Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 40. Tak bisa mengganggu.


__ADS_3

Matahari terbit Bang Zaldi dan Arnes baru pulang ke rumah. Bang Zaldi segera turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Arnes.


"Eehh tunggu dulu..!!" Bang Zaldi menyingkirkan beberapa batu kerikil yang hampir terinjak Arnes.


"Siapa sih yang pindahkan kerikil ini disini" gumamnya.


Papa Rinto masih ternganga dengan kelakuan menantunya.


"Bima.. Bim.. tolong kamu beli sandal jepit di warung depan donk" pinta Bang Zaldi sudah ribut sendiri berteriak memanggil Bima.


Papa Rinto syok bukan main berprasangka hal buruk menimpa putrinya.


"Arnes kenapa??" tanya Papa Rinto panik.


"Suara papa jangan kencang-kencang nanti dia kaget" Bang Zaldi pun tak kalah panik mendengar suara Papa Rinto.


"Aduuuhh.. suara Papa sama Abang itu sudah mirip toa masjid" tegur Arnes yang langsung melenggang meninggalkan Bang Zaldi dan Papa Rinto.


Bang Zaldi berjingkat panik melihat gaya jalan Arnes bagai preman pasar pagi.


"Astagfirullah hal adzim dek. Jangan kencang jalannya. Nanti boboknya jadi miring"


"Apa yang miring??" Papa Rinto semakin cemas.


//


Sejak pulang tadi Bang Zaldi menepuk paha Arnes dan tidak beranjak sedikitpun dari sisi istrinya yang sedang berbaring itu.


"Ma.. Papa rasa Zaldi mulai gila karena kehilangan ibunya" kata Papa Rinto sedih sekali.


Tak lama terdengar suara ayam berkokok mengagetkan Arnes yang sudah kembali tidur. Wajah Bang Zaldi tiba-tiba berubah kesal.


"Bima.. potong ayamnya..!!!!"


"Haahh.. potong Bang????????"


"Potong sekarang..!!!? Ganggu calon panglima tidur saja" ucap Bang Zaldi.


"Tuh khan ma, apa papa bilang. Zaldi mulai error ma" kata Papa Rinto.


//


"Eeiittss.. jangan makan itu dek. Ayam goreng tepung saja ya. Ayam rica Mama pedas sekali" cegah Bang Zaldi. Arnes pun masih diam menurut perkataan suaminya.


Papa Rinto, Mama Anye dan Bang Bima saling pandang saja tapi mereka menyimpan berjuta perasaan sedih dan tentunya penuh tanda tanya.


//


"Abang nggak usah ikut..!!" Arnes semakin kesal karena saat ingin mandi pun Bang Zaldi mengikutinya hingga menuju ke kamar mandi.


"Abang takut kamu terpeleset" kata Bang Zaldi.


"Arnes bisa sendiri.." baru saja Arnes berbalik badan tak sengaja ia menginjak lumut dan akhirnya terpeleset.


"Astagfirullah hal adzim.. Arneeeeesss..!!!!!!!" Bang Zaldi benar-benar marah dan memelototi Arnes. Dekapannya begitu erat dan posesif. Nyawanya seakan melayang cemas memikirkan Arnes dan calon bayinya.


Suara keras Bang Zaldi menggiring Papa Rinto, Mama Anye dan Bang Bima untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


"Kamu pikir gampang apa buat si kuncung?? Nafas Abang putus sambung, kamu malah nggak hati-hati. Awas kamu ya kalau sampai apa-apa sama si kuncung. Abang lipat kamu dek" ancam Bang Zaldi.


"Maaf..!!" ucap Arnes melemah merasa bersalah.


Bang Zaldi yang kesal pun langsung pergi meninggalkan Arnes.

__ADS_1


"Eegghh.. Abang.. Arnes pusing. Nggak kuat. Hhkkkk" Si cantik Arnes yang sudah tau kelemahan suaminya langsung ber akting dengan sempurna. Arnes memegangi kepalanya dan merosot.


