
"Benar Bang.. Dinda nggak mau rumah tangga Anye berantakan" ucap Mama Dinda sampai menangis.
"Tenang sayang.. Biar nanti Abang bicara sama Rinto. Jangan banyak pikiran.." Rama menenangkan istrinya meskipun hatinya sendiri tidak tenang.
"Ya sudah.. Abang ke kantor dulu"
...
"Waahh.. Cantik sekali istri kapten Rinto. Pantas kata Wiza suamimu itu selalu menjagamu baik-baik. Tapi sayang.. kali ini keberuntungan berpihak padaku" kata pria bernama Bobby itu.
"Mau apa kamu?? Keluar dari rumah saya..!!" usir Anye mundur perlahan hingga terjebak di dekat tepi meja. Tangannya mencari-cari sesuatu.
"Heehh.. Kamu pasti senang dengan saya. Ibu mertuamu yang p*****r itu sampai tak ingin lepas dariku. Apa kamu tidak ingin mencobanya?" Bobby terus maju dengan tatapan mata kurang ajarnya.
"Pergiii..!!!!!" teriak Anye.. tangannya menyambar pot bunga di sampingnya lalu menghantamkan tepat di kepala Bobby hingga kening pria itu mengucur darah segar.
"Kau ini perempuan bodoh..!!!" bentak Bobby.
Bobby menarik tangan Anye dan menyeretnya masuk ke dalam kamarnya bersama Bang Rinto. Bobby menampari pipi Anye dan memukulnya. Dengan kasar Bobby membalas pukulan Anye dan merusak pakaiannya. Ada tetangga yang keluar saat mendengar teriakan Bu Danki, tepat saat itu Bowo lewat dan ikut mendengarnya. Motornya pun berhenti tepat di depan rumah Danki.
Motor Bang Rinto melaju kencang. Ia mulai panik saat melihat banyak ibu-ibu berkerumun juga ada Bowo di depan rumahnya.
"Kenapa??" Bang Rinto berlari setelah menyandarkan motornya. Raut wajahnya terlihat cemas sekali. Bang Rinto sempat mendengar suara teriakan tapi kemudian tidak terdengar lagi. Bang Rinto segera berlari masuk ke dalam rumahnya.
"B*****t... Mau mati kau rupanya??" Bobby mengambil sangkur di tangan Anye yang sudah lemas tak berdaya. Calon ibu muda itu menikamnya. Bobby ingin menikamnya kembali.
"Astagfirullah...!!!!" Jantung Bang Rinto seakan terlepas dari raga melihat tubuh istrinya. Darah tercecer dimana-mana.
buugghhh....
Rinto menghantam Bobby kemudian menginjak-injak tubuh pria itu dengan sepatunya. Tangan Rinto menarik selimut menutupi tubuh istrinya. Matanya melihat banyak sekali darah di tempat tidur.
"Kamu yang b*****t.. Beraninya menyentuh istriku..!!!!" Rinto sudah sangat kalap, bertubi-tubi hantaman ia arahkan ke tubuh Bobby membabi buta seperti orang kesetanan. Tangannya menyambar sangkur dan menancapkannya pada dada Bobby sebanyak dua kali.
Ezhar dan Arben datang dan melihat kerusuhan itu. Bang Arben menarik tangan Rinto agar jangan sampai ia membunuh warga sipil karena akan fatal akibatnya.
"Lepas Bang..!!" ucapnya karena ia harus segera menolong istrinya yang sudah kesakitan.
"Abang.. maaf..!!" ucap Anye penuh sesal.
"Kamu nggak salah dek..!!"
"Bang.. maukah Abang selamatkan anak kita?" tanya Anye.
Batin Bang Rinto sakit sekali merasakan segala kekacauan rumah tangganya.
"Pasti sayang..!!"
"Anyeeee..." Ayah Rama tak kalah kagetnya setelah melihat ada korban di dalam kamar.
"Sabar pa. Kita bahas nanti.. yang penting Anye dulu..!!" kata Ezhar.
