
Hari-hari berlalu, Anye dan Rinto sudah menjalani rumah tangga mereka dengan normal layaknya pasangan suami istri. Anye pun sedikit banyak sudah bisa memahami karakter suaminya yang kaku dan keras memegang prinsip. Begitu pula sebaliknya, Rinto sudah bisa memahami Anye yang kadang memang masih terbawa arus pergaulan seusia Anye. Sebagai seorang suami, tak kurang Rinto menasihati dan memberi pengertian pada istrinya.
"Bang.. Nanti Anye pulang telat"
"Jam berapa?" tanya Rinto datar seperti biasanya.
"Jam tujuh"
"Malam sekali. Ada apa?" Rinto terus menyuap makanan di mulutnya.
"Mau beli alat untuk praktek di kelas besok Bang"
"Nggak boleh.." ucap Rinto singkat.
"Tapi ada Ivana"
"Nggak ada..!! Kalau ngeyel.. Keluar dari jurusan mu" perintah Rinto tanpa ingin ada bantahan.
Ayah Rama hanya bisa menghela nafas, tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anak dan menantunya itu. Ia paham Rinto pasti cemas memikirkan Anye yang memilih jurusan yang di luar ekspektasi mereka pada awalnya sampai bersikap sekeras itu pada Anye.
"Nggak baik cemberut begitu dek. Nurut sama Abang" kata Rama mengingatkan.
"Iya yah" jawab Anye.
Senin pagi ini seluruh keluarga masih berkumpul di kediaman Rama karena kemarin Mama Dinda sempat tidak sehat.
***
Sore hari, Rama masuk ke dalam kamar mandi. Saat akan keluar dari kamar mandi, ia melihat sesuatu di atas closed.
Wajahnya nampak datar keluar dari toilet. Rama mengambil ponselnya.
...
Rinto duduk berjajar dengan Anye sedangkan Gathan duduk bersebelahan dengan Sekar. Anye sampai tidak jadi berkumpul bersama temannya.
Rama melempar testpack ke atas meja dengan kasar.
"Siapa pemiliknya????" wajah Rama nampak geram. Pasalnya Anye dan Sekar ada di rumah itu kemarin.
"Kamu hamil dek?" bisik Rinto pada Anye.
"Nggak lah Bang. Anye pasti bilang sama Abang" jawab Anye juga berbisik.
"Kalau bukan Anye.. berarti Sekar?????" tanya Rama pada Gathan.
Sekar ketakutan sampai menangis. Sekar bersembunyi di belakang punggung Gathan.
"Kalau hamil juga ada bapaknya khan yah..!!"
Dinda berjalan dari arah dalam dan mengambil testpack di atas meja. Dinda melihat hasil positif yang terlihat jelas disana. Wajahnya tiba-tiba berlinang air mata. Kaki Dinda gemetar sampai akhirnya Dinda pingsan.
...
"Tetap nggak ada yang ngaku???? Mama kalian sampai pingsan seperti ini..!!! Kalau sampai mama sakit karena ulah kalian.. ayah nggak akan beri ampun" bentak Rama begitu emosi.
Dinda meraih tangan Rama yang berkacak pinggang dengan kesalnya.
"Duduk dulu Bang" suara Dinda terdengar tercekat.
"Ini anak-anak bikin kepala mau pecah saja" ucapnya tidak bisa di tenangkan"
Akhirnya dengan berat hati Dinda buka suara. "Dinda..... hamil Bang"
__ADS_1
"Haaaaahh????????? Aseeeeeemmm!!!!!!" Kepala Rama rasanya pening. Ia duduk tanpa suara di samping Dinda.
"Istighfar yah" kata Gathan mengingatkan ayahnya.
"Nggak maauuuuu.. Anye nggak mau punya adik" pekik Anye, kakinya lemas sampai Rinto harus membawanya keluar dari kamar Dinda.
"Gimana Abaang???" Dinda menggoyang lengan Rama.
"Sebentar dek.. pikiran Abang buntu" Rama memijat pangkal hidungnya karena ia sangat syok mendengar kehamilan Dinda.
...
"Nggak mau.. pokoknya nggak mau" teriak Anye sampai menangis kencang.
Ezhar hanya mengusap punggung Anye yang masih berada dalam dekapan Rinto.
"Nggak boleh ngomong gitu dek. Anak itu anugerah.. titipan. Dia punya nyawa" kata Rinto.
"Tapi sekarang Anye sudah menikah Bang. Masa sebantar lagi anak sama cucu ayah balapan????" ucap kesal Anye.
Anye berlari pulang. Ia menangis sesenggukan hingga nafasnya sesak.
"Dek.. !!!!!!!"
"Kalian temani ayah dan mama. Abang kejar Anye"
"Egh.." Anye memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa keram.
