
Nara suka yang ini. Fix no debat.
🌹🌹🌹
Malam kelam terlewatkan sudah. Bang Zaldi memilih sholat malam menghilangkan perasaan manusiawi yang ia punya. Hari ini adalah resepsi pernikahannya meskipun tidak semewah prajurit lain, tapi ia tetap mengenalkan 'adat keprajuritan' saat akan memasuki biduk rumah tangga. Di tatapnya wajah cantik yang masih tidur nyenyak di dalam selimut.
Selesai sholat Bang Zaldi merasa mengantuk, hatinya pun sudah sedikit lebih tenang. Masih ada empat puluh lima menit menuju adzan subuh. Ia pun bersandar di sisi ranjang hingga merosot tertidur di lantai, lelah dan kedinginan.
//
Arnes meraba di sampingnya, tak ada Bang Zaldi. Ia pun segera duduk dan ternyata ia melihat Bang Zaldi sedang tidur meringkuk di lantai tanpa alas apapun. Sedih dan iba rasa hatinya karena dirinya masih takut berdekatan dengan pria meskipun saat berdekatan dengan Bang Zaldi sudah tidak setakut dulu lagi.
"Bang, sholat subuh. Sudah adzan nih..!!" Arnes membangunkan Bang Zaldi.
Bang Zaldi bangun dan mengusap wajahnya. Rasa kantuknya masih kental terasa.
"Iya.. ayo sholat dulu"
//
Pandangan mata keluarga melihat Arnes dan Bang Zaldi nampak datar dan biasa saja membuat hati sekeluarga bertanya-tanya.
"Kamu nggak keramas Nes?" tanya Papa Rinto.
"Sudah pa. Memangnya kenapa"
Wajah Bang Zaldi memerah mendengarnya, ia mengusap wajahnya saat menyelesaikan doa terakhirnya.
Mama Anye mencubit perut Papa Rinto karena tanpa sadar terlalu los ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.
"Ya sudah kalian persiapan sana. Nanti jam sepuluh acara sudah di mulai. Perias sudah mau datang..!!" kata Papa menyudahi rasa keponya.
***
Bang Zaldi sudah rapi dengan seragamnya di luar gedung menunggu Arnes yang tak kunjung datang padahal waktu sudah mepet di jam sepuluh.
"Arnes kemana sih??" tanyanya pada Bang Seno.
"Sabar lah Bang. Jadi wanita itu nggak mudah" jawab Bang Seno.
"Padahal pagi sekali dia di rias. Dasar wanita.. belum pasang dempul, minyak rem, warna bibir. halaahh.. ruwet" gerutu Bang Zaldi sudah tidak sabar.
Belum sampai bibirnya yang banyak menggerutu itu diam, mobil pengantin yang membawa Arnes pun tiba. Seorang sopir turun dan membukakan pintu untuk Arnes. Begitu mobil terbuka, Arnes langsung menangis memeluk 'sopir' itu dan dengan kurang ajarnya si sopir mengecup kening Arnes.
"Abang ikhlas.." ucapnya.
Perasaan Bang Zaldi langsung panas meradang. Ia langsung menghampiri pria tersebut dan menarik kerah seragamnya.
"Beraninya kamu main nyosor istri orang" bentak Bang Zaldi.
"Kamu juga apa sih dek?? Di depan Abang kamu berani begitu" ucapnya menegur Arnes.
"Zal.. tenang dulu..!!" Papa Rinto berlarian menuju depan lobby gedung melihat wajah menantunya tak bisa di kondisikan lagi.
"Ijin Bang.. saya Putra........"
"Saya nggak peduli..!!!!" Bang Zaldi sudah mengangkat kakinya bersiap menendang tinggi tapi kakinya masih sempat di tangkis seseorang yang ada di sampingnya.
"Tahan Zaldi..!!!"
Bang Zaldi menoleh dan melihat ternyata yang menangkisnya adalah Dan Abrian. Pak Abrian menarik Bang Zaldi dan memeluknya.
__ADS_1
"Nafas dulu kamu..!! Cemburuan sekali. Putra itu Abangnya Arnes"
Baru setelah mendengarnya Bang Zaldi memejamkan matanya mengatur nafasnya yang memburu karena emosi yang meninggi.
