Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
73. Baru baikan.. Eehh.. masalah lagi"


__ADS_3

"Apa salah kalau aku menanyakan kabar Anye?" tanya Pak Candra.


"Ya nggak salah juga sih. Tapi biarkan Anye dan Rinto saling belajar memahami" jawab Ayah Rama.


Ezhar melihat Pak Candra dengan tatapan waspada. Sungguh ia baru menyadari bahwa pria itu benar-benar seperti ular berbisa di rumah tangga Anye dan Rinto.


***


Jantung Bang Rinto berdesir kencang. Ingin sekali rasanya memeluk istri tercinta tapi ia urungkan dulu niat nya karena takut terbawa perasaan.


"Sekarang kenapa lagi Bang?" pertanyaannya saat melihat Bang Rinto menghindarinya.


"Abang jaga kamu mati-matian..!! Kamu jangan coba cari perkara ya" tegur Bang Rinto.


-_-_-_-


"Joe..!! Coba kamu cari Danki A di rumahnya..!! sambil kamu kasih es buah ini ke istri Danki ya..!! sepertinya istri Danki pengen yang segar-segar" perintah Danyon lama. Danyon mengingat seharian di siang bolong tadi Rinto mencari pedagang es buah dan ingin membelikan es buah itu untuk istrinya tapi tidak ada pedagang menjual hari itu.


"Siap..!!"


Joe langsung pergi dari arah lapangan menuju ke rumah bang Rinto tapi tanpa diduga di tengah jalan dia bertemu dengan Della


"Della......Sendirian aja nih mau Mas antar pulang nggak?" tanya Joe berbasa-basi. Tangannya masih menenteng es buah yang diperintahkan Danyon.


Della tersenyum malu mendapat sapaan dari Pratu Joe. Joe pun mengikuti langkah Della untuk pulang.


...


"Mas tadi mau kemana? Kenapa dari tadi bawa tentengan?" tanya Della.


"Mau antar........ Ya salam Mas harus antar es buah ini untuk Danki" Joe baru teringat akan tugasnya dan ia panik sekali.


"Mas antar titipan Danyon dulu ya.. kalau nggak cepat sampai, mas bakalan di gorok"


...


"Nggak ada tuh Bang, saya di rumah daritadi. Anye kurang sehat. Besok baru saya ikut gladi" alasan Bang Rinto di sambungan telepon saat tidak hadir dalam acara kantor.


"Lah.. kemana itu bocah? sudah satu jam Joe berangkat..!!" tanya Danyon lama.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu.


"Sepertinya itu Joe Bang" kata Bang Rinto.


"Oke.. oke.. Lanjut. !!!"


Bang Rinto mematikan panggilan teleponnya lalu segera ke pintu depan untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka benar saja, terlihat di depan pintu ruang tamu ada Joe sedang menenteng kantong kecil.


"Dari mana saja kamu satu jam baru sampai ke sini apa kamu tidak tahu jalan dari lapangan Batalyon sampai ke sini?" tegur Bang Rinto.


"Siap salah.. Ijin di jalan ada trouble" jawab Joe.


"Apa?"


"Ijin.. dikejar anjing" Jawab Joe tegas.

__ADS_1


"Selamat malam. Maaf Pak Rinto.. ini tadi barang bawaan Mas Joe tertinggal di rumah saya" kata Della ikut mengantar es buah ke rumah Bang Rinto.


"Ooh.. oke terima kasih ya Della" Bang Rinto tertegun tapi segera menangkap situasi dan tersenyum sekilas. Pasti Joe baru bertemu dengan Della sampai lupa waktu.


Della pun segera pergi dan tidak berlama-lama berada di rumah Danki A. Di ujung jalan hatinya berbunga-bunga penuh rasa. Senyum seakan tak pernah pudar dari wajahnya.


"Ooh anjing yang itu... Cantik sekali ya pantas dikejar sampai mampir" ledek Bang Rinto.


"Siaapp.. tidak..!!"


"Ada apa Bang" tanya Anye.


"Ada kiriman es buah dari Danyon. Tapi sudah nggak dingin seperti tadi. Mau nggak?" tanya Bang Rinto.


"Yaaa.. Abang.. Di apakan es buahnya sampai nggak dingin?" Anye terdengar sangat kecewa. Anye meninggalkan Bang Rinto membawa wajah kesalnya.


"Laahh dek.. Yang bawa kesini tadi si Joe. Kenapa jadi Abang yang salah??" Bang Rinto sudah was-was kalau Anye akan marah pada hal kecil.


"Naahh.. Ini karena ulahmu Joe. Kamu makan nangka.. saya yang kena getahnya" bisik Bang Rinto kesal.