"Kenapa kamu dek??" tanya Rinto dengan panik.
"Kita pulang sekarang..!!!" Rinto mengangkat Anye dan segera membawanya pulang ke rumah.
...
"Sensi sekali kamu dek. Lagi haid ya?" tanya Rinto sambil menyisipkan rambut Anye ke belakang telinga.
Anye mengangguk pelan. "Iya Bang"
"Pantes.. galak bener. Cengeng lagi..!!" gumam Rinto.
"Abang bilang Anye galak??" tanya Anye tak terima.
"Yang bilang kamu lembut siapa? Dari ketemu Abang kamu khan memang seperti induk macan tutul"
Anye ingin banyak bergerak, tapi rasanya tenaganya terasa habis. "Aarrhh.. sakit" Anye memeluk erat perut Rinto.
"Sudah, kamu tidur aja..!! Jangan banyak pikiran dan jangan banyak bergerak"
***
"Ya masa mau di buang. Kamu lupa apa gimana sih dek bisa sampai begini?" tegur Rama.
"Sepertinya Dinda lupa pakai kontrasepsi Bang"
"Ya Allah dek. Terlanjur enak jadi anak" gerutu Rama.
"Sudah donk marahnya Bang, Dinda juga stress"
"Abang nggak marah. Sudah jadi anak begini masa Abang marah. Abang kepikiran aja sama kamu" Rama berusaha menenangkan istrinya.
"Dinda malu Bang"
"Sudah jangan bilang begitu. Besok kita ke dokter" ajak Rama.
__ADS_1
***
Rinto duduk bersandar di teras rumahnya. Beberapa saat yang lalu ia sempat berharap kalau testpack itu milik Anye, tapi di luar dugaan.. malah mama Dinda yang hamil. Lebih sedih lagi saat Anye bilang istrinya itu sedang kedatangan tamu bulanan.
"Jangan melamun saja, di colek lelembut baru tau kamu" tegur Arben. Rumah Abangnya itu memang hanya di seberangnya saja.
"Belum tidur Bang?" tanya Rinto.
"Belum ngantuk. Kenapa kusut saja"
"Hari ini rasanya rumit sekali Bang..........."
***
"Selamat pak, kehamilan Bu Dinda sudah tujuh Minggu" kata seorang dokter.
"Alhamdulillah.." Rama mengusap wajahnya. Kini ia sudah jauh lebih tenang. Hanya Dinda yang masih merasa takut. Gathan dan Ezhar memberikan semangat pada mamanya. Tapi tidak dengan Anye yang belum mau datang lagi menemui mamanya, cuma dari Rinto mewakili dukungan untuk sang mama mertua.
"Apa Anye masih marah Bang?" tanya Dinda.
"Anye nggak marah, dia masih kaget saja. Kamu nggak perlu pikirkan itu. Namanya anak bungsu. Mungkin Anye merasa punya saingan" bujuk Rama padahal ia tau jawabannya.
***
Anye memperhatikan bukunya dengan seksama. Ia benar-benar belajar dengan baik. Melihat istrinya begitu rajin. Rinto tidak ingin mengganggunya.
Rinto mondar-mandir sendiri gelisah mengintip istrinya yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Sudah tiga hari nih. Anye sudah beres apa belum? Gimana caranya aku tanya??"
...
Rinto membawa sepiring brownies keju ke tempat belajar Anye.
"Mau nggak dek?" tanya Rinto tanpa menoleh pada Anye sama sekali.
"Mau..! Aaa" Anye membuka mulutnya.
Rinto menyuapi istrinya sambil sesekali melirik apa yang sedang Anye pelajari.
"Bisa nggak?"
"Bisa sih, cuma kurang paham aja karena nggak ada media nya" jawab Anye.
"Oohh.. akhir pekan nanti kita beli alatnya biar kamu paham"
"Iya Bang" jawab Anye datar tapi masih tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Rinto mengatur nafasnya. Dulu saat ia dengan Vilia, tak pernah sekalipun gugup saat akan mengajak istrinya. Tapi saat bersama Anye.. semua sangat berbeda. Rasanya ia lebih gugup dan seperti baru merasakan jatuh cinta pertama kali. Rinto berdehem pelan, jantungnya berdegup tidak beraturan.
"Eheemm"
"Dek.. tamunya sudah pergi apa belum?" Rinto menyambar segelas air minum di hadapannya dan meneguknya dengan cepat.
Anye menoleh melihat suaminya. Tau istrinya sudah menatapnya, Rinto berusaha tetap santai.. meskipun batinnya gugup bagai gendang yang bertalu.
"Kalau sudah emang kenapa??" tangan Anye melingkar di belakang leher Rinto. Seketika Rinto tersandar lemas di sofanya. Garang dan kakunya melayang detik itu juga.
.
.
.
__ADS_1