
Perhatian..!! Cerita Nara tidak 💯% keadaan yang sesungguhnya. Jadi please.. jangan tanya status Nara lagi. Semua memang sengaja di samarkan 🙏
🌹🌹🌹
"Sabar.. hutan negara kita ini bagus sekali. Kalau kita langsung cepat pulang, sayang sekali..!!" kata Bang Zaldi.
"Terus mau apa lagi kita disini Bang?"
"Hubungi anggota yang lain. Bilang suruh bawa senjata dan perlengkapan berburu lainnya..!!"
-_-_-_-_-
"Sayang.. keluar yuk..!! Ada kejutan untuk kamu..!!"
Mendengar beberapa kali bujukan itu akhirnya Arnes bersedia membuka pintu kamar.
"Apa??" tanya Arnes masih memasang wajah cemberutnya.
"Abang tutup dulu donk matanya. Biar jadi surprise cantik" Bang Zaldi mengambil kain lalu menutupkan pada mata Arnes. Perlahan ia membimbing langkah Arnes keluar berjalan ke arah halaman samping rumah.
"Duduk disini..!!"
"Mundurkan Reo nya.." perintah Bang Zaldi pada mudinya.
Truk Reo itu mundur. Beberapa anggota turun dan membuka belakang truknya.
Arnes mendengar suara aneh dan asing di telinga. Suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Bang Zaldi meletakan seekor biawak di pangkuan Arnes. Seketika Arnes membuka penutup matanya karena merasa tangannya tercakar sesuatu.
"Hwaaaa... Abaaaanngg.." Arnes berjingkat ketakutan sampai melompat-lompat tak karuan. Seekor kera melompat ke punggungnya belum lagi seekor babi mengintari kakinya. Biawak yang ada di pangkuannya pun terbanting.
Bang Zaldi kaget sekali melihat reaksi Arnes yang tidak sesuai ekspektasi nya. Ia segera memeluk Arnes dan menenangkan istrinya.
"Kalem dek, tenang.. mereka nggak jahat. Mereka juga makhluk hidup" kata Bang Zaldi.
"Arnes nggak suka Bang..!!" Ucapnya di sisa tenaganya.
"Arnes nggak sukaaaaa" pekiknya sampai merosot dan lemas.
"Maaf sayang. Maaf.. Abang kira kamu suka binatang lucu ini"
Para anggota garuk-garuk kepala karena mengira Komandan mereka akan membuat kebun binatang kecil seperti perintahnya saat menuju hutan tadi.
"Tolong ambilkan minum Rig..!!" pinta Bang Zaldi pada kakak iparnya.
...
Setelah Bu Komandan tenang baru lah Bang Zaldi memberikan arahannya.
"Maaf ya atas keributan ini. Saya sungguh tidak menyangka istri saya bereaksi seperti itu. Tadinya saya kira istri saya senang dengan hadiah saya karena jujur saya penyuka reptil dan amfibi ya termasuk ular-ular saya. Saya menganggap mereka lucu, tapi akhirnya malah jadi seperti ini" ucapnya sambil mengusap perut Arnes di usia empat belas minggu.
"Maaf ya ma. Di maafin nggak ini??" tanya Bang Zaldi pada Arnes.
"Nggak.. Papa jahat" ucapnya yang langsung mendapat gelak tawa dari para anggota.
"Belajar berani to. Lha itu kesayangan Abang lho" kata Bang Zaldi sambil membantu istrinya berdiri.
__ADS_1
"Aduuhh.. nggak kuat berdiri Bang" Arnes memegangi lengan Bang Zaldi. Tanpa banyak bicara Bang Zaldi langsung menggendong Arnes untuk masuk ke dalam rumah.
"Sebentar ya..!!"
-_-_-_-_-
Kompi ramai sekali dan sampai sore ini masih di sibukkan dengan acara menyembelih dua ekor sapi liar hasil buruan. Karena sang istri sedang hamil, Bang Zaldi memilih membantu yang lain takut istrinya sewaktu-waktu membutuhkannya. Bang Zaldi benar-benar tidak mengijinkan Arnes ikut kegiatan apapun karena takut istrinya itu kelelahan.
Para istri anggota bahu membahu memasak untuk acara syukuran nanti malam di bantu om-om remaja.
"Lho dek.. kenapa kamu disini??" Bang Zaldi berlari saat melihat Arnes datang ke samping lapangan. Banyak batu besar dan Bang Zaldi sangat khawatir.
"Nggak enak lah Bang. Masa istri Abang nggak kelihatan" jawab Arnes.
"Adi.. tolong panggilkan Immanuel.."
"Siapa yang sakit Bang?"
"Standby.. istri saya di lapangan. Takut kenapa-kenapa"
Bang Bima sampai menepuk dahinya tak habis pikir dengan ulah Bang Zaldi. Tapi terus terang hatinya tenang dan bahagia.
ddrrtt..ddrrttt..ddrrtt..
Bang Bima membaca pesan singkat dari Livi.
"Abang pulang hari ini juga. Kemasi barangmu..!!" ucapnya saat menghubungi Livi.
-_-_-_-_-_-
Para anggota sedang makan malam bersama. Bang Zaldi makan dengan Arnes tapi matanya tetap mengawasi Ibra yang sedang berlarian kesana kemari. Mata bibi pun mengawasi si kecil Ibra dan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama agar tuannya tidak marah besar.
