
"Abaaaanngg..!!!" sebenarnya Arnes ingin memeluk Bang Zaldi tapi ia masih terlalu takut.
"Uhuukk..!!" dada Bang Zaldi terasa sakit dan sesak. Bang Zaldi meminta agar Arnes menjauhinya.
"Beraninya kamu berbuat seperti itu Zaldi..!!!!" Papa Rinto tidak bisa menahan amarahnya.
Bang Zaldi tetap diam tanpa kata sebab semakin ia melawan, Papa Rinto pasti akan menangani Arnes juga.
"Dengar aku Pa" Arnes mulai takut karena apa yan ia ucapkan tak seperti ekspektasi nya.
"Masuk dek..!!" kata Bang Zaldi meminta Arnes masuk agar tidak melihat apa yang papanya lakukan.
Bang Bima menendang Bang Zaldi sekali lagi.
"Aku hanya asal bicara pa" teriak Arnes.
Pandangan mata Papa Rinto dan Bang Bima langsung mengarah pada Arnes kemudian beralih menatap Bang Zaldi.
"Mana yang benar??" bentak Papa Rinto.
"Arnes hamil pa" jawab Bang Zaldi
"Nggak" jawab Arnes secara bersamaan.
Papa Rinto menepak kursi di sampingnya dengan kasar.
"Bima.. kamu ke apotek" pekik Papa Rinto yang sudah terlalu emosi tingkat dewa.
#
"Keterlaluan kamu Arnes..!!" bentak Papa Rinto.
"Kalau nggak begini, Papa semakin menyusahkan Abang. Kalau Arnes benar hamil gimana pa????" tegur Arnes.
"Bima.. hubungi keluarga dan minta datang sekarang juga..!!"
"Ada apa pa??" tanya Bang Bima.
"Papa nyerah.. daripada keduluan kedatangan pasukan baru, mending Arnes nikah saja" kata Papa Rinto mengalah.
-_-_-_-_-
Bang Seno dan Bang Righan baru saja datang dari Sulawesi. Bang Seno yang pagi tadi baru datang dari penugasan pun segera pulang karena mendapat kabar dari sang Papa.
Bang Seno dan Bang Righan memeluk Mama Anye.
"Jagoan Mama.." Mama Anye selalu terharu saat melihat putranya.
"Adikmu mau menikah nak"
"Kami paham ma. Itu lebih baik" jawab Bang Righan.
__ADS_1
//
Di dalam kamar berukuran empat kali empat itu ketiga Abang Arnes menyulap kamar Arnes menjadi kamar pengantin khas tentara. Sarung bermotif loreng ditata menutupi seluruh dinding. Segala ornamen yang berhubungan dengan loreng, di pergunakan untuk menghias kamar pengantin dadakan tersebut. Bunga bertaburan di seluruh lantai dan ranjang menebar bau wangi, membawa aura tenang tapi sangat romantis.
Arnes sungkem dan menunduk di hadapan ketiga Abangnya. Anye menangis sesenggukan meminta ijin kepada ketiga Abangnya karena Arnes melangkahi Abangnya untuk menikah. Di antara ketiga Abangnya, Arnes memang sangat dekat dengan Bang Seno. Hal itu juga yang membuat Bang Seno begitu berat melepas Arnes menikah tapi pernikahan adalah sebuah ibadah. Maka ia harus mengikhlaskan adik perempuan satu-satunya itu menikah dengan pria pilihan hatinya.
"Abang.. Arnes minta ijin untuk menikah dengan pria yang Arnes pilih. Apa Abang keberatan kalau Arnes menikah lebih dulu?" tanya Arnes.
Bang Seno memeluk adik perempuannya dengan erat, rasa sesak dan sedih mendera perasaannya.
"Menikahlah dengan pria pilihanmu, Abang ikhlas. Bahagialah dengan Bang Zaldi. Percaya sama Abang.. dia tidak akan seperti Bang Guntur. Tapi jika Bang Zaldi sampai menyakiti hatimu, Abang sendiri yang akan meremukkan tulang-tulangnya"
Hari ini Arnes pun melihat air mata Bang Seno. Bang Seno yang biasanya sangat tegas dan gagah bisa menangisi dirinya.
"Jangan nangis. Hari ini kamu adalah wanita paling cantik. Kesayangan Abang ternyata sudah dewasa, sudah berani menikah" Bang Seno menghapus air mata Arnes. Kedua Abangnya pun akhirnya ikut memeluk Arnes. Gadis cantik kesayangan mereka.
//
"Sakit nggak??" tanya Papa Rinto yang akhirnya mengobati sendiri menantunya itu.
"Nggak pa" jawab Bang Zaldi datar sambil sesekali meremas dadanya dan memercing merasakan memar di bagian yang terkena tendangan Bang Bima.
"Kalian berdua ini memang sangat keterlaluan. Bisa-bisanya buat hal seperti ini jadi bercandaan" Papa Rinto pusing tujuh keliling memikirkan anak gadisnya.
"Karena nggak mungkin saya nikahi Arnes karena jalur prestasi pa"
"Astagfirullah hal adzim..!!" Papa Rinto mengusap dadanya.
...
"............. dengan mahar tersebut di bayar tunai..!!!"
"Sah.."
"Sah.." Opa Rama menjawab paling lantang di hadapan semua sampai Oma Dinda harus mencubit pinggang Opa Rama karena kaget.
