Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 53. Di serang rindu.


__ADS_3

"Tekanan darah tiba-tiba meningkat, faktornya bisa karena kelelahan, banyak pikiran. Kurangi konsumsi rokok, atau mungkin minuman keras, perbanyak istirahat" kata dokter.


"Waahh.. sulit itu dok. Lettu Zaldi perokok berat. Kalau minuman keras sih, dokter tau sendiri lah bagaimana kami. Tidak konsumsi tapi say hello saja" jawab Bang Irfan jujur.


-_-_-_-_-


Abaang jahaaatt..!!!" Arnes terus saja berteriak histeris.


"Kenapa bisa seperti ini dok??" tanya Bang Righan.


"Ini biasa pak. Dalam masa nifas masih dalam keadaan peralihan, kita juga tidak bisa menerka bagaimana perasaan si ibu sebenarnya. Mungkin sebelum ini sedang sedih atau mungkin tertekan"


"Baiklah dok. Terima kasih penjelasannya" kata Bang Righan.


//


Di ruangan itu Bang Seno sedang menggantikan Brina menggendong Ibra.


"Mau makan dulu dek?? Abang beli makan ya??"


"Biar saya saja Bang yang beli. Abang temani Arnes dan Mbak Brina" kata Bang Seno.


"Ya sudah, Titip beli makanan ya..!!"


"Iya Bang, sekalian aku mau ketemu sama Icha dulu"


...


Bang Seno membujuk Arnes agar tidak terus menangis. Perlahan Bang Seno menceritakan bahwa Bang Zaldi sedang mendapat perawatan juga di rumah sakit dan meminta untuk menghubungi jam berapa saja kalau Arnes sudah siap


"Apa itu bisa di percaya??" tanya Arnes.


"Suamimu adalah orang yang paling khawatir saat kamu sakit. Abang kira wajar kalau Bang Zaldi sampai jatuh sakit. Setelah Abang Zaldi datang dari Sudan, Abang langsung mengurus masalah persalinanmu. Pasti Abang lelah dan kurang istirahat. Mengertilah dek, mana sempat Abang memikirkan perempuan lain, kamu saja sudah mengalihkan dunianya" Kata Bang Seno menasehati.


"Astagfirullah hal adzim.." Arnes beristighfar, perlahan mulai bisa menerima setiap penjelasan.


"Abang pengen banget tau keadaanmu. Kita video call ya"


:


Arnes sudah bisa tersenyum. Ia melihat Bang Zaldi sedang berbaring di ranjang dengan cairan infus mengalir melalui punggung tangannya.


"Lihat baik-baik lagi. Ini selang infus, bukan sedotan jus" kata Bang Zaldi.


"Jangan mikir macam-macam lagi ya dek. Abang ini sudah tersiksa jauh sama kamu, jangan kamu tambahi lagi dengan rasa ketidak percayaan mu itu"


"Arnes minta maaf ya Bang..!!"


"Ya.. terpaksa Abang maafin, kalau nggak di maafin nanti kamu nangis" ledek Bang Zaldi.


"Abaang" Arnes memonyongkan bibirnya karena kesal.


//

__ADS_1


Bang Seno membiarkan Arnes tertidur dengan ponsel yang masih menyala dan saling berhadapan dengan Bang Zaldi yang juga tertidur di temani Bang Irfan yang selalu berjaga di sampingnya.


"Berdua ini enak sekali tidurnya ya?" kata Bang Irfan di seberang sana.


"Biar saja mereka tidur Bang. Kalau bangun, kita juga yang kelabakan" ucap Bang Seno.


"Iya Sen. Mereka yang sakit.. kita yang jantungan"


-_-_-_-_-


"Arnes pulang hari ini Bang"


"Sama.. Abang juga kembali ke barak hari ini. Kamu jaga kesehatan disana. Jangan mikir jelek lagi. Ingat.. Abang cari receh buat kamu" Bang Zaldi mengingatkan Arnes.


"Iya Bang"


***


Waktu demi waktu bergulir, berat, pahit, rindu, sakit semua dirasakan silih berganti hingga delapan bulan terlewatkan.


Bang Zaldi menarik nafas lega mengingat sebentar lagi tak perlu bangun tengah malam hanya untuk melihat Ibra yang sedang mandi, bahkan dua bulan terakhir ini ia selalu menemani Ibra makan melalui sambungan video call.


"Papa kapan pulang, Ibra kangen Papa" kata Arnes saat sedang menyuapi Ibra.


"Yaaa.. sayang. Abang pulang di undur lagi nih" ucap Bang Zaldi memasang wajah sedihnya.


"Kenapa Bang??" Arnes sudah ingin menangis tapi seperti biasanya, istri Lettu Erzaldi itu selalu menahannya.


"Ya sudah nggak apa-apa. Sehat-sehat Abang disana" kata Arnes.


"Oya Bang, Mas Fauzan satu minggu ini selalu hubungi Arnes. Katanya kapan Arnes kembali daftar kerja di kantor peternakan, di sana kurang pegawai. Katanya Arnes bisa jadi A*N juga"


"Kalau Abang pulang nanti, pangkat Abang naik jadi Kapten. Kita pindah ke Jawa. Kamu mau terus di Sulawesi??? Sesuai perjanjian, Abang minta kamu berhenti kerja kalau kamu hamil dan saat itu kamu juga sedang hamil. Nggak ada alasan lagi untuk kamu merengek minta kerja dek. Sekarang ada Ibra. Atau kamu mau Ibra di urus pengasuh dan sekalian pengasuhnya Ibra mengasuh Abang???" ucap tegas Bang Zaldi.


