
Setiap keadaan punya versi berbeda.
🌹🌹🌹
"Righan.. jangan sampai ada yang tau saya tidur disini?? Nanti saya bisa kena sanksi kalau ketahuan bermalam disini" pinta Bang Zaldi pada Righan.
"Siap Abang.. saya pasang badan" jawab Bang Righan.
...
"Abang tidur dimana?" tanya Arnes.
"Di luar, di ruang tamu" jawab Bang Zaldi.
Arnes merasa gelisah saat Bang Zaldi memilih tidur di ruang tamu. Tapi apa yang bisa ia lakukan. Mereka memang belum resmi menikah. Tak berbeda dengan Bang Zaldi yang hanya pura-pura tidur saja. Bagaimanapun juga ia tetap merasakan bedanya hidup sendiri dengan hidup satu rumah bersama seorang wanita.
Degub jantungnya tidak bisa tenang. Dari ruang tamu itu ia bisa melihat Arnes yang tidur gelisah karena memang Arnes meminta agar pintu kamarnya di buka lebar dan lampu kamar di nyalakan.
"Bang.. Arnes takut" ucapnya. Tapi Bang Zaldi pura-pura tidak mendengarnya. Meskipun ada rasa tidak tega tapi Bang Zaldi berusaha menjaga diri agar Arnes bisa lebih berani.
//
Bang Zaldi sudah tertidur di sofa, tapi ia merasa lengannya begitu kram. Saat ia membuka matanya ternyata Arnes tidur dengan cara duduk dan menyandarkan kepala di lengannya.
"Ya Allah, kenapa kamu tidur disini? Apa yang kamu takutkan?" Bang Zaldi mengusap pipi Arnes.
Karena tidak tega, udara di pegunungan juga dingin, Bang Zaldi mengangkat dan memindahkan Arnes ke dalam kamar. Ditatapnya wajah polos dan cantik calon istrinya.
"Boleh nggak sih dek kalau kita nyolong halal dulu. Abang nggak munafik.. takut sekali nggak bisa tahan godaan" gumamnya sambil mengurai rambut Arnes yang terselip karena tertindih kepalanya.
...
Arnes bangun pagi dan membuka matanya. Bang Zaldi tidur meringkuk di bawah ranjang beralaskan tikar. Senyumnya mengembang tulus mendapat perlakuan manis dari Bang Zaldi. Pria itu sangat kaku, galak dan garang. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan wibawa sang perwira, tapi di balik garangnya itu, hati Bang Zaldi memang lembut dan penyayang persis seperti kata ibunya.
"Bang.. Abang nggak kembali ke mess? Sudah setengah empat pagi nih. Nanti Abang kesini lagi jemput Arnes"
Bang Zaldi menggeliat melihat jam dindingnya.
"Iya, Abang pulang dulu. Kamu tidur lagi. Jangan lupa nanti sholat subuh" kata Bang Zaldi mengingatkan.
"Iya Bang"
Bang Zaldi meninggalkan kecupannya di kening Arnes.
...
"Benar ini atas nama Diajeng Arnesia Ken Kaniraras??" tanya perwira personel.
"Siap bapak.. benar" jawab Arnes yang setidaknya sudah terbiasa berhadapan dengan rekan papanya.
"Oke.. kita mulai saja sekarang. Kelihatannya Lettu Zaldi sudah nggak sabar pengen buru-buru menikah" ledek seniornya itu.
"Siap tidak"
"Halaahh.. bohong kamu"
Bang Zaldi hanya bisa nyengir saja mendengar ledekan seniornya.
"Bu Zaldi.. mudah-mudahan kuat dan tabah ya menghadapi kelakuan suaminya. Zaldi ini garangnya minta ampun. Danyon saja sampai geleng kepala"
"Ehemm.. lanjut Bang" tegur Bang Zaldi.
...
Arnes bersandar. Hari pertama pengajuan ini lumayan melelahkan. Tapi tidak begitu rumit karena rata-rata para anggota sudah tau bagaimana calon istri Lettu Erzaldi.
"Makan dulu..!! Sudah kesiangan sarapan nih, kemarin kamu sudah nggak enak badan. Kalau pingsan siapa mau gotong kamu?"
__ADS_1
"Ya Abang lah"
"Ogah..!!"
