Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 31. Beginikah rasanya.


__ADS_3

Bang Zaldi merasakan sakit di tubuhnya. Tendangan Arnes memang tidak seberapa kuat tapi istrinya itu benar-benar pintar menyerang tepat di titik-titik vital tubuh manusia.


"Masih sakit ya Bang?" Arnes memeluk Bang Zaldi dari belakang lalu menautkan keningnya di tengkuk Bang Zaldi.


Aarhhh.. sial. Kenapa saat dia lembut seperti ini, badanku malah ke_ok nggak karuan.


Melihat suasana sudah landai dan tenang. Bang Zaldi pun tidak menyiakan kesempatan.


"Badan Abang sakit semua kamu hajar dek. Pijat dulu ya..!!" pintanya memasang wajah memelas dan memercing seperti merasakan sakit.


"Abang bisa kena batu ginjal nih" ucap Bang Zaldi lagi.


"Iya Bang.. Ini Arnes pijat. Maaf ya Bang" sesal Arnes. Ia langsung meraih tangan Bang Zaldi dan mencium punggung tangan suaminya itu.


"Jangan marah ya Bang..!!"


Bang Zaldi mengulum senyumnya.


Bagaimana bisa marah kalau berhadapan sama tingkah konyolmu ini. Mudah-mudahan kamu nggak takut, segera luluh, manut sama Abang ya dek.


"Tergantung pijatannya. Kalau enak ya di maafkan" jawab Bang Zaldi datar.


Arnes yang polos berusaha menjadi sebaik-baiknya istri.


"Injak punggung Abang..!!" pinta Bang Zaldi.


"Injak Bang??" Arnes tak percaya permintaan Bang Zaldi pasalnya mereka sedang tidur di lantai.


"Iya.. Cepat.. Atau nggak di maafin nih..!!" ancam Bang Zaldi.


Arnes pun segera berdiri, dengan ragu menginjak punggung suaminya.


"Maaf ya Bang..!!"


Bang Zaldi menyembunyikan senyumnya. Perlahan Arnes naik ke punggung Bang Zaldi. Arnes melirik ke bawah dan melihat Bang Zaldi tidak merasa beban berat sedikit pun saat dirinya berada di atas punggung sang suami.


"Berat Bang??" tanya Arnes.


"Nggak" jawab Bang Zaldi singkat.


Arnes masih terus fokus pada tugasnya sampai dirinya lengah tak menyadari wajah licik Bang Zaldi. Melalui pantulan kamera depan, ia menyorot wajah cantik sang istri dan itu membuatnya semakin gemas, kulit pipinya yang berwarna gelap semakin terlihat seperti udang rebus. Degub jantungnya bertalu tak menentu. Tepat di saat pandangan mata Arnes kosong dan menerawang.. Bang Zaldi berbalik badan hingga membuat Arnes terpelanting di atas tubuhnya, dengan sigap Bang Zaldi menangkap dan mendekapnya karena Arnes masih begitu syok.


Mata mereka berdua saling bertatapan. Bang Zaldi pun menurunkan egonya. Kini ia bukanlah pria dingin, tapi ia adalah suami dari Diajeng Arnesia. Dengan lembut ia mengecup bibir


"Sekuat-kuatnya kamu, kamu tetap seorang perempuan, segalak-galaknya kamu. Kamu tetap seorang istri. Kalau suami minta baik-baik, nggak boleh melawan. Tau khan itu semua dosa besar.


"Arnes takut" ucapnya jujur dengan suara bergetar.


"Abang nggak akan menyakiti istri Abang sendiri. Nggak boleh lho mengabaikan suami sampai lama begini. Abang sudah berusaha sabar dek. Tapi sabar Abang juga ada batasnya. Mau ya..??" dengan sabar Bang Zaldi membujuk Arnes.


Wajah Arnes terlihat ragu, tapi ia mengangguk tidak pasti.


"Kamu keberatan nggak kalau disini?" Bang Zaldi menanyakan kesiapan Arnes.


