
Arnes meninggalkan tempat setelah mengabadikan momen kebersamaan Bang Zaldi dengan perempuan itu.
Dari kejauhan sepertinya Om Aswin melihat sosok Ibu danki tapi ia segera menepisnya karena tidak mungkin ibu Danki pergi ke tempat seperti ini.
...
"Ini yang saya janjikan, satu juta rupiah untuk dua jam pertemuan. Terima kasih untuk informasi yang kamu beri. Saya akan membayarmu lagi selama saya masih membutuhkan informasi"Bang Zaldi menyerahkan uang cash pada Grace.
"Baiklah Bang. Saya mau bekerja sama" kata Grace tidak berusaha menggoda Bang Zaldi lagi setelah tau maksud dan tujuan pria itu bukan untuk menidurinya.
"Tapi, Apa Abang tidak tergoda dengan foto dan video yang saya kirim?"
"Maaf Grace, istri saya segalanya. Dia sudah mengalihkan dunia saya" bisik Bang Zaldi di telinga Grace.
Bang Righan dan Bang Putra masih bisa mendengarnya walaupun samar, dan itu cukup melegakan Abang Arnes.
Bang Putra terus menatap wajah Grace dengan pandangan datar hingga Bang Righan harus menegur adiknya itu.
"Put, cantik sekali kah sampai kamu menatapnya seperti itu? Dia sudah garis merah" bisik Bang Righan.
"Wanita sekarang satu di banding seribu. Jarang juga khan kita menemukan yang masih segel" jawab Bang Righan.
"Jadi kamu naksir dia??"
"Nggak lah Bang, saya khan pacaran sama Nia" kata Bang Putra.
...
"Ijin Abang. Sepertinya saya tadi lihat mbak Arnes ada disini" Om Aswin akhirnya tidak bisa menahan perasaan janggalnya.
"Masa sih??"
"Iya Bang, serius"
Bang Zaldi menoleh menatap Bang Putra dan Bang Righan.
"Perkiraanmu bagaimana Rig?"
"Bisa saja, tiap kemungkinannya kecil. Keadaan Arnes sangat payah. Mana sanggup dia sampai kesini"
"Kemungkinan kedua, bisa saja sampai kesini karena naluri wanita jarang ada yang salah" ucap Bang Putra menyela.
"Mati gue, jangan sampai Arnes pikir macam-macam. Niat saya mau melindungi dia bukan main hati di belakangnya" jawab Bang Zaldi.
"Terlacak.. dia masih di sekitar sini lho Bang. Kira-kira siapa ya?" Bang Righan mulai menemukan titik terang.
"Kirim ke email saya. Nanti saya lacak dari rumah" ucap Bang Zaldi tapi hatinya berdesir nyeri, takut kalau sampai apa yang di sampaikan Aswin benar adanya. Ia terus berpikir memutar otak kapan kiranya Arnes mencari celah hingga akhirnya Arnes tau kemana arahnya pergi malam ini.
...
Bang Zaldi membuka pintu. Awalnya saja tak ada yang mencurigakan, ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Arnes sedang tidur memeluk Ibra. Satu persatu ia melihat apakah ada jejak tanda istrinya membuntutinya tadi.
Ekor matanya tertuju pada cardigan abu-abu yang berserakan di samping lemari.
__ADS_1
"Kapan Arnes memakai cardigan ini? Arnes belanja sayur pakai cardigan ini???" gumamnya pelan.
Ia melirik lagi pada Arnes yang sedang tidur.
Percayalah dek.. Abang tidak akan mengkhianatimu.
***
"Besok pertemuan di Batalyon dek. Kamu bisa ikut khan?" tanya Bang Zaldi membuka percakapan pagi itu.
"Hmm.." jawab Arnes singkat.
Perasaan Bang Zaldi sudah tidak enak menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi pada istrinya.
"Abang berangkat ya. Nanti Abang jemput ya" kata Bang Zaldi lagi.
Arnes diam tidak menjawab suaminya lagi bahkan sampai Bang Zaldi mengucap salam rasanya hanya terdengar pelan di telinga.
...
Arnes duduk usai mengarahkan para ibu pengurus kompi untuk kegiatan di Batalyon esok hari. Tubuhnya sudah terasa begitu lelah.
"Ibu butuh saya panggilkan Danki?"
Arnes sedih sekali, sebenarnya dirinya sangat membutuhkan dukungan sang suami tapi kini kenyataannya berbeda. Dirinya bukan lagi prioritas Danki kebanggaannya itu. Suaminya lebih memilih wanita malam dan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Nggak perlu Bu, saya bisa sendiri. Sebentar lagi saya pulang ya..!! Sampai jumpa esok hari" jawab Arnes.
...
"Arnes sehat-sehat saja dan masih bisa jalan. Mungkin sudah waktunya Arnes harus bisa mengurus diri sendiri" jawab Arnes sedikit ketus.
"Kamu ini ngomong apa? Abang hanya tanya kenapa kamu nggak bilang kalau tadi sudah pulang"
"Arnes tidak ingin bermanja-manja pada pria yang sebenarnya tidak ingin membuat Arnes like a queen"
"Kapan Abang nggak mengusahakanmu jadi ratunya Abang. Segala yang Abang lakukan hanya untuk kamu, demi kamu" ucap Bang Zaldi.
