
"Selamat malam Dan..!!" seorang anggota piket jaga kesatrian memberi hormat pada Kapten Rinto.
Bang Rinto hanya melambaikan tangan menjawabnya.
"Abang sayang kamu Anyelirku" ucapnya yang terdengar di telinga para anggota piket jaga kesatrian.
Para anggota menahan tawanya saat melihat Kapten mereka sangat serius mengucapkan kata cinta untuk sang istri.
...
Ayah Rama menyambut anak dan menantunya. Bang Rinto pun baru saja menutup mulutnya setelah mengoceh sepanjang jalan.
"Puas terjunnya??" tegur ayah Rama pada putrinya yang begitu merepotkan.
"Anye nggak terjun yah. Nggak boleh sama Abang" jawab Anye sambil menuju kamarnya.
"Kalau Rinto memperbolehkanmu terjun berarti suamimu ini nggak waras. Wajar lah kalau suamimu menggerutu setiap hari, apalagi melihat tingkahmu yang nggak karuan ini" kata Ayah Rama.
"Sudahlah yah, Anye baru saja anteng. Jangan memancing keributan lagi. Capek sekali saya bujuknya..!!" Bang Rinto memijat tengkuknya yang terasa pegal.
"Mudah-mudahan kamu tetap cinta setelah tau putri ayah begitu"
"Cinta lah yah. Meskipun mamanya Seno itu menyebalkan, rewel, banyak mau.. mana ada saya nggak cinta sama putri ayah itu" jawab Bang Rinto.
"Bisa aja kamu Rin"
"Ngerayu dulu lah yah biar jatah preman lancar" kata Bang Rinto dengan semangat.
"Eeiittss.. tahan dulu Rin..!!"
"Kalau sudah nggak tahan ya lanjut yah" jawab Bang Rinto membuat ayah Rama sedikit cemas.
"Saya bercanda yah. Dua tahun saja saya tahan.. apalagi hanya dua bulan"
"Mulut gampang saja bicara Rin. Itu kamu banyak tidak bersama Anye, tapi ini lain. Anye ada di depan matamu setiap hari. Bisa saja Anye atau kamu yang nggak sengaja memancing 'masalah'. Ayah sudah pengalaman Rin" kata ayah Rama mengingatkan.
"Siap yah. Insya Allah semuanya baik-baik saja" jawab Bang Rinto.
***
"Bini ngamuk Rin??" tanya Bang Satriyo saat para anggota baru selesai apel gabungan.
"Ya kemarin ngamuk. Sekarang sudah nggak lagi" jawab Bang Rinto.
"Syukurlah Rin.. kalau gitu nanti sore kita lari lagi yuk..!!" ajak Bang Satriyo.
"Waahh.. kali ini saya nggak ikut lah Bang. Kemarin masih bisa selamat, kali ini saya nggak jamin bisa selamat lagi" tolak Bang Rinto.
"Lagipula besok pagi kita ada acara gabungan dengan Matra lain untuk acara keluarga anggota"
"Oiya.. saya lupa. Ya sudah kita ketemu saja di acara besok" kata Bang Satriyo.
"Oke Bang. Saya juga mau check kondisi Anye dulu karena perjalanan darat sampai tiga jam di jalanan yang tidak rata"
***
__ADS_1
"Apa?????? Nggak bisa pakai mobil pribadi???? Kalau mobil dinas bagaimana???" tanya Bang Rinto pada seorang mudi Reo Batalyon.
"Ijin Dan.. itu jalan Rawan. Mobil Komandan hanya satu dan di pakai keluarga komandan, mobil yang lain di gunakan untuk acara gedung di kota" jawab mudi bernama Iwan tersebut.
"Asseeeem...!!!!! Terus Anye bagaimana??" gumamnya bingung. Merubah nama yang sudah di plot akan sulit dan posisi saat ini, semua mobil sudah berangkat ke tempat acara masing-masing.
"Ada apa Bang??" tanya Anye.
"Nggak bisa pergi ke acara pakai mobil pribadi, mobil dinas pun dibawa Bang Ucok" jawab Bang Rinto.
"Ya sudah kita ikut naik Reo saja" kata Anye.
"Ngawur kamu dek. Bagaimana perutmu nanti?? Jalan disana nggak rata, banyak batu besar, aliran sungai deras" tegur Bang Rinto.
"Mau bagaimana lagi.. istri tentara khan harus strong Bang. Suaminya kuat ya istrinya mengikuti"
"Ya tapi nggak gitu juga lah dek. Kamu khan lagi bawa si cenil Abang"
"Yang penting ada Abang.. Anye nggak khawatir" jawab Anye menenangkan suaminya.
"Mana kunci Reo nya..!!!" Bang Rinto meminta kunci Reo pada Serda Iwan.
Secepatnya Serda Iwan menyerahkan kunci Reo pada Bang Rinto.
"Ini kuncinya Dan. Ijin.. kalau boleh tau untuk apa Dan??"
"Kamu duduk di belakang. Saya yang kemudikan Reo nya" kata Bang Rinto.
