
Bi Dijah menyerang Anye tapi Bang Rinto menghalangi hingga tamparan keras itu mengenai pipi Bang Rinto.
"Tidak mungkin putriku yang lugu ini melakukan hal menjijikkan seperti itu. Dia tidak tau apa-apa, dia gadis yang baik. Pasti Bu Anye yang menjualnya. Lihat ini.. di keterangan para saksi semuanya menyebut nama Anye.. Wanita b******k ini..!!!!"
"Sebelum menyalahkan orang lain, sebaiknya bibi juga melihat pada diri sendiri..!! Apa benar bibi sudah mendidik anak dengan baik??????" bentak Bang Rinto.
"Bapak juga jangan sok suci. Buktinya bapak menikmati anak saya juga. Saya sudah mendengar dari Mawar awal pertemuan bapak dan Mawar" Bi Dijah berteriak di hadapan Bang Rinto.
"Itu sudah cukup bukti bahwa Bu Anye menjual anak saya. Bapak pun ikut menikmati hasilnya"
Bang Rinto mengusap dadanya. Sulit sekali menyadarkan pikiran Bi Dijah yang tidak berarah.
"Bibi bisa diam atau tidak????? Saya bukan orang yang sabar jika ada sesuatu hal yang mencelakai keluarga saya. Omongan bibi sudah diluar batas dan keterlaluan"
Ayah Rama memegangi lengan Bang Rinto karena sudah sangat paham dengan sifat menantunya jika sudah terbakar amarah. Apalagi tingkat stressnya semakin meningkat sejak Anye hamil.
"Saya nggak percaya anak saya bisa sampai seperti itu" kata bibi berteriak histeris.
"Kenyataannya anakmu memang jual diri" Bang Rinto tak peduli lagi pada ucapannya untuk bicara pada orang yang lebih tua.
"Bilang sama ibu nak. Apa benar yang dikatakan Pak Rinto" Bi Dijah menggoyang lengan Mawar.
"Mawar terpaksa bu. Itu semua juga karena ibu. Ibu sakit, Mawar nggak punya pilihan lain"
Plaaaakk...
"Apa ibu mengajari kamu begitu?? Lebih baik kamu jadi pelayan tapi terhormat daripada menjadi wanita malam dan kehilangan harga diri sebagai wanita" bi Dijah sangat kecewa dengan kenyataan pahit yang harus di dengarnya.
Para anggota disana berjaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Pak Rinto harus bertanggung jawab. Mawar sudah rusak. Siapa yang mau menikahi anak gadis saya yang sudah rusak???"
"Apa maksud bibi?? Apa bibi pikir saya yang meniduri Mawar???????"
"Saya bicara sesuai cerita Mawar. Bapak bertemu Mawar di club malam"
"Benar itu Rin???????"
Sebenarnya Rinto masih enggan berhadapan dengan ayah Rama tapi menyimpan semua cerita juga tidak akan berakhir baik.
"Saya memang menemui Mawar malam itu yah. Saat Anye masih bersama Brian" jawab jujur Bang Rinto.
"Apa katamu.. B******n..!!!!!!!!!!!!"
plaaaakk... plaaaakk..
Ayah Rama menampari pipi Bang Rinto dan menghajarnya. Bang Rinto sama sekali tidak melawan saat ayah mertuanya menghajarnya.
"Kenapa kamu menyakiti Anye sampai seperti itu Rinto. Lihat hasil perbuatanmu sekarang..!!!!!"
"Kalian semua keluar dari ruangan ini. Ini masalah pribadi saya..!!!!" perintah Bang Rinto tegas pada Mawar dan Bi Dijah.
"Kamu juga keluar dek..!!!!" pinta Bang Rinto pada Anye karena Bang Rinto tidak ingin Anye melihat dirinya sedang di sikapkan ayahnya. Badannya, batinnya.. semua sudah terasa sangat menyakitkan.
"Anye tetep disini sama Abang" Anye sesenggukan tak tega melihat Bang Rinto di hajar ayahnya.
Ezhar dan Gathan segera mengalihkan Mawar dan Bi Dijah ke ruang sebelah.
"Saya akui saya salah yah. Saat itu saya terlalu cemburu melihat Brian berduaan di dalam kamar bersama Anye padahal pernikahan mereka sudah batal" jawab Bang Rinto.
