Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 59. Ternyata salah.


__ADS_3

Bang Zaldi memberi hormat pada seluruh rekan anggota. Banyak istri anggota yang menangis karena harus berpisah dengan istri Kapten Erzaldi. Arnes pun ikut melow sampai tidak bisa berkata-kata.


"Sehat-sehat ya Bu Zaldi. Semoga sukses di tempat yang baru, tabah dan kuat mendampingi bapak serta semoga ibu dan bapak cepat menambah momongan lagi" kata Bu Irawan.


"Terima kasih banyak ibu-ibu semua." kata Arnes sambil mengusap air matanya. Bu Acep pun ikut mengantar Arnes sampai bandara.


"Semangat Zal, semoga sukses selalu"


"Siap..!! Terima kasih Abang" Bang Zaldi menjabat tangan Bang Acep kemudian Danyon itu beralih menjabat tangan Bang Righan.


...


Bang Righan bermain bersama Ibra sambil menyuapi keponakannya itu sedangkan Arnes sedang asyik mengunyah jeruk tak peduli dengan Bang Zaldi sedang memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Jangan-jangan aku punya riwayat hipertensi. Aduuhh gawat.. bisa stroke sama jantungan donk" gumamnya sambil memakai minyak angin green tea milik Arnes. Tengkuknya sampai terasa panas karena Bang Zaldi juga menambahinya dengan balsem otot super hot.


"Bang, tolong ambilkan nanas di kotak buah donk..!!" pinta Arnes.


"Ya ampun, apa mulutmu nggak capek ngunyah terus?" tanya Bang Zaldi heran melihat Arnes tidak lelah mengunyah mulai dari pesawat lepas landas hingga sesaat lagi mendarat di pulau Jawa.


"Arnes lapar Bang" kata Arnes.


"Sabar.. sebentar lagi mendarat. Nanti kalau nggak tahan lapar ya makan saja dulu di kantin" Bang Zaldi belakangan melihat porsi makan Arnes sedikit lebih banyak dari biasanya tapi hal itu tidak menjadi soal karena jelas ia sangat bahagia karena istrinya mau makan.


"Kenapa Abang lihat Arnes begitu? Arnes gendut??" tanya Arnes sambil mengunyah buah nanas potong yang baru saja di ambilkan Bang Zaldi.


"Gendut juga nggak apa-apa dek. Biar kata uang Abang pas-pasan yang penting kamu sama Ibra kenyang" jawab Bang Zaldi.


Pesawat militer yang mereka menukik perlahan tanda siap untuk mendarat. Bang Zaldi segera memasang ear plug kecil di telinganya karena penutup telinga miliknya sedang di pakai sang istri. Ibra menangis karena merasa tidak nyaman, sedari tadi ia ingin melepas penutup telinganya sampai Bang Righan harus pintar mengalihkan perhatiannya.


-_-_-_-_-


Bang Zaldi begitu terharu saat kakinya kembali menginjak tanah Jawa. Ia bersujud wujud syukurnya bisa kembali lagi ke Jawa.


"Ibu.. anakmu kembali ke tanah ini untuk kembali mengabdi. Lihatlah pangkat ini Bu. Aku telah membawa pangkat Kapten ini di pundak ku. Banggakah Ibu pada putramu ini" Bang Zaldi terisak meremas rerumputan yang ia injak.


"Ibu lihat.. Aku membawa Arnes dan Ibra, cucu ibu.. cucu yang ibu nantikan hadirnya"


Arnes ikut menunduk dan memeluk suaminya. Ia tau Bang Zaldi pasti sangat merindukan sosok sang ibu.


"Abang rindu ibu ya. Nanti kita ziarah ke makam ibu ya..!!"


"Iya dek, Abang hanya sedih saja karena ibu tidak sempat melihat Ibra lahir ke dunia" kata Bang Zaldi.


Mendengar itu perasaan Arnes ikut sakit. Ia merasakan hal yang sama seperti yang Bang Zaldi rasakan.


"Sudah, ini sudah takdir.. ayo jalan. Lapar nggak?" Bang Zaldi mengajak Arnes untuk beranjak meninggalkan bandara.


"Nggak lapar lagi Bang" jawab Arnes lalu mengikuti Bang Zaldi. Arnes melihat sekitarnya, subur dan rindang.


"Awwhh.." Arnes memercing menghentikan langkahnya. Tangannya menarik lengan Bang Zaldi.


"Kenapa? Capek?"

__ADS_1


"Arnes kok pusing ya Bang, perut Arnes nyeri sekali" jawab Arnes.


"Duuuhh.. kamu duduk dulu. Kecapekan kamu ini dek"


"Ijin Danki.. Kita berangkat sekarang??" tanya seorang ajudan.


"Sebentar ya, sepertinya istri saya sedang tidak sehat"


...


Dua jam setelahnya Bang Zaldi sudah tiba di kompi BS tempatnya akan menjabat. Arnes sudah jauh lebih baik. Bang Igha langsung mengarahkan Bang Zaldi untuk masuk ke rumah jabatan karena Bang Igha sudah bergeser dari rumah itu sejak kemarin karena Bang Igha bukan orang yang suka mempersulit keadaan.


Setelah Bang Igha meninggalkan tempat. Bang Zaldi, Arnes dan Bang Righan memperkenalkan diri secara resmi.


