
Bang Rinto menemui Anye di kamar rawatnya. Ia tidak ingin seorang pun membantunya, ia ingin menyelesaikan segala perbuatan yang sudah ia lakukan. Di tahannya segala rasakiapapun yang ia rasakan saat itu.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Bang Rinto yang sebenarnya menyimpan rasa bersalah yang sangat menyiksa.
"Kenapa Abang nggak pernah bilang kalau keadaan anak kita seburuk itu? Apakah dengan berbohong bisa mengurangi salah paham di antara kita?" tanya Anye.
"Maafkan Abang..!! Abang sadar Abang salah..!!" Bang Rinto sulit mengungkapkan segala salahnya karena memang sudah terlalu banyak kesalahannya kali ini.
"Puaskah Abang setelah menyakiti anak kita seperti ini?"
"Abang menyesal" Bang Rinto menyentuh tangan Anye, tangannya begitu dingin tak sanggup merasakan kesedihan Anye.
"Apa yang harus Abang perbuat biar kamu nggak marah lagi?"
"Nggak ada, percuma Anye memberi kesempatan. Kalau Abang marah, Abang tidak akan mau mendengar semua perkataan Anye.. jadi untuk apa Anye jadi istri Abang" ucap Anye meskipun dalam hatinya pun sakit mengatakan hal ini.
"Jangan bilang begitu dek. Abang mohon..!!" hati Rinto begitu terluka mendengar perkataan Anye.
"Terus Anye harus apa? Ketidak jujuran Abang sudah menyakiti hati Anye. Batin Anye tersiksa Bang" ucap Anye.
"Apa kamu pikir Abang tidak tersiksa saat tau anak kita tidak baik-baik saja saat kamu menunggu Abang pulang? Berat badannya tidak bertambah, begitu pula dengan kamu. Saat usia kehamilan seperti ini, naluri ingin disayangmu begitu kuat, Abang bilang mampu untuk menahan semuanya.. tapi dalam kondisi seperti ini hatimu sulit menerima kenyataan, Abang pahami kondisimu. Saat kita sedang di ambang stress yang tinggi, masuklah Sheila dan Bang Candra. Naluri pria Abang muncul di saat yang tidak tepat dan perasaan sensitifmu ikut berperan disini" Bang Rinto mencoba terus membujuk istrinya.
"Abang juga terpojok pada pilihan yang sulit. Sumpah demi Allah semalam Abang khilaf sampai menyakitimu.. Abang minta maaf sudah mengabaikan hak mu sebagai istri Abang"
"Anye ingin tenang dulu Bang" jawab Anye.
"Apa maumu? Abang turuti" tanya Bang Rinto sehalus mungkin.
"Anye ingin kita pisah dulu Bang. Sementara tidak bertemu" jawab Anye lagi.
"Sayang, bisakah kita tidak berpisah lagi? Satu tahun lebih berpisah sama kamu rasanya sudah buat Abang hampir gila. Abang nggak kuat pisah lama sama kamu" pinta Bang Rinto penuh permohonan.
"Anye ingin koreksi diri sekali lagi"
Daripada perdebatan akan semakin panjang, Bang Rinto sementara menyanggupi permintaan Anye. Dalam hatinya, tidak ada yang bisa di perbaiki, bahkan pertengkaran sekalipun.
"Baiklah.. asalkan kamu nyaman, Abang akan turuti segala keinginanmu!!" Bang Rinto mengecup tepi bibir Anye dengan sayang. Bang Rinto tidak ingin Anye marah jika ia melakukan hal lebih.
***
Bang Rinto mendapatkan perawatan oksigen setelah kembali dari ruang rawat Anye. Ia nampak kesakitan sekali disana.
"Nafas pelan Rin.. Kira-kira Anye tau nggak keadaanmu seperti ini?" tanya Bang Arben sambil mengusap sisa darah di tepi bibir Rinto.
__ADS_1
"Kalau Anye sudah lebih sehat baru saya bilang Bang. Anyee sendiri sedang butuh perawatan. Apalagi anak kami butuh perhatian ekstra. Mana mungkin saya bebani pikiran istri saya dengan masalah remeh seperti ini" jawab Rinto.
"Rin, selain mualmu yang kacau. Luka dalam mu cukup parah. Untung saja tidak infeksi yang parah juga, belum yang lainnya. Abang nggak bisa bayangkan kenapa kamu bisa tahan semuanya"
"Karena anak dan istri adalah semangat hidupku Bang" jawab Rinto.
"Sudah enakan Bang?" tanya Gathan saat melihat Abangnya begitu lemas. Ia membawakan keladi untuk Abangnya itu.
"Jangan lihat Abang seperti orang penyakitan" jawab Bang Rinto.
Gathan tersenyum getir melihat semua ini begitu rumit untuk di jabarkan.
