
Bang Zaldi mengincar beberapa preman yang sedang mengedarkan ganja dan ekstasi. Dirinya harus mencari orang yang sudah memasukan barang haram tersebut ke lingkungan prajurit.
Malam setelah ada waktu satu jam untuk berkumpul, mereka berunding dan mengatur strategi.
"Masalahnya anggota kita ini mudah tersangkut perempuan, jadi mudah sekali untuk mereka masuk dalam lingkaran peredaran obat terlarang" kata Bang Zaldi.
"Inilah kita pria, nggak bisa lihat yang bening langsung saja terpikat. Makanya kita sendiri pun harus berhati-hati. Ada anak istri menunggu. Kesenangan sesaat memang enak, tapi dampaknya sungguh luar biasa dalam rumah tangga" kata Bang Bayu mengingatkan karena ia pernah mengalaminya.
"Ayo fokus.. intinya seperti apapun nanti, kita harus saling cover dan saling mengingatkan. Titik lemah kita.. rata-rata adalah perempuan. Saya sendiri mengakui kadang juga tergoda, tapi semua kembali lagi pada diri kita. Jangan lengah dan waspada..!!!!!"
***
Papa Rinto, Mama Anye dan Tante Mey sedang berada di rumah Arnes. Papa dan Mama sedang melaksanakan kunjungan kerja, tapi Tante Mey dan Yuna sedang menunggu Ayah Bayu karena tidak ingin jauh dari suaminya itu Meskipun kenyataannya mereka juga tidak bertemu karena Bang Bayu pun sedang pergi bertugas bersama Bang Zaldi.
"Tante Mey mau makan apa? Ngidam nggak?" tanya Arnes.
"Sudah kubilang jangan panggil Tante, panggil Imey ada aja" kata Mey cemberut.
"Oke Imey.. Mau makan apa?" tanya Arnes lagi.
"Aku nggak ngidam apa-apa Nes. Bang Bayu saja yang suka pilih makanan" jawab Mey.
"Arnes kadang masih suka ngidam tapi Bang Zaldi parah, mabuk banget di kehamilan kedua dan ketiga ini"
Papa Rinto hanya tersenyum sambil menyeruput kopinya mendengarkan ocehan putri dan juga adik iparnya.
"Biar saja mabuk, biar tau rasanya istri capek karena hasil perbuatannya. Papa dulu juga begitu. Tapi nggak apa-apa kok" kata Papa Rinto yang sebenarnya bergidik ngeri mengingat dirinya harus mabuk karena Anye sedang hamil.
"Bang, apa misi kali ini berbahaya?" tanya Mey pada Papa Rinto.
"Semua tugas pasti beresiko. Tapi percayalah, suami kalian itu pintar dan teruji.. makanya pihak atas meminta suami kalian yang berangkat" jawab Papa Rinto bangga pada adik ipar dan menantunya.
Dalam hati ada rasa cemas tak terkira. Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya untuk generasi muda. Papa Rinto berharap tidak akan ada masalah berarti dalam tugas mereka.
***
Bang Zaldi meminta pengamanan tambahan sembari menyiapkan sesuatu sebagai bekalnya.
"Untuk apa Zal? Apa itu perlu?" tanya Bang Bayu.
"Kurasa ini perlu, wanita mana yang akan menolak pesonaku. Ini untuk bekal ngamar. Akan kubuat dia tidak sadar" jawabnya sambil memainkan alis.
"Ganas juga ya kamu di belakang Arnes" ledek Bang Bayu.
"Buat apa julukanku aligator kalau nggak bisa dapatkan si cantik itu. Ya nggak??" ucapnya khas buaya darat.
"Matamu.. ketahuan Arnes remuk hancur lebur jadi rengginang lu"
"Ingat Bay, semuanya sudah tertata. Asal sudah dapat bukti. Kalian serbu saja..!!!" perintahnya.
