
Bang Zaldi tersenyum lembut lalu mengecup perut Arnes yang masih rata.
"Sudah berapa minggu?"
"Apa Bang??"
"Sudah telat berapa hari haidnya?" tanya Bang Zaldi.
"Abang tau..? Arnes...????" Arnes cukup terkejut mendengar pertanyaan suaminya.
"Abang nggak bodoh banget dek. Waktu pertama kamu kesini itu, Abang tau itu masa suburmu dan Abang amat sangat menyadarinya. Mau mundur tapi Abang butuh kamu, sudah nggak tahan dua setengah bulan nganggur. " Jawab jujur Bang Zaldi.
"Saat itu Abang stress berat dan butuh 'obat penenang', masalah ini buat Abang hampir gila. Bukan karena Bang Guntur, tapi Abang mencemaskan kamu dan Ibra. Sebenarnya Abang sudah berusaha hati-hati. Tapi mau bilang apalagi mungkin sudah rejekinya Abang harus begini"
Arnes memeluk erat Bang Zaldi. Hanya seperti ini saja yang ia inginkan, tidak mau yang lain.
"Sudah lima minggu Bang" jawabnya.
Bang Zaldi tersenyum. Dalam hatinya terasa campur aduk.
"Hati-hati bawa anak Abang. Papanya masih 'sekolah' nih".
"Arnes nggak mau pulang"
"Nggak bisa donk sayang. Ini bukan rumah. Si dedek nggak akan nyaman tidur di sini"
"Nggak mau.. Arnes mau sama Abang..!!" tangis Arnes semakin menjadi-jadi.
Duuhh.. bagaimana ini? Ngidamnya nggak minta di peluk, minta di sayang terus.
"Dek.. kasihan Ibra lho, dia pasti cari mamanya" bujuk Bang Zaldi.
"Abang nggak mau ya sama Arnes? Nggak sayang Arnes lagi??" rengeknya semakin tak terkendali. Arnes terus menangis hingga akhirnya kembali kehilangan kesadaran.
//
"Istri pak Zaldi mengalami perubahan hormon awal kehamilan. Jadi rasa ingin selalu dekat dengan suami itu wajar. "
"Tapi kehamilan yang sebelumnya tidak begitu dok. Dia mandiri dan kuat sekali" kata Bang Zaldi.
"Ya Tuhan Zaldiiii.. kenapa harus kamu hamili dulu sih Zal????" tegur Papa Rinto yang gusar sambil memijat pelipisnya karena kebingungan dengan situasi yang tidak pas.
Bang Zaldi meminta Papa Rinto untuk tenang dulu sebelum ia menjawab pertanyaan mertuanya.
"Setiap kehamilan itu berbeda-beda pak. Ada yang kali ini kuat sekali, ada yang lemah, ada yang mual parah, ada yang suka banyak makan. Kalau istri bapak ini sepertinya lebih main perasaan. Intinya Bu Arnes butuh perhatian lebih" kata dokter menjelaskan.
:
Papa Rinto berkacak pinggang di hadapan Bang Zaldi yang masih menggenggam tangan Arnes.
"Kamu ceroboh sekali Zal..!!! Bisa-bisanya di saat seperti ini kamu malah tanam modal. Terus bagaimana kalau sudah begini? Arnes nggak mau 'pisah' sama kamu" tegur Papa Rinto.
__ADS_1
Bang Zaldi pun tak kalah gusar. Waktunya bersama Arnes tinggal sedikit lagi, tapi istrinya tidak kunjung sadar dan masih sangat lemas. Bang Zaldi segera berdiri. Ia menemui kepala petugas.
:
Kepala petugas menghela nafas panjang. Ada aturan yang tidak bisa di langgar dan tentunya akan menimbulkan kecemburuan sosial jika Komandan mengabulkan permintaan Bang Zaldi.
Wajah Bang Zaldi nampak muram mendengar penolakan Komandan.
