
Bang Bayu dan Bang Bima memapah Bang Zaldi sampai rumah.
"Ada apa ini?? Bukannya Papa tadi hanya jalan sama bumil??" tanya Papa Rinto heran.
"Zaldi tertangkap basah keluar dari cafe. Sudah mabuk begini??" jawab Ayah Rama.
"Mabuk minuman????" tanya Papa Rinto kaget bukan main.
"Di kerjain anaknya sendiri" kata Ayah Rama. Ketiga pria tersebut duduk di hadapan Opa Rama dan Papa Rinto. Hanya Om Adi saja yang akan mendapat sanksi esok hari, yang pasti dari DanSat.
Papa Rinto menepuk dahinya.
"Motivasi kalian buat ulah itu apa sih??"
"Tadinya bukan begitu Pa. Kita mau syukuran karena berhasil pulang ke tempat tugas"
"Harus ke cafe??? Sukuurin.. itu karmamu karena sudah membohongi istri. Mabuk.. mabuk dah lu" omel Papa Rinto.
Sampai larut malam Mama Anye masih membantu membuatkan ini dan itu agar mual Bang Zaldi berkurang bahkan Tante Mey sampai memasang infus di punggung tangan Bang Zaldi karena dehidrasi.
"Bagaimana ini Bang? Kenapa mualnya nggak reda juga??" tanya Mama Anye.
"Ya nggak bisa, mau bagaimana lagi. Selama Arnes masih jengkel.. Zaldi tetap begini" jawab Papa Rinto yang sudah paham rasanya, Opa Rama pun memperkuat ucapan Papa Rinto.
"Makanya to le.. lagi pula kenapa kalian ini berulah. Zaldi mabuk parah, Bayu sakit punggung, Bima mulas. Jangan suka ngerjain istri yang sedang hamil..!! Di dalamnya ada anak kalian. Mereka sedang protes karena papanya bandel" kata Oma Dinda sambil mengusap satu persatu punggung laki-laki yang sedang ketiban sial tersebut.
Bang Zaldi memercing, kepalanya terasa berat. Maklumlah.. suami Arnes memang sedang mengalami dua hal fatal sekaligus. Tak lama dirinya benar-benar tidak sadar setelah sejak tadi menahannya.
"Bantu bawa ke kamar dulu..!!" Kata Opa Rama.
Puri terus menunduk takut melihat Opa Rama berdiri di hadapannya, apalagi dengan Oma Dinda.. rasanya begitu kecil dan takut.
"Puri kenapa nak? capek ya?" Oma Dinda memijat pundak Puri.
"Jangan Oma, terima kasih. Puri nggak apa-apa" tolaknya karena tidak enak dengan Oma dan Opa.
"Kenapa ndhuk, kamu nggak suka ya ada Oma sana Opa disini?" tanya Oma Dinda yang paham sikap Puri karena masa lalu wanita istri Bima itu begitu buruk.
"Bukan Oma, bukan itu. Puri hanya....."
"Kamu tetap cucu Oma dan Opa, kamu bagian dari keluarga ini. Tataplah masa depanmu bersama Bima sayang.. bukan untuk menoleh kebelakang. Kamu juga cucu kesayangan Oma" kata Oma Dinda.
"Omaa.. maafkan Puri. Puri bukanlah wanita baik-baik" ucapnya sedih.
"Tidak ada wanita yang tidak baik dalam keluarga Rama Satria. Semua pasti yang terbaik" jawab Opa Rama.
...
Bang Zaldi baru bisa membuka matanya. Rasanya trauma sekali merasakan mual ini tapi semua harus di lalui dengan ikhlas.
"Aarrgghh.. sakiit" tak hentinya Bang Zaldi merintih dan mengeluh membuat Papa Rinto dan Opa Rama ikut bingung.
"Perasaan kita nggak begini banget ya Rin" kata Opa Rama.
"Iya pa, berarti kesalahan Zaldi begitu besar sampai anaknya marah" jawab Papa Rinto.
"Bukan anaknya lagi, istrinya aja ngamuk setengah mati"
Opa Rama duduk di samping Bang Zaldi. Di lihatnya sifat kaku Kapten Erzaldi yang sungguh tidak karuan.
__ADS_1
"Karepe piye to le? " gumam Opa Rama. Dulu saat dirinya mabuk seperti ini, bengkoang dan ubi saja mampu mengatasinya tapi kali ini tidak untuk suami Arnes itu.
"Sudah di kasih pereda nyeri dan anti mual?" tanya Opa Rama pada Tante Mey, putri bungsunya.
"Sudah yah, tapi nggak bisa banyak. Bang Zaldi masih 'bentrok' dengan obat"
"Ndhuk.. Arnes..!!" Opa Rama memanggil Arnes.
Arnes masuk ke kamar dengan wajah masamnya. Akibat kejadian itu, jangankan mendekat. Melihat wajah suaminya saja rasanya jengkel sekali.
"Kenapa Opa?" tanya Arnes malas.
"Jangan begitu, kenapa cucu kesayangan Opa galak sekali? Ayo duduk disini" tegur Opa Rama.
"Itu lho suamimu sudah seperti itu, masa kamu nggak kasihan?"
Sifat judes Arnes yang tidak pernah sekalipun Opa Rama lihat seumur hidupnya akhirnya nampak sudah.
"Nggak" jawab Arnes santai.
Papa Rinto sampai menggeleng melihat putrinya. Arnes yang tidak pernah di lihatnya memiliki 'kelainan' pun tiba-tiba menunjukan tanda bahaya.
"Ndhuk...."
