Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
120. Inikah cinta.


__ADS_3

"Berangkatlah. Biar semua ini menjadi urusan saya disini" kata Bang Satriyo.


"Terima kasih banyak Abang. Maaf.. saya sudah jadi junior yang merepotkan..!!" ucap Bang Rinto dengan suara beratnya.


"Ya.. Saya sudah paham kalau kamu sangat merepotkan" jawab Bang Satriyo.


"Cepat berangkat. Serigala tidak boleh lemah"


"Siap..!!"


-_-_-_-_-


Ayah Rama dan Papa Rival memasrahkan seluruh keputusan di tangan para putranya memantau dari jauh segala perkembangan kekisruhan rumah tangga Anye. Gathan dan Arben ikut mendampingi Rinto karena khawatir suami Anye itu akan kehilangan kendali jika menyangkut tentang Anye.


***


"Bang.. makan dulu lah meskipun hanya sedikit..!!" Gathan membujuk Bang Rinto yang lebih banyak diam menahan amarahnya.


"Iya Rin. Makan sedikit biar ada tenaga. Kalau kamu pingsan siapa yang bantu kita gotong badanmu itu" Bang Arben ikut membujuk Rinto.


Rinto langsung mengambil nasi bungkus di tangan Gathan lalu menghabiskan dengan cepat di dalam mobil menuju Batalyon Brian. Emosinya sungguh meledak saat tau kejadian yang menimpa Anye dan Brian.


-_-_-_-


"Anye sudah bilang untuk Abang sabar mencari informasi tentang Ariani. Mungkin Abang tidak salah, tapi kenapa Abang sembunyikan Ariani di kontrakan Om Jeri?? Abang nggak bilang sama Anye dan Abang juga yang menanggung beban hidupnya" Anye pun tak tau harus bagaimana lagi merasakan carut marut rumah tangganya.


"Abang nggak bermaksud bohong sama kamu dek. Hanya belum tepat saja Abang ceritakan" ucap Bang Brian merasa sangat bersalah. Ia mencoba meraih tangan Anye tapi Anye menepisnya.


"Berarti sekarang adalah saat yang tepat sampai Serma Anang melaporkan perselingkuhan Abang dengan Ariani???" Anye sampai menangis saking kesalnya.


"Kamu duduk dulu dek.. Ingat kandunganmu...!!" Bang Rinto sedikit mengarahkan agar Anye duduk tenang.


Gathan menarik Anye ke dalam pelukannya lalu memberi adiknya minum dari botol air mineral miliknya.


"Minum dulu.. tenangkan hatimu, Abang sudah disini" kata Bang Gathan.


"Abang.. Bang Brian....."


"Iya.. sudah..!! Jangan banyak pikiran..!!"


Bang Rinto yang sudah geram tak bisa menahan amarahnya lagi.


"Kita bicara diluar..!!" ajak Bang Rinto dengan nada datar.


...


"Bisa-bisanya kamu tidak berpikir panjang sebelum bertindak. Kamu bisa jaga istri atau tidak???????" bentak Bang Rinto.


"Ini di luar dugaanku kalau Serma Anang akan salah paham dan melapor di Batalyon" jawab Bang Brian.

__ADS_1


"Lalu kau pikir siapa yang akan menanggung beban seorang wanita yang tiba-tiba jadi janda karena kecerobohan mu???????" tanya Bang Rinto.


"Kau apakan nasib Anyeku???? Aku bilang jaga dia.. Jaga dia.. Jaga dia..!!! Aku sudah berusaha melapangkan hatiku.. kamu nikahi separuh nyawaku, aku menutup mata tidak ingin membayangkan bagaimana kamu membelai mesra dan mendekapnya, aku menutup telingaku saat tidak ingin tau saat kamu merayunya. Kenapa kamu masih menyakiti Anye. Apa kamu pikir hatiku tidak sakit Briaaann!!!!!!"


"Maaf.. aku sungguh tidak sengaja"


Rinto menampar pipi Brian tanpa ampun.


"Kamu benar-benar mengecewakan Brian..!! Anye sudah cukup tertekan karena masalah kita yang belum selesai. Kenapa kamu malah menambahi masalah di antara kita????? Rasanya aku ingin sekali membunuhmu..!!!!"


"Bang.. berdebatnya nanti dulu. Anye sakit" Gathan menghentikan perdebatan Bang Rinto dan Bang Brian.


...


"Gimana dok??" tanya Bang Rinto dan Bang Brian bersamaan.


"Biasa di alami seorang ibu hamil yang sedang dalam kondisi stress dan banyak pikiran. Hormon juga mempengaruhi pertambahan tingkat stressnya" jawab dokter.


Bang Rinto menatap Bang Brian dengan tatapan tajam mematikan.


"Kalau sampai ada apa-apa sama Anye dan bayinya.. kau akan berhadapan denganku Bri..!!" ancam Bang Rinto.


Brian memilih tidak menjawab karena tidak ingin semakin memperkeruh suasana. Apalagi Bang Arben juga sudah menatapnya dengan kesal.


-_-_-_-_-


Pagi hari semua sudah sholat subuh. Hanya Gathan yang netral bisa keluar masuk kamar Anye dengan leluasa sedangkan yang lain.. demi keamanan dan keadilan, memilih tidur di ruang tengah.


Rinto dan Brian langsung menuju dapur tanpa membuang waktu lama.


...


"Sejak kapan buat bubur pakai kencur?? Kamu mau bikin seblak??" tegur Rinto saat Brian mengambil kencur untuk salah satu bahan membuat bubur.


"Kamu sendiri untuk apa ambil keluwak?? Emangnya mau bikin rawon???" jawab Brian tak kalah sengitnya.


