
"Ini camilan buat kamu dek" Bang Brian menyerahkan sekantong camilan untuk Anye.
Wajah Bang Brian sudah nampak biasa saja seolah tidak melihat apapun yang terjadi tadi. Ia langsung duduk dan bergabung dengan Rinto dan Anye.
"Anak-anak sudah tidur??" tanya Bang Rinto mengalihkan suasana.
"Sudah pak" jawab Ariani menunduk karena mereka bingung hidup di tengah keluarga ini. Yang Ariani tau, Anye dan Rinto sudah berpisah tapi ia merasa tidak nyaman karena Rinto selalu memperlakukan Anye masih selayaknya istrinya dan Brian yang seolah menjaga jarak meskipun Brian juga memberi perhatian pada Anye.
Apa mbak Anye ini kembali memiliki hubungan di belakang Pak Brian? Atau hanya sekedar kedekatan karena mereka memiliki Seno dan Bima?? Apa Pak Brian tau kedekatan mereka?? Aahh.. aku pusing sekali memikirkan hubungan mereka.
"Kamu nggak perlu tau apa yang terjadi antara kami. Kamu ikut saja dengan baik disini" ucap Bang Rinto membuat Ariani semakin gemetar.
Ariani selalu bingung menempatkan diri jika sudah berhadapan dengan Pak Rinto. Wibawanya seakan menghipnotis dirinya dan membuatnya salah tingkah.
"Saya ngerti Pak..!!" jawab Ariani.
"Saya mau bicara sama kamu Bri..!!" ajak Bang Rinto.
#
"Apa tidak sebaiknya Ariani tinggal di tempat terpisah? Mau bagaimana juga kita harus berjaga dari omongan orang. Juga sebaiknya menjaga perasaan Anye meskipun dia yang membawa Ariani bersama kita" kata Rinto.
"Lihat besok saja Rin. Kepalaku pening, masih belum siap berpikir ke arah sana. Niatku hanya satu. Nggak bertengkar sama Anye" jawab Brian.
"Aku lagi baik hati nih. Mau kopi apa teh?" tanya Rinto sambil berdiri menuju dapurnya yang memang sudah lengkap.
"Apa saja yang kamu punya..!!" jawab Brian.
#
"Entah sudah berapa lama kita tidak santai seperti ini" kata Rinto sambil menyeruput kopinya, tangan satu lagi langsung menghisap rokoknya.
"Sejak kita tegang dengan masalah Anye" jawab Brian.
"Apa kamu sungguh mencintai Anye?" tanya Rinto.
Leher Brian rasanya tercekat, bingung menjawabnya sebab apa yang ia alami sekarang ini penuh dengan beban dalam dirinya. Rasa kehilangan yang dulu ia rasakan membuatnya mencintai Anye tanpa syarat, ia menemani istri Rinto dalam sebuah kerapuhan. Kehilangan sosok Rinto membuat wanita itu hampir gila. Siapa sangka takdir Allah begitu sungguh indah. Rinto kembali saat ia sudah memperistri Anyelir.
"Kalau Anye lebih nyaman denganmu, jagalah dia mulai saat ini. Aku ikhlas, aku memang salah sudah berani mencintainya. Mungkin ini takdir Tuhan untuk ku yang tidak bisa memeluk dan menjaga semua istriku dengan baik. Tapi aku sadar.. dia bukan milikku. Tanggung jawabku sekarang hanya tentang anak yang berada dalam kandungannya. Selebihnya aku tidak berhak. Dalam hatiku yang paling dalam. Aku minta maaf" ucap Brian berbesar hati mengakui kesalahannya.
"Jadi kamu tidak mencintainya??" tanya Rinto lagi.
"Jelas aku mencintainya, aku sudah menitipkan sebagian diriku pada Anye. Kami sudah... Ya kamu pasti tau lah, tidak mungkin tidak ada rasa" jawab Brian dengan tidak enak hati.
__ADS_1
Raut wajah Rinto berubah pias, jelas sekali ada rasa cemburu dan sakit dalam hatinya. Tapi mau di sesali pun Anye dan Brian melakukan dalam akad pernikahan yang sah.
"Maaf.. karena aku datang, kita harus mengalami semua hal ini" pikiran Rinto semakin kacau. Ada rasa bersalah, sakit hati, cemburu, marah.. semua bercampur aduk menjadi satu.