***
Di hari ketiga penyamaran.. Om Adi sudah turun dan bergoyang-goyamg mencari info yang menyebarkan narkoba di kalangan anggota. Gayanya yang selama ini kalem berubah drastis. Aura lelakinya sungguh keluar saat berhadapan dengan wanita membuat Bang Bayu berkali-kali harus mengingatkan agar Adi punya rem diri. Bang Bayu dan Bang Zaldi bukannya tidak berani turun ke lapangan, mereka hanya meminimalkan resiko dalam rumah tangga.
Setelah beberapa saat, Om Adi menyentilkan secarik kertas yang di gulung ke paha Bang Zaldi. Dia menulis kata sandi yang hanya bisa di mengerti oleh Bang Zaldi dan rekan. Ternyata Om Adi tidak terpengaruh dengan urusan di luar pekerjaan.
__ADS_1
Bang Zaldi membaca isi kertas tersebut.
"Kamu cari Anita, aku cari Jessi..!!" pinta Bang Zaldi seraya berbisik dan berlalu dari hadapan Bang Zaldi.
"Aarrgghh.." belum mulai mencari Jessi tapi rasa mual itu sudah singgah dalam dirinya.
"Kamu mual? Mau kutemani?"
Bagai mendapat durian runtuh. Belum juga mencari Jessi, tapi korban sudah datang sendiri menghampiri dirinya.
"Tentu saja cantik" Bang Zaldi mencolek dagu Jessi dengan genit.
Seketika itu juga perutnya seperti terhantam dan di remas. Isi lambungnya merangkak naik,. kemudian ia mual hebat hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Ia memencet tombol darurat di pakaiannya agar rekannya bisa saling cover.
Ya Allah, maafkan aku. Aku harus kuat agar semua ini cepat selesai. Kasihan anak istriku di rumah. Niatku kerja, tidak ada niat lain lagi. Percaya Abang ya dek..!!.
Lima belas menit berlalu. Bang Zaldi sudah sedikit lebih baik. Ia memakan permen favoritnya. Jessi masih ada disana. Ia memperhatikan wajah Bang Zaldi.
"Malam ini mau bersamaku? Aku mau menawarimu sesuatu. Daripada permen itu yang kamu makan" Jessi mengalungkan kedua lengan di belakang leher Bang Zaldi. Satu kecupan di bibir Bang Zaldi tanpa sempat pria itu menghindarinya.
"Oke.." jawab Bang Zaldi mempersingkat waktu.
//
Bang Zaldi menyalakan perekam suara di balik pakaiannya. Merekam segala ucapan agar barang bukti segera di dapatkan.
"Ternyata kamu pemabuk kelas berat ya..!! Aku punya barang yang pasti kamu sukai" kata Jessi sambil menunjukkan plastik kecil di hadapan Bang Zaldi.
"Maaf sayang, aku nggak pakai yang itu. Aku sudah punya bandar" ucapnya pura-pura menolak.
Rasa mual Bang Zaldi kembali terasa tapi ia sungguh menahannya. Ia ingin segalanya segera usai. Tapi yang namanya pria, godaan pasti akan merambat juga dalam dirinya. Secara alami ia mendekat.
"Berapa harganya. Aku punya rekan di luar sana" ucapnya sambil menghirup aroma wangi khas wanita di sela leher wanita itu.
Jessi membuka kaos Bang Zaldi, di dada pria itu terlukis wajah cantik dengan nama queen Arnesia.
"Apa gunanya wajah cantik itu jika malam ini kamu menginginkanku"
"Tidak ada yang sehebat dia. Satu-satunya wanita yang membuatku tunduk dan takluk" tunjuk Bang Zaldi pada dada bidangnya yang terlukis wajah sang istri.
"Kamu belum mencoba denganku" ucapnya sambil meraba tubuh Bang Zaldi.
Bang Zaldi tersenyum penuh arti, ia mendekatkan bibirnya pada Jessi tapi sebelah tangannya lagi mencabut sesuatu dari saku celananya.
:
"Ini bagaimana Bang? Saya jadi tegang. Bujangan pikirannya holiday ini Bang" tanya Om Adi pada Bang Aswin.
"Aman, santailah kamu. Bang Zaldi sudah tau apa yang dia lakukan. Bang Zaldi dan Bang Bayu sudah bawa bekal masing-masing" jawab Bang Aswin.
