Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 41. Memberi perhatian lebih.


__ADS_3

Bang Zaldi mengangkat koper Arnes dan tidak membiarkan istrinya itu melakukan pekerjaan apapun yang membutuhkan banyak tenaga. Ia begitu mencemaskan kandungan Arnes hingga memperlakukan Arnes bak benda bertuah yang harus di jaga baik-baik.


"Zal.. biasa saja saat istri hamil. Arnes bukan wanita penyakitan" tegur Papa Rinto.


"Saya takut Arnes jatuh, keseleo, capek. Jadi biar saja lah Arnes diam disana. Cemas sekali saya mikirnya pa" kata Bang Zaldi.


Saat Bang Zaldi menoleh, ternyata Arnes sudah tidak ada di posisi duduknya.


"Lho.. Arnes kemana pa???" Bang Zaldi panik tidak melihat Arnes di tempatnya.


Bang Zaldi langsung mencari Arnes tanpa pamit pada ayah mertuanya. Papa Rinto hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Bang Zaldi yang terkesan berlebihan tapi dalam hati ia tetap berucap syukur meskipun menantunya itu begitu kaku, tapi sangat menyayangi putrinya dengan tulus.


"Kamu disini dek??" Bang Zaldi akhirnya menemukan Arnes sedang membeli Frozen food goreng di sebuah lapak. Sebenarnya ia ingin mencegah secara langsung, tapi pedagang itu berjualan untuk menyambung hidup, jadi tidak mungkin Bang Zaldi menegurnya apalagi saat melihat wajah bahagia Arnes saat membelinya, rasanya tidak tega mencegah bumil yang mungkin sedang ngidam.


"Iya Bang, rasanya mulut pengen ngunyah" kata Arnes.


Bang Zaldi mengijinkan Arnes memakan makanan tidak sehat itu karena baru hari ini istrinya mau makan.


//


Mata Bang Zaldi terus mengawasi Arnes yang sedang makan. Begitu Arnes tersedak, Bang Zaldi sudah kebingungan mencari air minum.


"Berhenti di minimarket itu Bim.." pekik Bang Zaldi menepuk bangku kemudi Bang Bima.


"Ya ampun Bang. Bisa pelan sedikit nggak ngomongnya" Bang Bima sampai kaget di buatnya.


Belum sampai mobil berhenti, Bang Zaldi sudah melompat dan berlari ke sebuah minimarket.


"Untuk kamu.. hamil satu kali aja cukup Nes. Kalau kamu banyak anak, bisa jadi kita-kita ini habis di maki Abang Zaldi" gerutu Bang Bima.


Tak lama Bang Zaldi berlari membawa satu kardus air mineral, Papa Rinto menatap heran pada menantunya itu.


"Kenapa nggak beli galon sekalian Zal?????" tegur Papa Rinto.


"Tadinya mau ambil galon pa, tapi nanti Arnes jadi susah minum" kata Bang Zaldi yang tidak merasa kalau dirinya sedang di sindir.


"Nggak sekalian kamu guyur Arnes di tower P**M Zal"


Bang Zaldi menggaruk kepalanya baru sadar kalau Papa Rinto menyindir.


Bang Zaldi segera membukakan tutup botol minuman berukuran sedang dan menyodorkan pada Arnes yang wajahnya sudah memerah karena terdesak.


//


"Apa yang sakit?? Mual ya??" Bang Zaldi langsung panik jika sedikit saja Arnes bergerak atau bergeser dari duduknya.


"Astagfirullah Zaldii.. Jangan berlebihan, istrimu itu cuma hamil, nggak lumpuh" Papa Rinto sampai bingung bagaimana harus menjelaskan pada menantunya.


"Papa iihh.. ngomongnya" tegur Mama Anye.


"Ya menantumu ini lho ma. Seperti jagain berlian aja. Takut lecet, takut hilang" kata Papa Rinto.

__ADS_1


"Maaf pa, tidak ada lagi yang saya punya di dunia ini selain Arnes. Bukan hanya ibu saja yang menginginkan anak ini, tapi sebelum ibu meminta cucu.. jauh dalam lubuk hati saya,. saya sudah menginginkannya" jawab Bang Zaldi terus memeluk Arnes dengan erat.


"Arnes memang berlian yang saya punya, dia nyawa saya pa" ucapnya dengan suara tercekat.


Sebagai seorang pria, tentu Papa Rinto paham bedanya cinta yang tulus dan cinta yang hanya modus bualan. Bima pun menyimpan senyumnya, merasa begitu lega adiknya sudah bahagia bersama pria yang tepat.


tok..tok..tok...


Ada sebuah motor di samping mobil Bang Bima. Penumpangnya mengetuk kaca mobil dengan kencang. Bang Bima pun menepi di pinggir jembatan, membawa rasa kesal dan terganggu dengan tingkah penumpang itu.


"Ada apa??" tanya Bang Bima.


"Mas, tunggu dulu donk..!!" penumpang tersebut membuka helm nya.


"Ya Allah Eliana????????" Seketika emosi Bang Zaldi dan Bang Bima memuncak.


Bang Bima turun dari mobil dan menarik Eliana turun dari atas motor.


"Belum jelas apa yang saya bilang semalam??" bentak Bang Bima di tengah jalan. Bang Zaldi pun akhirnya turun dari mobil.


"Apa maumu Eliana?????"


