
Akad nikah sudah di laksanakan. Ezhar sudah resmi menjadi suami Annisa. Tentara wanita pilihan hati Bang Ezhar. Tidak ada pesta meriah mengingat ada suasana keprihatinan disana dan itu tidak menjadi masalah untuk Annisa. Mereka meminta melangsungkan pernikahan di malam hari karena mengingat berada di dalam bulan suci.
Senyum papa Ardi mengembang karena putra pertamanya dengan Adinda sudah melepas masa lajangnya. Begitu pula dengan Dinda yang tak bisa menahan rasa harunya apalagi jika ia mengingat masa mengandung dan melahirkan Ezhar ke dunia.
"Anakmu tetap menjadi milikmu, jangan menangis" kata Ayah Rama sambil menggendong Mey.
"Anye yah?" tanya Anye mengalihkan rasa harunya.
"Kamu milik suamimu, tapi kamu tetap putri kesayangan Ayah"
Anye pun ikut memeluk ayahnya dengan erat dan baru melepasnya saat baby Sen menangis.
***
Tiba hari dimana sidang BAP di laksanakan. Bang Ezhar memberikan bukti jika teman ibu Wiza yang memulai segalanya lebih dulu dan istri dari Kapten Rinto hanya membela diri. Semua terekam dalam video yang tidak sengaja merekam kejadian itu saat kemungkinan besar Anye tidak sengaja menyentuh tombol video. Bukti itu sudah Ezhar salin.
Kemudian menjelaskan jika Rinto datang dan menghajar Bobby karena pria itu telah melecehkan Anye.
Ibu Wiza marah dan tidak terima. Ia tetap menganggap Anye yang menggoda Bobby tapi semua bukti sudah mementahkan tuduhan itu. Akibat amarahnya yang tidak terkendali, ibu Wiza di keluarkan dari ruangan.
Mengingat Kapten Rinto memiliki dedikasi yang tinggi serta berkali-kali melakukan tugas dengan baik bahkan tidak pernah ada cacat tugas, maka ada pertimbangan yang membuat Rinto terbebas dengan beberapa syarat.
...
"Kamu harus berangkat tugas untuk misi keamanan negara di perbatasan..!! Kamu sanggup??"
"Siap.. sanggup Komandan..!!" jawab Rinto dengan tegas.
"Laksanakan tugasmu dengan baik. Kami titipkan negara dalam pundakmu juga..!!"
"Siap laksanakan..!!!"
***
"Abang berangkat tugas?" Sekar seperti tidak rela jika sang suami berangkat tugas.
"Sayang.. Abang harus berangkat. Ini tugas Abang" Gathan melihat Sekar begitu berat untuk jauh darinya.
"Hanya sebentar sayang"
"Cepatlah kembali Bang. Anak Abang menunggu" kata Sekar.
"Iya dek"
***
Pasukan sudah di berangkatkan. Bang Rinto melihat ponselnya. Ada foto anak istrinya, ia menciumnya.
"Doakan Papa. Papa sayang kalian" gumam Rinto.
***
Hari berganti. Bulan suci terlewat tanpa senyum menghiasi hari istri Danki A. Hanya putra kecilnya penyemangat hidupnya.
Lima bulan telah berlalu, berita darurat telah ditetapkan. Pasukan pertama membutuhkan bantuan. Negara mengirim pasukan dari Batalyon lain tapi hati Ezhar tergerak. Di satu sisi.. ada suami adiknya disana, di sisi lain ada adiknya berjuang disana. Ezhar menemui Dan Rival di kantornya.
"Tolong ijinkan saya berangkat..!!" pinta Ezhar.
"Kenapa? Apa alasanmu??"
"Karena................"
***
__ADS_1
Pasukan tambahan sudah datang mengingat situasi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Segelintir pasukan tak akan mampu mengatasi banyaknya lawan di medan tugas.
"Malam ini pergerakan senyap dan penerjunan langsung di titiknya. Kalian siap???" tanya Rinto.
"Kami siap Dan..!!"
...
"Kenapa kamu yang datang?" tanya Bang Rinto yang terkejut saat tau kakak iparnya yang datang.
"Saya tidak tega melihat anak Abang yang hanya bisa diam saat melihat foto pernikahan mama dan papanya. Saya tau Anye menangis setiap hari. Tubuhnya kecil sekali sekarang, tak ada gairah hidup. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya merindukan satu nama"
"Bagaimana dengan istrimu??? Anissa seorang prajurit.. Saya dan Annisa berusaha memahami profesi kami" jawab Ezhar.
"Bismillah.. mudah-mudahan kita tidak menemui banyak halangan" harapan Rinto disana.
"Anakmu juga akan segera lahir. Kita selesaikan besok pagi sampai tuntas"
"Siap..!!" jawab Gathan.
***
Rakit begitu senyap mengikuti arus sungai pasca subuh. Dalam samaran.. para anggota melihat banyaknya pasang mata mengintai. Bang Rinto sanksi untuk melanjutkan di kawasan muara karena arus disana begitu deras.
Belum sempat berucap, dari segala penjuru telah memberondong kawanan musuh yang siap menumpas mereka. Bang Rinto mengabarkan melalui HT bahwa posisi mereka telah terjepit tidak ada jalan ke muara, selain semacam ngarai yang akan membuat mereka mati sia-sia jika melanjutkannya.
"Keluar sekarang..!!"
"Ijin Dan.. Daerah ini penuh binatang buas, di air maupun di darat" kata seorang senior Bintara.
"Saya tau. Selama kita tidak mengusik, kita tidak akan terusik" jawab Rinto yang kemudian berpegangan pada dahan yang menjuntai untuk memanjat pohonnya, diikuti oleh anggota yang lainnya.