"Cepat pergi beli es batu..!!" perintah Bang Rinto sambil memberikan uang pada Joe.


"Ijin Dan.. beli dimana ya?" tanya Joe.


"Saya nggak mau tau. Kamu cari di toko kelontong kecil. Jangan lama-lama. Itu Bu Danki sudah ngambek"


"Siap Dan..!!"


...


"Tapi itu benar yah..!!" kata Gathan membenarkan ucapan kakaknya.


"Astagfirullah.. pantas saja Rinto ngamuk sampai kesetanan. Ternyata Candra berulah. Halus sekali caranya" gumam Rama sampai memijat pelipisnya karena pusing dengan situasi ini.


"Besok ayah coba bicara sama Candra.. Sekarang bukan waktu yang tepat"


...


"Ijin Dan.. ini es batunya..!!" Joe menyerahkan es batu itu kepada Bang Rinto. Karena terlalu bersemangat saat menyerahkan es batu itu, es batu tersebut sampai jatuh menghantam jempol kaki Bang Rinto.


"Aawwhh.. Kamu ini kenapa sih Joe?????" Bang Rinto kesal karena dari tadi Joe tidak fokus dengan apa yang diperintahkan.


"Maaf Dan.."


"Ya sudah.. kembalilah ke tempatmu..!! Saya mau memanjakan bu Danki dulu..!!" perintah Bang Rinto.


"Siap..!!"


...


"Aduuuh parah..!! ini sih gagal rasanya lebih baik aku buat ulang" kata Bang Rinto mencibir es buah yang tadi dibawa ke rumahnya. Ia ingin memberi kejutan pada Anye dengan hasil karyanya sendiri.


"Naahh.. nanti kamu bisa lihat kehebatan tentara dek. Jangankan bikin makanan darurat. Perkara bikin es buah gini mah gampang.. keciiill" gumam Bang Rinto menjentikan jarinya. Bibirnya mencibir seperti koki profesional.


Bang Rinto membuka lemari es nya dan mencari bahan-bahan untuk membuat es buah lagi.

__ADS_1


"Untung segala buah aku beli" ucapnya dengan mantap.


Pisang, pepaya, jambu air, mangga, kedondong dan alpukat. Semua Bang Rinto iris sesuai kata hati.


"Aahh... nggak apa-apa.. besar kecil yang penting mantap rasanya. Buat perempuan tuh bukan ukuran..tapi rasa" ucapnya bergumam yakin sambil menepuk otot lengannya yang memang macho.


Bang Rinto kembali membuka lemari esnya. Ia mencari sirup dan susu disana.


"Yaaa.. adanya sirup jeruk nipis sama susu bubuk"


"Nggak apa-apa lah, judulnya tetap es buah"


"Terakhir.. tambahkan es batu. Hmm.. pakai apa ya!!" Bang Rinto berpikir keras.


"Laahh.. itu ada cobek..!!" Bang Rinto mengambil cobek, lalu menghantamkan cobek itu ke es batu hingga hancur bersamaan dengan hancurnya perangkat dapur milih istrinya yang terbelah jadi dua.


"Aduuhh.. mati gue, gimana nih laporan sama Bu Danki??"


...


Dengan bangga Bang Rinto mempersembahkan hasil karyanya untuk Anye.


"Coba sayang... lihat Abang bawa apa"


Anye bangun melihat apa yang di bawa Bang Rinto. Begitu Anye melihatnya, rasa mual dan tidak yakin seketika menyerang.


"Mau coba sekarang??" tanya Bang Rinto.


"Abang.. itu kenapa bentuknya gitu??" Anye ingin menangis kencang melihatnya begitu mengenaskannya hasil kerja suami tercinta.


"Abang kapan sih nggak buat Anye jengkel" Anye kesal sampai menghentakkan kakinya menendang selimut.


"Ini enak lho sayang" kata Bang Rinto sambil mencoba es buah buatannya sendiri.


"Eegghhh... mantap..!!" gumamnya memercing bagai tersengat listrik.


"Aseem banget sayang" Bang Rinto hampir muntah tak bisa menjabarkan rasanya.


"Tuh khan. Dari bentuknya saja sudah seperti muntah kucing" kata Anye.


"Jahat banget kamu dek"


"Aaaahh.. Abang.. Ayo cari es buah" rengek Anye.


"Ya ampuun yank.. ini sudah malam. Besok aja ya Abang carikan. Janji.. Abang belikan yang enak..!!"


"Sekarang..!!"


"Siap Bu. Sekarang..!!" jawab Bang Rinto mengalah, Lagipula ekor mata Anye sudah penuh ancaman khas wanita.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2