"Eli hanya ingin mengembalikan jaket ini sama Mas Zaldi. Ini jaket yang Mas Zaldi pakaikan waktu di puncak"


Bang Zaldi mengambil jaket itu lalu membantingnya dan menendang jaket itu ke sungai.


"Wanita macam apa kamu ini????? Nggak tanggung-tanggung kamu buat saya ribut sama istri. Sekalian saja kamu bilang kalau saya sudah tidurin kamu di puncak"


"Abang bawa mobilnya..!! Saya mau kasih pelajaran untuk wanita ini" kata Bang Bima.


"Wanita seperti ini harus di selesaikan secara laki-laki"


"Jangan macam-macam kamu Bima..!!" teriak Mama Anye.


"Biar saja ma. Bima tau apa yang harus di lakukan" kata Papa Rinto.


"Abang mau disitu saja???" Arnes menegur Bang Zaldi.


Kalau hanya secolek saja lupakan Bang. Ini yang sudah Abang colek berkali-kali lagi ngambek sama papanya."


"Ngomong apa kamu ini. Seujung kuku pun Abang nggak pernah senggol dia" ucap keras Bang Zaldi terbawa emosi. Mata Arnes berkaca-kaca mendengar bentakan Bang Zaldi.


Seketika Bang Zaldi sadar kalau Arnes sedang tidak bisa di ajak berbicara keras.


"Maaf dek.. maaf..!! Kamu jangan mancing-mancing lah. Sumpah Abang nggak ada urusan sama perempuan" kata Bang Zaldi.


Papa Rinto dan Mama Anye ternyata sudah tidur dan tidak mau banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga putrinya.


"Ya sudah ayo jalan lagi..!!!!!"


...

__ADS_1


"Kalau kamu datang hanya untuk merusak rumah tangga adikku, kamu harus berhadapan dengan saya dulu. Arnes itu adik perempuan saya satu-satunya"


"Eli hanya nggak punya teman untuk bercerita mas. Eli kehilangan sekali saat Mas Zaldi memilih jadi tentara. Eli maunya Mas Zaldi bertani atau beternak saja, agar tidak keluar dari kampung ini. Sekarang Mas Zaldi punya wanita yang ia sayang. Dulu aku tidak pernah melihatnya berdekatan dengan wanita. Tapi kali ini aku melihat Mas Zaldi bisa bersikap seperti itu sama Arnes." jawab Eliana.


"Kamu terlalu bodoh dan terlalu picik menyikapi hidup ini. Di dunia ini ada ribuan bahkan jutaan pria, kenapa hanya Bang Zaldi saja yang kau lirik dan kau ganggu hidupnya. Kalau kamu bisa mengubah sikap burukmu itu, kamu pasti terlihat lebih cantik. Jadi wanita itu harus punya harga diri. Manusia tidak ada yang sempurna,. tapi setiap manusia berhak berubah untuk menjadikan hidupnya lebih baik" kata Bang Bima.


"Apa Mas Bima termasuk orang yang baik??" tanya Eliana.


"Tergantung siapa yang kuhadapi. Kalau lawannya itu kamu jelas saya tidak akan berbaik hati. Kecuali.. kamu mau menjadi dirimu sendiri. Saya tau sebenarnya kamu tidak jahat"


Eliana mengalihkan pandangan agar Bang Bima tidak melihat kedua matanya yang mulai menggenang.


"Jangan di ulangi lagi.. Livi" ucap Bang Bima.


"Darimana mas tau namaku???"


"Kamu adik dari sahabatku yang sudah tiada lima tahun lalu.. Dio"


Disana Eliana sesenggukan menutup wajahnya. Ia tidak menyangka kalau Bang Bima sebenarnya mengenalnya.


"Kamu bisa membohongi semua orang untuk mendapatkan perhatian, tapi kamu nggak bisa bohongi Bang Bima"


Seketika Eliana menangis kencang memeluk Bang Bima.


"Ikutlah Abang kemanapun Abang pergi. Jangan mengejar cinta yang bukan milikmu"


"Aa..baang..!!" ucapnya terbata.


***


"Gimana dek, kuat lanjut jalan nggak??" tanya Bang Zaldi.


"Kuat Bang" jawab Arnes.


"Haduuuhh.. dulu setiap Mama hamil, pasti Papa yang Mabuk Zal. Nggak karuan rasanya. Rasanya kapok, tapi bagaimana lagi. Rejekinya papa" sahut Papa Rinto mengenang masa lalu.


"Kalau boleh milih, nggak apa-apa deh kalau saya ikut mabuk. Kalau sudah begini nggak tega saya lihatnya pa."


"Waduuhh.. jangan sampai Zal. Papa mau mati rasanya ikut mabuk begitu. Jangankan makan, lihat sesuatu nggak beres aja langsung jadi mualnya Zal" kata Papa Rinto.


"Itu namanya senasib sepenanggungan Pa. Biar sama-sama tau. Punya anak itu rawatnya berdua" jawab Mama Anye.


"Ayo cepat jalan lagi. Kalau Abang pengen mabuk, minum kecubung aja sana..!!" omel Arnes.


Bang Zaldi membekap mulut Arnes.


"Dapat darimana lagi kamu ilmu macam begitu. Sudah Abang buat teler begini masih saja suka ngomong ngawur" tegur Bang Zaldi.


"Awas ya kalau Abang dengar omongan aneh-aneh lagi"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2