
Bang Zaldi menggandeng tangan Arnes menuju sudut di belakang gedung. Bang Zaldi bersandar pada dinding dan membuka kancing Hem nya.
"Abang mau apa? Ini masih siang" ucap Arnes.
"Waahh.. sepertinya istri Abang pengen sesuatu nih" ledek Bang Zaldi membawa senyumnya yang genit.
"Memangnya Abang mau apa?"
"Tolong carikan Abang air hangat untuk mengompres memarnya Abang. Sakit sekali ini dek. Nafas Abang sesak terus dari kemarin" pinta Bang Zaldi yang baru hari ini menunjukan rasa sakitnya pada Arnes.
Arnes membantu membuka satu lagi biji kancing baju Bang Zaldi. Ia pun ikut memercing melihat ada bekas besar memar berwarna biru menuju ungu. Pastilah warnanya seperti itu karena Arnes melihat dengan mata kepalanya sendiri Bang Bima menendang Bang Zaldi dengan keras.
"Ya ampun Bang. Ini pasti sakit"
"Nggak, cuma geli aja.... Ya sakit donk sayang. Tapi nggak sesakit saat kangen kamu" ucap gombal Bang Zaldi.
"Idiiihh.. Abang belajar darimana bisa begitu"
"Nyontek di un_tube" jawab Bang Zaldi.
Arnes tak menanggapi lagi ucapan Bang Zaldi karena jika semakin di tanggapi biasanya Bang Zaldi akan semakin menjadi. Ia segera meninggalkan Bang Zaldi untuk mencari baskom dan handuk kecil.
Bang Zaldi merosot duduk di lantai.
//
Bang Zaldi hanya bisa memercing saat air hangat itu menyentuh kulitnya. Ia hanya bisa mengerang dan merintih.
"Kenapa Abang nggak bilang dari kemarin kalau sakit?" tanya Arnes.
"Kemarin nggak terasa. Sesaknya baru hari ini" jawab Bang Zaldi tampak lelah sampai akhirnya Bang Zaldi tertidur di sudut ruangan itu.
Arnes mengancingkan kembali pakaian Bang Zaldi. Ia merasa sangat bersalah karena tanpa sengaja membuat suaminya jadi sakit seperti ini.
"Abang kenapa Nes? Kok pucat??" tanya Bang Seno.
"Abang sakit karena kemarin dapat tendang dari Bang Bima" jawab Arnes.
"Kamu juga keterlaluan. Kenapa kamu bohong sama Papa. Kalau sudah seperti itu yang akan kena hajar papa paling parah jelas saja Bang Zaldi" kata Bang Seno membuat Arnes semakin menyesal saja.
Bang Seno tak habis pikir dengan jalan pikiran Arnes hingga Bang Zaldi harus menanggung akibatnya. Bang Seno pun kembali mengawasi pekerjaan wo dan anggota lain.
Arnes bersandar di bahu Bang Zaldi dan akhirnya ikut tertidur disana.
...
Satu jam kemudian Bang Zaldi bangun darig tidurnya dan melihat Arnes sedang tidur dan bersandar padanya.
" Ijin Dan.. Dan Rinto memanggil karena catering makan siang sudah datang" lapor seorang anak buah.
"Nanti saya kesana.. istri saya masih istirahat" jawab Bang Zaldi.
"Siap Dan.." anggota tersebut meninggalkan tempat.
__ADS_1
Bang Zaldi mengintip wajah Arnes yang tidak terlihat olehnya. Ingin rasanya saat ini ia kabur membawa Arnes dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.
Arnes bangun, mengerjapkan mata dan tanpa sengaja saling beradu pandang dengan Bang Zaldi.
"Dek, kita ke penginapan yuk. Yang dekat sini saja..!!" ajak Bang Zaldi.
Arnes masih memandang wajah Bang Zaldi.
Apa ini perasaanku saja. Kenapa Abang jadi tampan sekali.
"Mau nggak?" tanya Bang Zaldi memastikan karena Arnes hanya memandanginya saja.
"Iya Bang"
-_-_-_-_-
Bang Zaldi mengunci pintunya dengan rapat dan langsung memepet Arnes di dinding. Insting memburunya sudah aktif.
"Kamu mau khan kalau kita segera punya momongan?" Bang Zaldi menanyakan kesiapan mental Arnes.
"Kita khan sudah bahas ini Bang. Kemarin Arnes menolak menikah cepat salah satunya juga ingin mengejar karir. Kalau Arnes hamil, Arnes nggak akan bisa menjadi wanita karir" ucap Arnes seketika melemahkan hati Bang Zaldi.
"Usia Abang bukan lagi saatnya untuk menunda momongan lebih lama dek"
"Siapa suruh Abang menikah saat sudah jadi om-om" jawab Arnes sambil mendorong dada Bang Zaldi. Arnes berjalan menuju pintu dan hendak meninggalkan Bang Zaldi sendirian di kamar.
"Mau kemana kamu?" tegur Bang Zaldi.
Bang Zaldi mencekal tangan Arnes.
