Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
139. Mulai ada cemburu.


__ADS_3

Malam ini juga Ayah Rama dan Mama Dinda harus kembali ke Jawa sebab sudah banyak pekerjaan yang menumpuk.


"Ayah tidak bisa lebih lama disini? Anye masih kangen Ayah dan Mama" pinta Bang Rinto.


"Kapan-kapan ayah dan mama berkunjung kesini lagi. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan" jawab Ayah Rama sambil menggendong cucunya dari Gathan.


"Iya yah. Anye sepertinya sedih sekali ayah dan mama mau kembali ke Jawa" Gathan ikut membujuk ayahnya.


"Biasa anak perempuan begitu. Sudah ada Abangmu.. Rinto pasti bisa mengatasi Anye" jawab Ayah Rama.


Rinto menghela nafasnya yang terasa berat.


"Anye pasti sedih kalau ayah pergi secepat itu"


"Sedih hanya satu atau dua hari saja Rin. Selanjutnya sudah tugasmu" Ayah Rama menepuk bahu Bang Rinto.


***


"Nggak boleh nangis. Ikut dengan suami itu nyaman dek, hatimu lebih tenang" kata Mama Dinda menghapus air mata Anye. Sekar pun menangis sambil menggendong putranya. Hanya Anye yang tidak membawa anak-anak.


"Iya ma" Anye menahan tangisnya di depan Mama Dinda dan Ayah Rama.


"Rinto, sekarang ayah sudah tenang karena kamu sudah kembali bersama Anye. Jaga Anye baik-baik" pesan ayah Rama.


"Pasti yah"


Gathan dan Rinto segera membantu menaikan koper ayah Rama ke atas troly.


"Abang temani Anye saja. Dia suka lebay kalau ada acara perpisahan begini" kata Gathan mengingatkan Bang Rinto.


Bang Rinto menoleh mencari keberadaan Anye, benar saja, Anye sudah mulai menangis histeris merepotkan ayah Rama yang menenangkannya.


"Sudah dek.. apa nggak malu di lihat orang" tegur Ayah Rama.


Bang Rinto mendekap bahu Anye.


"Pulang nanti kita beli makanan kesukaanmu??" bujuk Bang Rinto.


Anye mengangguk.


"Mau makan apa?" tanya Bang Rinto.


"Martabak sama ayam bakar" jawab Anye.


Mama Dinda tersenyum mendengar makanan kesukaan Anye sama seperti dirinya.


"Ya sudah Ayah sama Mama berangkat dulu. Kalian cepat pulang" kata Ayah Rama.


"Sekar juga hati-hati ya jaga anak. Anakmu mulai lincah" pesan ayah Rama.


"Iya ayah" jawab Sekar.


-_-_-_-_-


"Mau makan di tempat apa di bawa pulang dek?" tanya Bang Rinto menawari Anye.


"Di bawa pulang aja Bang..!! Anak-anak di rumah Bang" jawab Anye.

__ADS_1


"Siap laksanakan Bu Komandan..!!" Bang Rinto turun dari mobil dan Anye hanya menunggu di dalam mobil.


Bang Rinto memesan ayam bakar kemudian beranjak ke warung tenda samping untuk memesan martabak.


"Pak Rinto..!!" sapa Sari saat melihat Bang Rinto.


"Iya Sari.. Kamu sama siapa kesini?" tanya Bang Rinto.


"Sendiri saja pak. Bapak sama siapa?"


"Sama istri" jawab Bang Rinto


Seketika raut wajah Sari berubah. Sari pun melirik ke dalam mobil, sepasang mata sedang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat apalagi istri pak Rinto turun dari mobil.


"Abang pesan martabak apa?" tanya Anye.


"Kesukaanmu sayang.. Red velvet coklat keju sama martabak spesial telur bebek empat" jawab Bang Rinto lalu menarik pinggang Anye karena tau Anye turun dari mobil pasti karena cemburu.


"Terima kasih kiriman bunga dan makanannya semalam ya pak" kata Sari dengan menunduk tersipu malu.


"Abang kirim apa?" tanya Anye.


"Nggak kirim apa-apa dek" jawab jujur Bang Rinto.


Sebenarnya Anye sangat marah dan cemburu dengan perkataan dan sikap Sari tapi Anye menahan rasa marahnya. Ia tetap bersikap elegan di hadapan Sari. Anye tetap yakin kalau Bang Rinto tidak akan mungkin melakukan hal sekejam itu padanya apalagi sampai berani mengirim bunga untuk wanita lain sedangkan Bang Rinto saja tidak pernah romantis dan pria yang sangat kaku.


"Bang Rinto tidak mungkin mengirimi kamu bunga, saya paham suami saya sendiri" kata Anye dengan yakin.


"Tapi saya tidak bohong" ucap Sari dengan yakin, jawabannya pun mantap.


"Benar begitu Bang???" tanya Anye pada Bang Rinto.


