Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 30. Mencoba peruntungan.


__ADS_3

"Abang nggak mau tau. Bulan depan junior Abang harus sudah sampai perut mamanya. Abang malu dek. Di tuduh terus tapi nggak pernah jadi. Sekalian saja Abang jadikan. Beres perkara" ucap kesal Bang Zaldi.


"Kenapa malu? Banyak pasangan yang belum punya momongan sampai dalam jangka waktu yang lama karena berbagai alasan" jawab Arnes.


"Kamu meremehkan Abang?? Jangan sampai kamu nangis kalau perutmu sudah kembung" ledek Bang Zaldi.


"Arnes nggak mau hamil" pekik Arnes.


"Harus mau..!!! Itu sudah resiko kamu menikah sama om-om" ucap Bang Zaldi tanpa bantahan.


"Oke.. dengan satu syarat kalau kita sudah kembali ke Batalyon, Arnes boleh kerja" kata Arnes.


"Abang ijinkan, tapi kalau ternyata kamu hamil.. kamu harus berhenti. Abang nggak mau ambil resiko apapun"


Arnes mengulurkan jari kelingkingnya tanda setuju. Bang Zaldi gemas melihat gaya Arnes yang sangat menggemaskan.


-_-_-_-_-


Setelah mengingat dan menimbang maka Bang Zaldi memutuskan tidak berangkat untuk mengawasi pembangunan rumah Nuning. Bang Zaldi meminta agar Righan yang berangkat mengawasi dan melaporkan hasil kerja hari ini daripada calon induk macan ngambek lagi.


Sudah berjam-jam lamanya Arnes tetap diam padahal mereka sudah 'baikan'.


"Dek.. makan malam dulu yuk..!!" ajak Bang Zaldi.


"Nggak lapar" jawab Arnes sambil menutupi wajahnya dengan selimut. Ia masih tetap setia tidur di 'bawah' karena memang tidak ada ranjang disana dan Arnes pun tidak bisa mengunakan Velbed.


"Tapi harus makan donk. Nanti masuk angin"


"Abang sana..!! Arnes nggak mau dekat sama Abang"


Innalilahi.. sekali salah, menderitanya bisa seharian nih. Sabaarr.. sabaaaaarr..


"Kamu nggak pengen lihat suasana malam di desa dek?" tanya Bang Zaldi.


"Tuh khan.. Abang tuh memang nggak ada niat diam di barak. Pasti Abang penasaran pengen pengen lihat si Nuning itu khan?" cecar Arnes.


"Ya ampun dek.. Abang itu mau ajak kamu liat luar. Kenapa bawa-bawa si Nuning lagi?"


"Kalau Abang niat ajak Arnes.. kenapa kemarin malah buat dipan. Nggak ajak Arnes jalan-jalan"


"Allahu Akbar.. Ini papanya waktu nyetak miring kemana sih??" Bang Zaldi mengusap dada tak sanggup lagi berdebat dengan istrinya. Ia bukan wanita suka ghibah yang suka membalas omongan yang tidak bermakna.


"Kalau nggak mau ya sudah.. Abang tinggal nih" Bang Zaldi pun pergi meninggalkan Arnes yang masih bergelung dengan selimut.


Arnes menendang kesal hingga selimutnya berserakan.


"Dasar om-om. Hal kecil saja nggak peka"


...


Bang Zaldi sedang sibuk menggoreng nasi. Ia tersenyum melihat Arnes membawa beras dan beberapa kebutuhan pokok disana. Istrinya itu tau sikon kalau memang di pedalaman semua serba di jatah. Karena kedatangan Arnes itu para anggota dua hari ini bisa makan dengan bebas. Tak hanya merasakan makan sagu atau jagung saja. Sepertinya ia pun merasa sedikit kesal karena para anggota satgas kali ini sangat mengidolakan Arnes. Hanya satgas ini juga yang tau kalau dirinya sudah menikah dengan Arnes.


"Ijin Dan.. ada yang bisa di bantu??" tanya seorang anggota.


"Nggak.. ini hadiah untuk membujuk istri saya. Jadi saya yang akan membuatnya sendiri" kata Bang Zaldi.


"Siap Dan..!!" anggota tersebut segera meninggalkan tempat.

__ADS_1


"Yowes ben, nduwe bojo sing galak


Yowes ben, sing omongane sengak


Seneng nggawe aku susah


Nanging aku wegah pisah


Tak tompo nganggo tulus ing ati


Tak trimo sliramu tekan saiki


Mungkin wis dadi jodone


Senajan kahanane koyo ngene" Bang Zaldi bersenandung menyanyikan sebuah lagu sambil menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan gaya khasnya tapi terlihat luwes.


"Pokoke aku tanpamu bagaikan sego kucing ilang karete. Ambyaaar. Bismillah.. rasah mecucu.. ai lap yuu" gumam Bang Zaldi.


...


Bang Zaldi membawakan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat untuk Arnes.


"Dek.. Abang buat nasi goreng nih. Makan ya..!!" bujuk Bang Zaldi.


Arnes melirik sekilas, ada nasi goreng di piring hadiah sabun cuci. Wanginya begitu enak, menggoda menusuk hidung. Perutnya yang tak tau diri akhirnya membuat marahnya luntur karena bunyi cacing bertarung sudah terlanjur terdengar sampai telinga Bang Zaldi. Lettu senior itu tidak berani uji nyali untuk menertawai istrinya karena situasi dan kondisi masih dalam status waspada.


