
Perjalanan masih kurang setengah jam lagi. Bang Zaldi memutuskan untuk membawa Arnes ke rumah dinas karena Seno sudah membawa Sabrina ke rumah kontrakan yang tidak seberapa besar itu. Tak mungkin ia akan lebih merepotkan kakak iparnya lagi.
Bang Zaldi turun dari mobil dan membeli beberapa makanan untuk di bawa pulang. Arnes sudah terlihat sangat lelah. Ia pun tidak tega membangunkan istrinya.
...
"Dek.. sudah sampai nih. Masuk yuk..!!" ajak Bang Zaldi.
Arnes menggeliat dan melihat rumah dinas di depan matanya.
"Abang tidur disini??"
"Iyalah.. Abang jagain istri. Kalau di sambar garangan. Stress Abang nggak ada gantinya" jawab Bang Zaldi.
"Tapi Abang lapor datang dulu ya. Ini sudah jam sembilan malam. Sudah telat laporan"
Arnes mengangguk lalu berjalan di samping Bang Zaldi. Ia sedikit memercing menahan rasa tak karuan.
...
"Kenapa baru lapor datang bawa anggotamu??" Tegur Bang Acep.
"Siap salah, ijin Komandan. Trouble perjalanan" jawab Bang Zaldi.
"Anggotamu saja sudah sampai pukul dua. Ini jam 21.30 kamu baru lapor datang" Bang Acep menggeleng mendengar jawaban Bang Zaldi yang tidak masuk akal.
"Siap salah Komandan"
"Kamu ini, benar-benar bikin masalah"
#
Rasa lelah dan letih hilang begitu saja saat melihat Arnes tidur di ranjang dengan manis. Senyumnya mengembang lepas mengingat sesaat tadi ia sudah berhasil melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
"Kamu ini memang paling bisa buat Abang kelabakan. Selanjutnya jangan nakal lagi ya ndhuk" gumamnya kemudian membelai sayang rambut halus Arnes.
"Bang, Badan Arnes sakit semua" ucapnya mengeluh saat sudah tak tahan lagi dengan rasa sakitnya.
"Ya sudah sini Abang pijat" Bang Zaldi mengalah meskipun badannya pun terasa remuk, terkilir dan tulangnya seakan patah.
Jantung Bang Zaldi masih jedag jedug tak jelas melihat body aduhaii sang istri tercinta.
"Duuhh.. gimana ini. Badanku lelah sekali tapi sepertinya si japrak nggak ada lelahnya" Bang Zaldi mendongak melihat Arnes yang sudah kembali tidur.
Ia merebahkan tubuhnya di samping Arnes dan berusaha keras memejamkan matanya yang sama sekali tidak mengantuk. Pikirannya terus mengingat hal manis yang sudah terjadi tadi. Bang Zaldi mengarahkan Arnes agar menghadap ke arahnya.
"Abang kangen lagi dek. Jangan marah ya..!!"
__ADS_1
Seketika Arnes terbelalak kaget melihat Bang Zaldi sudah siap adu skill lagi dengannya.
...
"Aduuuhh Abaaaanngg.. Sudah waktunya apel Bang...!!" Arnes kesulitan menyingkirkan Bang Zaldi dari hadapannya. Bang Zaldi begitu manja sedari tadi hanya menyerusuk di sela lehernya dan terus mengganggunya.
"Kancing kan seragamnya yang benar donk Bang" Arnes mengancingkan seragam Bang Zaldi tapi jari nakal Bang Zaldi kembali membukanya lagi.
"Di buka saja ya" Bang Zaldi malah semakin menarik kaos lorengnya ke atas dengan nakalnya.
"Astagfirullah Abang..!! Jamnya Bang..!!!!" pekik Arnes.
"Abang putar jamnya ya. Biar jadi jam tiga pagi" gumamnya di telinga Arnes sambil melonggarkan ikat pinggangnya.
"Abaaaaaang.. ya ampun" Arnes kelabakan mengatasi ulah Bang Zaldi. Hingga akhirnya terdengar suara speaker seruan apel pagi.
"Cepat Abang...!!!!!!"
"Nggak mau, Abang mau di rumah saja. Abang demam nih" ucapnya mulai drama sambil memegangi keningnya yang sama sekali tidak hangat.
"Jangan makan gaji buta ya Bang..!! Cepat berangkat kerja..!!!!"
Bang Zaldi langsung merapikan diri mendengar nyonya besar sudah mulai mengomel tak karuan.
...
"Abang sakit??" tanya Bang Righan melihat adik iparnya duduk setelah menumpuk batang ranting kayu.
"Capek aja Rig.. Bawa mobil enam jam perjalanan" keluhnya sambil meminum vitamin penambah daya tahan tubuh yang ia bawa dari rumah tadi.
"Cuma enam jam kok sampai lemes begini Bang? Abang kemana dulu sampai telat lapor datang?"