"Ijin Dan, saya saja yang kendarai" Serda Iwan merasa tidak enak karena Pak Rinto yang seorang perwira malah akan mengemudikan reo Batalyon.
#
"Waaahh.. pak Rinto yang bawa reonya ya???" sapa seorang istri anggota.
"Kalau bawa Reo, saya nggak bisa Bu. Paling saya kendarai sampai tempat" jawab Bang Rinto.
"Oohh iya pak. Maksud saya juga begitu"
"Saya nyambi jaga istri Bu, biar nggak bertingkah" Ucap Bang Rinto sambil membenahi posisi duduk Anye.
"Ayo cepat naik Bu. Hari sudah semakin siang" perintah Bang Rinto pada istri anggota yang lain.
"Ini sudah enak apa belum dek duduknya???" tanya Bang Rinto.
"Sudah Bang"
#
"Sambil di lihat Seno sama Bima, mereka lagi aktif sekali. Ingat, jangan jajan sembarangan kamu ya. Takutnya kamu nyolong waktu buat jajan sembarangan kalau Abang lagi sibuk sama senior, kamu jajan nggak tau aturan" ucap Bang Rinto tegas dan bergegas meninggalkan Anye untuk menemui rekannya yang sudah berkumpul di lapangan.
"Bi Ana.. titip anak-anak sama mamanya" teriak Bang Rinto dari jauh. Sebelum Ayah dan Mama kembali ke Jawa, mereka sengaja meninggalkan Bi Ana bersama Anye dan Bang Rinto.
Baru saja Bang Rinto pergi, ada pedagang cilok yang membuat Anye gelap mata.
"Denok.. kata bapak, Nok Anye nggak boleh jajan sembarangan" kata Bi Ana.
__ADS_1
"Bibi jangan bilang Bang Rinto. Kalau Abang tau.. segala hal nggak boleh"
"Pak Rinto hanya cemas sama Nok Anye. Pak Rinto sayang sekali lho sama Nok" kata Bi Ana.
Anye tidak menggubris dan terus ke tempat penjualan cilok yang ia lihat tadi.
//
Anye baru membuka mulutnya tapi Bang Rinto menyambar plastik cilok milik Anye. Bang Rinto menyantap isinya tanpa sisa dengan cepat.
"Lima belas sampai tiga puluh menit lagi, kalau Abang baik-baik saja baru kamu boleh pesan lagi. Abang sudah bilang, kamu lagi hamil.. nggak boleh sembarang makan..!!!"
"Iyaaaa.." jawab Anye bersabar diri daripada
//
Bang Rinto mengacungkan jempolnya dari jauh tanda Anye boleh memesan lagi.
"Yeeaayy.. terima kasih Abang" senyum kecil Anye pun sudah cukup membuat hati Bang Rinto bahagia.
...
"Yaaa.. terima kasih banyak karena Kapten Rinto Dirgantara dari kesatuan Batalyon.... sudah memimpin wiggle dance pada acara kali ini" kata seorang MC wanita yang juga seorang tentara wanita dan memandu acara di atas panggung.
"Boleh tau nih Kapten.. kami sebenarnya penasaran. Apa Kapten Rinto sudah berkeluarga?"
"Alhamdulillah sudah" jawab mantap Bang Rinto khas seorang tentara yang tegas. Wibawa seorang Kapten Rinto Dirgantara mampu menarik perhatian para wanita disana.
"Mohon ijin Kapten.. kalau boleh tau lagi nih, yang mana sih istri dari seorang Kapten Rinto Dirgantara?" tanya seorang MC pria.
Mata Bang Rinto mencari dimana kiranya sang istri berada dan saat itu juga Bang Rinto menggeleng dengan rasa gemas.
"Istri Kapten Rinto itu.. anggun, cantik, manis dan tentu saja sangat memikat hati saya. Istri saya.. itu yang sekarang sudah belepotan menikmati es campur di pinggir pantai" tunjuk Bang Rinto membuat Anye terbelalak kaget.
"Tolong yang merasa istri Kapten Rinto, bisa merapat sampai panggung???"
Anye begitu kelabakan saat Bang Rinto menatapnya dengan tatapan mata tajam dan kuat. Saat Anye sedang berjalan menghampiri Bang Rinto.. suami Anye itu mengakhiri sesi tanya jawab.
Bang Rinto turun dari panggung dan berdiri berkacak pinggang di hadapan Anye.
"Tadi Abang bilang apa?"
"Nggak boleh jajan sembarangan" jawab Anye merasa takut juga.
"Terus tadi apa??"
"Beli es campur"
"Lama-lama Abang lipat juga kamu ya..!!!!" tangan Bang Rinto terangkat bersiap untuk 'menghajar' Anye tapi semua itu terhenti.
Bang Rinto memegang dadanya dan meremasnya kuat. Beberapa detik kemudian Bang Rinto ambruk di hadapan Anye. Anye terkejut melihat Bang Rinto menggigit bibir bawahnya seperti menahan rasa sakit.
"Bang..!! Abaaaang..!!!!" pekik Anye mengundang perhatian para anggota yang berada di sekitarnya.
.
__ADS_1
.
.