Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 19. Ujian menghalalkan kesayangan.


__ADS_3

"Abang colek sedikit" ucap jujur Bang Zaldi.


"Abaaang..!!!!" Arnes memukuli dan menampar Bang Zaldi tapi calon suami Arnes itu tetap tenang.


"Kamu pikir Abang sekurang ajar itu??" tanya Bang Zaldi.


"Abang memang mencuri kesempatan tapi tidak seperti yang kamu pikirkan"


Bang Zaldi berhasil mengendalikan diri meskipun sangat sulit karena Arnes tidak bisa diam.


"Kamu sendiri yang melakukannya.. Bukan Abang" ucap Bang Zaldi.


Arnes menunduk dan menutupnya wajahnya di atas dada Bang Zaldi. Ia sudah terlalu malu berhadapan dengan Bang Zaldi. Bagaimana bisa dia yang menggoda Bang Zaldi lebih dulu dengan tidak tau malunya.


"Sudah nggak apa-apa. Yang lihat Abang. Bukan orang lain. Tapi dengan adanya kejadian ini, Abang harus lebih waspada jaga kamu. Bukan perkara gampang jaga kesayangan Papa Rinto"


***


Arnes keluar memakai seragam kebesaran yang berbeda seperti yang biasa ia pakai selama ini. Ia memang punya dua seragam. Satu ia beli sendiri dan Ia pun menjahitkan kain seragam pemberian Bang Zaldi dan selama ini Bang Zaldi tidak tau ada niat Arnes untuk berubah. Langkah kecil dan anggun menuruni anak tangga kayu membuat jantung Bang Zaldi rasanya tak kuat menatap penampilan calon istrinya kali ini. Arnes memakai seragam dan berhijab menutup rapat tubuhnya mulai ujung kepala hingga ujung kaki.


Seketika Bang Zaldi menundukkan kepalanya, gugup mengalihkan pandangan tak berani menatap wajah sang pujaan hati terlalu lama.


"Ini saat terakhir, final.. dan kamu baru memakai pakaian ini sekarang. Kenapa??"


"Arnes ingin memakainya karena Allah dari hati. Kemarin Arnes belum yakin untuk memakainya. Sekarang Arnes sudah yakin Bang. Kejadian semalam merupakan suatu teguran kalau aurat wanita sangat berbahaya. Terima kasih, Abang tidak menyentuh Arnes" ucap Arnes sampai menitikkan air mata.


"Abang ingin mengambil hadiah Abang nanti, sebagai bayaran atas kerja keras Abang menahan perang batin. Abang ingin menjaga harga diri ibu dari anak-anak Abang" jawab Bang Zaldi.


Bang Zaldi ingin menyentuh pipi Arnes yang basah, tapi melihat istrinya begitu santun. Hatinya pun tak berani lagi bertingkah ceroboh. Bang Zaldi mengambil sapu tangan di sakunya lalu mengusapnya.


"Kita berangkat..!!" Bang Zaldi meminta Arnes berjalan lebih dulu dan ia menjaga langkah calon istrinya di belakangnya.


-_-_-_-_-


Waktunya Arnes masuk dalam ruang pemeriksaan. Disana ada seorang dokter wanita dan seorang perawat. Arnes sedikit terkejut saat melihat perawat yang ada disana ternyata adalah Aning yang sudah memasang wajah tak bersahabat.


"Mas Zaldi jangan ikut masuk. Belum sah lho ya" kata seorang dokter ASN disana sambil menutup tirai tempat periksa.


Zaldi menggaruk kepalanya karena merasa malu. Arnes pun masuk dan naik ke atas ranjang periksa seperti yang di perintahkan dokter. Dokter pun masih memeriksa berkas milik Bang Zaldi yang harus di tanda tangani.


"Buka...!!" perintah Aning.

__ADS_1


"Tunggu dokter dulu" jawab Arnes dengan gugup.


"Buka..!! Disini kamu pasiennya..!!!!!" bentak Aning.


Mendengar suara itu Bang Zaldi segera membuka tirai dan melihat Aning sedang memaksa Arnes dan tidak sengaja menekan perut calon Nyonya Zaldi itu.


"Apa-apaan kamu Aning???" Bang Zaldi menepis tangan Aning kemudian menutup kaki Arnes dengan selimut.. Matanya pun tidak berani melihat tubuh Arnes meskipun sudah tertutup rapat. Arnes menggelinjang kesakitan karena ulah Aning.


"Aning, kamu apakan pasiennya??" tegur Dokter.