"Ijin Dan. Saya tidak minta banyak. Jika boleh.. hukum bisa menambah masa penahanan saya nanti. Saya hanya ingin menemani istri saya sebentar saja. Minimal sampai sedikit lebih kuat sambil saya memberinya pengertian. Calon anak saya masih terlalu kecil untuk tidak mendapatkan perhatian ibunya Dan"
"Mohon Ijin Dan.. kami ikhlas, kami juga tidak mengalami kecemburuan sosial Dan. Ini masalah yang berbeda. Kami memahami kondisinya" jawab rekan di sel tempat Bang Zaldi tinggal.
"Ijin.. Kami juga" kata rekan yang lain.
"Baiklah Zal, karena ini di luar jalur yang seharusnya.. tolong kamu jaga kepercayaan yang saya beri. Jaga rahasia ini sebaik-baiknya"
...
Bang Zaldi diijinkan pulang ke rumah dengan syarat adanya pengawasan dua anggota yang bergantian berjaga. Rencananya mereka akan pulang ke rumah Papa Rinto yang lain. Tapi saat pulang, Bang Zaldi di hadang oleh rombongan keluarga almarhum Bang Guntur yang tidak terima dengan keputusan hukum.
Istri Bang Guntur mengeluarkan sesuatu dan berlari ingin menerjang Arnes. Secepatnya Bang Zaldi memasang badan untuk melindungi Arnes.
"Awas dek..!!!!"
Sebuah goresan mengenai perut kanan Bang Zaldi, tiba-tiba istri Bang Guntur terjerembab, ia merasa kesakitan pada perutnya.
"Abaaaanngg..!!!" Arnes ketakutan melihat keributan itu.
"Abang nggak apa-apa dek. Kamu yang tenang..!!" ucap Bang Zaldi menenangkan Arnes.
"Aaaahh.. aku nggak mau di repotkan dengan kelahiran bayi, aku nggak siap" kata ibu Bang Guntur yang kemudian berlari masuk ke dalam mobil diikuti keluarga yang lain.. keluarga yang tidak berani melawan ucapan ibu bang Guntur.
Mata istri Bang Guntur berkaca-kaca saat tidak ada satupun keluarga yang peduli padanya.
"Tunggu Bang..!" Arnes menghentikan langkahnya dan membantu istri Bang Guntur.
"Stop..!! Abang nggak mau kamu berurusan dengan wanita ini apapun alasannya. Hargai keputusan Abang..!!!!" ucap Bang Zaldi tegas.
"Bang, dia butuh bantuan kita. Tolong angkat dan bantu dia Bang..!!"
"Arneeeeesss..!!!!!!!" bentak Bang Zaldi sampai Arnes benar-benar terdiam.
"Biar Abang sama Bima yang tangani..!!" kata Bang Seno mencairkan keadaan.
...
"Jangan pedulikan orang lain, saat ini kamu yang butuh di tenangkan dek..!! Abang benar-benar nggak suka dengan sikapmu yang membangkang dan tidak nurut apa kata Abang. Kamu bisa di sayang atau tidak???" nada keras Bang Zaldi membuat Arnes menunduk takut, hatinya terluka.
"Arnes hanya ingin membantunya Bang. Melahirkan itu sakit sekali. Hanya itu saja yang ada dalam pikiran Arnes" Arnes sesenggukan karena Bang Zaldi memarahinya, karena tangisnya juga saat ini mereka berada di rumah sakit untuk menemani istri Guntur.
"Bantu dia..!! Cepat bantu dia seperti keinginanmu..!!!!!!!" kini Bang Zaldi tak bisa menahan rasa marahnya. Pikirannya kacau berantakan. Bayangan tentang penghinaan yang Arnes alami begitu menyiksa batinnya.
__ADS_1
flashback on
Aku melihat gumpalan darah pada sebuah wadah kecil, sudah hancur tak berbentuk lagi. Anakku benar-benar telah pergi meninggalkanku. Mau itu anak pertama, kedua atau ketiga, aku tetap menyayanginya. Aku menguatkan diriku sendiri sebelum berhadapan dengan Arnes yang pasti sama hancurnya denganku. Berkali-kali Arnes tak sadarkan diri membuatku sangat takut.
