
Harap kebijakan dalam membaca.
🌹🌹🌹
Papa Rinto dan Mama Anye mengantar putrinya. Bang Seno masih akan kembali dua hari lagi karena ia sedang berjuang memastikan hubungannya dengan Bryna.
Arnes menangis dan memeluk sang papa dengan perasaan sedih. Dulu ia selalu di manjakan seluruh Abang dan papanya, kini ia harus menjalani biduk rumah tangga bersama Bang Zaldi. Pria yang ia pilih untuk menemani hidupnya.
"Kalau masih belum ikhlas lebih baik disini saja sama Papa" kata Papa Rinto.
"Iihh.. Arnes mau ikut Abang lah pa" jawabnya dengan Nada manja. Tapi sikap manja itu tertutup dengan ketegarannya yang mau dan ikhlas mendampingi sang suami kemanapun pergi.
"Ya sudah sana.. cepat berangkat. Nggak usah naik, kapan-kapan Papa sama Mama berkunjung ke sana" kata Papa Rinto.
Arnes mengangguk lalu mengikuti Bang Zaldi yang sudah bersalaman pada kedua orang tuanya lalu berjalan mengikuti Bang Zaldi menuju pesawat.
//
Bang Zaldi memeluk dan menghapus air mata Arnes. Ia memberi waktu pada istrinya untuk menata hati. Rasa sedih itu pasti ada tapi ia yakin waktu akan mengajarkan Arnes untuk terbiasa di lingkungan yang baru.
"Nanti Abang minta Righan untuk jaga kamu juga. Besok pagi Abang berangkat, siang Righan sudah datang" kata Bang Zaldi.
"Iya Bang"
-_-_-_-_-
Siang hari Bang Zaldi dan Arnes sudah tiba di Sulawesi. Mereka langsung menuju rumah kontrakan Bang Seno karena Bang Seno sudah memberi kunci rumah.
Sesampainya disana Bang Zaldi dan Arnes langsung mandi dan beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah mereka hingga pukul empat sore mereka berdua bangun dari tidurnya.
"Apa tempat tugas Abang jauh dari Batalyon?" tanya Arnes.
"Tujuh jam perjalanan darat. Di desa terpencil. Nggak ada apa-apa disana. Hanya penduduk pedalaman. Jauh dari pasar" Bang Zaldi sengaja menjabarkan lingkungan disana agar Arnes punya gambaran dan tidak berpikiran negatif saat dirinya bertugas nanti.
"Kalau sudah selesai tugas nanti, cepat pulang ya Bang" ucap Arnes sambil jari nakalnya bermain di dada Bang Zaldi.
"Iya, ini hanya sebentar dek. Nggak ada satu bulan. Lagi pula ada istri yang menunggu" Bang Zaldi mengecup kening Arnes. Ingin rasa hati mencuri kesempatan, tapi semakin ia bertindak bodoh, semakin ia akan tersiksa dengan ulahnya sendiri.
"Abang tinggal sebentar pulang ke mess ya dek. Abang mau persiapan untuk besok. Nanti kalau Abang sudah selesai packing, kita jalan-jalan sambil belanja kebutuhanmu sampai Abang-abang mu kembali.
-_-_-_-_-_-
Bang Zaldi sudah merapikan pakaiannya. Bagi seorang prajurit, lima belas menit saja cukup untuk bersiap. Hanya saja ia ingin sejenak menenangkan diri. Sebenarnya hidupnya tidak melulu hanya memikirkan soal hubungan suami istri saja. Namun dalam berumah tangga apalagi akan mengalami LDR pasti rasa rindu akan sangat terasa berbeda apalagi untuk yang sudah pernah merasakan 'malam bersama'
__ADS_1
Bang Zaldi memang belum pernah merasakan sensasi kebersamaan dengan istri secara langsung, tapi ulah Arnes saat mabuk waktu itu selalu terbayang dalam ingatannya dan itu begitu menyiksa, ia pun tidak ingin mengatakan apa yang sudah ia rasakan saat bersama Arnes meskipun pada istrinya sendiri.
flashback on...
Malam gelap, lampu temaram, suara jangkrik berteriak kencang. Arnes belum sadar juga meskipun sudah memuntahkan banyak minuman yang memabukkan itu.
"Dek.. sadar dek. Aduuhh bajumu basah ini. Righan sialan.. Bikin masalah aja" umpatnya kesal
"Dengar ya om Zaldiii.. aku tuh lebih cinta sama kamu daripada si Aning itu. Aku diam-diam suka sama kamu, tapi kamu dingin sekali sama aku" cerocosnya tanpa henti sambil menarik bajunya yang basah.
"Heehh.. ngomong apa kamu dek?? Abang juga nggak akan mau sama perempuan itu" jawab Bang Zaldi mulai kerepotan dengan ulah Arnes.
"Iiiihh.. Om Zaldi marah..!! Om Zaldi nggak cinta ya sama akuuu" Arnes mulai merajuk dan menangis.
"Bohong.. kalau cinta kenapa nggak mau aku cium??"
"Astagfirullah.. tambah nggak jelas aja kamu ini dek. Abang maunya menggaullimu secara baik-baik......."
