Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
15. Perhatian.


__ADS_3

Luka terlihat mulai dari wajah hingga kaki Anyelir. Rinto bingung bagaimana mengobati istrinya. Dua hal yang menjadi pertimbangan nya, Anye akan menggodanya atau dia yang akan tergoda.


...


Luka di luar pakaian sudah ia obati. Tapi bagaimana dengan luka yang mungkin ada di dalam pakaian Anye.


"Abang.. punggung sama paha Anye sakit" rengeknya.


"Iya.. iya.. sabar ya..!!" Rinto mengambil selimut dan menutup tubuh Anye.


"Apaan sih Abang.. Badan Anye sakit.. kenapa malah di buntel mirip pepes????" ucap Anye karena merasa Rinto tidak segera cekatan melihat keadaannya. Saking jengkelnya Anye sampai menepis selimutnya.


Tanpa suara, Rinto menyingkap daster Anye. Badannya memang lebam biru di sepanjang punggung Anye juga disekitar pahanya. Ada luka gores dan berdarah juga di balik bajunya itu. Rinto menelan salivanya dengan kasar melihat tubuh sang istri.


"Ini kuat nggak, tadi saja nangis. Lukanya di dalam baju lho dek. Pasti tergesek pakaian" ucapnya menepis rasa tidak nyaman dalam dada.


Anye hanya mengangguk.


"Peluk Abang menyamping biar Abang bisa obati"


Tangan Anye memeluk pinggang Rinto. Perlahan Rinto mengoleskan obat pada punggung Anye. Istrinya tidak berteriak tapi meremas pakaian Rinto sekuatnya.


Melihat Anye kesakitan, ada rasa sakit juga dalam hatinya. Ingatannya selalu tertuju pada saat ia melihat banyak darah lalu kemudian kehilangan Vilia untuk selamanya.


"Astagfirullah hal adzim.." Rinto memejamkan matanya, lalu mempercepat mengobati Anye.


"Abang kenapa?" tanya Anyelir saat melirik wajah Rinto seperti menyimpan banyak beban.


"Nggak apa-apa. Lain kali kamu hati-hati. Jangan bertindak apapun tanpa sepengetahuan Abang" kata Rinto memperingatkan.


#


"Tolong kamu bantu saya pangkas dahan dan rumput di belakang rumah saya..!!" Rinto meminta tolong pada anak buahnya untuk membantunya memangkas rumput di halaman belakang rumahnya.


Rinto meminta tolong mama Dinda untuk menjaga istrinya karena Anyelir sulit menggerakkan badannya.


***


"Masih untung kamu nggak patah tulang" ayah Rama tak habis pikir dengan tingkah putrinya.


"Belakang rumah Abang kotor sekali yah, Anye hanya mau bersihkan saja" jawab Anye dengan santai.


"Tapi nggak usah manjat juga donk sayang. Tingkahmu ini sudah mengalahkan orang utan"


"Sudah yah. Anaknya sudah sakit begini. Masa masih mau di marahi juga" kaya Mama Dinda.


"Rinto juga sudah obatin kok tadi"


#

__ADS_1


Rinto sibuk dengan kegiatannya pangkas rumput. Segala binatang keluar dari semak belukar disana. Kelabang, kalajengking, tikus, kadal dan yang paling parah ular di sekitar tempat jatuhnya Anye tadi. Seketika ia terduduk lemas. Bukan takut pada ular.. tapi takut jika istri kecilnya di patok ular.


"Bahaya rumahmu ini. Ternak ular lu boy?" tegur Brian sambil menurunkan mesin pemangkas rumput di punggungnya. Karena sudah tidak ada pekerjaan, Brian berinisiatif membantu Rinto karena mendengar Bu Danki jatuh dari pohon.


"Nggak kebayang kalau Anye di patok ular" Rinto mengusap wajahnya menepis bayangan buruk yang melintas di kepalanya.


"Hahaha..mending lu patok sendiri khan?" goda Brian.


Rinto hanya tersenyum sekilas. Tak mungkin ia mengumbar rahasia kamarnya dengan Anyelir apalagi ia belum menyentuh istrinya. Gengsi sekali rasanya.


"Cepat di kebut. Nggak pengen gendong bayi kah? Ingat umur" Kata Brian membesarkan hati Rinto.


"Baru 28. Aku juga bukan nggak punya anak. Sayang Allah belum mengijinkan aku memeluk bayiku" ucap Rinto dengan sendu.


Bang Arben melihat wajah Rinto penuh beban pikiran."Abang rasa Anye bukan gadis bodoh meskipun usianya masih sangat muda. Ajaklah bicara baik-baik kalau masalah anak. Takutnya Anye belum siap. Jadi seorang ibu adalah pengalaman yang luar biasa"


Brian mendapat telepon dari Shisi kalau anak bungsunya mencarinya. Brian segera pamit pulang. "Aku duluan ya. jagoanku nyari papanya"


"Oke.. thanks ya" kata Rinto.