Putra menghadap dan memberi salam hormat pada Bang Zaldi.
"Lettu Putra ijin menghadap. Ijin arahan Abang"
"Maaf.. maaf.. saya yang salah" Bang Zaldi pun menenggelamkan keningnya di Bahu Papa Brian. Mama Anye memberi minum pada menantunya itu.
"Ini sudah keberapa kalinya Zal. Emosimu itu tinggi sekali. Sekali lagi kamu begitu, Papa kasih kamu doorprize piring. Juara satu ribut sama istri" tegur Papa Rinto.
"Kenapa celananya kamu pegangi? takut lepas anak buahmu yang pecicilan itu???" tanya Papa Brian.
"Sobek belah empat pa" bisik Bang Zaldi.
"Ya ampuun Zaldiiiiiii.. ini acara mau mulai" Papa Rinto menepuk dahinya karena kesal berhadapan dengan menantunya.
"Bima kamu pulang ambil seragam upacara di lemari. Biar di pakai Bang Zaldi. Ada-ada saja resepsi belum mulai tapi sudah berantakan"
-_-_-_-_-
Arnes masih cemberut sampai tidak mau bergandengan tangan dengan Bang Zaldi menuju pelaminan. Bang Zaldi pun kelabakan di buatnya.
"Maaf lah sayang. Abang khan nggak tau itu Abangmu juga. Sebenarnya kamu punya berapa Abang biar nanti Abang hafalin" bujuk Bang Zaldi.
"Bang Putra terakhir" jawab Arnes.
"Ya sudah ayo jalan prosesi dulu. Marahnya lanjut nanti di rumah"
"Nggak mau, Abang jalan sendiri aja" Arnes pun berbalik meninggalkan Bang Zaldi.
Bang Zaldi meminta maaf dan meminta waktu sebentar kepada para tamu yang hadir meskipun harus meninggalkan rasa malu akibat insiden salah duga tersebut.
"Maaf sayang. Abang akan berusaha mengurangi sifat Abang yang pemarah. Ayo kesana lagi. Abang sudah malu setengah mati dek" ajak Bang Zaldi.
Arnes masih diam tidak menjawab. Air matanya menetes begitu saja. Bang Zaldi tau, saat ia mengenakan seragamnya yang gagah, tak mungkin ia menunduk untuk 'merendahkan diri' tapi ia menyadari di balik seragam itu nantinya akan ada sosok belahan jiwa yang akan mendukung di setiap langkahnya. Bang Zaldi meraih tangan Arnes kemudian menciumnya.
"Abang tidak pandai merayu. Abang harus bagaimana sekarang?" ucapnya mengakui kelemahannya.
"Iya.. Abang memang pemarah, jelek, item, sok ganteng, kaku, dingin....."
Bang Zaldi langsung mengecup bibir Arnes.
"Iya, itu memang Abang. Tapi kamu harus tau kalau Abang sayang kamu"
Secepatnya Bang Zaldi menggendong Arnes ke depan lobby. Arnes pun terdiam dan terpana mendapat perlakuan dari Bang Zaldi.
Para tamu undangan bertepuk tangan melihat Dan Zaldi begitu sayang dan memperlakukan istrinya dengan lembut. Amarahnya tak lain pasti karena rasa sayang suami Arnes itu.
//
Bang Zaldi dan Arnes sudah menyalami para tamu dan kini waktunya sesi foto bersama. Sudah banyak tamu undangan yang meninggalkan tempat. Disana Arnes kembali jengkel saat suaminya begitu sulit di atur untuk bergaya dan tersenyum.
"Abang yang benar. Arnes capek nih, sanggulnya berat. Apa susahnya sih senyum sedikit???? gayanya juga cuma lempeng aja seperti gedebong pisang" protes Arnes.
"Abang khan sudah bilang kalau Abang nggak bisa gaya" jawab Arnes.
Arnes pun akhirnya menarik tangan Bang Zaldi agar memeluk pinggangnya. Arnes berjinjit sedikit mencium kilat bibir Bang Zaldi. Benar saja.. perlakuan Arnes itu seketika memancing singa tidur. Perlakuan kecil memang langsung memberi dampak pasalnya beberapa hari ini ia sedang mengasah ilmu kebatinan yang belum tuntas.
