Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 64. Cobaan ( 2 ).


__ADS_3

Yang tidak suka konflik mohon undur diri. 🙏🙏🙏.


🌹🌹🌹


"Saya nggak ikhlas Rig" ucap jujur Bang Zaldi.


"Terus bagaimana ini Bang. Abang mau Arnes begini terus?" tanya Bang Righan.


"Ya Tuhan.. Edaaaann tenan. Opo yo kudu ngene carane ngeman bojo??" gumam Bang Zaldi. Ia terus menatap wajah cantik sang istri.


...


Sungguh ajaib dan membuat Bang Zaldi murka, demam Arnes seketika hilang. Istri Kapten Zaldi memegang tangan om Aswin yang duduk melantai di samping ranjang Arnes. Sesekali tangan Arnes memainkan jambul Om Aswin. Pemandangan yang sungguh menyesakan dada. Hati Bang Zaldi begitu teriris perih, rasa cemburu bertarung dengan pikirannya tapi ia harus mengalah demi anak dan istri.


"Ijin Bang, Mohon maaf..!!" kata Om Aswin merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa. Saya yang seharusnya minta maaf sudah mengganggu jam tidurmu" jawab Bang Zaldi berbesar hati.


...


Pagi hari Bang Zaldi hanya melahap beberapa potong ubi sebagai sarapannya. Wajahnya masih datar dan mendung. Arnes pun sudah baik-baik saja sekarang.


"Bang.. nanti malam Arnes pengen tidur di temani sama.............."


"Aseeemm.. bojomu iki kurang sabar opo dek..!!" Bang Zaldi sampai menggebrak meja saking jengkelnya. Darahnya mendidih dan merangkak naik ke ubun-ubun.


"Ya sudah kalau nggak boleh di temani Bang Righan" ucapnya menunduk sambil masuk ke dalam kamar membawa wajah begitu sedih karena Bang Zaldi sudah membentaknya dengan kuat.


Bang Zaldi mengusap dadanya.


"Astagfirullah hal adzim.. sabaar.. sabaaarr..!!!!" gumamnya.


Semoga ngidamnya nggak minta lebih parah dari ini.


Bang Zaldi menyusul Arnes masuk ke dalam kamar. Dibelainya rambut panjang sang istri yang begitu lembut.


"Dek, kalau mau di temani Abangmu nggak apa-apa kok" Bang Zaldi merendahkan suaranya.


"Terus kenapa Abang marah?" tanya Arnes.


"Abang kira kamu minta tidur sama Aswin. Hati Abang panas dek" jawabnya jujur.


"Iihh.. Abang kok mikirnya gitu"


"Ya maaf dek, belakangan Abang memang banyak pikiran sampai mikir apapun rasanya nggak bisa tenang"


...


Bang Righan tertawa terbahak mendengar cerita Bang Zaldi yang sama sekali tidak menganggap hal ini lucu bagi seniornya itu.


"Kalau ngidam tuh apa begitu ya Bang?" tanya Om Aswin.


"Saya baru mengalaminya. Saat Arnes mengandung Ibra, saya ada di Sudan. Yang tau ngidamnya ya hanya Seno dan Righan" jawab Bang Zaldi.


"Arnes ngidam Bang. Hanya saja yang di minta hanya sebatas makanan saja. Paling susah hanya tidak membiarkan aku tidur karena kakinya sakit dan minta di pijat kakinya" sela Bang Righan.


Bang Zaldi hanya mengangguk berusaha memahami karena ini artinya ia baru saja memulai perannya sebagai suami siaga yang sesungguhnya.


dddrrtt.. ddrrrtttt.. ddrrrtttt

__ADS_1


Bang Zaldi melihat istrinya memanggil.


//


Arnes tidur menempel dan memeluk suaminya. Bang Zaldi sedang dalam posisi pasrah. Tak hentinya tangan itu memainkan jambul dan kumis tipis Bang Zaldi. Sebenarnya Bang Zaldi risih harus memiliki kumis yang sudah tumbuh tipis, tapi daripada Arnes harus mencari tanda kejantanan dari pria lain.. ia pun mengalah yang penting istrinya itu bisa tenang.