"Sekali lagi masih ada suara.. Saya jungkir kalian semua..!!" bentak Bang Arben.


"Siap salah..!!" jawab Rinto dan Brian.


...


Gathan sedang menyuapi Anye makan, ia terus mengusap perut Anye dan turut prihatin dengan nasib keponakannya itu.


"Ya Allah dek nasibmu. Abang nggak tega lihat adik perempuan Abang sampai seperti ini. Cepat sehat kamu dek..!!"


tok..tok..tok..


Brian bergegas membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Ijin Dan......." seorang anggota menyampaikan bahwa Komandan Markas pusat memanggil Kapten Abrian beserta istri untuk menghadap, tapi setelah mendengar Kapten Rinto juga berada disana. Maka di putuskan untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus.


...


"Saya mendapatkan laporan yang naik ke meja kerja saya bahwa ada dua orang anggota saya yang melanggar aturan" ucap tegas Komandan Markas.


"Saya sangat menyayangkan bisa kecolongan hal semacam ini dalam lingkaran rumah tangga militer. Ini sangat mencoreng dunia kita..!! Tidak ingatkah kalian dengan sumpah kalian saat di lantik menjadi seorang tentara??????"


"Siap salah Komandan..!!"


Komandan Markas pusat menggeleng membaca kasus yang di alami dua orang anggotanya. Entah bagaimana harus menyelesaikan masalah ini.


"Brian tertuduh kasus perselingkuhan yang mengakibatkan perceraian Serma Anang dengan istrinya, padahal kamu sudah menikah dengan wanita bernama Anyelir. Tapi Anyelir ini ternyata masih berstatus istri Kapten Rinto yang beberapa waktu lalu di kabarkan hilang hingga status pernikahanmu di sahkan cerai dalam daftar berkas pernikahan kalian. Sungguh masalah pelik" kata Komandan yang kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk berpikir.


"Menikahi seorang wanita yang sama. Apa seorang wanita bernama Anyelir bisa membuat kalian kehilangan akal?? Apa wanita ini begitu istimewa?? Sebagai seorang wanita seharusnya Bu Anyelir ini bisa lebih menjaga harga diri dan wibawa seorang suami agar tidak nampak murahan, di tambah sekarang sedang mengandung calon anak Kapten Brian. Kalau sudah begini.. bagaimana kita selesaikan masalah ini??" tegur Komandan Markas.


Seketika hati Anye rasanya tertusuk puluhan tombak yang menancap tepat di dadanya. Nafasnya begitu sesak, punggungnya terbanting keras pada sandaran sofa. Anye menangis meremas kuat dadanya.


Rinto tak bisa menerima ucapan Komandan yang terkesan begitu menghina dan merendahkan istrinya. Brian pun tak kalah marah tapi siapa sangka Rinto akan semurka itu hingga mencabut sangkur dari pinggangnya dan menyergap Komandan Markas.


"Apa kau bilang??? Istriku murahan??????? Selama Anyelir menjadi istri saya.. Saya tidak pernah sekalipun mengajarkan dia menjadi istri yang tidak berbudi. Kalau waktu bisa saya putar kembali.. saya lebih memilih pulang ke rumah dan membiarkan kehancuran tanah perbatasan di ambil alih musuh" suara keributan di ruangan itu memancing para anggota lain untuk melihat apa yang terjadi.


"Jangan salahkan istri saya. Jika saat ini saya memang telah di nyatakan gugur.. nama istri saya tidak akan pernah tercoreng sebagai istri dari Kapten Abrian, tapi kenyataannya sekarang lain.. saya masih ada.. saya hanya minta waktu untuk menyelesaikan masalah ini dan mengambil istri saya kembali, jadi jangan pernah anda menghina ibu dari anak-anak saya. Dia tidak suci di matamu. Tapi dia sesempurna itu di mata dan hati saya" ucap Rinto meluapkan segala amarahnya.


Di luar ruangan sudah banyak orang ingin mendobrak ruangan karena leher sang komandan sudah terkena goresan sangkur sedangkan Abrian tidak ada usaha untuk menolong dan lebih fokus pada Anye yang sedang tidak dalam kondisi baik dan membiarkan Rinto yang seolah ingin menghabisi komandan markas.


-_-_-_-


Situasi semakin memanas. Akibat insiden ini perwakilan Komandan Markas mengambil alih tindakan pada Brian dan Rinto.


"Ijin Komandan.. Saya minta waktu agar Anye tenang dulu, setelah itu saya tidak peduli tindakan apa yang akan saya terima" ucap Rinto.


Wakil komandan tidak mengindahkan permintaan Rinto dan Brian. Tindakan sanksi disiplin langsung dilakukan di dalam ruangan.


Dari jauh sepasang mata melihat dengan jelas dua orang pria terkapar mengerang dan menggelinjang kesakitan saat di hajar habis-habisan. Tangan Rinto mengepal menahan sakitnya. Bibirnya menggigit kuat merasakan sakit tak tertahankan. Kapten Brian diangkat dengan tandu karena ia pingsan lebih dulu setelah berteriak tidak karuan.


Disana.. tak sengaja mata Rinto dan Anye saling beradu pandang. Beberapa orang anggota segera menolong Rinto.


"Mari saya bantu Dan..!!" kata seorang anggota.


"Astagfirullah hal adzim.. Sakit sekali badanku" Rinto mengatur nafasnya yang terasa putus.


"Boleh saya minta tolong??" tanya Rinto yang masih memercing kesakitan.


"Iya Dan..."


"Tolong rekamkan suara saya..!!" Rinto membisikkan sesuatu di telinga salah seorang anggota sebelum ia pun kehilangan kesadaran sama seperti Brian.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2