"Nggak Bang" suara Arnes terdengar bergetar.


"Abang minta besok saja ya, di rumah. Abang tau kamu masih belum siap" Bang Zaldi mengecup kening Arnes dengan sayang.

__ADS_1


Arnes mengangguk mengiyakan. Bang Zaldi pun ikhlas, ia ingin tidak ada paksaan di antara mereka dan Arnes pun tidak tertekan dengan apa yang akan mereka lakukan nanti.


Akhirnya mereka pun tidur dengan perjuangan panjang Bang Zaldi sekali lagi.


***


Arnes bersiap-siap untuk kembali ke Batalyon. Letda Ajun terpaksa tidur di barak satu karena ia tau ada wanita di dalam kamar khusus Komandan.


"Tadi yang kulihat itu, bukannya calon istri Bang Zaldi?? Kalau masih calon bukannya tidak boleh bersama?? Aahh sudahlah.. itu urusan rumah tangga senior" gumamnya.


//


Serah terima tugas sudah dilaksanakan. Bang Zaldi meminta kunci mobil kakak iparnya.


"Nggak apa-apa khan kamu naik truk"


"Nggak apa-apa lah Bang, santai saja. Saya malah senang nggak perlu mengemudi tujuh sampai delapan jam" jawab Bang Righan.


//


"Kamu mabuk dek??" tanya Bang Zaldi.


"Iya Bang. Jalannya berbatu, perut Arnes mual, kepala juga pusing" Arnes bersandar pada sisi pintu mobil.


"Maaf ya. Abang menghemat waktu dua jam perjalanan, jadi kita lewat jalan seperti ini. Sebentar lagi keluar di jalan utama. Sabar ya..!!" Bang Zaldi menarik Arnes ke dalam dekapannya.. di kecupnya wajah lembut Arnes hingga turun pada bagian wajah favorit Bang Zaldi.


Mobil itu pun perlahan menepi. Tak ada satu orang pun melewati jalan bebatuan tertutup semak belukar tebal. Mungkin hanya Bang Zaldi saja yang tau jalan tikus itu.


Keadaan hutan yang sunyi, senyap, hanya terdengar suara hewan khas. Kaca film di mobil itu turut mendukung pikiran liar Bang Zaldi yang sudah kacau tak terarah. Ia ingin melepaskan semua beban rasa sekarang juga tapi ia harus tetap menggunakan akal warasnya.


...


Di tengah jalan, Bang Zaldi berbelok ke sebuah penginapan padahal satu setengah jam lagi mereka akan tiba di Batalyon.


"Kita mampir Bang??" tanya Arnes.


"Iya" jawab Bang Zaldi dingin dan singkat. Arnes tak ingin membalas apapun lagi.


Bang Zaldi memarkir mobilnya dan turun untuk mengambil beberapa pakaian untuk di bawa masuk ke penginapan.


"Ayo..!!" tangan Bang Zaldi terjulur, menggandeng Arnes agar berjalan bersamanya menuju ke dalam penginapan.


//


Pintu kamar tertutup rapat, Bang Zaldi menarik nafas panjang.


"Tolong kali ini jangan ada apa-apa lagi" bisiknya di telinga Arnes seperti permohonan terdalam seorang Zaldi.


"Kamu mandi dulu dek. Jauh dari perjalanan" kata Bang Zaldi


Arnes pun menurut dan mengambil tas dan bergegas mandi.


//


Bang Zaldi selesai mandi dan melihat Arnes sedang mengeringkan rambutnya. Ia tak pernah melepas pandangan dari Arnes. Apa yang dilakukan Arnes sempat terhenti karena begitu gugup. Bang Zaldi pun akhirnya menurunkan tas dari ranjang yang ia letakkan tadi kemudian membopong Arnes lalu mendudukkan Arnes di atas ranjang.


Seketika Arnes menunduk saat Bang Zaldi menatapnya lekat. Dua jantung berdebar, bertalu tak beraturan. Entah siapa yang memulai lebih dulu. Bibir mereka berdua saling mendekat dan bertautt. Tangan Bang Zaldi yang lincah tak melewatkan rasa penasaran dalam dada.

