuutt..." Bang Acep dan Wadanyon mengacungkan jempolnya.


...


Arnes menggeleng melihat Bang Zaldi menidurkan Ibra di atas perutnya. Arnes sedikit melirik suaminya yang sedang bertelanjang dada. Agaknya Bang Zaldi semakin gagah meskipun kulitnya semakin gelap saja terpanggang matahari.


Tak berbeda dengan Bang Zaldi yang mulai berdesir tidak jelas melirik istri tercinta semakin padat berisi usai melahirkan. Lekuk tubuh itu semakin menggoda naluri nya. Sekilas ia mengintip Ibra yang sudah tidur pulas. Hatinya gelisah, debaran jantung tak menentu tapi bukan Zaldi namanya kalau tidak bisa menyimpan rasa gugup itu.


Amaaann broo.. pokoke gass poollll.


Bang Zaldi menepuk pantat Ibra dan memisahkannya jauh di ujung ranjang dan membatasinya dengan bantal. Suami Arnes itu pun memeriksa ranjangnya, memastikan arena pertempuran akan aman nantinya.


"Ehemm.." Bang Zaldi berdehem, ia harus memulai dari mana merayu sang istri yang sedang duduk dan sibuk membongkar bucket spesial yang ia bawa tadi.


"Dek.. duduk disini donk..!" Bang Zaldi menepuk sisi kosong di ranjangnya.


"Sebentar Bang, Arnes mau hitung dulu"


"Besok masih bisa dek. Hitunglah sepuasmu" bujuk Bang Zaldi.


"Katanya rindu Abang?" tanya Bang Zaldi.


Arnes masih diam saja. Sampai ia terdiam memandangi uangnya.


"Bang.. yang ini kurang lima puluh ribu lho" kata Arnes.


"Ya Tuhan.. mata itu tajam sekali ya kalau soal nominal uang" Bang Zaldi mengambil dompet beserta bungkusan kertas berwarna coklat di dalam laci nakas lalu memberinya dua puluh satu lembar uang lima puluh ribu rupiah.


"Nih.. Nyonya besar. Silakan di ambil. Abang bonusi Pound Sudan" kata Bang Zaldi sambil memberikan uang itu pada Arnes.


"Kok sedikit Bang?" protes Arnes.


"Allahu Akbar.. Sisanya di cairkan pakai rupiah donk dek. Masa kamu belanja ke pasar pakai uang Sudan" merasa Arnes tidak begitu merespon keinginannya, Bang Zaldi menarik tangan Arnes sampai istrinya itu terpelanting setengah memeluknya. Lembaran uang yang sedang ia hitung pun berjatuhan di lantai.


"Cuek sekali sih kamu sama Abang" tatapan Bang Zaldi seolah membius Arnes hingga tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Sabar lah Bang" Arnes gugup menjawab pertanyaan Bang Zaldi.


"Abang nggak bisa sabar lagi. Mentok dek..!!" Bang Zaldi mengarahkan tangan Arnes pada miliknya yang mengisyaratkan bahwa dirinya sangat membutuhkan pertolongan sang istri.


"Pasak mu butuh keadilan"


Arnes sampai menelan salivanya, entah mengapa hari ini dirinya bisa salah tingkah seperti ini. Tapi sekuatnya ia berusaha menyimpan rasa itu.


"Bang.. Sebenarnya............"


"Duuhh gustiiiiii.. Jangan bilang kamu lagi di palang" Bang Zaldi sudah mulai frustasi. Wajahnya sudah menunjukan kecemasan tingkat akut.


"Bukaan Abaaaaaang.. Arnes takut memulainya lagi. Saat kelahiran Ibra itu rasanya benar-benar sakit sekali" ucap jujur Arnes.


Bang Zaldi membuang nafas lega. Rasanya tak tega melihat istrinya mengeluh takut tapi tak mungkin juga ia akan menahan rasa lebih lama sebab cepat atau lambat pasti urusan batin itu akan tetap ia selesaikan.


"Sampai kapan terus menghindar karena takut? Kita coba saja ya. Kalau memang kamu merasa nggak nyaman. Kita sudahi saja" janji Bang Zaldi.


Sayup angin malam menggetarkan dinding pelepah kayu berlapis papan triplek tebal. Udara pegunungan yang tidak pernah lepas dari rasa dingin menambah syahdu suasana malam mereka. Bang Zaldi mendekatkan ujung hidungnya yang mancung pada hidung Arnes. Bibir nakal itu juga seketika menyesap manisnya madu bibir Arnes.


Telinga mereka saling mendengar debaran jantung yang tersamar deru angin. Perlahan Bang Zaldi merebahkan sang istri.


"Bang, Arnes belum sempat persiapan apapun. Arnes takut"


"Nggak usah dek, biarkan berjalan apa adanya. Abang tau rasanya nggak punya saudara. Sepi sendiri tidak ada tempat berkeluh kesah. Andaikan Ibra mau punya adik lagi, sebenarnya Abang sudah pasrah.. hanya saja. Abang cemaskan keadaanmu. Sekarang Abang tanya, apa boleh Abang menyentuhmu? Apa kamu siap seandainya dari pelampiasan Abang malam ini, menghasilkan benih hati dari Abang?" ucapnya sambil menahan rasa menunggu jawaban dari Arnes.


