
Landai n slow
🌹🌹🌹
Satu minggu telah berlalu. Suasana haru mengantar Kapten Rinto ke tempat tugas yang baru. Mama Dinda tak sampai hati melihat menantunya yang begitu tegar mencintai putrinya dalam diam.
"Ayah titip Anye. Ayah minta maaf semua kesalahan ayah. Nanti kalau sudah waktunya, ayah akan kesana melihat saat bahagia kalian" kata ayah Rama.
"Siap Komandan" jawab Rinto tegas.
-_-_-_-
"Rasanya ini mau mendarat. Kemana rute kita??" tanya Rinto dengan bingung.
"Ijin Dan.. Rute pesawat kita beralih menuju tempat Pak Brian kemudian ke lokasi karena membawa bahan logistik juga" lapor Alex yang ikut pindah kesatuan tugas bersama Rinto.
"Oya.. saya tidak update info sama sekali. Maaf..!!"
"Siap Dan.."
Senyum Rinto mengembang karena sesaat lagi ia akan bertemu dengan buah hatinya juga yang pasti akan bertemu dengan Anyelir.
...
Pintu dan body belakang pesawat sudah terbuka. Dari tempatnya, Rinto sudah bisa melihat Anye dan kedua putranya yang sudah berlompatan dengan bahagia melihat pesawat mendarat tak jauh dari mereka.
Ariani sibuk menggendong Bima sedangkan Anye menggandeng tangan Seno.
Rinto pun turun menemui kedua buah hatinya.
"Papaaa.." Seno berlari saat tau ada sosok papanya berjalan ke arahnya.
"Sini jagoan papa. Nakal atau tidak??" tanya Bang Rinto.
"Nggak pa. Sen pintar..!!" jawab Seno.
"Bagus. itu baru anaknya Kapten Rinto" Bang Rinto mengacungkan jempolnya.
"Apa kabar Rin??" sapa Brian.
"Sesak dada gue" jawab jujur Rinto.
Brian tersenyum mendengar jawaban Rinto dan hanya bisa menepuk bahu sahabatnya itu lalu membantu yang lain menaikan barang ke atas pesawat.
Bima kecil minta turun dari gendongan Ariani. Ariani pun menyiapkan keperluan lain untuk anak-anak Anye. Bang Rinto segera berjongkok untuk memeluk putra kecilnya itu.
Bang Rinto sengaja berjongkok mendekat pada Anye yang sedang berbicara dengan beberapa istri anggota lain. Saat Anye bergeser ingin menyentuh kepala Bima, malah tangan itu mengusap wajah Bang Rinto. Refleks wajah Bang Rinto mencium perut buncit Anye. Berhubung ia sudah sangat rindu dengan Anye, di ciumnya sekali lagi perut Anye.
"Abaaaang..!! Maaf Bang, Anye nggak tau" Anye mundur selangkah karena tidak enak dengan yang lain meskipun orang lain tidak sedang memandang mereka.
Bang Rinto berdiri sambil menggendong Bima.
"Abang janji untuk selalu menunggumu, tapi Abang tidak janji untuk bisa menahan rasa rindu Abang. Ini sudah terlalu berat dek" bisiknya di telinga Anye.
Anye menunduk dengan pipi memerah. Brian tau apa yang terjadi tapi ia berusaha menepisnya dari dalam hati dan berusaha lebih rileks menerima segala keadaan karena mungkin suatu saat nanti, yang akan di lihatnya akan lebih menyakitkan dari ini.
-_-_-_-
Baling-baling pesawat sudah berputar. Anak-anak Rinto yang tadinya berlarian kini sudah tenang dan anteng memakan banyaknya camilan yang di sediakan mamanya. Alex bahagia sekali bermain bersama kedua bocah lucu itu. Jeri pun tak kalah senangnya sebab selama ini ia selalu bermain bersama Jeri.
__ADS_1
Ariani duduk bersandar, tak sadar tangannya memegangi pakaian Bang Brian saking takutnya sedangkan Anye refleks memegang tangan Bang Rinto.
Rinto dan Brian saling pandang. Mereka pun saling memahami. Bukan saatnya untuk berdebat dan saling cemburu di saat seperti ini.
"Kenapa nasib wanita-wanita ini selalu mabuk setiap naik kendaraan yang tidak umum?" gerutu Bang Brian pelan.
"Rejekinya dapat istri begini.. Mau bagaimana lagi" jawab Bang Rinto.
...
Ariani sudah bisa tidur di pesawat. Beda halnya dengan Anye yang sangat tersiksa sekali di dalam pesawat. Guncangan demi guncangan membuat perutnya terasa kaku.
"Mual dek??" tanya Bang Rinto sambil berjongkok di hadapan Anye.
Brian memijat punggung Anye yang mungkin merasa tidak nyaman.
Anye mengangguk tapi sudah tidak sanggup berbicara.
"Sebentar lagi sampai dek. Ini sudah mau turun. Sepuluh menit lagi" kata Bang Brian.
#
Pesawat mendarat dengan sempurna. Tampak pemandangan yang indah menghias lukisan alam nan elok di sekitar perbatasan negara.
"Alhamdulillah... welcome di rumah kita yang baru" Bang Rinto bersujud mencium tanah tempatnya akan mengemban tugas di tempat yang baru.
Anye menghapus air matanya penuh rasa haru.
-_-_-_-
"Berhubung rumah dinas perwira hanya ada tiga yang kosong, maka kalian berdua bertetangga" kata Danyon.. Bang Ucok.