__ADS_1


Bang Zaldi hanya pria biasa, ia menarik diri saat hassratnya seketika melonjak melirik kulit putih mulus Arnes, apalagi paras wajah itu ia akui begitu cantik. Bang Zaldi meneguk salivanya melihat apa yang disebutnya nasi M*D harus ia akui sangat indah malah bagai nasi keranjang hajatan. Wajah Arnes sudah memerah merasakan Bang Zaldi sudah tidak terkontrol lagi. Perlahan Bang Zaldi merebahkan tubuh Arnes.


"Apa sebegitunya Abang menakutimu? Abang sayang kamu. Sebisa mungkin Abang akan menjauhkan tangan yang akan melukai tubuhmu dan lisan yang menyakiti hatimu. Kamu sudah Abang cintai sejak pertama kita bertemu" Bang Zaldi benar-benar sudah tidak bisa menahan diri. Ia menyembunyikan wajahnya di sela leher Arnes. Nafasnya sulit ia kendalikan tapi ia pun tak ingin memaksa jika istrinya belum ikhlas.


"Arnes siap Bang" ucapnya sambil menutupi wajahnya dengan tangan.


"Kamu yakin??" Bang Zaldi mengangkat kepalanya untuk memastikan kesiapan mental Arnes.


"Iya Bang" jawabnya kembali terisak seperti biasa saat Bang Zaldi mencoba menyentuhnya.


Bang Zaldi tersenyum kecil. Ia mendekatkan bibirnya di puncak kepala Arnes hingga turun ke bawah.


:


Arnes menggigit kecil bibirnya saat Bang Zaldi menekan tubuhnya dengan kuat. Bang Zaldi memejamkan mata ketika ada rasa lepas, lega, tuntas.. terbang melayang ia rasakan.


Rasa penasaran, gelisah, takut, haru juga bahagia bercampur menjadi satu. Hanya Bang Zaldi saja yang merasakan rasa ini. Tak terasa air matanya ikut menetes.


"Maaf Bang.. Arnes nggak pintar" ucapnya terisak takut saat Bang Zaldi membuka matanya dan menatapnya dengan lekat.


"Kenapa nggak jujur sama Abang dari awal. Sebenarnya apapun keadaanmu Abang sudah ikhlas. Terima kasih banyak Nyonya Zaldi Kesayangan. Abang sungguh sayang kamu" ucap Bang Zaldi tulus dari hati. Ia memang bukan pecinta wanita, tapi pria pun punya kepekaan dan rasa.


"Selamat ulang tahun ke dua puluh delapan Abang.. semoga Abang selalu sehat, lancar rejeki dan sukses dalam karir Abang"


"Aamiin.. Terima kasih sayang. Ini hadiah darimu yang terindah, paling indah dan pastinya hanya untuk Abang saja" Bang Zaldi beralih ke perut Arnes.


"Papa tunggu adek ya" ucapnya kemudian mengecup perut Arnes hingga Arnes menarik selimutnya kembali.


"Maluu Abaaaanngg..!!"


"Kenapa malu?? Abang sudah lihat semuanya" ucapnya tersenyum geli.


...


Arnes menarik sprei di hotel, ia merasa malu ada bekas noda disana.


"Sudahlah.. kita nggak sengaja" Bang Zaldi menyeduh kopi lalu menumpahkannya di atas sprei.


Bang Zaldi meletakan gelas di atas meja lalu kembali memeluk Arnes.


"Abaaaang.. Katanya mau pulang sekarang???" tanya Arnes.


"Disini sebentar lagi. Abang masih mau pengamanan lapak kiri. Tadi khan baru lapak kanan. Mau nggak?"


Arnes malu-malu kucing, wajahnya pun kembali memerah.


"Mauu"


"Idiiihh.. tadi siapa yang takut, sekarang nagih" ledek Bang Zaldi.


"Abaaaaaang..!!!!" Arnes menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Bang Zaldi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2