
Bagi yang tidak sanggup dengan konflik. Harap skip. Beberapa episode kedepan mengandung konflik. Skip agar tidak saling menyinggung..!!!!!! 🙏🙏
🌹🌹🌹
"Ini di luar kendali saya" jawab jujur Bang Zaldi.
"Tahan sikapmu Bima..!!!!" perintah Papa Rinto.
"Maa.. kenapa rasanya sakit sekali?" Arnes memegangi tangan Mama Anye yang sedang menggendong Ibra. Mama Anye menatap mata Papa Rinto.
...
"Pa, sebenarnya kandungan Arnes tidak baik-baik saja, tapi saya masih mengusahakan yang terbaik untuk istri saya. Mohon papa dan Abang-abang tidak menambah tingkat stress nya Arnes" ucap Bang Zaldi begitu berat di kantin rumah sakit.
"Terus bagaimana keputusanmu Zal?"
"Saya ingin jabatan Guntur di copot apapun alasannya. Tanpa perlindungan dan kekuatan hukum yang tidak berarah lagi. Tolong kali ini untuk mengedepankan keadilan. Istri saya sudah sangat sakit dengan ulah Guntur. Saya nyaris kehilangan anak dan ini adalah fase tanda tanya apakah anak saya masih bisa di selamatkan atau tidak" sebagai seorang suami tentu hal ini terasa begitu menyiksa.
"Sudah.. sudah.. kamu makan dulu le, wajahmu sudah pucat dan lelah. Kita cari solusinya sama-sama" bujuk Papa Rinto sampai harus menyuapi Bang Zaldi yang kehilangan banyak tenaga. Menantunya itu memang kuat, tapi tidak jika berhadapan dengan masalah anak dan istri.
...
Bang Zaldi menahan tangis menatap wajah Arnes yang masih begitu tertekan.
Satu lagi PR Abang sayang.. Abang sulit mengatakan tentang keadaan anak kita. Sungguh saat ini Abang berada dalam situasi yang sulit. Abang harap kamu tidak marah.
"Ibra mana Bang?"
"Ikut Mama sama Papa pulang. Nggak baik anak terlalu lama di rumah sakit" jawab Bang Zaldi.
"Bang, apa tidak ada obat nyeri? Perut Arnes seperti di remas" tanya Arnes.
"Iya, sabar ya. Abang tanya Pras dulu" jawab Bang Zaldi mencoba mengalihkan permintaan Arnes karena sebenarnya apa yang di rasakan Arnes sudah di ambang batas rasa yang wajar.
//
"Bagaimana Pras??"
"Saya harap kamu bisa sabar Zal. Pendarahannya semakin banyak. Tingkat stress istrimu tinggi sekali. Kalau seperti ini terus bisa-bisa besok pagi ada tindakan kuretase" Jawab dokter Pras.
"Ya Allah Pras, aku mohon sekali sama kamu. Tolong selamatkan anakku. Aku nggak kuat lihat istriku terus menangis. Aku sudah hancur Pras"
Dokter Pras menepuk bahu Bang Zaldi agar litting nya itu bisa lebih kuat.
"Semua tergantung kondisi mental istrimu, kalau istrimu terus melemah. Aku tidak bisa berbuat apapun lagi Zal"
Bang Zaldi menunduk menautkan kedua tangan. Hatinya gelisah, takut juga marah.
Guntur, kalau sampai terjadi sesuatu pada anak istriku.. kupastikan aku akan jadi malaikat maut mu.
-_-_-_-_-
__ADS_1
Bang Zaldi meletakan piring makan Arnes. Tidak banyak makanan yang masuk ke perut Arnes.
Sekarang giliran Bang Zaldi makan. Biarpun segalanya terasa hambar, tidak berselera makan tapi ia harus tetap menjaga tubuhnya. Arnes sudah begitu lemah, tidak mungkin ia juga melemah. Jika dirinya lemah maka Arnes pun akan melemah begitu pula sebaliknya.
