
Dengan cekatan Bang Zaldi memanggang roti pesanan sang istri. Sambil memasang musik melalui ponselnya.. Bang Zaldi mulai bernyanyi dan berlenggak lenggok.
Ra maido sopo wong sing ora kangen..
Adoh bojo.. pengen turu angel merem.
Ra maido sopo wong sing ora trenyuh..
Ra kepethuk sawetara pengen weruh.
Percoyo aku, kuatno atimu..
Cah ayuuu.. entenana tekakuuu...
Bang Zaldi mengangkat satu roti bakarnya. Sungguh kaget saat berbalik badan ternyata Arnes berdiri tepat di hadapannya.. Saking kagetnya tak sengaja roti itu terlepas bersama piring dan jatuh di kakinya.
pyaaaar...
"Jia***t..!!! C*kk" umpatnya merasakan panas pada kaki.
"Eehh.. Astagfirullah.. Kamu ngapain ada di sini???? Bikin kaget Abang aja kamu dek" Bang Zaldi mengusap dadanya yang hampir lompat.
"Abang lama sekali.. Arnes sudah lapar"
"Iya dek.. ini sudah selesai. Tapi akhirnya jatuh satu. Kamu sih"
Arnes melangkah maju tak sengaja kakinya menginjak pecahan kaca sedetik sebelum Bang Zaldi mencegahnya.
"Aaahhhhh" kaki Arnes sudah berdarah hingga menetes di lantai. Karena merasakan sakit Arnes hampir terduduk dengan keras tapi tangan Bang Zaldi masih sempat menahan Arnes.
"Inilah Abang bilang kamu jangan ikut ke dapur. Kamu masih musuhan sama aura dapur" kata Bang Zaldi membantu Arnes duduk. Bang Zaldi segera menyelamatkan dua roti bakar yang masih bisa terselamatkan ke atas piring lalu dengan cekatan mengambil kotak P3K.
Dengan telaten Bang Zaldi segera membersihkan kaki Arnes lalu membalutnya dengan perban.
"Sudah nih. Coba di gerakkan..!! Sakit sekali nggak??"
Arnes mencoba melangkah dan sudah tidak merasakan rasa sesakit tadi.
"Nggak begitu sakit lagi Bang" jawabnya.
"Ya sudah cepat di makan roti bakarnya..!!"
Bang Zaldi melihat banyak makanan di atas meja yang akhirnya rata-rata ia juga yang harus menghabiskan. Lebih baik ia diam dan tidak mencari keributan sampai tiba saatnya hormon bumil berangsur stabil.
...
Malam ini udara lumayan dingin menusuk tulang. Bang Zaldi mulai kedinginan dan tidur memeluk Arnes yang sudah nyaman dengan gaya tidurnya.
"Akhirnya bumilku tidur. Nggak jadi deh nengok si kuncung" gumamnya pelan. Memang malam indahnya hari ini harus terabaikan, tapi demi anak dan istrinya.. ia rela untuk mengalah.
//
__ADS_1
Adzan subuh sudah terdengar. Arnes bangun dari tidurnya dan baru mengingat bahwa semalam ia sudah mengabaikan suaminya.
Bang Zaldi pun akhirnya terbangun dan melihat Arnes sudah dalam posisi duduk di sampingnya.
"Kenapa dek?? Ada yang sakit??" tanya Bang Zaldi masih dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nggak ada" jawab Arnes.
"Maaf ya Bang, Arnes ketiduran" ucapnya merasa sangat bersalah.
"Nggak apa-apa. Abang tau kamu pasti capek. Anak kita butuh istirahat" kata Bang Zaldi.
"Tapi kalau kamu nggak capek, boleh lah Abang sayang sebentar"
Arnes tersenyum kecut mendengarnya. Sungguh ia merasa sangat bersalah sudah melupakan janjinya pada Bang Zaldi.
"Nggak usah di jelek-jelekin mukanya. Memang dasarnya sudah jelek. Gampang cemberut"
"Iiiihh.. Abaaang" Arnes ingin melayangkan tangannya untuk menepak bahu Bang Zaldi tapi suaminya itu lebih pintar. Dengan cepat ia menangkap dan menarik tangan Arnes hingga jatuh ke pelukannya.
"Ayo adu tenaga dalam, mumpung kuncung lagi nggak rewel" pinta Bang Zaldi dengan tatapan yang seketika membius perasaan Arnes.
***
"Bang, Apa tidak bisa di ganti nama yang lain??" Bang Zaldi sangat cemas saat tau namanya akan terlibat dalam test pratugas ke Sudan.
"Nggak bisa Zal. Ini permintaan khusus dari wakil panglima" kata Bang Acep.
"Bagaimana Zal??" tanya Danyon.
"Mau tidak mau, saya pasti berangkat Bang. Tapi kenapa penugasan ini mendadak sekali. Biasanya ada informasi lebih dulu sebelum menjalani pratugas" kata Bang Zaldi.