"Siap Bang..!!" jawab Bang Rinto dan Bang Brian pasrah.
"Entah saya harus sapa Bu Brian atau Bu Rinto" gumam Bang Ucok.
"Yaa.. yang penting selamat datang di dunia kalian yang baru untuk Anye dan kedua Danki. Semoga betah, kalian bisa lebih bijak menata hidup. Apapun yang terjadi hadapilah. Saya salut dengan ketabahan kalian" Bang Ucok menepuk bahu Brian dan Rinto bergantian.
"Siap Bang. Terima kasih"
"Oya.. Ini Ariani ya. Yang akan ikut bersama kalian??" tanya Bang Ucok.
"Siap.. benar Bang" jawab Brian.
"Ya sudah.. besok kalian menghadap saya dan kita bahas semuanya besok. Sekarang silakan kalian beres-beres dan selamat beristirahat" kata Bang Ucok.
...
Bang Rinto menatap rumahnya yang sepi. Ia duduk bersandar di sofa inventaris rumah dinas perwira. Hanya terdengar suara riuh canda tawa dari rumah sebelah.. rumah Brian. Perutnya terasa lapar tapi ia malas untuk bergerak ke dapur.
Rinto memilih memejamkan matanya sambil mendengarkan suara nyanyian Seno yang masih kacau balau entah bernyanyi apa.
Papa kangen kalian nak.. kangen mama juga. Berapa lama lagi kita bisa berkumpul? Papa berharap masih ada sedikit kesempatan untuk papa membuka lembaran baru hidup bersama kalian lagi.
tok..tok..tok..
"Papa...!!!!!!!!!" suara keras Seno membuat Rinto tersentak kaget. Ia pun segera membuka pintu rumahnya.
"Kenapa Bang??" tanya Rinto dengan raut wajah bahagia karena putranya datang.
__ADS_1
"Papa ajak makan" kata Seno.
"Tapi papa belum lapar sayang. Bilang sama Papa Brian ya..!! Papa belum lapar" tolak Rinto dengan sopan.
"Ayolah.. anakmu ingin dekat denganmu. Mamanya juga rindu. Sedari tadi wajahnya sayu" bujuk Brian yang sudah berdiri di pintu rumah Rinto.
...
Tak ada banyak kata terucap dari bibir Rinto ataupun Anye. Brian dan Ariani lebih banyak bermain dengan Seno dan Bima. Entah sejak kapan mereka kompak mengasuh Seno dan Bima meskipun tidak banyak komunikasi di antara mereka.
"Kamu nggak mau tambah lagi dek?" tanya Bang Brian saat melihat Anye hanya makan sedikit saja dan sesekali hanya mengaduknya.
"Sudah kenyang Bang" jawab Anye.
"Apa kurang cocok sama rasanya?" tanya Bang Brian lagi.
"Mungkin Bang. Semua terasa hambar" jawab Anye.
"Lain kali Abang belikan makanan yang enak. Disini Abang belum tau dimana beli makanan yang enak" kata Bang Brian.
"Iya Bang" jawab Anye datar.
"Riani.. bisa tolong bantu saya gantikan popok anak-anak di kamar? Saya mau beli camilan sebentar" alasan Bang Brian lalu ia segera keluar rumah.
Tanpa menunggu waktu lama Ariani segera menggantikan popok Seno dan Bima.
"Biar aku saja..!!" kata Bang Rinto menyela.
"Aku ada perlu sama Jeri. Kamu jaga anak-anak saja" jawab Bang Brian.
Rinto pun kembali duduk di tempatnya. Rinto melihat wajah Anye memang nampak begitu sayu. Rinto mengambil piring di tangan Anye.
"Abang sudah bilang makan yang banyak..!!" ucap Bang Rinto pelan sambil mengambil sesendok nasi dan menyuapkan pada Anye.
Anye menatap wajah Bang Rinto dengan ragu.
"Ayo makan. Kalau Brian marah biar Abang yang tanggung" Bang Rinto tidak tega melihat keadaan Anye. ia tau Anye ingin sekali mendapatkan belai manja darinya sebab Bang Rinto tau bagaimana Anye.
Setelah membujuk Anye beberapa saat akhirnya Anye mau makan.
"Jangan menyiksa dirimu lagi. Taukah kamu sakitnya hati Abang memikirkanmu setiap hari. Lebih baik kamu marah sama Abang. Maki Abang sampai hatimu puas.. tapi jangan pernah menyakiti dirimu sendiri" ucap Bang Rinto.
"Maafin Anye ya Bang. Anye sudah terlalu banyak menyusahkan Abang"
Ini kali pertama Anye mau menatap wajahnya saat bicara dengannya.
"Alhamdulillah Ya Allah.. Abang rindu sekali mendengar suara lembutmu itu. Terus begini ya sayang..!! Apapun resikonya akan Abang tanggung asalkan kamu bahagia" Bang Rinto mengecup kening Anye.
Bang Brian mengerjap menghalau air mata yang ingin meluncur deras dari pelupuk mata. Tak lama terlihat Bang Rinto menyuapi Anye lagi, tepat saat itu Ariani keluar dari kamar anak-anak dan melihat semuanya.
"Pak Rinto.. Bu Anye..!!" Ariani kaget sampai tangannya gemetar.
"Maaf, saya tidak sengaja" Ariani salah tingkah melihat Anye dan Rinto.
.
.
.
__ADS_1