"Kamu makan yang banyak dek..!!"
"Bang.. Arnes pengen di suapin Abang, boleh??" tanya Arnes.
Bang Zaldi menatap mata Arnes yang mudah berubah-ubah. Kadang bahagia, kadang marah, kadang juga sedih. Kali ini wajahnya seperti orang yang begitu tertekan membuat Bang Zaldi menjadi tidak tega.
"Boleh.." Bang Zaldi langsung mengambilkan lagi makanan untuk Arnes. Istrinya itu memang tidak berselera makan sama sekali.
:
Sesuap nasi masuk ke mulut Arnes. Istrinya itu langsung sesenggukan memeluk Bang Zaldi.
"Kenapa sayang?? Kamu suka rendangnya khan?" tanya Bang Zaldi heran.
"Arnes mau di sayang Abang" ucapnya masih sesenggukan.
Bang Zaldi membuang nafas panjang.
"Kapan to Abang nggak sayang kamu?" Bang Zaldi menyuapi Arnes dengan telaten.
Begitu Bang Zaldi menyuapi lagi, tangis Arnes semakin menjadi. Bang Zaldi menoleh ke sekitarnya. Banyak anggota yang memperhatikan mereka berdua.
"Sudah dek.. malu di lihat orang"
"A_bang ma_lu punya istri Ar_nes???"
__ADS_1
"Lailaha Illallah.." Bang Zaldi mengecup sayang kening Arnes. Ia pun ikut menangis melihat Arnes yang sekarang. Bang Zaldi membungkuk lalu mengecup perut Arnes juga sambil mengusap perut istrinya yang sedang duduk meluruskan kaki.
"Dedek marah sama papa ya? Papa nakal ya dek, suka buat mama sedih?? Maafin papa ya"
"Kenapa Bang?" tegur Immanuel. Bang Zaldi menatap dokter Immanuel.
"Jujur kehamilan Arnes ini seperti ujian buat saya. Dulu saat hamil Ibra, Arnes nggak begini. Dia tegar sekali, kuat sampai akhir meskipun awalnya lemas. Saya sudah di beritau setiap kehamilan itu berbeda tapi sekarang ini dia mudah sekali berubah sikap. Yang paling parah itu terlalu sensitif dengan segala hal"
"Pertanyaan mu ini nggak bisa di jawab dengan ilmu kedokteran saja" sapa seseorang di belakang Bang Zaldi.
"Papa Brian..!!" Arnes langsung menghambur memeluk pria yang selama ini juga di anggap papanya sendiri.
"Papa.." Bang Zaldi pun mencium punggung tangan Papa Brian.
"Sini Mama suapi" Mama Ariani mengambil piring Arnes lalu menyuapi putrinya.
...
Papa Brian yang lebih menguasai wilayah Barat segera bergabung dengan para anggota lama yang jelas pasti sudah di kenalnya. Para tetua kompi pun berusaha membuka jalan pikiran Bang Zaldi.
"Kamu itu sebenarnya tau jawabannya kenapa istrimu seperti itu tapi kamu menolaknya Zal"
"Dulu Arnes memang kuat di depanku pa. Berusaha kuat agar aku tidak memikirkannya. Karena yang kami rasakan hanya tahan rindu saja. Menahan kuat segala perasaan dan lebih tegar saat hamil Ibra. Kali ini sebenarnya dia pun kuat pa. Hanya saja masalah yang kami hadapi belakangan ini terlalu berat dan membuat tingkat stress Arnes lebih tinggi. Kenyataan yang ia rasakan begitu membekas dalam ingatannya. Aku tahu karena Arnes sering mengigau. Dan aku hampir tidak pernah tidur untuk menjaganya" ucap jujur Bang Zaldi.
"Ya ampun Pak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Ibu" kata Pak Samsudin, sesepuh Kompi.
"Saya pun tidak menyalahkan dan bisa memaklumi kalau sampai hati ibu kadang goyah"
Para anggota yang lain ikut mengangguk membenarkan.
"Jujur kadang saya tidak kuat melihat tangis istri saya. Apapun itu rasanya tidak bisa menebus seluruh kesalahan saya" Akhirnya air mata DanSat berlelehan juga.
"Kami dukung Komandan. Semangat komandan.. demi istri tercinta"
...
"Mau pulang??" Bang Zaldi tersenyum membujuk Arnes.
Arnes mencium tangan Bang Zaldi.
"Maaf Bang. Arnes sudah buat malu Abang. Arnes nggak sengaja"
Bang Zaldi sedikit mengangkat dagu istrinya agar bisa menatapnya.
"Abang tidak pernah malu. Abang bangga punya kamu dalam hidup Abang yang sangat sabar sampai seperti ini. Hanya saja, lain kali ada baiknya bicarakan segala hal yang ada dalam hatimu. Abang tidak selalu mengerti apa keinginan istri Abang"
"Iya Bang" jawab Arnes kembali menangis.
"Ayo donk sayang. Jangan nangis terus. Yang kuat, biar anak Abang nggak cengeng. Komando kok cengeng.. mana garangnya??????" goda Bang Zaldi.
"Ijin Dan.. Besok jadi buat 'kebun binatang'?"
.
.
.
__ADS_1
.