Bang Zaldi mengusap lembut perut Arnes. Usia kandungannya baru delapan minggu, masih sangat rawan dan rentan.


"Kamu hadiah terindah untuk Papa. Hadirnya pun juga tidak papa sangka. Dedek jadi anak baik donk. Anak papa khan pintar" senyum Bang Zaldi menatap perut Arnes.


Ponsel Arnes bergetar, ada panggilan tak terjawab dari beberapa orang disana. Bang Zaldi pun membiarkan dan mengira itu pasti urusan ibu-ibu pengurus Kompi.


Setelah dirasa Arnes sudah tidur nyenyak, Bang Zaldi meninggalkan Arnes untuk berangkat kembali bekerja.


***


Hari ini para anggota bantuan berpamitan pada Danki karena sudah di berikan pengarahan dan ilmu pertahanan selama satu minggu berada di Kompi.


Kepala kesatuan pengamanan melihat Arnes dari jauh.


"Mohon maaf pak Zaldi. Boleh saya tau siapa wanita yang sedang berada di kantor kepengurusan itu?" tanyanya pada Bang Zaldi.


"Oohh.. itu istri saya pak. Ada apa ya?"


"Begini pak. Mohon maaf jika mungkin ucapan saya menyinggung perasaan bapak. Apa istri bapak ada sosmed??" tanya kepala kesatuan pengamanan.


"Ada pak, tapi istri saya memang tidak begitu aktif di sosial media" jawab Arnes.


"Hmm... bapak bisa cek akun Hutan Rimba. Akun ini menulis artikel tentang Ibu. Baru kemarin siang saya temukan." kata ketua tersebut sambil menunjukan berita tersebut pada Bang Zaldi.


Jantung Bang Zaldi seketika rasanya berhenti berdetak. Wajah Arnes dalam balutan foto yang seksi menggoda bertuliskan kata Next Star Open BO.


"Baik pak, sama-sama. Kalau begitu kami semua pamit undur diri"


Bang Zaldi terpaksa menyunggingkan senyum sebagai tanpa penghormatan. Setelah tamunya pergi, Bang Zaldi membuka akun media sosialnya dan mencari nama Hutan Rimba. Amarahnya memuncak karena sudah banyak foto Arnes disana. Ia pun segera masuk ke dalam ruangan untuk meneliti lebih pasti tentang foto yang ia lihat.


:


"Righan.. aku kirim file berita.. kamu cek dulu. Kelanjutannya kita bicarakan nanti. Rahasiakan jangan sampai Arnes tau" ucapnya saat menghubungi Bang Righan.


"Tolong saya ya Rig.. kamu hubungi Putra sekalian. Saya nggak mau ada apa-apa sama Arnes. Taruhannya rumah tangga dan anakku ini Rig"


"Siap Abang..!!"


//


Sebagai pria normal yang masih memiliki naluri tentu saja melihat foto 'aneh' seperti itu pasti akan mengundang nafsu birahinya.


Bang Zaldi terus memperhatikan foto itu. Setitik air matanya menetes.


"Astagfirullah hal adzim Ya Allah.. siapa yang tega berbuat seperti ini pada istriku. Kalau Arnes tau, dia pasti nggak akan sanggup menghadapinya"


Perhatian Bang Zaldi beralih pada Arnes yang sedang mengarahkan beberapa istri rekan anggota untuk acara gabungan di Batalyon dua hari lagi.


"Aku harus segera mengurusnya, jangan sampai kamu tau masalah ini. Aku nggak mau kamu sama anak kita terpengaruh dek. Kamu harus sehat, kali ini kamu dalam penjagaan Abang"


B*****t, rapi betul editannya. Aku harus berhati-hati.


Bang Zaldi pun mulai meneliti foto itu satu persatu. Lalu mulai meng'contact' satu akun disana.