"Selamat siang. Saya Kapten Erzaldi Gharial Alba bersama istri akan menjabat di Kompi BS dalam beberapa tahun ke depan. Saya mohon bantuan bimbingan dan kerjasamanya........"


...


Bang Righan tidur bersama Ibra di rumah jabatannya sedangkan Arnes masih sibuk menata barang di dalam rumah. Semakin lama, rasa lelahnya semakin terasa. Ia berpegangan pada sisi meja.


Terdengar Bang Zaldi sedang menelepon seseorang dan melepas sepatunya sembarangan lalu meletakan seragamnya juga dengan sembarangan.


"Ijin Dan, saya baru saja datang dan nggak mungkin file itu terkirim sore ini. Minimal dua hari Dan" kata Bang Zaldi.


"Siap Bang.. terima kasih atas kebijakannya" jawab Bang Zaldi sambil mematikan panggilan telepon.


"Abaang.. jangan sembarangan taruh barang. Arnes capek Bang..!!" Arnes ingin menangis saja apalagi di lantai ada jejak sepatu Bang Zaldi. Arnes mengambil sepatu dan seragam Bang Zaldi lalu meletakan pada tempatnya.


"Kalau sudah capek sebaiknya istirahat dek, nanti biar Abang yang lanjutkan" Bang Zaldi yang masih sangat sibuk dengan tugas barunya segera membuka laptopnya.


bruugghh...


Bang Zaldi kaget sekali saat melihat Arnes pingsan di depan matanya.


"Ya Tuhankuuuu.." pekik Bang Zaldi dalam rasa kagetnya. Ia segera membawa Arnes ke kamar.


"Kamu ini kenapa to dek??"


Dengan cekatan Bang Zaldi segera menangani istrinya.


Ya Allah, apa mungkin Arnes sedang hamil? Tanda-tanda ini hampir sama seperti kehamilan Ibra.


"Aahh.. nggak mungkin. Masa secepat ini?? Kalau sudah hamil lagi kasihan Arnes, nggak punya waktu me time karena lemas dan pastinya capek. Tapi kalau terlanjur.. mau bagaimana lagi. Syukur Alhamdulillah" gumam Bang Zaldi.


"Bang.. perut Arnes sakit lagi" ucap Arnes saat mulai sadar.


Bang Zaldi mengingat apa saja yang sempat di makan istrinya itu.


"Besok kita ke dokter ya..!!" ajak Bang Zaldi.


"Memangnya kenapa Bang?"


"Abang curiga kalau kamu hamil" jawab Bang Zaldi.

__ADS_1


"Abang keluar saja sebentar ke minimarket, beli testpack. Kenapa harus ke dokter"


"Oohh gitu ya..! Oke, Abang berangkat sekarang"


...


Malam hari sudah tiba. Ibra pun sudah tidur nyenyak setelah lelah bermain dengan Omnya. Bang Zaldi sudah tidak sabar agar Arnes segera mencoba testpacknya. Meskipun sudah punya seorang anak tapi tetap saja hatinya harap-harap cemas menunggu kabar bahagia ini. Sebagai seorang pria, bisa menjadi seorang ayah adalah suatu kebanggaan dan pengakuan yang tidak terlukiskan rasa bahagianya.


"Coba sekarang dek..!!!" pinta Bang Zaldi tetap penuh harap.


"Masa sekarang Bang?"


"Nggak apa-apa. Sama saja. Abang nggak sabar nunggunya" kata Bang Zaldi.


Akhirnya Arnes mengambil testpack yang di beli Bang Zaldi kemudian membawanya ke kamar mandi.


:


Bang Zaldi gelisah di ranjangnya sambil menggenggam tangan mungil Ibra yang masih berusia sembilan setengah bulan.


Arnes membuka pintu kamar perlahan, di lihatnya wajah sang suami yang terus menatapnya penuh tuntutan jawaban.


"Apa hasilnya dek? Sini duduk di sebelah Abang...!!" tanya Bang Zaldi.


"Negatif Bang" Arnes menunjukan hasil testpacknya pada Bang Zaldi. Bang Zaldi pun menerimanya dan melihatnya sekilas lalu memasukkan ke dalam laci nakas.


"Ya sudah berarti kamu hanya capek saja dek. Cepat istirahat dan jangan banyak pikiran. Di Kompi BS ini kamu akan bekerja dua kali lebih keras. Kamu memimpin istri anggota dan juga mendampingi Abang. Jadi jaga kesehatanmu" pesan Bang Zaldi.


"Iya Bang. Arnes ngerti"


"Abang titip nama baik di pundakmu ya sayang. Kamu bisa khan?"


"Insya Allah Bang. Arnes akan berusaha" jawab Arnes.


"Terima kasih" Bang Zaldi mengecup sayang kening Arnes.


***


Saat sedang lari pagi di hari pertama Bang Zaldi menjabat sebagai Danki yang baru. Suami Arnes itu ambruk di tengah jalan hingga tangan dan kakinya tergores lecet.


"Dankiiiii"


"Bang.. Abang kenapa Bang??" Bang Righan mencoba membuat Bang Zaldi agar tetap sadar.


"Kepalaku sakit" jawabnya masih merespon.


Secepatnya para rekan anggota menolong Danki mereka. Baru saja Bang Zaldi di papah, Danki itu sudah mual tak karuan.


"Kesehatan mana kesehatan.. Danki tumbang..!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2