Mendengar papanya menegur akhirnya Arnes terpaksa Arnes mau duduk di sebelah Bang Zaldi.
"Abang hanya di ajak Adi. Dia khan bujangan sendiri. Traktir kita-kita ini. Tadinya bilang syukuran. Mana Abang tau Adi ajak kita ke cafe itu"
"Uang operasional turun, Abang kemanakan dananya?? Temui wanita disana?" tanya Arnes.
"Ora dek. Sumpah.. demi Allah" jawab Bang Zaldi.
Dengan menyimpan wajah sengit Arnes meninggalkan Bang Zaldi.
...
Malam hari Arnes masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Tanpa peduli dengan Bang Zaldi lagi.
"Mau tidur dimana?" tanya Bang Zaldi yang melihat Arnes mengambil bantal di sampingnya.
"Tidur di luar" jawab Arnes.
"Tidur disini saja. Biar Abang tidur di luar. Kasihan si dedek" Bang Zaldi segera bangkit dan membawa botol infusnya keluar kamar.
...
Saat semua orang tertidur lelap, Bang Zaldi merokok sendirian di belakang rumah. Botol infusnya ia gantung di sebuah paku. Terus terang cairan infus itu sangat membantu dirinya, tenaganya pun membaik.
Dihisapnya dalam-dalam rokok itu lalu menghembuskan ke sembarang arah.
"Nggak usah di pikir sikap wanita seperti itu. Seratus persen itu bawaan bayi. Kesal lihat bapaknya, itu biasa Zal" kata Opa Rama.
"Saya paham Opa. Tapi kok di hati tetap sakit sekali ya di tolak istri" jawab Bang Zaldi.
"Masa sama istri sendiri nggak berani. Sergap, bawa ke kamar.. selesaikan..!! Laki bukan????" ucap Opa Rama.
"Ayah ini diminta tenangin Zaldi kok malah ngajarin nggak benar ya..!!!!" tegur Oma Dinda yang sebenarnya sejak tadi mengintip dan menguping di balik pintu.
"Eehmm... maksudnya itu, jangan terlalu banyak pikiran. Semua hanya bawaan bayi" jawab Opa Rama cemas.
Oma Dinda melotot dan meminta Opa Rama bergeser.
__ADS_1
"Sudah, jangan di pikir. Yang Arnes lakukan memang hanya bawaan bayi, tapi percayalah sebenarnya......."
***
Pagi sebelum berangkat kerja, Bang Zaldi membuatkan Arnes susu dan membawanya ke meja makan.
"Minum susu dulu..!!"
Arnes tidak menjawab, Bang Zaldi pun meninggalkannya setelah mengecup keningnya.
"Sampai jumpa nanti di kantor"
Bang Zaldi mengintip di balik pintu, dari sana ia bisa melihat akhirnya Arnes menghabiskan susu buatannya.
"Awas kamu dek, kalau sudah saatnya.. Abang sikat juga kamu ya"
...
Arnes usai memberi makan binatang kesayangan sang suami di mini zoo. Ia bergumam sendiri karena kesal jika memikirkan suaminya.
Bang Zaldi mengintip dan tersenyum mendengarnya. Rindu tapi kesal karena malam itu Arnes memergokinya di taman luar cafe. Tidak salah juga jika istrinya sampai marah dan curiga.
//
"Ijin Ibu DanSat.. Boleh saya antar pulang?" sapa Bang Zaldi menghalangi langkah Arnes.
Arnes menoleh sekilas melihat Bang Zaldi yang berjalan mundur menggangunya.
"Nggak, saya bisa sendiri" jawab Arnes ketus.
"Om Adi.. bisa tolong antar saya pulang?" tanya Arnes.
Om Adi ternganga bingung. Baru saja ia mendapat tindakan dari DanSat tapi kini harus beradu nyawa lagi karena Bu DanSat adalah sisi lemah Bang Zaldi.
Tangan Bang Zaldi melingkar di pinggang Arnes.
"Ada Abang kenapa harus Adi yang antar pulang?"
"Arnes nggak suka cara Abang bohong. Banyak alasan dan ternyata Abang ada di tempat itu"
"Sudah berapa kali Abang bilang. Nggak ada niat Abang macam-macam. Abang di ajak Adi. Nggak ada niat lain. Gimana mau macam-macam.. Abang mual disana" jawab Bang Zaldi.
"Oohh.. jadi kalau Abang nggak mual, Abang bisa macam-macam begitu?????" Arnes memelintir tangan Bang Zaldi dengan kuat.
"Aawhh.. sakit dek"
Arnes yang sudah marah menjegal belakang lutut Bang Zaldi hingga pria itu jatuh berlutut. Tak peduli dengan perutnya yang mulai besar. Arnes melayangkan tendangan kuat tepat di dada Bang Zaldi.
"Aaarrghh.. kamu percaya Abang syukur, nggak juga silakan tapi ingat anak kita dek" bujuk Bang Zaldi, ia terbatuk merasakan dadanya yang terasa sakit. Ia tidak melawan hingga Arnes benar-benar puas membuang amarahnya.
Arnes sungguh kalap dan marah. Rasa kesal dan cemburu berbaur menjadi satu dan menghajar Bang Zaldi membabi buta.
Di rasa sudah cukup, Bang Zaldi berdiri dan berganti menjegal belakang lutut Arnes hingga Arnes jatuh dalam dekapannya.
"Kamu bisa dengar Abang atau tidak? Kasihan anak kita. Sekuatnya kamu menyerang Abang.. masih tetap kuat Abang. Abang banting di kamar.. sesak nafas kamu dek..!!" kata Bang Zaldi.
.
.
.
__ADS_1
.