
Jangan ilfeel.. kenyataannya di dunia ini memang ada.
🌹🌹🌹
Dokter bantuan sudah datang tapi akhirnya malah harus merawat Bang Zaldi yang 'kekurangan oksigen'.
"Yang kuat Bang. Komando harus kuat..!!" ledek Bang Bima.
Bang Zaldi hanya menunjukan kepalan tangannya di depan Bang Bima meskipun dirinya tak punya tenaga. Kemudian ia hanya bisa menatap Arnes yang sedang mengunyah buah kedondong. Bulir air matanya menetes. Arnes yang melow membuat Bang Zaldi terkadang ikut terbawa perasaan. Kali ini dirinya tidak marah meskipun Arnes membohonginya dan membuatnya 'sekarat'.
"Jangan berbuat aneh-aneh lagi dek..!!" ucap Bang Zaldi di antara tenaganya yang sudah habis.
"Itu hukuman karena Abang lebih mementingkan wanita lain daripada istri sendiri. Abang nggak pernah peka setiap di perdaya wanita. Arnes kecewa Abang juga panik saat Inggrid sakit" jawab Arnes.
"Iya dek. Abang yang salah. Tadinya Abang pikir untuk memanusiakan manusia tapi ternyata Abang salah" sesal Bang Zaldi.
Sebagai wanita.. kamu terlalu aneh Inggrid. Ada banyak hal yang tidak kumengerti dari dirimu. Mengapa seorang walikota bisa bertindak buruk seperti itu.
"Abang memikirkan dia lagi?? masih ingin bertemu dia??" tegur Arnes melihat Bang Zaldi melamun.
"Apa sih sayang. Tadi disana bukan seperti yang kamu lihat dalam foto dan video, yang terlihat romantis. Inggrid kecelakaan, di tabrak motor.. dia nggak bisa jalan. Masa Abang biarkan saja ada perempuan celaka. Itu lho ada Abangmu saksinya" kata Bang Zaldi.
"Iya Nes, Bang Zaldi berkata benar ya walaupun sebenarnya........."
"Bimaa..!!!!" Bang Zaldi menegur Bang Bima agar tidak menceritakan hal yang tidak penting karena Arnes pasti sensitif mendengarnya.
flashback on...
Senyum Inggrid merekah saat Bang Zaldi menggendongnya masuk ke dalam mobilnya. Hal ini tak lepas dari pandangan mata Bang Bima.
Inggrid bersandar di bahu Bang Zaldi.
deg..deg..
Hati Bang Zaldi berdetak lebih kencang. Bukan karena ia bergairah melihat ibu walikota, tapi lebih karena ragu dengan sikap ibu walikota.
"Kamu ikut saya Bima, ajak Adi sekalian" perintah Bang Zaldi.
"Siap Bang..!!"
"Abang saja yang temani aku ke rumah sakit..!!" pinta Inggrid dengan nada menggoda.
"Kalau begitu kau saja yang jalan ke rumah sakit..!!" jawab Bang Zaldi mulai curiga dengan gaya bahasa Inggrid yang tidak lagi bersikap formal dengannya.
"Aduuuhh Abang.. kakiku sakit" rengek Inggrid.
//
Inggrid menjerit saat di tangani oleh dokter. Media massa sudah meliput mereka sejak tadi. Sesaat tadi Bang Zaldi yang merasa risih langsung menepis tangan Inggrid dan meninggalkan Inggrid yang mulai bersikap di luar batas terhadapnya.
Beberapa anggota dari Bang Zaldi menegur keras media massa karena sudah menyebarkan isu hubungan 'di balik layar' Komandan Satuan pengamanan dengan Ibu walikota.
__ADS_1
flashback off...
"Akhirnya gaya Abang yang sok peduli harus masuk di media massa" Arnes yang menjawabnya.
Malam ini tanpa di duga kompi mendadak ramai sampai sebuah mobil media massa bisa menerobos masuk ke dalam asrama kompi.
Mengherankan.. mobil tersebut langsung berhenti di depan rumah DanSat.
Bang Bima langsung bergerak mengamankan situasi karena Bang Zaldi masih belum begitu kuat menghadapi 'musuh'.
...
"Saya istri dari Kapten Erzaldi. Tidak ada yang terjadi antara Ibu Inggrid dan suami saya. Semua murni karena pertolongan saja" dengan tenang Arnes menjawab pertanyaan wartawan lokal.
"Kenapa Pak Komandan mendapatkan perawatan?? Apa komandan sempat tertabrak bersama Ibu Inggrid?" tanya seorang wartawan.
"Bukan, suami saya ini sedang ngidam. DanSat sangat romantis sampai hamil saja harus beliau yang menanggung ngidamnya" jawab Arnes dengan senyuman imutnya.
Para wartawan ikut tersenyum gemas melihat kalemnya ibu DanSat. Mereka pun tidak berniat bertanya lebih lanjut dan lebih kooperatif tapi yang paling parah adalah saat ini DanSat benar-benar mabuk dan mual parah. Dan ini seperti ujian hidup dan mati yang paling berat untuk Bang Zaldi.
...