***
"Harus di lahirkan Rin" kata dokter Wira saat tau bayinya sudah di pintu keluar dan tidak bisa di lakukan jalan operasi.
Untuk kesekian kalinya batin Rinto kembali terguncang.
__ADS_1
"Lakukan dok..!!"
"Tapi beresiko.."
Mata Anye dan Rinto saling bertatapan.
"Abang.. dia nggak sentuh Anye" ucap Anye ketakutan.
"Stop dek. Jangan bicara lagi. Hemat tenagamu" suara Bang Rinto sudah tercekat.
"Apa kamu kuat?" tanya Bang Rinto.
"Apapun yang terjadi.. selamatkan anak kita Bang"
"Ngomong apa kamu? Kamu dan anak kita pasti selamat"
"Aarrgghh.. Astagfirullah.. sakit sekali Bang" Anye merintih kesakitan.
"Peluk Abang. Abang ada disini..!!" bujuk Bang Rinto.
"Bagaimana Rin?" tanya Dokter Wira.
"Lakukan dok.. Hanya Allah yang menentukan hidup dan mati" ucap Bang Rinto dengan tegar sambil memeluk Anye dan mengusap perut istrinya.
Mama Dinda masuk ke dalam ruang bersalin. Ia meraih tangan Anye yang ingin menggapai tangannya. Mama Dinda tau kecemaaan Bang Rinto sampai tidak ingin melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Mama.. Anye minta maaf sudah menyusahkan mama. Sekarang Anye tau betapa sakitnya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya. Maaf ya ma. Terima kasih selama ini sudah mau merawat dan membesarkan Anye. Anye sayang Mama" ucap Anye terbata.
"Anye nggak salah sayang. Ini sudah kodratnya seorang wanita. Kamu harus kuat ya nak. Mama tau ini sakit"
Ayah Rama duduk bersandar memejamkan matanya.
"Jangan bilang begitu. Ujian rumah tangga banyak macamnya" kata Ardi menenangkan.
"Ayah yang tenang ya. Anye pasti kuat" Seruni dan Bang Hengky turut menenangkan Rama.
-_-_-_-
"Sekali lagi..!!" kata Bidan memberi aba-aba dan membantu Anye.
"Sudah Bang.. Sudaaahh..!!" nafas Anye seakan mau putus merasakan sakitnya.
"Ayo Bu Rinto.. Sekali lagi tekan yang kuat ya..!!" Bidan pun bingung bagaimana caranya menyemangati Anye. Tidak ada yang bisa di salahkan karena Anye juga belum bisa mengontrol dirinya sendiri tapi ia selalu berusaha sebaik mungkin.
Bibir Bang Rinto terus membacakan doa di telinga Anye. Hatinya teriris perih, dadanya pilu sesak mencemaskan Anye.
"Anye sayang Abang.." ucapnya lirih penuh dengan permohonan dan kata cinta. Matanya hampir tertutup karena sudah terlalu lelah dan merasakan sakit yang luar biasa. Lututnya menghantam lantai hingga plasentanya nyaris putus. Pendarahan pun tak bisa di hindari.
"Kamu ingin dengar khan sayang..!! Di hati Abang ini.. sudah tertutup hati dan kekaguman untuk wanita lain. Abang mencintai dan menyayangi kamu setulus jiwa raga Abang. Abang sangat sayang sekali sama kamu dek..!! Sangat sayang" ucap Bang Rinto berlinangan air mata. Baru kali ini ia menumpahkan segala kelemahan dirinya pada istri tercintanya.
"Maaf.. Abang tidak pandai mengucap kata cinta"
"Terima kasih banyak ya Bang" senyum tipis Anye begitu cantik menghias wajahnya yang terus memucat.
Sesaat kemudian dorongan kuat hadir dari dalam perut Anye. Anye menarik nafasnya dalam, kemudian menekannya kuat.
"Ayo Bu Anye.. sedikit lagi..!!" kata Bu Bidan.
__ADS_1
Rinto yang trauma dengan darah mendadak menjadi pusing, tapi jiwanya tidak lantas di kalahkan semua ketakutannya itu.