Kini Arnes sepertinya sudah kehilangan kepercayaan, ia meninggalkan Bang Zaldi.. tak ingin mempedulikan suaminya lagi.
...
"Ya Allah, kenapa semakin parah saja" gumam Bang Zaldi begitu cemas. Mulai hari dimana masalah itu timbul, Bang Zaldi mengambil sim card Arnes dan mengamankan segala yang ada dari ponsel istrinya itu dan menggantinya dengan sim card lain tanpa sepengetahuan Arnes. Hari ini puluhan panggilan dari banyaknya pria hidung belang sudah menghubungi nomer yang kini ada dalam genggaman Bang Zaldi.
Malam ini bukan lagi foto biasa, tapi foto Arnes yang terbuka, sudah terpampang nyata disana.
:
Hingga malam Bang Zaldi hanya nampak sibuk dengan 'dunianya'. Arnes yang semakin penasaran melihat Bang Zaldi menyendiri di belakang rumah nampak sedang menghubungi seseorang.
"Berapa yang kamu mau? Saya mau bertemu kamu sekarang juga..!!!!" ucap Bang Zaldi dengan nada marah.
:
__ADS_1
"Abang mau keluar lagi?" tanya Arnes masih dengan ketusnya.
"Ada pekerjaan sayang. Nggak bisa di tunda" jawab Bang Zaldi.
"Kemana?? Ke tempat wanita penghibur itu?? Yang lebih bisa memuaskan hasrat Abang di banding Arnes" teriak Arnes karena terlalu kesal.
"Jaga bicaramu dek..!! Abang nggak pernah mengkhianati kamu"
"Arnes lihat sendiri Abang berduaan dengan wanita itu di diskotik. Wanita malam bernama Grace itu, yang Abang tawar satu juta untuk dua jam pertemuan" Nafas Arnes begitu sesak, tangannya memegangi perutnya yang terasa kram menegang.
"Kamu salah paham dek. Tenang dulu ya..!!" Bang Zaldi mencoba untuk membujuk Arnes.
"Aarrgghh...." Arnes sudah sangat kesakitan. Ia ingin menolak Bang Zaldi yang hendak membantunya tapi tidak cukup kuat, wajahnya begitu menunjukan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam hingga akhirnya Arnes pingsan.
...
Bang Righan dan Bang Putra menyelesaikan masalah Arnes atas permintaan Bang Zaldi karena sudah terjadi kesalah pahaman hingga membuat mental Arnes down seketika.
//
"Bicara sama Abang dek. Jangan diam saja..!!" Bang Zaldi menggenggam tangan Arnes tapi istrinya itu menepisnya.
"Demi Allah, demi anak kita, Abang nggak pernah berzina dengan wanita manapun. Abang sayang kamu dek"
"Terus kenapa Abang bohong sama Arnes? Kenapa Abang temui wanita itu??? Abang lebih memilih wanita itu daripada menegur salahnya Arnes. Apa salah Arnes???" Arnes berteriak histeris.
"Maaf dek.. maaf.. Abang belum bisa cerita ke kamu tapi tolong percaya Abang."
Arnes pun kembali pingsan membuat hati Bang Zaldi begitu sakit. Air matanya pun berlinang juga.
Abang nggak mungkin bilang kalau kamu di tawar orang, foto 'dirimu' tanpa busana sudah tersebar di media sosial. Sedikit lagi.. sedikit lagi Abang akan tangkap akun Hutan Rimba. Abang akan beri dia pelajaran. Abang rahasiakan ini semua karena Abang tau kamu nggak akan kuat. Grace adalah anak buah Hutan Rimba. Hanya dia yang tau siapa akun j*****m yang menjualmu.
...
Tengah malam Bang Zaldi masih menunggu kabar dari Bang Righan dan Bang Putra. Arnes masih terus menangis dan histeris. Untung saja di kecil Ibra masih bisa ia tenangkan dalam buaiannya.
"Sayang.. beri Abang sedikit waktu, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk Abang ceritakan" Bang Zaldi terus membujuk Arnes, sungguh ia sangat mencemaskan anak dan istrinya, takut akan terjadi sesuatu jika Arnes tau hal ini. Masalah ini bukan perkara mudah untuk di cerna akal sehat apalagi untuk yang tidak paham jika foto tersebut adalah editan belaka.
:
"Saya sudah tau Bang, siapa si Hutan Rimba" kata Bang Righan.
"Siapa???? Siapa b******n itu???? Apa benar sesuai dugaan saya" emosi Bang Zaldi sudah tidak dapat di bendung lagi.
"Yes Bang.. sayangnya tebakan Abang tidak meleset" jawab Bang Putra menyahut.
"K*****t.. Saya benar-benar akan mencincangnya tanpa ampun" hati Bang Zaldi sudah bagai bara batu karang dalam sekam. Tidak ada yang tau bagaimana cara membuatnya padam saat ini. Di siram pun karang itu akan tetap panas.
Mata Bang Zaldi melirik Arnes. Keributan hari ini pun sungguh menyiksa batinnya.
.
.
__ADS_1
.