Tepat di depan mata, musuh berhadapan dengan mereka. Pertempuran itu tak terelakan lagi.
boooommm....
byuuuurrrrr.....
...
Helikopter terbang melintas. Pergerakan musuh telah habis. Rata dengan tanah tanpa sisa.
-_-_-_-_-
pyaaaarrr...
Anye terkejut saat Sen meraih gelas. Seketika Sen menangis melihat foto papanya. Tak biasanya tangisnya begitu pilu.
"Kenapa nak??" Anye menenangkan putranya.
"Abang.. cepat kasih Anye kabar" gumamnya dalam hati.
***
"Astagfirullah hal adzim" ucap Ardi meremas dadanya.
Rama terduduk lemas di bangkunya tanpa kata.
Para anggota berusaha menenangkan para Komandan mereka yang begitu syok mendengar kabar buruk ini.
"Ijin melaporkan situasi. HT Kapten Rinto di temukan mengapung di sisi ngarai, empat belas anggota gugur, Sisanya luka berat hingga ringan. Musuh dapat di atasi......."
"Segera tarik kembali pasukan. Tugas selesai..!!" ucap Komandan pusat.
__ADS_1
***
Dinda, Yasmin, Anye, Sekar dan Annisa duduk menunggu kabar dengan hati gelisah. Suasana sangat mengharu biru di tempat penyambutan pasukan. Tak lama pesawat mereka mendarat. Tiga belas peti jenasah turun setelah sebelumnya di informasikan bahwa ada total empat belas jenazah di sana.
"Siapa yang tidak di temukan Bang?" tanya Yasmin pada Ardi.
"Salah seorang perwira terbaik kita" jawab Rama melihat satu persatu mata para istri yang sedan duduk di hadapannya.
"Apakah Dinda mengenalnya?" tanya Dinda pada Rama.
"Iya.. kamu sangat mengenalnya.." tapi tatapan mata itu mengarah pada Anye, Sekar dan Annisa.
Seketika Sekar langsung merasakan kontraksi. Anissa diam seribu bahasa, sedangkan Anye kondisinya paling parah karena sampai harus di sangga untuk menguatkan hatinya.
"Siapa Bang?" tanya Dinda lagi.
Para anggota yang masih tersisa di jemput dengan truk ke tempat mereka sedang duduk saat ini. Satu persatu anggota turun dan di sambut peluk hangat histeris keluarga mereka. Perlahan Gathan turun, melihat keluarga terutama istrinya.. ia segera berlari dan memeluk erat mereka. Anye berdiri dari tempatnya, hatinya merasa tidak kuat membayangkan hal yang terjadi.
"Abang janji.. Abang pasti pulang. Abang rindu kamu dek.." seketika Anye menoleh dan melihat suaminya berdiri masih nampak gagah tak jauh darinya. Hanya wajah suaminya yang tidak seperti biasanya. Anye berlari dengan langkah tak seimbang.
"Abaaaaang.. Abaaaaaaanngg.. jangan pergi lagi. Tolong Bang.. Anye takut sekali. Jangan bangunkan Anye kalau ini hanya mimpi" gumamnya ketakutan.
Bang Rinto segera menarik Anye ke dalam pelukannya Begitu sampai di pelukan Bang Rinto, Anye tak mengingat apapun lagi.
"Nggak sayang.. Abang janji" Bang Rinto pun menangisi Anye yang tak sadarkan diri. Sakit di hatinya terasa sekali bagaikan meremukkan dirinya sehancur-hancurnya. Bang Rinto segera membawa Anye ke ambulans darurat bersama dengan seorang istri anggota yang sejak tadi mengasuh dan menemani Sen saat itu.
Terima kasih kamu begitu sabar menunggu Abang. Abang kembali demi kamu dan Sen.
Perlahan Rinto melepas seragam luarnya, ada luka disana.
"Pak Rinto luka?" tanya Bu Joko.
"Nggak apa-apa Bu, luka ini tak terasa. Di dalam nya yang lebih terluka. Anak istri saya menunggu dengan tangis. Itu luka saya yang terdalam" jawab Rinto lirih.
Tak lama Rinto memercing mulai merasakan sakitnya.
"Ijin.. Danki masih kuat?" tanya Alex.
"Saya kuat setelah melihat anak istri saya..!!" ucapnya tegas.
Alex tau Dankinya terlalu memaksakan diri. Alex menarik bahu Rinto agar bersandar padanya, ia memasang cungkup oksigen pada Dankinya itu. Perlahan mata Dankinya terpejam. Sebelah tangannya memegangi tangan istrinya, sebelah lagi meremas dadanya yang mungkin terasa sangat kesakitan. Danki A itu menggigit bibirnya dan terus mengejang menggelinjang.
"Sudah Danki.. tenanglah..!! Semua sudah usai. Danki yang terhebat. Anda adalah Danki luar biasa yang pernah saya kenal" Alex pun sampai menitikan air mata.
"Tidurlah Danki.." ucapnya penuh haru.
...
"Katakan siapa Bang????" tanya Dinda sudah berdiri dengan tidak sabar. Sekali lagi sudah dengan tangisnya.
"Putramu Ezhar..!!!" jawab Rama dengan jujur.
Dinda pun lemas tanpa daya. Tangisnya sudah tidak dapat di bendung lagi. Rama memeluk erat Dinda berharap kepahitan itu akan berkurang.
"Dia putra pertamaku Bang" ucapnya berurai tangis.
Disana Annisa hanya menitikkan air mata.
"Abang.. baru Nissa akan bilang.. Anakmu selalu menunggumu. Tidur yang tenang ya Bang" ucapnya penuh rasa haru sambil mengusap perutnya, usia kandungannya baru dua bulan. Ia menahan isakan tangisnya.
.
.
__ADS_1
.