Belum sempat bibir itu tertutup, Arnes sudah mendorong Bang Zaldi yang sama sekali tidak ada persiapan mental.
"Aku mau hamil aja biar Abang nggak bisa nikahin perempuan lain" Arnes duduk di atas perut Bang Zaldi hingga pria itu tidak bisa berkutik. Arnes pun membongkar semuanya.
Badan Bang Zaldi sudah panas dingin tak karuan mendapat serangan dari Arnes. Apalagi Arnes terus menawarkan ke hangattan. Dirinya sudah gelap mata, Bang Zaldi pun balik menyerang, tapi sesaat kemudian ia tersadar dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Arnes.
"Setelah ini Abang antar kamu pulang ke Jawa. Kita nikah ya dek. Sudah cukup.. ini terlalu jauh" Bang Zaldi mencium kening Arnes lalu segera mengenakan pakaiannya, tak lupa secepatnya ia mengganti pakaian Arnes.
//
Bang Zaldi mengusap wajahnya usai sholat taubat. Ia menangis melihat Arnes belum juga bangun.
"Abang nggak akan pernah lagi memperlakukan kamu dengan buruk dek. Abang nggak mau kejadian ini merusak mentalmu seperti Guntur merusakmu. Abang ingin menjadikan kamu permaisuri, bidadari.. bukan sebagai pemuas keinginan Abang saja"
flashback off..
"Uugghh.. hawanya panas sekali. Lebih baik aku mandi saja" gumamnya secepatnya menyambar handuk karena pasti Arnes sudah menunggu disana.
-_-_-_-_-
Arnes berjingkrak girang sekali melihat indahnya suasana malam di pegunungan. Dari tempatnya terlihat lautan yang indah dengan lelap kelip lampu menerangi sekeliling pegunungan.
"Kamu suka??" tanya Bang Zaldi.
"Suka banget. Ini indah sekali Bang" jawab Arnes.
__ADS_1
"Abang belikan jagung bakar sama susu ya..!!"
//
Arnes menikmati jagung bakar yang sudah disisir, Bang Zaldi juga memesankan sosis bakar dan susu hangat untuknya.
"Kalau Abang sudah pulang dari dinas luar, kita kesini lagi" kata Bang Zaldi.
"Disini dingin sekali lho Bang. Arnes nggak kuat"
Bang Zaldi pun membuka resleting jaketnya lalu menangkupkan jaket itu bersamanya. Arnes pun semakin anteng berganti menikmati sosis bakar.
"Lain kali kalau kesini, kita buat moment yang hangat, nggak kedinginan begini"
Arnes menyodorkan sosis yang ia makan agar Bang Zaldi memakannya juga.
"Abang kenapa? Kelihatannya Abang nggak bahagia ada Arnes disini?"
"Kenapa tanya pertanyaan nggak mutu begitu. Abang bahagia sekali menikah sama kamu" jawab Bang Zaldi.
Arnes tau, Bang Zaldi ingin segera memiliki momongan. Tapi saat ini hatinya benar-benar belum siap karena ingin merasakan berkarir. Ada hal yang sangat ia takuti.
"Selain karir.. apa ada hal yang membuat kamu takut punya anak dari Abang?" tanya Bang Zaldi hati-hati.
Arnes menelan sosisnya dengan berat lalu meminum susunya yang sudah tidak terlalu panas.
"Arnes punya teman, dia tidak bekerja.. saat ia sedang hamil empat bulan ternyata suaminya meninggalkannya demi wanita lain. Dia mencari pekerjaan tapi tidak ada satupun perusahaan dan tempat kerja yang mau menerima wanita hamil. Dia juga malu untuk kembali pada keluarga hingga teman Arnes itu sekarang menjadi gila" jawab Arnes.
"Kamu pikir setiap wanita akan bernasib sama seperti dia? atau kamu pikir suamimu ini tidak bertanggung jawab dengan apa yang ia janjikan di hadapan Allah saat sudah menjadikanmu istri Abang dengan susah payah?" ucap Bang Zaldi mencoba membuka perasaan Arnes.
"Kamu dan anak Abang adalah sebuah harapan dalam doa. Abang memang bukan pria yang baik, Abang banyak dosa tapi Abang akan berusaha tidak akan pernah membuat ibu dari anak-anak Abang merasakan pahitnya hal seperti itu. Hidup kita baru saja di mulai.. berdoalah yang baik-baik, doakan suamimu mencari rejeki yang halal, kuatlah kamu mendampingi Abang dan jangan lepaskan Abang agar tidak ada yang bisa masuk dalam pernikahan kita. Istri adalah ujung peluru tujuan suami mencari nafkah, istri adalah ekor mata suami memberi ketenangan dalam hati dan istri juga adalah doa penentu garis hidup suami. Bagaimana?? sudah jelas perkataan Abang? Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Abang suamimu, bukan suami dia. Titik..!!!!!!!"
"Iya.." jawab Arnes.
"Arnes boleh nggak di cium Om Zaldi" pinta Arnes dengan manja.
"Huusstt.. " Bang Zaldi membekap mulut Arnes.
"Mau bibirmu di cepol om-om??" Bang Zaldi memelototi istrinya itu.
.
.
__ADS_1
.