"Ya sudah nggak apa-apa.. Disini banyak kok om-om ganteng. Nanti Arnes pingsan aja nubruk mereka, bisa manja-manja deh" wajah Arnes terlihat girang sekali.
Bang Zaldi langsung meremas bibir calon istrinya itu.
"Ngomong apa barusan?? Mau nemplok om-om??? Abang kurang apa?" tanya Bang Zaldi mulai meradang.
"Kurang ajar. Istri sendiri mau manja tapi nggak di manjain" jawab Arnes cemberut.
"Huusstt.. Nggak sopan bilang begitu" tegur Bang Zaldi.
"Nanti donk dek kalau sudah nikah. Sekarang ya nggak boleh terlalu dekat. Banyak setannya"
...
Masing-masing bagian belum di datangi Arnes tapi badannya sudah terlalu lelah. Bang Zaldi membetulkan letak cepol rambut Arnes yang miring.
"Kamu bawa lipstik nggak dek. Lipstik mu belepotan" Bang Zaldi mengusap lipstik Arnes yang sedikit berantakan.
"Bawa Bang" Arnes mengeluarkan lipstik dan mencari ponselnya tapi Bang Zaldi mengambil lipstik itu.
"Mana Abang pakaikan saja" pria gagah itu ternyata pandai mewarnai bibir Arnes.
"Pandai sekali Abang pakaikan?" ledek Anye yang hanya menutupi rasa gugupnya saja.
"Abang mantan pragawati" jawab Bang Zaldi asal.
Arnes tidak bisa menyembunyikan tawanya, tapi tawa itu pudar saat seorang wanita menyapa Bang Zaldi.
"Abang.. terima kasih banyak ya yang waktu itu" ucap Aning dan hal itu langsung membuat Bang Zaldi jengah.
Arnes sudah mengingat, wajah itu adalah wajah wanita yang pernah ikut tertangkap dalam kamera dan terus memandangi wajah Bang Zaldi, tapi karena Arnes melihat wajah Bang Zaldi tidak merasa nyaman, kini ia paham mungkin saja wanita ini adalah ulat bulu gatal yang sengaja ingin masuk ke tempat mereka.
"Terima kasih juga, Abang mau temani aku waktu lagi mabuk berat. Maaf kalau saya buat Abang jadi susah tidur" ucap Aning dengan sengaja.
"Kamu jangan mengada-ada ya..!!!" bentak Bang Zaldi.
Sebenarnya Arnes tidak kaget mendengarnya. Arnes bukan tipe orang yang tidak berhati-hati dan kebetulan semalam Bang Righan sempat membahas dan memperlihatkan video yang menurut para anggota sangat lucu untuk di lihat.
"Nggak apa-apa Bang.. hanya temani saja tidak ada yang kurang dari Abang" jawab Arnes setenang mungkin.
"Mbak nya juga jangan cemas. Abang tuh seleranya beda. Sebagai istrinya Abang.. secara pribadi saya juga minta maaf karena mbaknya sempat di banting Abang. Mungkin setelah itu mbak nggak bisa tidur juga" ucap Arnes dengan nada polos.
Aning sangat marah mendengarnya karena video editan yang akan ia pamerkan ternyata sia-sia belaka.
"Ayo dek..!!" ajak Bang Zaldi yang sudah muak melihat wajah Aning yang sok cantik itu. Ia tidak ingin Arnes ketularan sifat wanita yang tidak tau tata krama.
Aning begitu gemas saat tau Bang Zaldi terus menggenggam tangan Arnes bahkan memayungi gadis itu dari teriknya sinar matahari menggunakan map yang di bawanya.
...
Arnes masuk ke dalam rumah sampai menangis. Ia kesal sampai ada wanita yang mendekati Bang Zaldi.
"Jangan marah lagi dek. Abang sedih sekali lihat kamu begini"
"Berbulan-bulan Abang disini, kenapa bisa sampai ada cerita seperti ini Bang?" tanya Arnes.
"Apa Abang bisa menghindari sialnya Abang?? Mana Abang tau perempuan itu mau merusak kita dengan cara seperti ini"
"Sekali lagi ada hal seperti ini, kita batalkan saja semuanya" ancam Arnes meskipun dalam hatinya tidak sungguh-sungguh mengatakannya.