Perasaan Bang Zaldi begitu lega dan tenang. Rasanya angin surga begitu menyejukan relung batinnya. Ia segera mengusap air mata haru karena kehidupan selanjutnya akan ia jalani bersama Arnes.
Doa melantun menyejukkan telinga dan hati yang mendengar. Papa Rinto sejenak seperti terbawa ke awang-awang mengingat saat dirinya menyaksikan kelahiran putri kecil kesayangan yang begitu ia inginkan. Putri kecil yang setiap harinya berlarian menunggunya pulang kerja di setiap sore dan meminta untuk menemaninya disaat akan pergi tidur. Kini hatinya sebagai seorang papa harus rela dan ikhlas melepaskan putrinya pada sosok pria yang ada di hadapannya.
Pertama kali dalam hidupnya, Arnes melihat air mata papanya yang berusaha di sembunyikan oleh cinta pertamanya itu. Disini pun Arnes berusaha tegar, namun hatinya belum cukup kuat.
Ibu Bang Zaldi melepas kerudung yang ikut menjadi penyatu Bang Zaldi dan Arnes.
Sesaat tadi, Arnes sudah menangis saat Bang Zaldi mengucapkan akad nikah, tapi kini hatinya sungguh belum sanggup percaya untuk merasakan peralihan dirinya dari seorang gadis menjadi seorang istri dari Lettu Erzaldi Gharial Alba.
"Ndhuk.. cium tangan Abang" Mama Anye menyadarkan putrinya karena Arnes masih diam dengan pandangan kosong begitu akan menunduk, Arnes malah pingsan di dada Bang Zaldi.
"Ya Allah... Adek..!!" Bang Zaldi segera mengangkat Arnes dan membawanya me kamar 'pengantinnya'.
//
__ADS_1
Bang Zaldi mengoleskan minyak kayu putih di telapak tangan Arnes yang terasa begitu dingin. Rasa cemas membuatnya sungguh gelisah. Perlahan Bang Zaldi memeluk dan mencium keningnya. Kini tak ada lagi rasa takut dan was-was karena Arnes sudah menjadi istrinya.
"Belum sadar Zal??" tanya Papa Rinto.
"Belum pa" jawab Bang Zaldi terdengar sendu.
Bang Zaldi terus mendekap Arnes penuh perasaan. Papa Rinto pun meninggalkan Bang Zaldi dan Arnes berdua di dalam kamar.
Lima menit setelah itu barulah Arnes baru sadar.
"Bang.. sesak..!!"
Otak Bang Zaldi mendadak buntu berhadapan dengan gadisnya yang sedang mengenakan hijab. Ia tak tau bagaimana harus memperlakukan Arnes padahal kemarin pikirannya bisa begitu liar melanglang buana tapi tidak untuk saat ini. Menatap istrinya yang begitu cantik membuatnya seolah memiliki sebuah berlian yang yg takut ia retak kan.
"Bang.. sesak. Bisa bantu Arnes?" tanya Arnes sekali lagi. Tangan Arnes beralih di belakang tengkuk Bang Zaldi dengan manja.
Jantung Bang Zaldi jedag jedug kencang mendapatkan peluk sayang sang istri setelah mereka berdua sah sebagai pasangan suami istri. Kini tangan itu tanpa sungkan melonggarkan stagen yang mengikat kain kebaya. Mendadak darahnya panas dan naik hingga ke puncak kepala.
"Sudah boleh Abang coba khan?" tanya Bang Zaldi sambil menyerusuk ke sela leher Arnes. Nafasnya mulai terasa berat dan menyiksa.
Arnes hanya mengangguk dalam hatinya yang sulit untuk ditenangkan.
Bang Zaldi menata nafasnya yang berantakan. Di kendorkan ikat pinggang yang cukup menyesakan rongga paru-parunya. Perlahan di kecupnya bibir manis Arnes dan tidak ada penolakan dari sang istri. Dengan hati-hati Bang Zaldi kembali mendekat karena ia sangat takut kalau Arnes tiba-tiba menjadi trauma karena perlakuannya.
"Kenapa kamu cantik sekali sih dek??" tanyanya mulai tidak bisa mengendalikan diri.
Baru saja akan memulai lagi, terdengar suara derit pintu.
"Coba kamu kasih minyak angin ini Zal..!!" kata Papa Rinto masuk ke dalam kamar.
"Haaaa.. Astagfirullah hal adzim" Papa Rinto kembali menutup pintu karena di kamar itu terdapat privasi anak dan menantunya.
"Aduuuhh.. Papaaa" Bang Zaldi menepuk dahinya. Secepatnya ia membenahi penampilannya yang acak-acakan meskipun rasa malunya sangat tipis karena sekarang statusnya sudah sah sebagai suami Arnes.
"Abang keluar sebentar ya dek. Nggak enak sama Abang-Abangmu. Meskipun mereka masih muda, tetap saja mereka kakak ipar"
"Iya Bang. Tapi kalau bisa jangan lama-lama ya..!!" pinta Arnes.
"Memangnya kamu mau apa?" tanya Bang Zaldi dengan penuh harap.
"Tolong pijat bahu Arnes Bang..!!" pintanya malu-malu.
Bang Zaldi tersenyum penuh tanda tanya.
"Hanya satu jam saja Abang di luar. Jangan tidur dulu ya" Bang Zaldi memainkan alisnya yang tebal naik turun dengan genit.
.
.
.
__ADS_1