...


"Kenapa kamu??" Bang Arben merangkul Rinto layaknya seorang adik.


"Sebenarnya.. ayah bilang agar aku bisa lebih menahan diri karena Anyelir masih terlalu muda Bang" entah kenapa malah suara itu terbuka di hadapan Bang Arben.


"Sebenarnya kamu sudah tau jawabannya, tapi kamu hanya terpengaruh perasaan mu sendiri. Gini ya Rinto.. dimana-mana perasaan seorang ayah akan selalu sama. Bagaimanapun dewasanya seorang anak, orang tua akan selalu melihat anaknya itu masih kecil. Tapi kamu khan sudah menikah dengan Anye. Seluruh tanggung jawab atas dirinya sudah beralih sama kamu. Dia istrimu.. belahan jiwamu.. ladang ibadah dan pahalamu. Jadi ya kamu berhak melakukan kewajiban mu dan mendapatkan hak mu. Darimana ikatan batinmu muncul kalau kamu tidak mengajaknya?"


"Masalahnya, ayah takut kalau Anye hamil"


"Kamu takut nggak??" tanya Bang Arben.


"Kenapa harus takut, hamil juga ada bapaknya.. Itu tanggung jawab saya Bang. Hanya takut mental Anye tidak kuat saja" jawab Rinto.


"Kamu sudah pernah nikah, pakai akal mu lah. Kecuali kamu seperti Abang yang nggak pernah bisa tahan kalau lihat istri. Selesaikan tuntas.. nggak bisa di ganggu gugat" Arben tersenyum licik memberi kode pria pada Rinto.


"Setaaaann.." pekik Rinto menepis lengan Bang Arben dari pundaknya.


-_-_-_-


Ayah dan mama sudah pulang, Anye berpegangan pada gorden kamarnya menuju ke kamar mandi. Punggungnya terasa mau patah, ia ingin mengadu pada mamanya dan ayahnya tapi sekarang ia hanyalah seorang anak yang sudah memiliki suami. Anye menangis menahan sakitnya sampai bersandar pada dinding luar kamar.


"Mau kemana?" tanya Rinto datar.


"Ke kamar mandi" jawab Anye.


"Ada Abang di rumah. Kenapa nggak bilang?"


"Anye bisa sendiri" jawabnya pelan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau bisa.! Sana jalan..!!!!" ucap Rinto membiarkan Anye berjalan.


Selangkah, kaki itu berat untuk melangkah. Satu langkah lagi. Anye berhenti melangkah.


"Jalanmu itu masih kalah cepat dengan nenek pakai tongkat" ledek Rinto sambil berkacak pinggang menunggu Anye berjalan. Ia bukannya tidak kasihan dengan Anye. Rinto hanya ingin Anye mengerti saat ini hal sekecil apapun harus saling berbagi karena mereka adalah suami istri.


"Abang antar ke kamar mandi. Anye sudah nggak tahan..!!" ucapnya dengan kesal.


"Abang nggak dengar..!!"


Anye mengerti pasti Rinto tidak suka jika istrinya bernada keras.


"Abang.. tolong antar Anye ke kamar mandi" pintanya lebih lembut.


Tanpa menunggu waktu lama, Rinto mengangkat tubuh Anye dengan hati-hati hingga ke kamar mandi.


"Abang tunggu di luar ya..!!" pinta Anye.


"Kenapa?"


"Baaang..!!" Anye menatap mata Rinto penuh permohonan.


Rinto pun tidak banyak bertanya lagi dan segera keluar. Rinto menunggu di luar membiarkan pintu kamar mandi setengah terbuka.


braaaaakkkkk...


"Anyeee..!!!!!" tak menunggu waktu lama, Rinto langsung membuka pintu kamar mandi.


"Aaaaaaahhhh... Abaaanngg.....!!!!!!!!"


byuuuurrrrr....


"Anyeeeeeeee.... Kenapa Abang disiram??????" Rinto mengusap wajahnya yang basah karena Anye menyiramnya.


"Abang punya niat buruk nih sama Anye" teriak Anye sambil berbalik badan menutupi tubuhnya yang mulus agar tidak terlihat seluruhnya oleh Rinto.


"Mana Abang tau kalau kamu lepas pakaian..!!"


"Abang keluar, atau Anye teriak nih??" ancam Anyelir.


"Teriak lah sampai pita suaramu putus. Mana ada orang berani kesini" jawab Rinto. Ia mengambil handuk yang tersampir lalu menutup tubuh istrinya dan mendekapnya erat. Rinto memejamkan matanya karena cemas memikirkan Anye.


"Belajarlah untuk tidak berteriak pada suami. Itu nggak baik. Abang menikahimu bukan tanpa alasan. Kamu jawab sendiri..Suami melindungi istrinya..itu salah atau tidak?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2