"Pasiennya melawan dok"


"Setelah ini kamu bicara dengan saya dan kamu tukar posisi dengan rekanmu yang lain" perintah dokter.


"Sakit dek??" tanya Bang Zaldi lumayan cemas melihat keadaan Arnes.


...


Bang Zaldi melipat hasil dari dokter, Ia sungguh tidak ingin melihatnya. Batinnya teguh dan sudah siap menerima Arnes lahir dan batin apapun keadaannya. Perasaannya pada Arnes bukan hanya soal selaput dara, tapi hati pernikahan adalah soal dua hati.


"Kita menghadap ke kantor sekarang kemudian langsung ke Komandan. Mudah-mudahan hari ini selesai" ucap Bang Zaldi dengan wajah datarnya.


"Abang kecewa dengan hasilnya??" tanya Arnes.


***


Berkas sudah di tanda tangani dan hanya tinggal menunggu pengesahan Komandan, tapi sayangnya Komandan sedang tidak berada di tempat.


Bang Zaldi bersandar lemas harus menunggu lagi meskipun hanya sekitar dua jam saja. Sedangkan Arnes lebih banyak diam merasakan nyeri di perut karena tanpa persiapan apapun Aning menekan perut bawahnya.


"Sakit?? Kita periksa di dokter luar yuk...!!" ajak Bang Zaldi. Bang Zaldi cemas tapi ia pun tak habis pikir dengan ulah Aning yang kelewatan.


"Wanita kelainan jiwa. Kenapa rumah sakit bisa mempekerjakan wanita macam itu" gerutu Bang Zaldi.


"Nggak usah di pikir. Calon istri Abang ini kuat, nggak lemah hanya karena di perlakukan seperti itu" jawab Arnes menenangkan Bang Zaldi karena Arnes tau pasti bagaimana kelakuan Bang Zaldi kalau sedang marah.


-_-_-_-_-


"Alhamdulillah.. sekarang sah ya. Lettu Erzaldi dan istri sudah resmi di mata hukum militer" kata Bang Acep selaku Danyon.


"Alhamdulillah.. Terima kasih banyak Komandan" Bang Zaldi mengusap wajahnya penuh haru.

__ADS_1


//


"Dek.. semua urusan disini sudah selesai. Papa minta kamu segera pulang karena memang sudah lewat dua minggu dari waktu yang di kasih Papa" ucap Bang Zaldi terdengar Zaldi.


"Setelah Abang pikir. Lebih baik Abang mengantarmu dan langsung meminta akad nikah ke Papamu"


"Bukannya yang Arnes dengar minimal tunda tiga bulan Bang??" tanya Arnes.


"Abang rela memohon di hadapan papamu. Niat baik tidak akan berakhir buruk. Abang ingin segera halal. Abang nggak mau pikiran Abang melayang kemana-mana karena terlalu rindu kamu. Kamu paham khan maksud Abang??"


"Arnes ngerti Bang"


***


Dua hari kemudian.


Arnes tersenyum saat sudah tiba di Bandung. Bang Zaldi sungguh memperlakukannya dengan sangat sopan, tidak asal menyentuh dan bertingkah seperti dulu lagi meskipun sikap kaku dan dingin tak bisa hilang dari sang Owa Jantan.


Papa Rinto yang ikut menjemput tak bisa berbuat apapun karena Bang Zaldi sudah meminta dan memohon secara baik-baik untuk segera menikahi putrinya.


-_-_-_-_-


"Kapan kamu mau menikahi Arnes?" tanya Papa Rinto di ruang tamu.


"Nanti malam pa. Resepsi dua hari lagi" jawab Bang Zaldi.


"Nggak waras kamu Zal. Mana ada persiapan pernikahan hanya dua hari?????. Minta akad nikah dadakan juga. Semua ada hitungannya Zal" pekik Papa Rinto.


"Cuti saya hanya satu minggu pa. Saya nggak bisa tunggu lebih lama lagi"


"Nggak.. nggak ada begitu ceritanya" Papa Rinto memijat pelipisnya mendengar permintaan calon menantu yang sangat keterlaluan mengerjai dirinya.


"Arnes hamil pa" refleks kata Arnes langsung menyela karena berdebat dengan papanya tidak akan membuahkan hasil apapun.


Bang Zaldi pun sampai ikut kaget. Tapi mau tak mau ia harus siap pasang badan untuk Arnes.


"Zaldiiiiiii..!!!!" Papa Rinto geram menarik kerah baju Bang Zaldi sedangkan tanpa di duga Bang Bima menendang dada Bang Zaldi hingga terpental menabrak pintu rumah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2