__ADS_1
"Jangan pukul Abang lagi yah. Anye sudah tau Abang menemui Mawar" kata Anye.
"Kamu bodoh??? Kenapa kamu diam saja suamimu menyentuh wanita lain???" tanya Ayah Rama.
"Abang nggak menyentuhnya yah"
"Darimana kamu tau???? Laki-laki, mabuk.. pasti khilaf kalau lihat perempuan lain. Apalagi dua tahun lamanya kamu nggak melayani kebutuhan biologis suamimu" Ayah Rama begitu marah.
"Anye yang merasakannya yah. Anye percaya Abang bukan laki-laki seperti itu"
Brian terdiam sejenak mengingat kapan ia pernah berduaan dengan Anye dan membuat Rinto secemburu ini. Tak lama ia kembali mengingatnya.
"Tunggu Rin.. kamu salah. Aku tidak melakukannya sama Anye lagi"
"Iya.. aku tau. Anye bilang saat aku mengakui semua salahku" jawab Bang Rinto.
"Ayah kecewa sama kamu Rin. Sangat kecewa" ayah Rama sampai menangis memeluk Anye.
"Kalau menikah denganmu hanya akan menyakitinya dan membuatnya terluka. Lebih baik kamu lepaskan Anye"
"Saya memang egois yah. Tapi kalau ayah meminta saya melepaskan Anye, lebih baik ayah bunuh saya sekarang..!!!!" Bang Rinto mengambil pistol di sakunya dan menyerahkan pistol itu pada ayah Rama.
"Kamu pikir saya nggak berani????" Ayah Rama mengambil pistol itu, mengokangnya dan mengarahkannya tepat di depan dada Bang Rinto.. Bang Rinto memejamkan matanya. Siap nyawanya melayang asal tidak dipisahkan dari istrinya.
Tanpa di duga Anye beralih di hadapan Bang Rinto.
"Anye percaya Abang. Ayah tembak Anye juga..!!"
"Apa-apaan kamu dek..!!" Bang Rinto membuka matanya dan menggeser Anye agar menjauh darinya.
plaaaakk...
Bang Rinto kaget melihat reaksi Anye yang begitu marah dan lepas.
"Abang nggak usah pikirkan bagaimana Anye karena Anye sedang hamil. Anye ingin Abang lepas dan tegas seperti biasa tak peduli ayah adalah atasan Abang. Anye percaya Abang. Jadi jangan kecewakan Anye"
"Sumpah demi Allah, demi anak-anak, demi anak dalam kandunganmu. Abang nggak pernah nyentuh Mawar maupun Mawar lain. Di dunia ini hanya Vilia dan kamu saja yang pernah Abang sentuh. Kalau sampai terbukti Abang bohong. Silakan kamu sendiri yang lepaskan peluru ini di dada Abang. Abang ikhlas nafas terakhir Abang ada di tanganmu" ucap Bang Rinto tegas.
"Saya sudah katakan dengan jelas. Saya tidak pernah mengkhianati istri saya. Saya selesaikan urusan saya dulu. Tindakan untuk saya tentang masalah Anye.. bisa Komandan tagih nanti.. Selamat siang..!!!!" pamit Bang Rinto pada ayah Rama.
Bang Rinto keluar ruangan lalu menuju ruang sebelah.
Bang Ezhar dan Bang Gathan menggelar semua bukti yang sudah di kumpulkan Bang Rinto.
#
"Ibu kecewa sama kamu Mawar..!!!!!!!!" Bi Dijah menjambak dan memukuli Mawar karena terlalu sedih dan kecewa setelah tau Mawar bekerja sebagai wanita malam jauh sebelum mengenal Pak Rinto. Mawar juga menjual nama Bu Anye agar pekerjaan terselubungnya aman dan laris.
"Bisa-bisanya kamu mengaku sebagai istri pak Rinto untuk melayani tamu" pekik Bi Dijah.
"Sekarang Bibi sudah tau kenyataannya. Saya ingin anak bibi yang lugu ini merasakan dinginnya jeruji besi agar dia bisa menyadari kesalahannya" ucap tegas Bang Rinto.