//
Perlahan Bang Zaldi membuka pintu kamar. Matanya berkunang-kunang. Tidak ada orang disana. Bang Bayu pun baru keluar dari kamar sambil memakai jaketnya. Mereka berdua berpapasan tapi seolah tidak saling kenal.
Seseorang pria masuk ke kamar Jessi dan melihat Jessi dalam kondisi tidak sadar tapi bukan dalam keadaan pingsan. Matanya tertuju pada satu benda kecil yang tergeletak di lantai. Pria tersebut menghubungi rekannya.
__ADS_1
//
Bang Zaldi sudah berada di luar gedung, hanya saja tubuhnya sungguh tidak bisa di ajak kerjasama. Ia memberi tanda bahwa bukti rekaman asli pembicaraan mereka sudah ia letakkan di sana. Ia pun men menyingkir. Para rekan Bang Zaldi tidak bisa begitu saja membantu Bang Zaldi karena misi itu harus tuntas hari ini.
Seratus meter langkah Bang Zaldi, ia di hadang lima orang bertubuh besar. Siapa kamu sebenarnya??" bentak seorang pria.
Pria lainnya menggeledah dan mencari bukti dan identitas Bang Zaldi.
"Tidak ada yang mencurigakan, dia warga sipil biasa boss"
buugghh.. buugghhhh..
"Kenapa kamu menyuntikkan 'obat' pada Jessi??"
Bang Bayu sudah maju ingin menyelamatkan Bang Zaldi yang sudah di hajar para algojo cafe. Satu lawan lima dalam keadaan Bang Zaldi yang seperti itu, tidak mungkin Bang Zaldi akan menang meskipun ilmu bela dirinya kelas satu.
"Aku hanya mau tukar rasa obat itu agar dia pakai obatku" alasan Bang Zaldi di sisa kesadarannya.
"Bohong, itu bukan 'penenang'. Kamu suntikan obat agar orang itu melayang setengah sadar. Siapa kamu..!!!!!" orang itu kembali menghajar Bang Zaldi.
"Beri dia pelajaran. Jadikan dia orang kita..!!!"
Seseorang yang di perintahkan segera menyuntikan sesuatu di lengan Bang Zaldi. Bang Zaldi berontak, tapi tenaganya tak cukup kuat menghadapi kesakitannya. Tak lama Bang Zaldi ambruk dan tidak sadarkan diri"
"B******n.. Apa yang dia suntikan di badan Zaldi???" Bang Bayu mengumpat cemas. Ia mengambil alat komunikasinya.
"Perintah saya ambil alih. Segera maju dan sergap lawan sesuai perintah ketua team dalam briefing tadi pagi. Sekarang ketua team sudah lumpuh. Lakukan penyelamatan segera..!!!!" perintah Bang Bayu lalu lekas bergerak.
"Siap..!!" jawab anggota di seberang sana.
"Gila kamu Zal. Feeling mu begitu tajam. Sekarang aku paham kenapa negara tidak mau kehilanganmu. Kamu terlalu cerdas untuk di kalahkan. Tapi kenapa di kenapa hasil akhirnya harus begini Zal??" gumam Bang Bayu.
ggrrsskk..
"Angkat tangan.. kalian terkepung..!!!"
Lawan lari tunggang langgang. Tapi percuma saja. Mereka sudah terkepung.
Bang Bayu dan yang lain segera menolong Bang Zaldi. Ia melihat bekas alat suntik disana.
"Astaga.. Zaldi kena i**x dan psikotropika lainnya. Ini dosis tinggi. Ayo cepat kita bawa pergi dari sini..!!"
...
"Sadar Zal.. rasanya bagaimana? cepat jawab...!!!!!!!" Bang Bayu menepuk pipi Bang Zaldi agar segera sadar.
"Arneess.. mana Arnes?? Aku kangen banget sama Arnes" tanya Bang Zaldi mulai meracau.
"Iyaa.. iya.. ini mau pulang temui Arnesmu. Sabar ya Zal" Bang Bayu cemas setengah mati melihat Zaldi mulai nge-fly karena terkena pengaruh obat jahanam itu.
.
.
.
__ADS_1
.