"Ayolah Bang..!!" Arnes menarik dasi Bang Zaldi berniat merapikannya hingga tanpa sengaja hidung mereka saling bersentuhan. Darah Bang Zaldi langsung memanas dan langsung menghipnotis dirinya, tanpa sadar mengikuti gerak wajah Arnes.
"Sampai jam berapa acaranya?" tanya Bang Zaldi memejamkan mata dengan suara seraknya, ia sudah menautkan keningnya di kening Arnes. Bang Zaldi tanpa sadar terus menuntut penyelesaian batin.
__ADS_1
Moment itu langsung di abadikan sang fotografer dan hasilnya benar-benar bagus.
"Satu jam lagi kalau Abang mau kerjasama, setelah itu kita antar ibu pulang" jawab Arnes.
"Oke, kita selesaikan dalam waktu setengah jam" janji Bang Zaldi.
...
"Alhamdulillah..." Acara pun selesai, seluruh keluarga bernafas lega. Mereka sudah tiba kembali di rumah. Arnes dan Bang Zaldi pun sudah bersiap mengantar ibu pulang ke kampung.
Sebenarnya ibu menolak tapi Bang Zaldi dan Arnes tidak tega apalagi sepertinya Bang Zaldi mempunyai misi terselubung.
//
Dalam perjalanan Arnes lebih banyak tidur, Bang Zaldi membiarkan istrinya beristirahat, ia tau porsi tubuh wanita tidak sekuat pria.
"Istrimu kelihatan capek le" kata Ibu.
"Iya Bu, banyak pikiran juga belakangan ini" jawab Bang Zaldi.
Ibu hanya mengusap kening Arnes yang tidur bersandar di bahu Bang Zaldi.
...
Hari hampir tengah malam saat mereka tiba di kampung. Setelah semua beres, Ibu Bang Zaldi pun sudah masuk ke dalam kamar. Arnes juga sudah berada di dalam kamar.
"Bang, Abang lama sekali di belakang.. bisa tolong ambilkan minum?" tanya Arnes dari dalam kamar.
"Siap sayang. Sabar ya..!!" Bang Zaldi pun meminum pil sakti yang ia beli di tengah jalan sebelum pulang kampung tadi"
//
Tak lama Bang Zaldi masuk ke dalam kamar setelah dirasa pil sakti itu sudah bereaksi sekitar sepuluh menit.
"Ini minumnya..!!" Bang Zaldi membantu Arnes untuk minum.
"Ehmm.. kamu capek nggak dek?" tanya Bang Zaldi sambil sesekali mengecup Arnes.
"Nggak begitu Bang" jawab Arnes terlihat tidak nyaman.
Bang Zaldi meletakan gelas di nakas. Memandang wajah Arnes saja sudah membuat jantungnya berdesir naik turun. Perlahan tapi pasti Bang Zaldi mendorong Arnes dan mengecup bibir manis itu lagi. Hasratnya sungguh sudah sangat mengganggunya.
"Lapor Bu Komandan.. keadaan sudah tidak aman. Bisa lakukan penyerangan di titik koordinat sekarang?" tanya Bang Zaldi berhati-hati.
"Iya Pak Komandan.. malah lebih dari tidak aman. Titik koordinat sedang di portal" jawab Arnes berhati-hati juga.
"Di portal kenapa dek??" tanya Bang Zaldi lagi.
"Ini barusan Arnes ke belakang ternyata Arnes lagi dapet Bang" jawab Arnes.
"Astagfirullah hal adzim..!!!!!!" kepala Bang Zaldi mau pecah rasanya apalagi dia sudah terlanjur menelan pil sakti.
"Bisa di tahan dulu nggak dek??? Rasanya Abang sudah mau meninggal ini" ucapnya semakin frustasi.
"Sabar Bang.. Namanya tamu. Cuma sebentar kok. Delapan hari aja" kata Arnes
"Aaaarrgghhhh.... Ya Allah... Kena kutuk apa Abang dek?????" pekik Bang Zaldi mengacak-acak rambutnya.
"Yang haram gampang banget di colek, giliran halal susahnya bukan main" ucapnya menahan rasa tak karuan. Bang Zaldi hanya bisa pasrah memijat pelipisnya yang mulai terasa pening belum lagi merasakan nyeri karena koplingnya macet total.
.
.
__ADS_1
.