"Itu jawaban suami saya. Lebih baik kamu cari tau lagi siapa pria yang sudah memberimu perhatian" Anye tersenyum manis meskipun ia memaksakan senyumnya.


Sari terdiam dengan hati tak menentu.


"Kembali ke mobil dek. Apa mau duduk disini sama Abang?" tanya Bang Rinto.


"Disini Bang. Karena hawanya panas sekali" jawab Anye.


Tanpa banyak bicara Bang Rinto menarik kursi agar Anye bisa duduk. Sari salah tingkah karena Bang Rinto sama sekali tidak memperhatikan dirinya.


...


"Sebenarnya ada apa Abang sama Sari???" Anye bertanya saat hatinya sudah tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Waktu malam Sari periksa kondisi Abang, dia memberikan nomer pada Abang untuk menghubunginya kalau ada apa-apa" jawab Bang Rinto.


"Untuk apa pasien menghubunginya secara pribadi. Itu urusan profesional kerja" Anye benar-benar kesal sampai duduk pun tidak bisa tenang.


"Makanya nomer itu Abang serahkan pada Alex"


"Abang hubungi Alex ya biar kamu percaya" kata Bang Rinto berusaha meyakinkan.


"Nggak perlu. Abang atasannya om Alex. Sudah pasti om Alex menurut segala perintah Abang"


"Terus kamu maunya gimana sayang?? Pakai logikamu, jangan menuruti panasnya hatimu..!!" Bang Rinto mengusap puncak kepala Anye yang tertutup jilbab berwarna hitam.

__ADS_1


"Untuk apa Abang berjuang selama ini kalau tidak untuk mempertahankanmu. Sudah sampai di titik ini, kurang bagaimana Abang sayang sama kamu?" dengan sabar Bang Rinto menasihati Anye. Ia pahami jika wanita sedang marah, bahkan logika pun kadang tidak ada artinya lagi.


"Maaf Bang, Anye salah"


"Nggak apa-apa, itu tanda sayang buat Abang" senyum Bang Rinto menunjukan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Lho Bang, mau apa kita belok ke hotel????" tanya Anye saat Bang Rinto berbelok memasuki area hotel.


" Charge dulu. Baterai Abang habis" jawab Bang Rinto santai.


Anye melirik ponsel Bang Rinto masih tersisa daya delapan puluh tujuh persen.


"Ini masih banyak Bang" Anye mengambil dan menunjukan pada Bang Rinto.


"Baterai Abang yang low, bukan ponsel Abang" jawab Bang Rinto.


Anye menunduk, pipinya memerah seperti tomat saat baru menyadari Bang Rinto mengajaknya ke hotel.


-_-_-_-_-


"Jam berapa ini? Kenapa Rinto dan Anye belum pulang juga? Kemana dia?" tanya Bang Brian saat sedang mengobrol dengan Gathan.


"Anak-anak rewel ya Bang?"


"Nggak sama sekali. Tumben saja sampai jam sebelas lewat begini Rinto belum pulang" jawab Brian.


"Bulan madu sebentar mungkin Bang" Gathan menghisap rokoknya dalam-dalam. Udara pegunungan sangat dingin menusuk kulit.


"Benar juga kamu. Biar mereka menikmati masa berdua dulu" Brian ikut menyulut rokok dan menghisapnya. Sesaat ada rasa sakit dan cemburu terbersit dalam hatinya tapi ia segera menepisnya. Anye kini hanyalah lembaran berwarna merah di antara ratusan bahkan ribuan lembaran berwarna putih, tapi satu warna itu tetap akan ia simpan seumur hidup. Bahwa hatinya pernah dan mencintai wanita sebaik dan secantik Anyelir dalam diam.


"Itu mereka Bang" Gathan memonyongkan bibirnya sambil menunjuk Anye dan Bang Rinto yang sudah pulang.


Bang Rinto turun dari mobil dan membuka pintu mobilnya. Terlihat Anye tidur nyenyak sekali.


"Anye tidur Bang?" tanya Gathan melongok melihat Anye.


"Iya, kecapekan" jawab Bang Rinto.


"Abang dari mana saja?" tanya Gathan. Wajah Anye memang terlihat begitu lelah.


"Bujuk adikmu ini. Ngamuk dia sama perawat bernama Sari itu" jawab Bang Rinto.


Gathan memutar otaknya mengingat siapa gerangan perawat bernama Sari.


"Oohh.. yang badannya bohay itu ya Bang?" tanya Gathan dengan semangat saat sudah mengingatnya.


"Pelankan suaramu..!!!! Aku susah payah membuatnya tenang" kata Bang Rinto.


"Sulit sekali menenangkan adikmu ini" gerutu Bang Rinto lalu mengangkat Anye yang sedang tidur.


Brian tersenyum getir tapi ia berusaha ikhlas.


"Cepat bawa masuk Anye, biar anak-anak di rumahku saja"


"Terima kasih banyak.. kamu pengertian sekali Bri" jawab Bang Rinto tersenyum licik.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2