__ADS_1


"Bang..!!!"


Seketika Bang Zaldi menutup laptopnya saat Arnes datang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa buru-buru di tutup Bang?" tanya Arnes mulai curiga sambil melangkah mendekati suaminya.


"Nggak ada apa-apa. Kaget saja lihat istri Abang langsung masuk ke ruang kerja Abang" jawab Bang Zaldi. Melihat wajah cantik Arnes, Bang Zaldi pun tergoda. Bang Zaldi mencium pipi Arnes.


"Pulang yuk sayang.. Abang pengen nengokin adiknya Ibra nih" ucapnya terpaksa jujur karena dirinya sudah sangat terganggu dengan pemandangan tadi. Ia tau yang di foto itu bukanlah istrinya, tapi paras Arnes begitu mengacaukan pikirannya siang ini.


"Ibra bagaimana?"


"Aman sama omnya. Ada Aswin juga" jawab Bang Zaldi.


...


Hanya tiga puluh menit saja Bang Zaldi menyelesaikannya. Ia sadar dan tidak berani untuk berlama-lama mengingat kondisi calon bayinya belum seratus persen pulih, ia pun terpaksa menyelesaikan di luar juga.


"Abang nggak apa-apa?" tanya Arnes.


"Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih ya sayang. Maaf ya Abang gangguin..!!"


"Sama-sama Bang" Jawab Arnes.


"Oya Bang, tadi di laptop Abang lihat siapa? Kenapa langsung dimatikan?" Arnes masih mengingat kejanggalan yang tadi.


"Nggak lihat siapa-siapa. Tolong percaya Abang" ucap Bang Zaldi yang kemudian langsung tertidur.


Arnes yang mulai curiga langsung mengambil ponsel suaminya. Disana ada percakapan Bang Zaldi bersama seorang perempuan bernama Grace.


Air mata meleleh membasahi pipi membaca percakapan yang di luar batas kewajaran. Wanita itu pun memperlihatkan dirinya dalam bentuk foto dan video pada Bang Zaldi. Yang lebih menyakitkan lagi. Bang Zaldi membooking wanita itu untuk nanti malam.


...


"Abang mau kemana??" tanya Arnes pura-pura tidak tau.


"Ada tugas yang Abang selesaikan di luar" jawab Bang Zaldi santai.


"Haruskah rapi dan wangi begitu?" tanya Arnes.


"Sejak kapan sih Abang nggak rapi, nggak wangi kalau mau keluar. Kalau di depanmu sudah pasti semuanya khusus. Penampilan khusus, parfum khusus.. hanya yang paling kamu sukai" jawab Bang Zaldi tidak ada yang di tutupi. Memang penampilan Danki BS itu tidak pernah gagal terutama membius kebanyakan lawan jenis dengan pesonanya.


"Arnes boleh ikut?"


"Maaf sayang.. kali ini nggak bisa. Masa kerja bawa istri" jawab Bang Zaldi.


...


Setelah Bang Zaldi pergi, Arnes menitipkan Ibra pada tetangganya. Ia pun mengikuti kemana Bang Zaldi pergi. Mobil suaminya itu memecah jalanan menuju kota hingga sampailah mereka di sebuah diskotik. Petugas pun meloloskan Arnes yang terlihat salah tempat. Istri Kapten Zaldi terlihat sangat menawan meskipun menutup dirinya.


Arnes pun mengambil tempat dan duduk di sudut ruangan memperhatikan setiap pengunjung hingga matanya sungguh melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kapten Zaldi sedang bicara berdua, tertutup alunan musik DJ yang berdentum bersama seorang wanita yang mencoba menyentuh suaminya.


Kenapa Abang tersenyum padanya? Kenapa Abang tidak menolaknya? Kenapa Abang malah meminta dia menemanimu malam ini?? Kenapa Bang????? Sebegitu tidak sempurnanya kah Arnes hingga Abang mencari wanita lain????


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2