Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 52. Tentang sebuah kepercayaan.


__ADS_3

Di dalam pesawat menuju Sudan, Bang Zaldi menggigil. Badannya demam. Seorang pramugari menyapa Bang Zaldi.


"Are you healthy? Can I help you??"


"Yes, I am healthy. Thank you" jawab Bang Zaldi.


Pramugari itu pun meninggalkan Bang Zaldi tapi sebelumnya pramugari itu sudah membicarakan tentang seorang pria yang nampaknya sedang tidak sehat pada seorang pramugara.


Berjam-jam dalam perjalanan, Bang Zaldi tidak menyentuh makanannya sedikit pun. Pramugara itu pun menghampiri Bang Zaldi dan melihat penumpangnya itu semakin melemah. Suhu tubuhnya begitu tinggi. Dengan di bantu seorang staff lainnya, Pramugara itu memindahkan Bang Zaldi pada bangku paling belakang.


...


"Oohh.. this man is a soldier from the P** unit" kata seorang pramugara setelah membaca identitas Bang Zaldi.


-_-_-_-


Para anggota dan Bang Irfan yang ikut menjemput Bang Zaldi sangat kaget saat tau sahabatnya memakai selang oksigen dan di dorong menggunakan brankar melewati lorong darurat. Setelah saling mendapat penjelasan terkait identitas Bang Zaldi, baru pihak dari kesatuan bisa membawa Bang Zaldi untuk di rawat di rumah sakit tentara.


...


Banyak panggilan tak terjawab dari istri Lettu Erzaldi. Bang Irfan bingung bagaimana harus menjelaskan pada istri sahabatnya itu. Tak mungkin ia menjelaskan secara detail keadaan Lettu Zaldi sebab istri sahabatnya itu baru saja bersalin. Ia pun paham dengan keadaan ini sebab Yeni pun mudah panik sama seperti Arnes.


Dengan hati-hati Bang Irfan mengangkat panggilan telepon dari Arnes.


"Hallo Nes.. Ini Irfan"


"Oohh.. Om Irfan. Abang kemana ya? Kenapa belum menjawab panggilan telepon?" tanya Arnes.


"Langsung ada tugas dari Komandan Nes. Tidak bawa ponsel" jawab Bang Irfan sambil terus berharap agar Bang Zaldi segera sadar.


"Begitu ya. Ya sudah nanti tolong sampaikan sama Abang kalau Arnes nggak ikut Papa ke Jawa" kata Arnes.


"Baik Nes. Nanti akan segera saya sampaikan" jawab Bang Irfan.


Satu jam kemudian Bang Zaldi sudah sadar.


"Ya ampun pot, kamu bikin aku jantungan. Istrimu hubungi kamu terus. Bilang apa aku kalau sampai kamu nggak sadar juga" kata Bang Irfan.


Bang Zaldi tersenyum melihat wajah panik Irfan.


"Terima kasih. Nanti biar Arnes kuhubungi sendiri"


-_-_-_-_-


"Abang darimana?? Kenapa nggak bisa di hubungi??" sudah terdengar nada sewot dari Arnes.


"Ini baru bangun tidur, Abang capek sekali. Tadi juga ada tugas dadakan dari Komandan" jawab Bang Zaldi.


"Mau mandi sekarang Dan?" tanya seorang perawat wanita yang sedang menyiapkan air hangat untuk Bang Zaldi agar bisa mandi ditemani Bang Irfan.

__ADS_1


"Aduuuhh.. mati aku..!!" Bang Zaldi menepuk dahinya karena pasti tidak sengaja suara itu terdengar di telinga Arnes.


"Siapa itu??" tanya Arnes penuh kecurigaan.


"Bukan siapa-siapa dek. Suara teman" jawab Bang Zaldi.


"Teman??? Berarti ada teman wanita di kamar Abang???"


"Nggak ada dek. Sumpah..!!" Bang Zaldi mulai bingung harus beralasan.


"Kata Abang, Abang baru bangun tidur. Kenapa bisa ada wanita di kamar Abang?????" pekik Arnes semakin marah. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak terhadap Bang Zaldi.


"Astagfirullah.. Abang nggak menduakanmu disini" ucap Bang Zaldi.


Arnes langsung mematikan panggilan telepon itu secara sepihak. Bang Zaldi kelabakan, ia mencoba menghubungi Arnes kembali tapi ponsel itu sudah tidak aktif.


"Ya Allah dek. Abang nggak buat gila seperti yang kamu pikirkan"


Bang Zaldi sangat resah. Ia pun segera menghubungi Papa Rinto.


"Assalamualaikum pa"


"Wa'alaikumsalam Zal.. Ada apa?" tanya Papa Rinto.


"Paa.. tolong pa, saya harus bicara sama Arnes"


"Arnes???? Dia ada di Sulawesi Zal. Papa sudah pulang ke Jawa" kata Papa Rinto.