"Kalau kau yang minta maaf lalu apalah aku ini" jawab Brian.
Rinto mengajak Brian bersalaman tanda damai. Semua demi Anye, sesakit apapun.. seberat apapun ia rela menahan semuanya.
***
"Di belakang Batalyon ada kontrakan yang layak, sebaiknya kamu jangan satu rumah dengan Ariani untuk menghindari fitnah. Abang bisa mengerti keadaan kalian tapi belum tentu orang mau mengerti. Disini sebisanya Abang meredam suara anggota kita, tapi tak menutup kemungkinan masih ada suara. Abang hanya menjaga Anye, takut dia tidak kuat mendapat terpaan badai lagi" saran Bang Ucok.
"Siap Bang..!!" jawab Rinto dan Brian.
#
"Kamu duluan saja Rin. Aku masih ada perlu" kata Brian yang tidak ikut acara siang ini.
...
"Nanti malam kamu tidur disini ya. Setelah anak-anak tidur.. saya antar kamu kesini" kata Bang Brian saat menunjukan kontrakan petak yang tidak seberapa besar untuk Ariani.
"Iya pak. Ini saja sudah lebih dari cukup. Maaf saya jadi merepotkan bapak dan Mbak Anye"
"Ayo kita kembali ke rumah...!! Anye ada kegiatan, anak-anak tidak ada yang jaga" ajak Bang Brian. Mata Brian mengerjap, kepalanya terasa pening.
-_-_-_-_-
Anye berjalan berpegangan pada sisi dinding. Sekarang rasanya berjalan sedikit saja sudah sangat melelahkan untuk Anye.
"Ayo Abang antar pulang.. Kamu sudah kelihatan capek sekali dek" Bang Rinto menggandeng tangan Anye tak peduli dengan keadaan sekitar, lagipula siang itu Batalyon sudah sepi.
"Iya Bang.. ayo..!!"
#
Bang Rinto membuka pintu mobilnya dan menggandeng Anye untuk turun dari mobil. Saat Anye melangkahkan kaki, bersamaan dengan Brian yang baru saja datang bersama Ariani.
"Anak-anak dimana dek?" tanya Bang Brian.
"Main sama Om Alex dan Om Jeri" jawab Anye.
"Jadi daritadi Seno dan Bima nggak sama kamu dek??" tanya Bang Brian lagi.
__ADS_1
"Nggak Bang, Anye repot urus pertemuan dengan ibu-ibu" jawab Anye.
Rinto dan Brian hanya saling pandang ternyata mereka sama sekali tidak sedang membawa anak. Rinto bersama Anye, Brian bersama Ariani.
"Masuk dek..!!" perintah Brian datar, ia sedikit kasar menarik tangan Anye. Ia hanya ingin menghindarkan pandangan buruk orang lain.
"Aawwhh .." Anye tersentak, ia merintih kesakitan dan memegangi perutnya.
"Kenapa dek??" tanya Bang Rinto yang kaget melihat Anye sedikit meringkuk.
"Biar Anye masuk dulu..!!" kata Brian.
"Masuk ya masuk, tapi nggak usah kasar..!!!!!" tegur Rinto.
Brian seolah tidak mendengar ucapan Rinto, bahkan ucapannya semalam bagai ucapan kabur terkena angin.
"Aku juga masih suaminya Rin" jawab Brian.
Rinto menarik tangan Brian.
"Kamu mabuk ya???????"
"Sejak kapan aku mabuk??" tanya Brian dengan tatapan mata kosong.
"B*****t.. jangan dekati Anye kalau kamu mabuk..!!"
"Aku nggak mabuk" jawab Brian semakin menarik tangan Anye.
Karena terlalu keras ia menarik tangan itu hingga Anye tersandung dan hampir terjatuh jika saja tangan Rinto tidak menariknya kembali.
"Briaaann..!!!!!! Buka matamu bodoh..!!!!" Rinto menampar pipi Brian agar segera sadar.
"Sebenarnya pikiran apa yang ada di kepalamu?????"
Brian tetap tidak mengindahkan ucapan Rinto dan malah semakin menarik Anye masuk ke dalam rumah.
"Briaann..!!!!!" Rinto mengikuti langkah Brian yang menyeret Anye masuk ke dalam kamar.
.
.
.
__ADS_1