Arnes melahap sate kerang yang di bawakan Bang Zaldi dengan wajah datar. Makanan yang seharusnya di santap saat baru di beli, jadi harus di santap saat hari sudah larut malam.
"Jangan di makan. Besok Abang belikan lagi..!!" kata Bang Zaldi.
"Iya, rasanya sangat hambar. Mulai sekarang Arnes nggak suka sate kerang" ucapnya pada gigitan tusukan terakhir satenya.
Kegiatan hari ini hanya membersihkan senjata, memberi makan hewan dan kurve kompi.
"Tolong batunya di singkirkan.. banyak ibu kompi yang sedang hamil" perintah Bang Zaldi. Baru saja bicara rasa mualnya sudah mulai mengerjainya.
Bang Zaldi berlari sampai ke toilet. Bang Bima tidak bisa menahan tawanya melihat adik iparnya tersiksa.
//
Bang Bima mengguyur kepala Bang Zaldi dengan air.
"Masa harus begini terus Bang?" tanya Bang Bima.
"Saya nggak pernah merasakan saat hamil Ibra. Baru hamil kemarin dan ini saja yang paling parah dari yang terparaaahh" jawab Bang Zaldi sambil menahan sakit.
"Hhkkk.." tumpahan cairan dari kerongkongannya terasa pahit bagai obat.
"Ya Allah Dan, kenapa sampai begini. Coba Komandan berbaring..!! Biar saya pijat. Mungkin akan berkurang mualnya" kata Pak Samsudin begitu tidak tega melihat Komandannya kehilangan kekuatan seperti ayam mau mati.
Om Adi dan Bang Bima memapah Bang Zaldi sampai di rerumputan taman yang teduh. Langkahnya sudah condong hampir ambruk.
"Eeehh.. Abaang.. Ayo Adi cepat..!!"
:
__ADS_1
Arnes melihat suaminya yang sudah bisa duduk bersandar di pohon. Ia menenteng bakpao isi daging sapi di tangannya. Kejam lagi.. rasa belas kasihan Arnes seakan hilang dan santai saja saat suaminya tersiksa.
"Ya ampun Nes, tega banget kamu ya. Suamimu sakit begini kamu malah ngunyah bakpao tanpa perasaan" tegur Bang Bima.
"Arnes suka lihat Abang susah. Lihat wajah Bang Zaldi nih Arnes kesal sekali. Pengen cakar, pengen berantem sama Abang" jawab jujur Arnes.
Pak Samsudin tidak bisa menahan rasa gelinya sampai tertawa terbahak. Tampaknya Ibu DanSat sedang sensi melihat wajah tampan suaminya.
"Dedek.. sudah donk marahnya sama Papa. Papa nggak kuat sakitnya nih dek..!!!!!!" pinta Bang Zaldi sambil menyentuh perut Arnes.
"Bagi bakpaonya dek. Suamimu lemas tuh" kata Bang Bima.
"Iihh.. nggak boleh. Arnes masih kurang nih" jawab Arnes.
"Ya Tuhan. Itu keponakan Abang jangan di latih kikir sejak dini ya...!!" Bang Bima sampai menepuk dahinya melihat tingkah luar biasa Arnes pada kehamilannya kali ini. Segala rupa tingkah dan masalah bisa saja di buat bumil tanpa sadar karena hormon kehamilannya yang ekstrim.
"Sudah Bim jangan ribut disini. Tolong belikan es Doger donk..!!" pinta Bang Zaldi.
"Siap Bang"
"Arnes juga mau, Abang jangan ikut-ikutan" kata Arnes.
"Allahu Akbar.. Arneees, jangan keterlaluan kamu"
"Kalau nggak mau ya sudah, nanti malam mabuknya Bang Zaldi kambuh lagi" ancam Arnes.
"Sudah sana, ganti punya saya jadi es pisang ijo" ralat Bang Zaldi.
"Eehh.. Arnes ganti pisang ijo aja"
"Modyaaaarr.. wes Bim.. tuku kabeh..!! Biar queen Arnes pilih sendiri, urusan nanti mau di pakai cuci muka itu es campur.. ya biar urusan nanti. Nggak tahan saya tanggung mabuknya Biimmm"
"Huuuuhh.. kalau bukan adik sudah ku garuk juga nih perempuan satu ini" ucap Bang Bima gemas.
"Siapa suruh kalian berdua urusan sama sundel bolong Inggrid itu" jawab Arnes lirih.
"Apa ini devinisi dari kutukan istri?" tanya Bang Zaldi.
"Iyaa.. Abang jangan bicara. Pokoknya hari ini Arnes nggak mau lihat Abang, nggak mau dengar suara Abang" ucapnya dengan jahatnya.
"Siap Bu DanSat" Bang Zaldi mengalah dan menutup wajahnya dengan topi rimbanya agar Arnes tidak terus mengomel.
"Iisshh.. Amit-amit untung Livi nggak mengerjai ku seperti ini. Bisa mati kejang aku di buatnya" gumam Bang Bima sambil berjalan meninggalkan Pak Samsudin, Arnes dan Bang Zaldi yang terbully.
.
.
.
.
__ADS_1