"Jangan pak. Sekali ini saja saya mohon maafkan dia. Saya janji dia tidak akan mengganggu pak Rinto lagi. Kasihanilah dia pak. Sebenarnya Mawar adalah wanita baik-baik. Jadi pembantu bapak juga nggak apa-apa" kata Bibi membujuk Bang Rinto.
"Siapa yang akan peduli dengan istri saya? Siapa juga yang akan mengasihani istri saya. Istri saya kena imbas masalah karena anak bibi. Saya.. tetap ingin Mawar masuk penjara dan bibi kembali ke Jawa"
"Tidak di bayar nggak apa-apa pak. Kami rela mengabdi seumur hidup pada keluarga bapak" jawab Bibi.
"Bawa mereka mas..!!!!" pinta Bang Rinto pada polisi yang akan membawa Mawar.
__ADS_1
"Nggak.. saya nggak mau masuk penjara. Saya minta maaf pak...!!!!" teriak Mawar.
"Bawa dia sekarang juga..!!!!!!!!!!"
"Uugghh...!!" Bang Rinto memegangi dadanya dengan kuat.
"Bang.. Abang kenapa Bang..!!!!" Ezhar bingung harus mengikuti Mawar atau menolong Bang Rinto yang tiba-tiba tidak sehat.
"Tolong kamu ikuti proses hukumnya Mawar. Paling tidak.. kamu lihat dia masuk penjara..!! Untuk selanjutnya biar saya selesaikan, tangani dia untuk saat ini saja..!!"
"Siap Bang..!!" Bang Ezhar pun berlari mengikuti mobil polisi yang membawa Mawar.
Bang Rinto jatuh terkapar di lantai.
"Maaf.. saya salah sudah menyakiti Anye. Saya tidak memintamu untuk percaya apa kata saya. Tapi saya sudah berusaha berkata benar. Tidak ada wanita yang lebih membuat saya begitu tergila-gila selain adikmu itu. Si cantik Anyelir pengobat rindu, dia segalanya bagi saya..!!" Bang Rinto menggelinjang kesakitan. Gathan mengusap dada sampai perut Bang Rinto yang tadi sempat di hantam ayahnya.
//
"Ayah lihat itu. Kalau sampai ada apa-apa sama Abang. Anye benci sama ayah" Anye berteriak histeris melihat Bang Rinto.
"Maafin ayah ndhuk. Ayah kelepasan" ucap sesal ayah Rama.
...
Rinto masih dibaringkan di kamar ruang kerjanya. Anye tak berhenti menangis menunggui suaminya itu.
"Jangan nangis terus lah dek. Nanti siapa mau teriakin Abang kalau suaramu habis?" bujuk Bang Rinto pada Anye yang duduk memunggungi dirinya.
"Kamu marah sama Abang atau marah sama Mawar?" Bang Rinto mencolek pinggang Anye.
"Bisa nggak Abang nggak sebut nama perempuan itu lagi..!!" Anye sangat emosi mendengar nama Mawar.
"Maaf, Abang minta maaf sayang" Bang Rinto berusaha keras menyentuh lengan Anye tapi istri Rinto itu menepisnya.
"Aaaarrgghhhh...." Bang Rinto memegangi dadanya. Seketika Anye menoleh saat semua orang panik melihat kondisi Bang Rinto.
"Abaaaang..!! Abang kenapa Bang?????" Anye pun panik dan memeluk Bang Rinto.
"Eegghh.. Rasanya aku mau mati" gumamnya sambil menahan tawanya melihat Anye ketakutan dan dengan erat memeluknya.
Seisi ruangan yang awalnya panik menjadi kesal karena ternyata Rinto hanya mengerjai Anye saja.
Saat itu, pandangan mata Anye tertuju pada cermin yang memantulkan kelakuan bang Rinto. Anye pun menyadari Bang Rinto telah mengerjai dirinya.
bruugghh...
Anye jatuh dengan lemas di atas lantai.
"Deekk..!!" Bang Rinto pun langsung melompat dari ranjang meskipun masih ada rasa sakit juga yang ia rasakan akibat hantaman ayah Rama.
Gathan dan ayah Rama bersiap menolong tapi Anye mengedipkan matanya pada ayah dan kakaknya.
"Duuhh... Anye jahil juga. Lihat saja Bang Rinto pasti bakal kocar-kacir" gumam Gathan pada ayah Rama.
.
.
.
__ADS_1