//
"Anakku Bang, aku kehilangan anakku. Bang Zaldi pasti marah sekali karena Arnes tidak bisa menjaga anaknya"
"Oohh.. Dia.. Guntur menggangguku lagi. Arnes kotor" teriak istriku dalam dekapan Bima. Ucapannya meracau membicarakan ini dan itu.
"Nggak kok dek, dia nggak apa-apakan kamu. Kamu hanya terlalu takut saja. Abang Zaldi khan selalu melindungimu"
"Arnes nggak mau ketemu Bang Zaldi, Arnes takut, malu bertemu dengan Bang Zaldi. Jangan bawa Abang kesini. Arnes nggak mau Abang malu karena punya istri seperti Arnes."
Ya Allah dek, sakit sekali hati Abang ini melihatmu seperti ini. Abang tau hatimu terguncang, Abang pun merasakan kesedihanmu kehilangan anak kita.
Perlahan kulangkahkan kakiku menghampiri Arnes. Bima sengaja meninggalkanku agar aku bisa bicara berdua dengan istriku. Arnes berontak tak karuan. Dia menendangku, melepaskan pelukanku, tidak mau menatap wajahku. Arnes merasa dirinya begitu rendah dan kotor, di situlah rasa sakit hatiku muncul. Aku tidak tahan melihat tangis sedih istriku. Untuk kesekian kalinya istriku kembali tidak sadar. Ingin hatiku menjerit, anak ku, istriku belahan jiwaku.
...
"Istrimu itu seperti wanita murahan yang mau mengikutiku kemana-mana hanya dengan satu janji akan kunikahi" ucap Guntur padahal satu tikaman sudah menghujam perutnya.
"Dia mainan manis buatku, p*****r kecilku"
"Dia bidadari surgaku, ibu dari anak-anakku" Tanpa banyak kata, kuhujamkan satu kali lagi belati baja miliku pada perut Wadanyon, kuhabisi nyawanya saat itu juga, pengganti nyawa anakku, pengganti tangis pilu istriku.
Kutatap tanganku yang bersimbah darah. Darah manusia yang menyakitimu istriku. Apa yang tidak kulakukan untukmu, sungguh aku begitu mencintaimu. Jika bisa aku meminta pada Tuhan.. Hanya bahagiamu saja yang aku mau.
Tuhan, kuterima segala nikmat yang Kau beri. Biar ku tebus nanti segala yang kuperbuat di dunia ini. Tolong bahagiakan gadisku, tak peduli betapa pun buruknya diriku.
Arnesku tersayang, mungkin Abang bukan pria yang terbaik untukmu di dunia ini, tapi Abang sanggup memastikan mata ini hanya untuk memandangmu, hanya tangan ini mendekapmu, hanya tubuh ini yang menghangatkan mu, tidak ada Arnes lain di hati ini. Hanya kamu.. segalanya dalam diri ini hanya milikmu.. Nyonya Zaldi Kesayangan.
flashback off
Arnes memeluk punggung Bang Zaldi dengan erat.
"Abaang.. maaf..!! Arnes nggak mau Abang marah"
Mendengar isak tangis istrinya, hati Bang Zaldi menjadi tidak tega. Ia pun luluh tanpa syarat. Bang Zaldi ingin berbalik dan memeluk istrinya tapi nampaknya Arnes terlalu takut Bang Zaldi berlalu pergi.
"Karepmu iki piye dek, Ojo nangis wae" Bang Zaldi melepas pelukan Arnes dan berbalik untuk memeluknya.
"Ngaleme prawane Mas Zaldi, njaluke opo to ndhuk..!!!" ucap Bang Zaldi gemas tak peduli dengan orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Yang ia tau saat ini hanya bagaimana caranya mengatasi bumilnya yang super rewel.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.