Baru saja makan malam, beberapa suap baru menghampiri mulutnya. Arnes memegang sisi ranjang dengan kuat. Bang Zaldi menghentikan acara makannya.
"Jangan di tahan atau di tekan. Tarik nafas dan buang perlahan..!!" perintah Bang Zaldi. Ia berusaha keras agar Arnes merasa nyaman.
Bang Zaldi terus mengusap perut Arnes dengan sabar, di sayangnya calon bayi mungil kesayangannya. Diganjalnya perut Arnes dengan dua bantal di kanan dan kirinya.
"Masih sakit?" tanya Bang Zaldi.
"Sudah tidak lagi" jawab Arnes.
"Alhamdulillah, kalau sakit lagi bilang sama Abang. Kita jaga adiknya Ibra sama-sama ya..!!"
//
Saat Bang Zaldi tertidur, ponselnya bergetar. ia lupa menjauhkan ponselnya dari Arnes. Rasa lelah seharian ini membuatnya tidak kuasa menahan rasa kantuk yang datang menyerang.
Satu persatu Arnes membaca semua chat yang sudah mendapat makian keras dari sang suami. Tetes air matanya mengalir deras.
-_-_-_-_-
Pagi hari tiba. Bang Zaldi terburu-buru berangkat karena i harus mengarahkan para anggota kompinya.
"Abang berangkat dulu ya sayang. Hanya apel saja, nanti Abang secepatnya kembali kesini" Bang Zaldi mengecup kening Arnes dan hanya mendapat seulas senyum tipis dari istrinya.
...
Arnes takut dan gugup, tapi ia tidak akan membiarkan Guntur tau semua rasa takutnya.
"Ternyata kamu masih tetap saja seperti dulu.. cantiikk" ucapnya sambil menyentuh dagu Arnes, si cantik itu pun menepisnya.
"Jangan kurang ajar Pak Guntur..!!"
"Waahh.. sejak kapan seorang Arnesia jadi galak seperti ini??" goda Mayor Guntur. Tau Arnes tak akan bisa melawan karena keadaannya, Guntur pun mengarahkan bibirnya ke sela leher menciumi Arnes. Arnes sekuat tenaga melawan. Mendapat penolakan itu Guntur menampar dan memukuli Arnes.
Arnes tak bisa menutupi rasa takutnya, ia berteriak kencang. Meminta tolong. Guntur mendorong Arnes hingga terjatuh dari ranjang lalu berlari sempoyongan keluar dari kamar Arnes karena panik.
Mata Arnes sayu, ia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, ceceran darah sudah mengotori lantai.
...
Bang Zaldi berdiri dari duduknya saat Pras keluar dari ruang tindakan.
"Sabar ya pot.. Kuatkan Arnes..!!"
"Maksudmu.. Anakku nggak bisa di selamatkan??"
Pras memeluk littingnya itu. Matanya memerah, tiba-tiba tubuh terasa 'melayang' hingga Bang Righan dan Bang Bima bisa menangkapnya.
__ADS_1
"Bang Zaldi.. Bang..!! Sadar Bang"
...
"Bodoh kalian semua..!!!!! Kemana saja kalian sampai istri saya jadi seperti ini????? Bagaimana bisa kalian kecolongan dengan kedatangan Guntur???????" Bang Zaldi menindak anak buahnya, ia sungguh marah dengan kelalaian dua anak buahnya yang ia perintahkan untuk menjaga Arnes.
"Siap salah..!!!!!!"
"Kendalikan dirimu Zal, kita selesaikan semua dengan kepala dingin. Istrimu sudah seperti itu disana. Apa kamu mau Arnes semakin stress karena melihatmu seperti ini??" tegur Papa Rinto.
"Saya sudah hancur-hancuran pa, Arnes pasti tanya tentang calon bayinya. Saya harus bagaimana pa??? Saya juga ingin anak itu tetap ada" Bang Zaldi meronta saat Bang Bima dan Bang Righan memegangi kedua lengannya.
"Aku benar-benar akan membuat nyawanya melayang Pa..!!!!!" mata Bang Zaldi sudah bekilat penuh kemarahan. Tangannya sudah melawan ingin mencabut pistol dari tempatnya.