"Adeeekk..!! Duuhh Gusti Allah.. Nyuwun ngapunten.." Bang Zaldi gelagapan kalau sudah melihat Arnes lemas seperti ini.


"Dek.. sayang, jangan sakit. Sudah ya, Abang yang salah.. Abang yang nggak bisa ngerti"


"Yeeesss.. gue jadi om" pekik Bang Bima kegirangan dari jauh.


"Waduuhh ma, Kalau Papa jadi Opa.. masih gagah nggak nih" gumam Bang Rinto.


"Ya masih donk. Sekarang aja masih pa" jawab Mama Anye.


"Kalau balapan Sama Arnes seperti ayahmu dulu, masih pantas nggak ma?" goda Papa Rinto.


Mama Anye melirik Papa Rinto dengan tatapan tajam.


"Papa tega lihat Mama kesakitan lagi?????"


"Tau nih papa. Ada-ada saja tanyanya. Anak-anak papa sudah dewasa, sudah pada kebelet punya anak. Papa momong aja. Jangan punya anak lagi" gerutu Bang Bima.


"Bima.. kamu masih bujangan jangan banyak ngayal" tegur Papa Rinto.


Mereka kembali fokus pada Bang Zaldi dan Arnes tapi ternyata keduanya sudah masuk ke dalam bilik bambu dan mandi.


"Ya sudah ayo masuk. Buat apa ngintip suami istri lagi mandi" kata Mama Anye.


-_-_-_-_-


Malam hari masih ada pembacaan doa untuk almarhumah ibu Bang Zaldi.


Saking tidak kuatnya Arnes menahan kantuk, Istri Bang Zaldi itu sampai tertidur di sisi meja.


"Lho, istrimu tidur disini Zal" kata seorang ibu menyapa Bang Zaldi.


"Ya Allah, berkah ya le.. sayang ibumu nggak tau. Ibumu ingin sekali punya cucu. Istrimu kalem ya, cantik sekali" puji ibu-ibu yang lain.


"Aamiin.. terima kasih Bu" Bang Zaldi meng'aamiin'i doa para tetangga.


"Mabuk-mabuknya ini kalau hamil muda, yang sabar ya. Sehat selalu untuk istrinya, semoga lancar kehamilan sampai persalinan nanti"


"Nggih Bu, matur sembah nuwun" jawab Bang Zaldi dengan sopan.


:


Bang Zaldi menata karpet dan tikar sedangkan Papa Rinto dan Bang Bima menata kursi di luar rumah bersama beberapa tetangga.


"Mas, kapan mas pulang ke Sulawesi?" tanya Eliana.


"Insya Allah besok ke rumah mertua dulu baru kembali ke Sulawesi. Kenapa??" Bang Zaldi bernada dingin menanggapi Eliana.


"Boleh Eli ikut Mas kesana??"


"Untuk apa kamu kesana??" Bang Zaldi mulai tidak respect dengan Eliana.


"Dulu saat Eli kecil, Mas selalu membantu Eli. Eli selalu ingat kenangan tentang masa kecil kita. Mas selalu melindungi Eli. Disini sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Jadi boleh khan mas kalau Eli ikut sama Mas??" tanya Eliana.


"Maaf.. Saya sudah punya istri yang sedang mengandung. Saya tidak ingin buat istri saya salah paham dan tersinggung dengan sikapmu ini Li" kata Bang Zaldi.


"Nanti Eli bilang sama istrinya mas. Dia pasti ngerti. Dari kecil mas selalu melindungi Eli. Masa hanya karena ada istri, sikap mas jadi berubah??" ucap Eliana masih bersikeras.


"Kamu mau buat saya bertengkar sama istri?? Hal yang dulu jangan di ungkit lagi Li. Setiap laki-laki yang sudah menikah pasti punya batas kesopanan dalam berinteraksi dengan lawan jenis" jawab Bang Zaldi.