"Kamu khan tau Zal. Kita menerima perintah tak bisa di prediksi. Dimana pun, kapan pun.. kita harus siap"
"Saya paham Bang. Perintah itu mutlak. Hanya saja.. jujur saya cemas dengan keadaan istri" Bang Zaldi tidak bisa membohongi diri lagi. Memang ini begitu berbanding terbalik dengan sikap wibawa, bijaksana dan tegas yang selama ini selalu melekat padanya. Kali ini Bang Zaldi benar-benar berantakan dan lemah.
...
"Oohh.. kapan Abang berangkat??" Arnes terlihat santai saja mendengarnya.
"Besok siang dek" jawab Bang Zaldi tidak tega.
"Ya sudah.. sekarang kita siapkan perlengkapan Abang" Arnes berdiri dan masuk ke kamar, perlahan ia mengeluarkan satu persatu pakaian Bang Zaldi. Suaminya itu hanya bisa menatap dengan iba. Ia sudah paham betul bagaimana sifat istrinya.
"Nanti Abang siapkan sendiri" Bang Zaldi menarik tangan Arnes agar istrinya tidak berkutat dengan pekerjaan melelahkan.
"Kalau Abang tinggal nanti.. jangan melakukan hal aneh. Jaga si kuncung. Abang janji hanya berangkat pratugas saja, satu setengah bulan, biar ada yang memijat punggungmu setiap malam. Nanti Abang temani kamu saat melahirkan" janji Bang Zaldi.
Jika mungkin pergi menjaga perdamaian adalah suatu kebanggaan.. tapi kali ini tidak untuk Bang Zaldi. Ia hanya pria biasa, seorang suami yang sangat menempatkan istrinya di atas segalanya, tapi profesi yang melekat saat ini membuatnya tidak bisa berbuat apapun. Ini pun ladangnya mencari nafkah untuk keluarga.
"Iya Bang. Arnes nggak apa-apa kok. Abang berangkat saja. Disini ada Bang Seno sama Bang Righan, malah Mbak Brina sudah disini" jawab Arnes mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Pintar.. yang kuat ya jadi istri Abang" Bang Zaldi mengacak rambut Arnes lalu mengecup puncak kepalanya lalu turun dan memberi rasa disana.
"Abang mau main sama kuncung lagi. Besok papanya sudah berangkat kerja. Sebentar saja" ucapnya berlaku lembut pada sang istri.
***
Semalaman Bang Zaldi tidak bisa tidur dan hanya memandangi wajah Arnes yang bersih tanpa ada noda.
"Abang nggak tega dek tinggalin kamu jauh begini.. tapi Abang harus tetap berangkat. Jangan lelah ada di sisi Abang ya dek..!!"
-_-_-_-_-
Satu buah truk bersiap mengantar beberapa orang anggota pilihan yang akan berangkat tugas ke Sudan.
Bang Zaldi berjongkok menciumi perut Arnes yang masih belum terlihat.
"Adek tunggu papa ya. Hanya satu setengah bulan saja. Jaga mama selama papa kerja. Nggak boleh buat mama sakit"
Setetes pun tak ada tangis dari Arnes. Istri Bang Zaldi itu menebar senyum dan terlihat sangat tegar saat sang suami akan berangkat bertugas. Malah berbeda dengan Bang Zaldi yang belakangan lebih bermain perasaan dalam hal apapun.
Bang Zaldi menoleh melihat para rekan yang satu persatu sudah naik ke atas truk.
"Abang berangkat dek..!!" pamitnya.
Arnes meraih tangan Bang Zaldi dan mencium punggung tangan itu.
"Iya Bang"
"Papa hati-hati ya. Cepat pulang..!!" ucap Arnes mengiringi keberangkatan Bang Zaldi.
Bang Zaldi tersenyum mendengarnya.
"Atiku ora karuan ma" untuk beberapa saat Bang Zaldi menempelkan bibirnya pada kening Arnes tak lupa sekilas mendarat di bibir.
Bang Zaldi segera berlari menyusul rekannya. Tangannya melambai dari atas truk. Disaat inilah kaki Arnes gemetar seakan tak kuat menyangga tubuhnya. Bang Zaldi pun menjadi panik melihat istrinya yang begitu berbeda seperti apa yang dilihatnya tadi.
Dalam hitungan detik Arnes tumbang menghantam tanah dengan kuat. Bang Righan segeta membantu Arnes.
Bang Zaldi semakin berantakan.
"Arneeeeesss..." Bang Zaldi sangat khawatir sampai tak berakal sehat ingin melompat dari truk yang sedang berjalan.
"Pot, jangan gila kamu..!!! Patah tulang jadi apa kamu nanti??" tegur Bang Irfan.
"Kuat.. kuat.. kuat.. Demi anak Istrimu.. kembalikan jiwa tangguhmu..!!!!"
Bang Zaldi kembali duduk, ia menutup mata seolah tidak melihat apapun tapi hatinya sudah hancur berkeping bagai debu tertiup angin.
.
.
__ADS_1
.