"Istighfar Zaldiii..!!!" Papa Rinto pun ikut bingung menangani menantunya jika sedang emosi dan mengambil pistol dari tempatnya agar Bang Zaldi tidak berbuat gegabah.
buugghh..
"Bima.. kenapa kamu hantam Zaldi??" tegur Papa Rinto.
"Aku takut amukan Bang Zaldi pa. Papa tau khan Abang ini kalau marah seperti apa. Dulu karena Abang menghajar Bang Guntur saja malah jadi mutasi, pindah ke Sulawesi. Sekarang aku nggak bisa bayangkan Pa, akan jadi apa kalau kali ini Bang Zaldi kembali marah. Apalagi kali ini Bang Guntur sudah melakukan hal yang sangat fatal pa. Arnes sampai keguguran"
...
Arnes hanya diam membisu duduk di ranjangnya. Tidak mau makan dan minum, bicara pun tidak. Pandangannya kosong. Setelah sadar tadi ia menangisi dirinya, hancur lebur mengingat dirinya sudah 'kotor' karena masalah foto, ditambah kedatangan Guntur tadi mengingatkan dirinya kembali pada masa lalunya yang kelam, tapi yang paling menyedihkan adalah kehilangan anak dengan cara seperti itu. Ia sangat malu bertemu Bang Zaldi dan nerasa dirinya begitu tidak berguna.
Bang Zaldi hanya mendengar Papa Brian dan Papa Rinto tentang masa lalu Mama Anye yang pernah depresi. Papa Rinto pun menanyakan pada dokter apakah depresi itu bisa menurun karena faktor genetik dan ternyata empat puluh persen bisa disebabkan oleh faktor genetik dan enam puluh persen lainnya karena faktor lingkungan.
Perasaan Bang Zaldi semakin hancur, hatinya patah menusuk dan menghujam pedih. Tak sanggup merasakan tangis Arnes. Perlahan, senyap, tenang, tanpa suara.. Bang Zaldi pergi. Ia mengambil pistol yang masih ia miliki di jok mobilnya lalu menyelipkan pistol itu bersama pisau di belakang punggungnya.
...
Pukul tujuh.. Bang Zaldi mendatangi kawasan asrama Batalyon dan langsung menyatroni rumah Bang Guntur. Begitu pintu terbuka, Bang Zaldi langsung menghantam Bang Guntur. Baku hantam pun tak terelakan.
"Hanya aku Zal yang tau semua masa lalu Arnes." Bang Guntur tertawa-tawa seperti orang gila. Aroma alkohol kental menusuk hidung.
"Jangan banyak bicara kau Guntur..!! Andai saat itu kamu bukan keponakan orang berpangkat.. pasti kamu tidak akan bisa menjadi seorang prajurit. Mental prajurit hasil nyogok hanya untuk menguji mental orang yang tidak bersalah"
"Dia itu wanita sok jual mahal, aku nggak suka. Bagiku menelanjjangi wanita macam itu tidaklah cukup untuk wanita murahan sok jual mahal. Dia terlalu bodoh untukku, buka p**a pun tidak bisa, dia memang tidak bisa membuatku senang. Jadi adil khan kalau seluruh dunia tau lekuk ttubuhnya..!! Dia itu sisanya Guntur."
Tak ada suami yang senang mendengar ucapan ini. Malu, marah, kesal, sakit hati.. Hatinya terlalu sakit mendengar segala ucapan Guntur. tangan Bang Zaldi mengarah ke pinggang, tangannya sudah menyentuh belati baja bersamaan dengan Guntur yang sudah mengambil pisau dari dinding rumahnya.
jlebbb...
//
"Hwaaaaaaaaa...!!!!" teriakan kencang terdengar dari rumah Wadanyon. Istri Guntur melempar semua barang belanjaan karena terlalu syok. Di sudut rumahnya pria itu dengan santai menghisap rokok. Tangannya bersimbah darah.
.
.
__ADS_1
.