"Baiklah Bang. Nggak apa-apa. Lagipula nggak pantas juga seorang istri menolak suaminya" jawab Arnes.


Bang Zaldi tersenyum, untuk sesaat ia terpejam kemudian meniup ubun-ubun Arnes.


"Bismillah.."


//


Arnes menangis merasakan nyeri, Bang Zaldi mengingkari janjinya. Kini bapak satu anak itu kelabakan bukan main. Secepatnya Bang Zaldi mengambil air hangat untuk mengompres.


"Bagaimana? Sudah berkurang nyerinya?"


Arnes melirik Bang Zaldi dengan tatapan tajam.


"Kenapa Abang ingkar??"


"Iya, maaf. Abang memang susah kendalikan diri" ucapnya jujur penuh penyesalan.


Arnes meringis nyeri merasakan tubuhnya yang tidak karuan. Bang Zaldi hanya diam merasa bersalah. Mau bagaimana lagi, rasa sudah di ujung tanduk mana bisa sekejab saja di hentikan.


-_-_-_-_-

__ADS_1


Bang Zaldi usai apel pagi kemudian membahas tentang acara kenaikan pangkatnya. Ia pun langsung sibuk dengan berkas dan kegiatan yang akan di laksanakan sekaligus menghubungi kompi ( di Jawa ) karena setelah kenaikan pangkat itu Bang Zaldi akan langsung bergeser ke tempat tugas yang baru.


"Waaahh sepertinya saya ikut geser ke Jawa nih Bang" kata Bang Righan. Raut wajahnya sedih melihat bocoran skep kepindahan prajurit.


"Ya sudah, geser ya geser. Memangnya kenapa?"


"Saya naksir Icha Bang" ucapnya dengan sedih.


"Kalau naksir ya lamar. Keburu di ambil orang, icikiwiir lu nanti" kata Bang Zaldi.


"Nanti sore mau saya lamar Bang" Bang Righan mantap menentukan pilihannya.


***


Hari weekend Bang Zaldi push up di depan rumah sambil mengasuh Ibra. Si kecil itu mengikuti gerak papanya sambil tertawa riang di usianya yang hampir menginjak enam bulan


"Papa ajari merayap ya..!!" Bang Zaldi perlahan merayap di lantai. Si kecil Ibra mengikuti gayanya. Kemudian Bang Zaldi berguling botol, tidak sulit juga untuk Ibra menirukannya


"Bang, nanti anaknya kecengklak..!!" protes Arnes sambil menyuguhkan kopi panas, susu botol dan roti bakar selai strawberry.


"Tenang saja dek. Anak magazen itu kuat. Nggak ada yang abal-abal. Kamu masak saja sana. Biar Ibra sama Abang" jawab Bang Zaldi dengan yakin.


Arnes pun meninggalkan teras.


"Ibraaaa... keponakan Om yang paling ganteng. Sini sama om" Bang Righan langsung menggendong Ibra membiarkan papanya berolahraga sejenak.


"Dek, kopi satu lagi..!! Ada Abangmu nih" teriak Bang Zaldi dari luar.


"Iya, sabar. Arnes masih di kamar mandi"


"Nggak usah Bang, kembung perut saya ngopi pagi-pagi"


Kedua pria itu merokok dan bermain bersama Ibra. Sambil bermain, sesekali mereka berdua tertawa terbahak dan berbisik membicarakan sesuatu yang khas dalam pikiran pria. Mereka berdua tidak ada yang menyadari bahwa Ibra sudah merangkak mendekati parit.


Baru satu kali menyeruput, kopi yang baru saja masuk ke mulut Bang Zaldi menyembur ke udara. Ibra terjungkal ke dalam parit. Bang Zaldi berlari menyelamatkan putranya. Tepat saat itu Arnes datang membawa kopi untuk Bang Righan yang ikut bingung berlarian melihat keponakannya terjungkal ke dalam parit. Tangis Ibra begitu kencang membuat Bang Zaldi panik. Dahinya pun sampai berdarah karena terantuk batu.


"Uuusshhh.. sayang jangan nangis. Papa bisa di cincang mamamu" gumam Bang Zaldi panik.


"Abang memang harusnya di cincang. Apa saja kerjaan kalian. Dua orang dewasa tidak bisa jaga marmut kecil satu ini" suara Arnes terdengar begitu menyeramkan. Arnes langsung meraih Ibra yang sulit di tenangkan.


"Kalian berdua push up lima puluh kali..!!!!!!!!" perintah Arnes dengan mata berkilat marah.


"Siaaapp..!!!" Bang Zaldi dan Bang Righan mengambil posisi langsung push up tanpa perlawanan daripada ibu Komandan semakin mengamuk.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2