"Pelankan suaramu Righan..!! Saya lagi memproses keponakanmu. Sudahlah jangan banyak tanya. Ini pengorbanan seorang papa" jawabnya.
Bang Righan tertawa terkikik mendengar ocehan Bang Zaldi.
"Papanya aja nih yang ngeyel. Pantang menyerah" ledek kakak ipar Bang Zaldi itu.
Bang Zaldi hanya tersenyum , kini yang ia inginkan hanya tidur karena terlalu lelah.
#
Seorang TBO wanita mengetuk pintu ruangan Bang Zaldi tapi sang pemilik ruangan tak kunjung membukakan pintu. TBO tersebut masuk karena mengira tak ada orang di dalamnya.
Saat sedang mengepel lantai, karena kurang hati-hati ia terpeleset dan ia jatuh di kaki Bang Zaldi yang sedang tidur di bawah meja. Refleks Bang Zaldi kaget dan langsung duduk tak sengaja bibirnya menyentuh samping bibir TBO bernama Olivia itu.
"Astagfirullah.." Bang Zaldi berusaha menarik diri karena kakinya tertindih Olivia.
__ADS_1
"Bang Zaldi..!!!!!!" di saat yang tidak tepat itu Bang Righan melihat 'adegan mesra' antara Bang Zaldi dan Olivia.
"Oliv.. kenapa kamu ada di sini??? Kamu nggak bisa ketuk pintu dulu?????" tegur Bang Zaldi.
"Abang nggak usah pura-pura. Mataku melihat sendiri perbuatan Abang" Bang Righan sudah memasang wajah penuh amarah.
"Saya tidur Rig.."
"Bullshit. Ada Velbed disana kenapa nggak Abang gunakan??? Abang malah sembunyi di bawah meja sama Olivia ini" tunjuk Bang Righan tepat di wajah Olivia.
"Pak Righan.. saya sedang mengepel lantai, nggak sengaja terpeleset dan menduduki kaki Pak Zaldi" ucap jujur Olivia.
"Saya hanya orang kecil pak. Nggak berniat macam-macam" Olivia sudah gemetar ketakutan.
"Righan.. Jangan ngelantur kamu. Kalau Arnes dengar dia bisa salah paham" kata Bang Zaldi mengingatkan.
"Dengar kamu Olivia. Kamu ada dalam pengawasan saya.. Jangan beraninya kamu bertingkah di depan saya" ancam Bang Righan lalu pergi meninggalkan bang Zaldi dan Olivia.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Zaldi mengusap wajahnya. Ia cemas kalau sampai Righan mengadu yang tidak-tidak pada Arnes.
"Pak Zaldi.. saya benar-benar tidak sengaja" kata Olivia sudah ketakutan melihat wajah garang Pak Zaldi.
"Saya tidak mau berurusan dengan wanita. Keluar kamu sekarang...!!!!!!!!!" bentak Bang Zaldi begitu nyaring terdengar hingga mengundang Bang Irfan sampai ke ruangannya.
"Ada apa pot?? Suaramu terdengar sampai lapangan tembak" tegur Bang Irfan.
"Salah paham aja bro. Sorry sudah buat ribut"
"Kendalikan emosimu pot. Ini Batalyon, dekat asrama. Salah kamu bertindak, tembok pun dengar. Kabar kamu membawa seorang wanita dari Jawa sudah santer terdengar. Sebagian dari kita sudah tau siapa calon istri PasiIntel, tapi sebagian lagi belum tau. Maaf nih ya.. Kamu nggak kumpul k**o khan??" tanya Bang Irfan.
"Ya nggak lah pot. Tapi sebenarnya apa masalah mereka mengurusi rumah tanggaku. Arnes hamil pun pasti juga sama aku" jawab Bang Zaldi.
"Gila kamu. Arnes hamil????????" Bang Irfan syok mendengar nya pasalnya Bang Zaldi hampir tidak pernah berdekatan dengan wanita. Malah kaum wanita lah yang suka penasaran dengan sikap dingin dan kaku dari Lettu Erzaldi.
"Ya sudah terlanjur bablas mau bagaimana lagi" ucap Bang Zaldi membual karena sebenarnya ia merasa kesal dan gengsi dari hari pernikahannya itu, baru semalam ia bongkar muat hingga tuntas.
"Nyali yang luar biasa" Bang Irfan sampai bertepuk tangan dengan heran menggeleng kepala dan meninggalkan Bang Zaldi.
Bang Zaldi terdiam sejenak. Ia pun was-was juga takut keadaan sekitar.
Mudah-mudahan nggak akan ada imbas masalah dari kejadian hari ini. Aku harus lapor dulu nih kalau sudah menikah, takut ada apa-apa.
Bang Zaldi mengusap dadanya dengan gusar.
.
.
__ADS_1
.