
Bang Zaldi mengangkut barang-barang miliknya yang tidak terlalu banyak. Maklumlah dirinya masih seorang bujangan, berbeda dengan Irfan dan Sony yang sudah berkeluarga. Mereka semua di kirim ke Sulawesi dalam tempat yang berbeda dan hanya Irfan saja yang saja yang satu kubu bersama Bang Zaldi.
Terlihat Papa Rinto mengantar putrinya untuk menemui Zaldi yang akan berangkat pindah tugas ke kesatuan yang baru.
"Ini untuk Abang" Arnes menyerahkan boneka bebek bertubuh gendut, berparuh orange. Bang Zaldi menoleh kesana kemari cemas kalau ada yang melihatnya. Pria berperawakan tinggi gagah penuh wibawa harus menenteng boneka bebek di tangannya.
"Astaga.. kenapa nggak kamu bawakan Abang boneka Hello Kitty atau Barbie sekalian??" protes Bang Zaldi berbisik menahan malu.
"Ini untuk teman tidur Abang"
"Abang nggak butuh yang itu" jawab Bang Zaldi dengan malas.
"Aahh terserah lah. Itu jangan lupa di bawa juga" tunjuk Arnes pada sebuah kardus besar yang tidak seorang pun tau apa isi di dalamnya.
"Apa itu dek?"
"Rahasia" jawab Arnes sambil berlalu pergi menemui Bang Seno yang juga ikut pindah tugas karena terkena sanksi.
Arnes memeluk Bang Seno dan menangis di pelukan Abangnya. Arnes yang sudah sangat dekat dengan Bang Seno sangat sedih sampai menangis sesenggukan.
"Jangan nangis. Baik-baik sama Bang Bima disini..!!" bisik Bang Seno di telinga Arnes.
Tiba-tiba ada seorang gadis yang datang di hadapan Bang Seno. Bang Seno pun melepas pelukan Arnes.
"Selamat jalan Bang. Selamat menjalankan tugas di tempat tugas yang baru" ucap gadis itu terlihat tegar.
"Abang sadari ada perbedaan di antara kita. Tapi apakah rasa itu patut di persalahkan??" Bang Seno menahan kuat perasaannya saat tau Bima mencintai Bryna.
"Jika memang Tuhan mendekatkan kamu dan Bima. Bahagialah kalian berdua. Abang ridho.. ikhlas kamu bersamanya"
"Abang hanya memikirkan perasaan Abang sendiri, Abang nggak memikirkan perasaanku. Aku cinta sama Abang. Tak maukah Abang perjuangkan perasaan kita. Aku mau ikut Abang apapun yang terjadi, aku mau menyatukan iman asalkan Abang tidak meninggalkanku" ucap Bryna emosional.
"Bryna.. keyakinan itu datangnya dari hati, bukan keterpaksaan karena kamu mencintai Abang. Teguhkan dulu imanmu.. Abang tidak memaksa kalau ada hati yang tidak ikhlas. Yang jelas.. perasaan Abang tetap pada satu tujuan" Bang Seno mengecup kening Bryna.
Bima tertunduk lesu. Papa Rinto menepuk bahu putranya.
"Mungkin takdir Abangmu seperti itu. Apa di dunia ini hanya ada satu wanita saja??"
"Iya pa.. aku paham. Aku tidak akan bertikai dengan Abang soal pendamping hidup" jawab Bima.
"Bagus.. Itu baru putra kebanggaan Rinto Dirgantara"
//
Bang Bima mengusap air mata Arnes. Adiknya itu masih saja menangis sampai Bima kebingungan.
"Sudah donk cantik. Kamu mau apa? Nanti sore kita jalan-jalan ya..!!" bujuk Bang Bima kemudian mengecup pipi Arnes.
__ADS_1
Tak disangka Bang Zaldi sudah berkacak pinggang di samping mereka.
"Sebenarnya apa maumu dek?? Sejak kemarin Abang perhatikan kamu terlalu dekat Bima" tegur Bang Zaldi.
"Dan kamu Bima. Bisakah kamu bersikap sewajarnya saja pada Arnes. Setiap ada Arnes kamu selalu ingin berdekatan dengan Arnes." nada Bang Zaldi sudah meninggi.
"Tapi Bang.. saya hanya mendekati Arnes saja" kata Bang Bima.
"Karena Pak Rinto memberimu lampu hijau. Beliau menolak saya mentah-mentah. Saya bukannya nggak tau malu. Tapi hubunganmu dan Arnes pun belum ada ikatan" Bang Zaldi sudah kebakaran jenggot, jengkel melihat Bima.
"Kata siapa tidak ada ikatan. Ngawur kamu..!!!!!" bentak Dan Rinto.
"Ijinkan saya melamar putri Komandan" pinta Bang Zaldi dengan tegas.
"Nggak.. kamu terlalu pemarah" tolak Dan Rinto.
"Ijin Dan.. saya nggak mau keduluan Bima" ucap jujur Bang Zaldi. Pikiran dan perasaannya sudah berantakan saking jengkelnya.
"Abang apaan sih, daritadi ribut. Arnes capek dengarnya" Arnes pun sudah kesal dengan keributan yang terjadi.