"Bagaimana keadaan Anye?" tanya Bang Rinto.
"Nggak mau makan Bang. Wajahnya murung saja" jawab Gathan.
"Gathan.. tolong belikan otak-otak ikan dan milkshake mangga. Kamu kirimkan langsung ke kamar istri saya" pintanya pada Gathan.
...
"Waahh.. Abang bawa otak-otak ikan? Anye mau..!!" ajaib sekali Anye langsung membuka bungkusan mau menghabiskan otak-otak ikan itu.
Gathan tersenyum lega, ia mengirimkan pesan pada Abangnya.
Herder Batalyon : Awasi terus makannya.
Me : Siap!!
"Bang.. Apa Bang Rinto terlihat nyaman sendirian di rumah?" tanya Anye.
Gathan begitu miris melihat adiknya menanyakan sang suami.
"Kalau rindu kenapa nggak hubungi suamimu?" jawab Bang Gathan.
"Anye nggak rindu" jawabnya membual.
"Apa kamu sedang bersiap diri kalau Abangmu yang gagah itu di rebut Sheila?" tanya Bang Gathan.
"Apa maksud Abang?"
"Abang tau maksud hatimu, kamu mungkin takut dengan sikap Bang Rinto khan?"
Anye diam saja mendengar pertanyaan Bang Gathan.
__ADS_1
"Semakin kamu menjauh dari Bang Rinto, semakin membuka celah wanita lain untuk mendekat dan kamu setidaknya mau tidak mau harus belajar ikhlas memahami suamimu juga" kata Bang Gathan.
Anye mengingat, dalam kejadian malam itu Bang Rinto memang sangat keterlaluan dan membuatnya kesakitan, tapi harus ia akui suaminya masih memikirkan ia dan bayinya saat Bang Rinto masih bertanya 'Nyaman atau tidak' padanya. Mungkin faktor yang menyebabkan dirinya jadi begini adalah karena dirinya terlalu banyak pikiran.
-_-_-_-_-
"Abaang..!!" Tengah malam buta, Anye menangis dalam tidurnya. Ia sangat merindukan Bang Rinto.
"Rindu saja masih belaga dek" Bang Rinto mengusap pipi Anye lalu menciumnya. Entah apa yang membawanya sampai ke kamar rawat Anye, tapi benar saja. Istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Bang Rinto perlahan naik ke atas ranjang Anye dan masuk ke dalam satu selimut memeluk dan membelai hangat tubuh Anye.
"Abaang.. yang ini...!!!" gumamnya tak sadar jika ia sedang bermanja dengan suaminya. Anye meminta agar tangan itu mengusap badan bagian depannya.
"Capek ya sayang?" tanya Bang Rinto. Anye hanya menjawab dengan anggukan pelan.
Bang Rinto mengusap badan Anye hingga istrinya itu merasa nyaman, tanpa sadar Anye berbalik hingga mereka berdua saling beradu perut. Saat tangan Bang Rinto berhenti mengusap badannya, sang istri langsung mencari tangan Bang Rinto. Saat itu Bang Rinto merasakan ada tendangan kuat di perutnya dan Anye sedikit menggeliat dan memercing kecil.
"Hhsstt.. adek.. jangan ganggu mama nak. Kasihan mama.. Kamu papa peluk aja ya..! Papa pijat mama dulu..!!" ucap Bang Rinto berbisik pada bayinya saat Anye sudah mendekapnya seperti guling.
"Aduuhh dek.. tingkahmu...!! Kalau ada perawat yang jaga pria bagaimana...???" Bang Rinto menurunkan dress Anye yang tersingkap lalu mengapit dengan pahanya dan menutupnya dengan selimut.
...
"Ijin Dan.. tidak ada dimana-mana" kata Alex melapor pada Gathan bahwa Rinto tidak ada di kamarnya.
"Cari sampai dapat..!! Danki terluka parah, tidak mungkin kuat lari untuk kabur" perintah Gathan. Seluruh anggota berusaha mencari Danki A kemana-kemana.
Sampai pada saat petugas piket malam di lorong tempat istri Danki di rawat, seorang petugas piket itu melapor jika ada seorang pria yang masuk ke dalam ruangan Ibu Danki.
Gathan yang mendengar itu segera memeriksa ke kamar adiknya.
"Astagfirullah Abang???? Semua ajudan dan beberapa anggota sibuk cari Abang ternyata Abang malah asyik menghangatkan badan disini..!!"
Gathan mengambil ponsel lalu menghubungi Alex.
"Jangan cemas.. Danki disini..! Istirahat lah kalian" perintah Gathan.
"Siap Dan. Ijin Dan.. Ada yang mencurigakan di sekitar kamar Danki..!!" Alex melaporkan sesuatu.
.
.
__ADS_1
.