"Nggak mau..!!" jawab Arnes.


"Ya sudah, jangan banyak merengek dan jangan tanyakan hal seperti itu lagi" Bang Zaldi memutuskan panggilan teleponnya.


B*****t juga itu si Fauzan. Nggak kapok tahun lalu sudah kubuat babak belur. Lihat saja kalau aku datang, ku buat remuk dia untuk kedua kalinya.


Bang Zaldi melanjutkan memakai kedua sepatunya lalu mengangkat rangsel dan senjata di punggungnya.


***


Satu minggu setelah kejadian itu, Bang Zaldi jarang menghubungi Arnes. Ponsel suaminya itu terkadang mati dan sulit di hubungi. Dengan perasaan sedih, ia meletakan ponselnya di atas meja hias dan bersiap ke Batalyon. Malam ini ada penyambutan anggota yang baru datang dari satgas. Arnes yang terlalu sibuk dengan Ibra tak membaca dengan jelas para anggota satgas mana yang akan datang kembali malam ini.


-_-_-_-_-


Ibra sedang anteng dalam asuhan Om Andika saat Mamanya sibuk menata bunga untuk menyambut para prajurit yang akan tiba.


Rombongan truk pun datang dan Arnes berjalan cepat dan bersiap untuk mengarahkan para istri prajurit untuk penyambutan. Malam hari yang tidak begitu terlihat, hanya ada nyala obor sebagai penerangan malam di Batalyon.


"Silakan di bawa bunganya dan silakan menghampiri 'bapaknya' masing-masing ya Bu" kata Arnes mengarahkan.

__ADS_1


Arnes sudah ingin menangis saja. Suasana malam yang indah dan romantis itu begitu syahdu dan mengena tanpa kehadiran sang suami tercinta.


Saat Arnes berbalik dan melangkah pergi, ada bucket bunga yang sangat indah menghadang langkahnya. Bucket bunga, uang, perhiasan dan coklat di kemas menjadi satu rangkaian yang besar.


"Ambil dek, pegal ini Abang bawanya. Nenteng bunga dari siang"


Seketika Arnes menoleh mendengar suara yang sangat familiar di telingnya.


"Abaaaaaang..!!!!!" Arnes langsung memeluk dan menangis memeluk Bang Zaldi.


Bang Zaldi pun membalas pelukan hangat sang istri dalam gelap temaram, seluruh kecupan ia hamburkan untuk sang istri, bahkan saking rindunya, ia mel***t dan menyessap bibir pink muda milik sang istri. Desahan rindu dari Bang Zaldi sudah semakin menjadi. Sungguh dadanya terasa sesak mendengar tangis sang istri, tak bisa ia bayangkan bagaimana enam belas bulan lamanya ia tidak mendampingi sang istri mulai dari masa awal kehamilan hingga membesarkan Ibra seorang diri. Satu minggu menemani tak berarti apa-apa. Hanya bagai mimpi penyemangat hidup satu hari. Bang Zaldi melepas kecupannya.


"Arnes rindu Abang" ucapnya terisak dan terus bersandar di dada bidang Bang Zaldi.


"Begitu pun Abang, sampai rasanya tidak kuat menahan rindu" Tak lama Bang Zaldi merasakan tubuh Arnes semakin ringan.


"Tolong bawakan bucket saya" pinta Bang Zaldi pada seorang anggotanya.


"Istrimu kenapa Zal??" tanya Bang Acep.


"Arnes nggak tau saya datang Bang. Kaget dia" jawab Bang Zaldi sambil menarik kursi agar Arnes bisa duduk.


"Kok bisa??? Nggak ada info???" tanya Bang Acep.


"Jeleknya Arnes tuh kalau sudah sama anak, nggak bakal monitor info Bang" jawab Bang Zaldi sambil mengusap air mata Arnes.


Bang Acep sedikit meninju lengan Bang Zaldi kemudian meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Anakku mana dek??" tanya Bang Zaldi.


"Sama om Andika Bang" ucap Arnes masih belum stabil.


"Kamu disini dulu. Abang mau temui si kuncung"


Arnes mengangguk membiarkan Bang Zaldi menemui putranya. Ia tau pasti Bang Zaldi begitu rindu pada putra semata wayangnya itu.


Langkah pelan menghampiri Ibra yang masih berada dalam gendongan Andika. Rasa haru terlihat saat pertama kali melihat sang putra sudah besar. Usianya sudah delapan bulan. Keduanya saling menatap.


Bang Zaldi mengulurkan tangannya mencoba menggendong Ibra.


"Ibra sayang.. ini Papa. Ibra mau ikut Papa??"


Ibra hanya menatap 'pria asing' di hadapannya. Air mata Bang Zaldi meleleh merasakan putranya seakan tak mengenalinya.


"Maafin papa ya Bang..!! Jangan marah. Papa kerja keras untuk Abang sama Mama"


Saat Bang Zaldi menurunkan tangannya dan mulai putus asa. Si kecil Ibra mengulurkan tangannya. Ikatan hati tak bisa di bohongi. Ibra mengenali siapa pria yang sedang berdiri di hadapannya. Bang Zaldi pun segera meraihnya.


"Anakku.. Maaf.. maaf..!!!!!" Bang Zaldi menciumi wajah Ibra yang begitu tampan mirip dengannya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2