"Nggak.. kamu disini dulu sama Abang. Kita kesini untuk saling memahami arti suami istri dek, bukan untuk ribut"
Arnes melihat wajah Bang Zaldi yang tegas, dingin dan kaku. Tiba-tiba ingatannya tentang perlakuan Guntur berkelebat dalam ingatannya.
Bang Zaldi menarik tangan Arnes menuju ranjang dengan kasar dan mendorong Arnes ke atas ranjang meskipun tidak dengan cara yang kasar. Bang Zaldi membuka kancing bajunya dan baru melonggarkan gesper ikat pinggangnya. Ia pun mencoba 'membongkar' Arnes.
"Jangan Bang, Arnes nggak mau. Ampuuuunn" ucapnya ketakutan sambil menyembunyikan tubuhnya.
"Arneess..!!" Bang Zaldi melihat jelas perubahan Arnes yang begitu ketakutan dan ini sama persis seperti yang ia lihat saat Arnes tiba-tiba histeris.
"Dek.. ini Abang sayang"
brraaaaakk..
Saat sedang membujuk Arnes tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu kamar, seketika itu pintu terbuka lebar.
"Kami dari razia gabungan. Bisa tunjukan identitas??"
"Kalian sungguh tidak sopan..!! Mau memeriksa dimanapun.. gunakan tata Krama kalian" bentak Bang Zaldi. Secepatnya ia mengambil identitas di dompetnya sambil menghalangi para petugas memandangi istrinya yang masih meringkuk dan menangis.
"Jangan banyak bicara" kata seorang anggota dan mendekati Arnes tapi Bang Zaldi menepak tangannya.
"Disini tertulis identitas atas nama Lettu Erzaldi.. masih lajang. Ciduk dia sekarang juga sama perempuan ini sekalian .!!!"
__ADS_1
"Jangan kurang ajar kalian. Dia istri saya..!!!" bentak Bang Zaldi.
"Kalau dia ini istri seorang perwira, dia tidak akan ada di sini apalagi menangis"
"Astagfirullah.. Saya baru menikah kemarin" ucap jujur Bang Zaldi.
"Tangkap dia..!!!"
Bang Zaldi sangat geram dan berontak. Kepalanya sudah pusing, hatinya sedang campur aduk tapi malah anggota itu seolah mencari perkara. Bang Zaldi akhirnya menghubungi Papa Rinto untuk menguatkan pernyataannya.
//
"Bikin malu aja kamu Zal. Ini kenapa juga Arnes sampai nangis???????" tegur Papa Rinto.
"Apa rumah kita itu kekurangan kamar sampai kamu harus pindah ke penginapan????"
Bang Zaldi tak sanggup menjawabnya. Entah bagaimana ia menyembunyikan rasa malunya di hadapan keluarga terutama para Abang Arnes yang kesemuanya masih bujangan.
Sesaat tadi terjadi keributan bahkan Bang Zaldi nyaris baku hantam dengan petugas karena simpang siurnya identitas. Tapi setelah Papa Rinto membawa bukti pernikahan mereka meskipun masih hanya salinan. Para anggota akhirnya meminta maaf dan masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan meskipun Bang Zaldi ingin semua ini di selesaikan dengan adu otot.
"Maaf pa. Hanya pengen refreshing sedikit" jawab Bang Zaldi.
Papa Rinto tidak menanyakan apapun lagi karena ia paham menantunya itu pasti membutuhkan privasi dalam urusan rumah tangganya.
...
"Abang minta maaf dek..!!" Bang Zaldi memeluk Arnes dari belakang. Terasa sekali tubuh Arnes gemetar ketakutan saat ia mendekatinya.
"Ya sudah kalau kamu takut, Abang nggak akan paksa kamu, Insya Allah Abang yang akan berhati-hati, belum tentu juga kita akan langsung dapat momongan khan?" bujuk Bang Zaldi.
"Maaf kalau Arnes egois. Arnes hanya butuh waktu untuk bisa menghilangkan sifat kekanakan Arnes. Arnes takut belum mampu melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri dan seorang ibu" kata Arnes.
"Mudah-mudahan butuh waktunya nggak lama dek" kata Bang Zaldi.
"Memang kenapa Bang??" tanya Arnes.
"Yaaaa.. Ada junior Abang yang nggak mau di sikapkan kalau lagi ada maunya"
Mata Arnes berkedip-kedip mencerna perkataan Bang Zaldi.
"Ternyata kamu duluan yang harus di sikapkan biar pinter tenangin junior Abang"
tik..tok..tik..tok..
Arnes menyembunyikan wajahnya di balik guling saat pikirannya mulai terhubung dengan sinyal konsletnya Bang Zaldi.
Bang Zaldi tertawa terkikik melihat tingkah Arnes. Sepertinya malam ini ia harus banyak-banyak istighfar karena ia ingin membuat Arnes nyaman. Bang Zaldi tidak ingin ceroboh dan menjadi suami yang egois karena memikirkan hasratnya saja.
.
.
.
__ADS_1