"Bismillah.." Bang Rinto memegangi tangan Anye. Matanya terpejam sesaat begitu mengintip bayinya sedikit lagi akan melihat dunia. Mama Dinda keluar karena merasa tidak sanggup.
"Bang Rintooo.. Aaaaaahh" Anye memeluk dan meremas kuat berpegangan pada Bang Rinto. Dengan sabar Bang Rinto mengusap punggung Anye memberi semangat dan dukungan pada istrinya.
Bang Rinto menangis tak karuan. Perasaannya campur aduk. Ia merasa kacau saat tidak bisa berbuat apapun untuk sang istri.
"Alhamdulillah.. bayimu pendekar gagah seperti papanya" dokter Wira menerima bayi mungil dari bidan. Suara tangisnya lemah. Mama Dinda dan Ayah Rama berpelukan erat.
"Alhamdulillah dek.. Anak kita lahir" ucapnya lalu mengecup kening dan bibir Anye dalam tangisnya.
Anye tak menjawab atau meresponnya.
tiiiiiiiiiittttt.....
Suara itu terdengar sangat nyaring seiring mata Anye yang tertutup perlahan. Genggaman tangannya pun terlepas.
"Nggak dek..!! Buka mata sayang..!!" pinta Rinto dengan sendu, ia menggoyang tubuh Anye.
Dokter Wira menyerahkan bayinya pada perawat dan segera menangani Anye.
"Henti jantung.." kata dokter Wira.
"Anye.. bangun dek..!!!!!!!" Bang Rinto mendekap erat tubuh Anye.
"Ya Allah.. jangan lagi!!!!!!!!"
"Rinto jangan..!!" dokter Wira memencet tombol keamanan dan para penjaga berlarian ke kamar tindakan Anye.
"Tunggu.. biar kami yang tangani..!!" Kata Gathan. Brian dan Gathan masuk untuk 'memisahkan' Rinto dan Anye.
"Lepaaaass..!!!!" Rinto terus meronta membuat Brian dan Gathan kewalahan.
Dokter Wira berwajah datar. Ia melepas cungkup oksigen di hidung Anye.
Kaki Rinto rasanya lemas dan ringan. Tangan itu gemetar menyentuh pipi istri tercintanya. Betapa sakit dan sesaknya beban di dalam dada. Rinto mendekap erat istrinya.
Gathan terduduk tak berdaya di lantai.
"Apa belum bisa kamu memaafkan kesalahan suamimu ini? Kurangkah Abang memberimu cinta? Katakan..!! Biar Abang paham setiap salah Abang"
Hari ini aku melihatmu diam tanpa suara persis seperti saat Vilia meninggalkanku. Tapi kali ini ribuan kali lebih sakit dan menyayat batinku, belum lagi saat aku melihat anak kita yang tidak genap sembilan bulan dalam kandungan hanya menangis kecil mencari dekapan ibunya. Apa yang harus aku lakukan?
Anyelirku tersayang.. Jika bisa aku meminta.. bisakah kamu tetap disisi ku.. Kelak kita akan bersama membesarkan anak kita. Aku sungguh tidak kuat jika harus kehilanganmu..
Anyelirku tersayang.. Sungguh sesempurna itu kamu di mataku hingga aku tidak ingin mendua. Jujur ku akui... kamu terindah dalam mata dan hatiku.. Aku yang tidak sempurna untukmu..
"Sayang.. dengar suara tangis anakmu. Bangun kesayangan Abang..!! Bangun.. Abang nggak kuat dek..!!" Lelehan tetes air mata berjatuhan membasahi pipi. Tangannya mengepal kuat merasakan sakit tak terkira. Rinto melonggarkan dadanya yang terasa berat dan sesak. Berkali-kali ia meremas dadanya yang tidak kunjung mereda dalam kesakitan batinnya.
"Tolong kembalikan dia padaku Tuhan..!!!!" ucapnya begitu pedih hampir tak terdengar karena terlalu sesak.
tiiiiiiiiiittttt ....
.
.
__ADS_1
.