"Tanggung jawab saya saat ini adalah melindungi istri saya, bukan kamu. Yang harus saya beri perhatian, cinta, kasih sayang adalah istri saya.. bukan wanita lain"

__ADS_1


"Mas seperti ini karena ada mertua mas di luar khan? Ayo mas, kita bicara di luar saja" Eliana berusaha meraih tangan Bang Zaldi.


"Cukup Eliana..!!!!!!!!!!!!!" bentak Bang Zaldi.


Bang Bima berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati Bang Zaldi sedang ribut dengan Eliana. Papa Rinto akhirnya menyusul sedangkan Mama Anye hanya berani mengintip dari dalam kamar.


"Abaaaaaang..!!" panggil Arnes dengan nada manja dari ruang tengah.


Dengan sigap Bang Zaldi menghampiri Arnes karena cemas dengan istrinya itu.


"Nggak bisa berdiri..!!" Arnes mengulurkan tangannya agar Bang Zaldi membantunya berdiri. Siapa sangka Bang Zaldi malah menggendongnya.


"Duuhh.. anak papa manjanya" Bang Zaldi sungguh tulus menyayangi dan memberi perhatian penuh pada Arnes.


"Bang, badan Arnes sakit semua..!!" Arnes bersandar manja pada bahu Bang Zaldi.


"Arnes ngidam nih Bang"


"Apa sayang? Mau makan apa?" tanya Bang Zaldi.


"Ngidam ke kamar, pengen makan Abang" jawab Arnes tak mengontrol ucapannya.


"Huusstt.. malu ada Papa" tegur Bang Zaldi karena merasa tidak enak pada mertuanya.


"Sudah masuk sana.. Namanya juga ngidam" kata Bang Bima tapi matanya menatap tajam ke arah Eliana.


"Eliana.. kamu ikut saya..!!!!!" ajak Bang Bima.


Papa Rinto tidak menjawab apapun, ia tau porsinya sudah bukan masanya untuk ribut lagi. Papa Rinto masuk dan mencari Mama Anye.


Eliana dengan wajah cemberutnya menemui Bang Bima.


"Turunkan Arnes..!!" pinta Arnes setelah tidak ada orang lagi disana.


Bang Zaldi pun menurunkan Arnes perlahan. Ia pun masuk ke dalam kamar diikuti Bang Zaldi.


"Abang tau kok kamu sedang marah sama sikap Eliana. Nggak mungkin lah kamu mau 'menghibur' Abang dengan cara seperti ini" Bang Zaldi terlihat lelah, wajahnya juga masih sangat sedih.


"Kata siapa Arnes pura-pura. Arnes kesal ada wanita seperti itu. Kalau Abang bisa melindungi Arnes dari jahatnya dunia luar, Arnes juga bisa mengamankan milik Arnes" Arnes berjinjit mel***t bibir sang suami. Perlahan, senyap namun penuh kehangatan.


Bang Zaldi melepas pagutann itu. Masih terbayang wajah sang ibu.


"Sayang.. maaf, malam ini Abang belum siap melakukannya"


"Arnes tau Abang sedih. Arnes nggak ajak Abang melakukannya. Arnes hanya ingin mengalihkan rasa sedih Abang.. itupun kalau bisa" kata Arnes.


Bang Zaldi mengunci pintunya rapat. Ia langsung memeluk Arnes. Ada suara sesenggukan kecil disana.


"Abang sudah kehilangan ibu, nggak ingin kehilangan kamu juga.. apalagi anak kita"


Di kamar berukuran kecil itu perlahan mereka berdua mundur hingga sampai ranjang. Bang Zaldi meringkuk menangis menyandarkan kepalanya di paha Arnes. Arnes terus membelai rambut cepak suaminya.


"Jangan tinggalin Abang dek. Abang nggak kuat jauh sama kamu"


Seketika Arnes langsung menutup suara itu dengan bibirnya. Bang Zaldi pun pasrah tanpa arah. Tanpa istri, dia tidak akan bisa apa-apa.


"Arnes sayang Abang"


"Bilang lagi.. Abang belum dengar..!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2