"Abang suapi ya?" tanya Bang Zaldi.


Arnes mengangguk memasang wajah gengsi padahal hatinya sedang berbunga ternyata Bang Zaldi pergi bukan untuk menghindarinya melainkan mencari cara untuk membujuknya.


"Enak??" tanya Bang Zaldi saat Arnes sudah menikmati suapan pertamanya.


"Arnes besok mau pulang saja" kata Arnes.


"Iya.." jawab Bang Zaldi kurang fokus setiap berdekatan dengan Arnes.


"Abang usir Arnes"


"Ya Allah Ya Rabb.. siapa yang mau usir sih dek. Ini tadi Abang dengar kalau aplosan jadi maju besok dan anggota pengganti baru saja jalan kesini. Jadi sebentar lagi kita packing" Bang Zaldi sudah was-was saja kalau sampai Arnes kembali ngmbek.


Arnes melengos menyembunyikan wajahnya yang menyimpan senyum geli melihat ekspresi panik Bang Zaldi.


"Ayo makan lagi..!!" Bang Zaldi kembali menyuapi Arnes. Wajah istrinya itu seperti masih menyimpan dendam kesumat.


"Kenapa wajahmu di tekuk seperti mau santet Abang begitu?"


"Arnes memang masih kesal sama Abang" jawab Arnes terdengar tak main-main.


Duuuhh... kalau ngambek susah donk ini. Harus bagaimana nih biar Arnes nempel sama aku.


...


Malam sudah tiba.. Bang Zaldi duduk bergabung dengan rekannya tapi pikirannya tidak disana.


"Eehh.. kain motif bunga itu punya siapa??" tanya Bang Zaldi.


"Ijin.. itu khan inventaris ruang kantor Dan.."

__ADS_1


"Saya pinjam dulu.."


#


Bang Zaldi mengendap masuk ke dalam kamar. Ia mengambil tas kecil milik Arnes. Benar saja, ada makeup lengkap disana. Bang Zaldi mengambil masker wajah bengkoang milik Arnes lalu meratakan keseluruh wajah dan mengipasi wajahnya menggunakan potongan kardus kecil agar masker itu cepat kering. Setelah kering.. Bang Zaldi memakai eye shadow berwarna hitam untuk menggelapkan matanya lalu menindasnya dengan pensil alis agar lebih pekat. Bibir yang biasa ia gunakan untuk menghisap rokok itu pun ia warnai merah darah menggunakan lipstik yang ada di pallet make up Arnes.


"Naahh.. mirip. Kalau sudah begini pasti kamu mintanya tidur ditemani Abang" ucapnya begitu yakin.


Wajahnya sudah siap. Bang Zaldi membakar 'kemenyan' yang ia minta dari pak ustadz desa usai sholat isya tadi. Ia pun memakai sprei itu, kemudian mengikatnya dan mulai beraksi.


//


Arnes tidur nyenyak dengan posisi cukup menanttang membuat Bang Zaldi salah tingkah. Ia merasa terjebak dengan ulahnya sendiri. Arnes memeluknya seperti guling dengan begitu erat. Tangan itu tidak bisa diam naik turun menyentuhnya.


"Aarrghh.." Sedikit banyak tentu nalurinya tergerak juga saat ada tangan tak sengaja menyenggolnya, nafasnya memburu ingin menyambar bibir berwarna pink cantik di hadapannya.


Saat Bang Zaldi berusaha mendekat. Mata Arnes melotot terbuka lebar.


"Hwaaaaaaaaaaaaaaaa......" teriaknya membangunkan para anggota tepat di jam dua belas malam.


buugghhhh.. baaaggghhhhhh.. plaaaakk...


Arnes menghajar Bang Zaldi bertubi-tubi tanpa ampun. Bang Zaldi kesulitan menghindar karena ia hanya menyisakan wajah di balik kostum pocongnya.


"Ampuuuunn dek..!!!!!" pekik Bang Zaldi yang tak mungkin membalas istrinya.


tok..tok..tok..


"Bang.. Abang.. Kenapa Bang???" Bang Righan panik sampai mengetuk pintu kamar Bang Zaldi dengan kencang.


"Uhuuukk.. sudah dek.. ini Abang"


"Haahh... Abang???" Arnes kaget dan melepas semua tali di badan Bang Zaldi.


"Ini nggak lucu Bang..!!!!"


//


"Abang ceroboh sekali. Arnes ini ikut Kempo" kata Bang Righan.


"Untung saja Abang nggak apa-apa"


"Astaga.. kamu kok nggak pernah cerita dek" tegur Bang Zaldi bingung merasakan tubuhnya yang kesakitan usai di hantam Arnes.


"Ya Allah dek.. Kamu hajar Abang tepat di semua titik vital. Kalau Abang nggak tahan pakai tenaga dalam.. bisa mati Abang dek"


"Lagian Abang kenapa main pocong tengah malam. Apa sich maunya Abang??????" tanya Arnes tak paham dengan kelakuan Bang Zaldi.


Bang Zaldi melirik Righan dan kakak iparnya itu mengalihkan pandangan seolah tidak mendengarnya.


"Bobok sama kamu" ucapnya jujur sambil menahan malunya dengan wajah gengsi itu tak pernah hilang. Melihat wajah memelas Bang Zaldi.. Arnes menjadi tidak tega.


"Hiihh.. kalau nggak suami, sudah Arnes lempar juga nih" gerutunya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2