"Jangan batal donk dek. Abang janji bakalan jaga diri. Nggak akan dekati dan datangi hal seperti itu apalagi hal-hal yang tidak kamu suka"
"Janji???"
__ADS_1
"Janji sayangku"
Arnes berbalik badan tapi senyumnya gemas mendengar suara lembut Bang Zaldi.
***
Beberapa hari ini mereka lalui dengan baik tanpa halangan dan gangguan apapun. Arnes sudah bisa memasak memakai kompor minyak, memasak masakan sederhana karena bahan pangan yang ada disana pun juga sangat sederhana bahkan daging saja harus dapat kiriman sesuai pesanan di Batalyon.
"Masak apa ini??" Bang Zaldi mengecup puncak rambut Arnes yang kini bau asap dari kompor tapi jujur Bang Zaldi sangat menyukai bau wanita yang rela mengurus keluarganya daripada wanita pandai berdandan hingga keluarganya tidak terurus baik.
"Tumis sawi putih, tahu, tempe tepung sama ikan asin. Abang doyan nggak?" jawab Arnes.
"Apapun masakanmu, Abang suka"
Bang Zaldi pusing setengah mati karena kesibukan anggota, proses pengajuannya menjadi lama. Ia takut janji rahasianya dengan Papa Rinto akan batal kalau pengajuan nikahnya lebih dari satu bulan.
***
Satu bulan berlalu.
Tak ada kendala apapun yang terjadi. Semua baik-baik saja. Hanya keadaan yang membuat proses pengajuan nikah bisa selambat itu.
//
"Lettu Erzaldi beserta ibu.. apa sudah pernah melakukan hubungan suami istri sebelum pengajuan nikah ini??"
Bang Zaldi melihat raut wajah Arnes yang sepertinya tertekan mendapat pertanyaan ini mengingat masa lalunya yang buruk. Tapi dalam sebuah pengajuan nikah pasti pertanyaan ini akan di tanyakan juga pada akhirnya.
"Ijin.. Nanti biar pemeriksaan kesehatan saja yang menunjukan hasilnya Dan." jawab Bang Zaldi secara lantang dan secara tidak langsung sudah membentengi Arnes dari spekulasi yang mungkin akan menurunkan derajat dan harga diri Arnes sebagai wanita.
Jika hasil itu ternyata 'buruk' maka orang akan mengira bahwa Arnes sudah melakukan semua itu bersamanya karena Bang Zaldi tidak rela jika ada orang yang menilai buruk terhadap istrinya.
...
Arnes membanting dirinya di sofa rumahnya dengan kesal. Sore nanti ia dan Bang Zaldi harus datang ke rumah sakit untuk menyerahkan surat pengantar dari Batalyon guna melaksanakan pemeriksaan kesehatan besok.
"Anye nggak mau di periksa Bang" kata Arnes.
"Tapi ini salah satu syaratnya dek" Bang Zaldi mencoba mendekat menenangkan Arnes.
"Nggak mau, ini sangat memalukan untuk Arnes kalau harus dilihat orang banyak" ucap Arnes beralasan.
Dalam hati Bang Zaldi sebenarnya sudah sangat siap mental jika memang mungkin Arnes tidak seperti impian kebanyakan pria. Tapi melihat sikap Arnes ini, rasa sedihnya juga tidak bisa ia tutupi.
"Kamu takut apa? Nanti Abang temani"
Arnes memegangi lengan Bang Zaldi dengan erat.
"Waktu itu banyak orang memandangi Arnes. Arnes pakai baju yang koyak, banyak kulit yang luka dan lebam. Arnes malu karena Bang Guntur sudah merusak baju Arnes" ucapnya mulai menangis.
Hati Bang Zaldi sedih sekali melihatnya.
"Itu dimana sayang? Di rumah sakit??" tanya Bang Zaldi berusaha sabar padahal hatinya remuk redam.
"Iya. Ada laki-laki, ada perempuan mau membuka baju Arnes" jawab Arnes dengan kacau.
"Itu bukan mau macam-macam dek. Dokter punya kode etik untuk memeriksa pasiennya" Bang Zaldi langsung memeluk Arnes yang ketakutan.
"Besok sama Abang masuknya ya..!!"
"Bang.. Apa Abang yakin mau menikahi Arnes??"
.
.
.
__ADS_1