
"Bang Zaldi.. Arnes mau ketemu Bang Zaldi. Pengen denger suara Abang" rengek Arnes. Nampaknya sang jabang bayi sedang merindukan papanya.
"Nggak bisa Nes..!! Kamu jangan rewel. Kamu mau hidup dengan laki-laki yang tidak punya perasaan seperti Bang Zaldi??"
"Abaaaanngg.." Arnes terus menangis mencari Bang Zaldi. Ia menangis sesenggukan membuat Bang Bima kebingungan.
"Bang, biarkan Arnes bertemu suaminya. Kasihan dia. Abang tega lihat adik Abang seperti ini terus?" bujuk Mbak Puri.
"Abang lebih nggak tega lagi kalau Bang Zaldi terus menyiksanya. Tangan laki-laki itu untuk melindungi, bukan untuk menyakiti sampai seperti itu" jawab Bang Bima.
"Itu bukan maunya Bang. Semua di lakukan di bawah alam sadar. Kalau Abang yang mengalaminya bagaimana??" kata mbak Puri.
Bang Bima begitu dilema. Disisi lain Bang Bima sangat menyayangi adiknya tapi dirinya tidak tega dan tidak bisa menerima perlakuan Bang Zaldi yang sudah menyakiti adiknya.
"Kasihan keponakan Abang. Biarkan dia dengar suara suaminya. Namanya ngidam Bang"
//
Usai mual Bang Zaldi tidak bisa makan apapun. Ia mencemaskan keadaan Arnes. Badannya lemas dan letih.
"Istri saya bagaimana Di?" tanya Bang Zaldi.
"Bang Bima mengurungnya di dalam kamar agar tidak menemui Abang. Sejak sadar tidak berhenti menangis. Mungkin bawaan bayinya sedang ingin di manja Abang" jawab Om Adi.
Bang Zaldi bangkit dan berjalan ke barak sebelah tempat Arnes di rawat.
"Jangan Bang..!! Bang Bima bisa marah"
"Mau remuk pun saya nggak peduli, anak istri saya lebih penting daripada hancurnya badan saya" jawab Bang Zaldi.
:
Para anggota membiarkan Bang Zaldi melihat Arnes yang terbaring menangis di ranjang. Bang Zaldi mengintipnya dengan wajah pias. Air matanya berlelehan, dadanya masih berasa sesak dan sakit.
Ia melihat beraneka bunga mawar di taman depan barak. Bang Zaldi pun memetiknya. Bunga mawar merah, putih, pink dan kuning.
"Markus, tolong ambilkan........"
:
Bang Zaldi menarik nafas dalam-dalam. Ditepisnya segala rasa campur aduk dalam batinnya.
"Fyyuuuhh.. kuat..kuat.. kuat. semangat Zal..!!" gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Di hapusnya air mata di bingkai matanya.
Bang Zaldi duduk di bawah jendela lalu memetik gitar di pangkuannya.
Kau mau aku apa pasti kan ku beri
Kau minta apa akan ku turuti
Walau harus aku terlelap dan letih
Ini demi kamu sayang
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Arnes menangis, suara Bang Zaldi sungguh menyentuh batinnya. Duduk disana, Bang Zaldi pun tak kuat dan meneteskan air mata.
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Di setiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
__ADS_1
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Tuhan tolong aku jaga jaga dia
Tuhan ku pun sayang dia
Oh Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
tok..tok..tok..
Bang Zaldi mengetuk jendela kaca di kamar Arnes.
"Dek.. ini Abang kirim bunga untuk kamu. Semoga kamu baik-baik saja sayang" tangannya memasukan bunga mawar tersebut lewat jendela.
Bang Bima ingin mencegahnya, tapi ada dua tangan lebih dulu mencegahnya.
"Biarkan adikmu tersenyum dulu. Dia rindu dengan suaminya" tegur Papa Rinto. Bang Seno pun sampai mencengkeram bahu Bang Bima.
Arnes berjalan tertatih, ia mengambil bunga mawar itu lalu memeluk tangan Bang Zaldi.
"Arnes pengen di sayang Abang"
"Sabar dek. Nanti Abang sayang" jawab Bang Zaldi yang sebenarnya tak tau kapan bisa memeluk istrinya kembali.
"Ijin Dan. Ini kunci kamar Ibu" kata Made.
"Terima kasih Made"
"Siap.. sama-sama Dan"
Bang Zaldi segera membuka pintu kamar Arnes. Ia pun melangkah cepat memeluk istrinya yang hampir ambruk lalu membawanya ke ranjang.
"Sudah jangan nangis. Ini Abang disini" ucapnya setenang mungkin meskipun rasa cemasnya begitu luar biasa. Ia melihat nakas di samping ranjang. Makanan kiriman bibi belum tersentuh.
"Sudah makan apa belum? Kenapa makanannya utuh?"
"Nggak enak makan Bang" jawab jujur Arnes.
"Abang suapi ya..!! Bibi masak soto Betawi lho"
"Nggak mau" Arnes memalingkan wajahnya karena memang tidak berselera makan.
"Hmm.. kalau pacaran di kolam ikan mau nggak, lama sekali kita nggak pacaran" ajak Bang Zaldi.
Arnes tersenyum dan mengangguk. Bang Zaldi mengambil ponsel dari sakunya.
...
Tanpa Arnes sadari, Bang Zaldi sudah berhasil menyuapi makanan apapun yang ada di sana. Brownies, kacang goreng, nasi pecel, jus alpukat semua masuk ke perut Arnes.