"Lhoo.. memang kamu nggak tau? Papa baru saja sampai rumah. Arnes nggak mau ikut Papa. Pengen nunggu kamu di Sulawesi aja katanya" jawab Papa Rinto.


"Ya Allah pa. Arnes masih sakit. Jalan saja masih seperti robot. Kenapa di biarkan sendirian di rumah paaa..!!!" sesal Bang Zaldi karena ia sampai tidak tau kalau ternyata Arnes tidak ikut Papa Rinto ke Jawa.


...


Righan sampai tergopoh-gopoh masuk ke rumah Arnes. Bang Zaldi terus mengomel karena tidak satu orang pun mengabari dirinya soal kepulangan Papa Rinto yang tidak membawa Arnes.


Saat membuka pintunya, Bang Righan melihat Arnes duduk di lantai sambil menggendong Ibra. Tatapan matanya kosong, wajahnya begitu pucat.


"Dek.. kamu kenapa??" Bang Righan panik melihat adiknya diam tanpa bicara. Abang tiri Arnes itu segera menghubungi Bang Seno.


//


"Kenapa ini Rig????" tanya Bang Seno sambil menggendong Arnes masuk ke dalam mobil sedangkan Mbak Brina menggendong Ibra dengan perut yang sudah lumayan besar.


"Nggak tau Bang, aku datang sudah begini" kata Bang Righan.


"Hati-hati dek. Awas perutmu..!!" Bang Seno tetap memperhatikan Brina.


//

__ADS_1


"Arneees.. Bilang sama Abang..! Kamu kenapa?" Bang Seno menepuk pipi Arnes agar adiknya itu merespon ucapannya.


"Bang Zaldi.."


"Kenapa Abang??"


"Bang Zaldi selingkuuuhh" ucapnya menangis. Arnes nampak sangat hancur.


"Ngawur kamu. Selingkuh sama siapa disana. Pria Indonesia kebanyakan nggak melirik wanita Sudan" kata Bang Seno.


"Bang Zaldi memasukan wanita ke kamarnya" Arnes semakin histeris. Tangis sedih itu membuatnya begitu sesak.


Masih dalam keterkejutannya, Bang Zaldi menghubungi ponsel Bang Righan via video call yang kemudian segera di jawab si empunya ponsel karena ia juga ingin mendapat penjelasan dari Bang Zaldi.


"Kemana saja kamu Righan? Mana Arnes" ucapnya tanpa salam karena sudah emosi.


"Apa yang Abang buat disana??" tanya Bang Righan tidak sabar.


"Buka matamu..!! Abang di rawat di rumah sakit sejak tiba kemarin. Drop.. nggak kuat bangun. Kalian mau kemana??"


"Arnes mengira Abang selingkuh. Aku juga nggak tau apa yang buat dia bisa bilang begitu, yang jelas sekarang Arnes sudah nggak sadar. Kami sedang menuju rumah sakit" kata Bang Seno.


"Ya Allah Ya Tuhankuuu.. Abang nggak selingkuh. Kenapa kamu bisa menelan mentah-mentah sesuatu yang tidak kamu lihat sendiri" Bang Zaldi begitu terpukul saat tau Arnes sedang menuju rumah sakit.


Bang Seno, Bang Righan dan Mbak Brina bisa melihat suasana kamar Bang Zaldi dan itu benar adanya, Bang Zaldi sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Righan.. Seno.. demi Allah saya tidak pernah mengkhianati adikmu. Kemarin itu adalah suara perawat wanita yang membawakan air panas untuk saya mandi. Kalau ucapan saya bohong.. Saya tidak akan selamat dari segala hal yang akan mencelakai saya" ucap Bang Zaldi sungguh-sungguh.


"Baiklah Bang.. kami percaya. Sekarang masalahnya Arnes nggak tau Abang di rawat dan dia sudah terlanjur salah sangka sampai seperti ini" kata Bang Seno.


"Tolong Seno.. Saya titip Arnes dan Ibra selama saya tidak ada di tempat. Jaga dia, saya sudah tidak tau lagi harus bagaimana. Jarak dan waktu memisahkan. Jika rasa percaya antara suami istri berkurang, maka akan hancurlah sebuah rumah tangga. Jangan sampai krisis kepercayaan" Bang Zaldi tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Seno.. Righan..!!" sapa Bang Irfan.


"Siap..!!"


"Siap Bang" jawab Bang Righan.


"Ini bukan karena Zaldi sahabat saya. Tapi ini memang benar. Sejak datang, Zaldi langsung dapat perawatan karena tidak sadar dalam penerbangan. Ya.. inilah salah satu resiko yang bisa saja kita hadapi" kata Bang Irfan.


"Siap..!!!!!"


Bang Zaldi mulai menggelinjang lagi di ranjangnya. Bang Irfan meletakan ponsel Bang Zaldi yang ia pegangi sejak tadi.


"Zaldi.. Zal.. Apalagi yang sakit?? Aku panggilkan dokter ya????"


Bang Seno dan Bang Righan tak kalah tegang menerka apa yang sedang terjadi di sana.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2