"Aaaahh Abang.. Ayamnya kesini" Arnes sedikit bergeser dari duduknya karena beberapa kawanan ayam mendekati Arnes yang sedang membawa pipilan jagung kering.
"Lempar jagungnya kesana lho dek, kalau kamu bawa terus ya di incar si ayam" kata Bang Zaldi sambil memijat pangkal hidungnya.
Dengan cepat Arnes membuang pipilan jagung itu.
"Uuuhh.. selamat" gumamnya penuh kelegaan. Sontak tingkah Arnes itu mengundang tawa Bang Zaldi.
"Kalau main burungnya Abang berani nggak??" tanya Bang Zaldi.
Seketika wajah Arnes memerah, semerah tomat rebus.
"Iihh Abang, tanyanya kenapa gitu sih?"
__ADS_1
Bang Zaldi pun tertawa lagi melihat ekspresi imut sang istri. Kemudian ia bersiul. Tak lama datanglah seekor burung rajawali dan hinggap di tangan Bang Zaldi.
"Hwaaaaaaaaa.. Abaaaanngg.. takuuut" pekik Arnes sudah bersiap melarikan diri.
"Jangan lari. Betty nggak jahat" ucapnya.
"Iiisshh.. kenapa sih Abang selalu cari hewan betina????" protes Arnes.
"Abang belum sempat berburu jantannya. Kamu hamil begini masa Abang berburu" balas Bang Zaldi.
"Nggak usah di kasih jantan deh Bang. Abang khan sudah jantan" ucap Arnes.
"Iidiihh.. belajar nakal darimana ini Bu DanSat??" ledek Bang Zaldi mendengar celoteh nakal sang istri.
"Dari Abang lah, Owa jantan"
"Huuusshh.. aseem tenan. Owa jantan ini yang kamu cari" kata Bang Zaldi.
Arnes mengapit lengan Bang Zaldi.
"Iya, karena Arnes suka Owa yang ini"
"Abang.. kita pulang yuk..!!"
Bang Zaldi membelai pipi Arnes yang masih terasa hangat.
"Abang belum bisa pulang, Abang masih berbahaya untuk kamu dan anak-anak, nggak mau kamu dan anak kita sampai kenapa-kenapa"
"Arnes nggak apa-apa Bang. Arnes nggak takut"
"Abang yang takut, Abang yang cemas. Anak ini belum tau apa-apa untuk dapat kemarahan papanya yang seorang pecandu. Papanya pria tidak berguna yang hanya bisa menyakiti mamanya" jawab Bang Zaldi.
"Anak kita ini tau papanya adalah sosok yang hebat, kebanggaan negara ini. Apapun keadaan papa, dedek sayang papa" jawab Arnes.
Bang Zaldi memeluk Arnes. Tangisnya pecah seketika, hari ini rasanya dirinya sudah tidak kuat menahan segala beban dalam dada.
"Maafin Abang, Abang yang sudah membawamu hidup menderita bersama Abang. Jika kamu tidak kuat, kamu boleh mencari kebahagiaanmu sendiri. Abang ikhlas"
Arnes ikut menangis mendengarnya.
"Kenapa Abang begitu mengecewakanku, hanya seperti inikah perjuangan Abang atas pernikahan kita??? Arnes berjuang mencintai Abang tapi Abang selemah ini"
"Abang tidak pantas untuk kamu. Kamu lihatlah keadaan Abang yang berantakan. Abang sangat mencintaimu, Abang tidak ingin kamu sakit karena Abang yang tidak bisa membahagiakanmu. Asal kamu bahagia, Abang ikhlas.
"Lalu apa yang akan Abang lakukan kalau kita tidak bersama??? Arnes menikah lagi untuk mencari yang lebih baik?? atau Abang yang menikah lagi dan mencari lagi yang lebih baik" teriak Arnes.
"Seumur hidup Abang, tidak akan pernah Abang menikahi wanita lain. Arnesia satu-satunya wanita di hati Abang. Cukup kamu saja bidadari yang Abang miliki" jawabnya menahan sakitnya perasaan.
"Abang bohong. Kalau Abang mencintai Arnes seharusnya Abang tidak katakan hal itu" Arnes menangis kecewa dan memberontak dari dekapan Bang Zaldi.
"Buanglah Arnes, dan Abang akan kehilangan dua bidadari dalam hidup Abang"
Seketika Bang Zaldi menyadari sesuatu. Ia menubruk Arnes, tangisnya begitu histeris.
"Darimana kamu tau dia bidadari kecil Abang?"
"Tante Mey yang urus semua cek lab dan beritau Arnes" jawab Arnes.
"Alhamdulillah Ya Allah... " Bang Zaldi menciumi perut Arnes, sungguh batinnya tersayat perih.
"Maafkan papa putriku sayang. Papa sudah menyakitimu dan mama"
Tak ada yang lebih merapuhkan perasaan seorang Zaldi selain istri tercintanya dan kini bertambah satu lagi, calon bayi kecilnya. Putri yang begitu inginkan hadirnya.
"Lepaskan Arnes.. itu khan yang Abang mau..!!" ancam Arnes sambil melepas dekapan Bang Zaldi tapi suaminya itu enggan melepasnya.
"Nggak dek.. nggak. Ampuuun.. Abang nggak berani lagi bilang macam-macam" Bang Zaldi merengek menangis meraung-raung penuh sesal.
Arnes menyentil bibir Bang Zaldi berkali-kali.
"Ampuun dek..!!!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.