"Abang belum pergi saja kamu kamu asal nempel kadal hutan ini. Gimana kalau Abang tinggal?????" Bang Zaldi sudah tidak sabaran lagi.
"Ya karena Abang bukan siapa-siapa Arnes" jawab Arnes.
"Ini Abang lagi bujuk Papamu dek. Duuuhh.. stress Abang mikir kamu ini"
"Abang yang menyusahkan diri Abang sendiri. Bang Bima si kadal hutan ini khan kakak kandung Arnes"
"Makanya, jangan gradak gruduk " ucap Pak Rinto.
//
Arnes memainkan jarinya tak tau apa yang sedang kedua Abang dan papanya bicarakan dengan Bang Zaldi. Keempatnya terlihat sangat serius. Terlihat wajah tegang Bang Zaldi yang terkadang terlihat sedih, tapi seperti berusaha keras meminta sesuatu.
Mama Anye yang baru datang dari kegiatan segera menemui putrinya yang terlihat sedih.
Beberapa saat berlalu, Papa Rinto berdiri di hadapan putrinya dan mengusap punggungnya.
"Kamu suka sama si buras ini??"
Arnes tidak menjawabnya, hanya tangis sambil memeluk sang papa.
"Suka atau tidak, bilang saja. Papa nggak marah"
Arnes masih tetap diam, seperti ada beban dalam hatinya. Bang Zaldi sudah tidak tahan melihat Arnes terus menangis.
"Kurang berapa jam kita berangkat??" tanya Bang Zaldi pada seorang crew pesawat.
__ADS_1
"Ijin Dan. Pesawat ada trouble. Kurang lebih mundur dua jam" jawab crew tersebut.
Bang Zaldi meminjam motor seseorang disana kemudian pergi meninggalkan tempat. Dan Rinto dan yang lain melihat Bang Zaldi terlihat pergi dengan terburu-buru.
//
Satu setengah jam telah berlalu. Bang Zaldi membawa sesuatu yang ia ikat di belakang motor.
Dengan cepat Bang Aldo membawa bungkusan besar itu ke hadapan Arnes dan beberapa barang yang ia bawa dengan mobil kantor yang menyusul di belakangnya.
"Bismillah.. Abang bawa baju ini di hadapan mu. Baju yang tidak sembarang wanita bisa memakainya. Kelak.. maukah kamu memakainya. Abang ingin menjadikan hubungan tanpa status ini, halal bagi kita" Bang Zaldi menyerahkan kotak berisi baju kebesaran istri seorang tentara.
Papa Rinto kalang kabut di buatnya, tapi melihat putri kesayangannya menyunggingkan senyum penuh haru, ia pun tidak bisa berbuat apapun.
"Arnes mau Bang" jawab Arnes sambil menerimanya.
Bang Zaldi pun mengambil cincin bertahta berlian yang tadi ia beli secara dadakan. Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik jari manis Arnes dan memakaikan cincin tersebut lalu menyerahkan bucket bunga berisi uang yang lumayan banyak.
"Astaga.. Apa-apaan ini. Apa artinya ini lamaran???" gerutu Papa Rinto.
Bang Seno dan Bang Bima tersenyum melihat aksi barbar calon adik iparnya.
Satu kompi anggota disana masih menyeka keringatnya karena baru saja mereka melaksanakan perintah Komandan kecil yang mau melamar pujaan hatinya secara ekspres dalam waktu satu jam di bawah ancaman.
"Sudah ya.. Abang berangkat dulu. Jangan nakal kamu disini. Abang cek kamu setiap hari. Selesaikan kuliahmu yang tinggal satu semester itu. Abang kasih waktu kamu hanya satu semester itu, sampai wisuda. Selesai tidak selesai.. kamu yang Abang wisuda..!!!!" ancam Bang Zaldi.
"Iyaa.. iihh Abang"
Baling-baling pesawat sudah berbunyi, saatnya Bang Zaldi berangkat. Arnes pun mencium punggung tangan Bang Zaldi.
Rasanya Bang Zaldi ingin sekali memeluk dan menitipkan bekas bibirnya, tapi keadaan yang belum halal menyadarkan dirinya untuk menjaga hingga waktu itu tiba.
"Abang nggak pengen peluk Arnes sama cium-cium seperti di tv gitu biar romantis. Arnes khan calon istri Abang" pancing Arnes sambil menarik lengan Bang Zaldi.
"Nggak.." jawab Bang Zaldi.
"Yaa.. Abang.. Ayolah Bang" pancing Arnes lagi.
"Masih calon.. nggak usah banyak tingkah"
Arnes pun melepas pegangan tangannya lalu berjalan meninggalkan Bang Zaldi. Kakinya menendang batu di sepanjang jalan. Bang Zaldi menyimpan senyumnya lalu mengikuti langkah Arnes dan berhenti di hadapan Arnes.
"Abang mati-matian jaga diri, kamu mati-matian goda Abang. Kalau Abang lalai, siap kamu tanggung akibatnya. Sabar sebentar.. mau bagaimana lagi, tunggu Abang melunakan hati papa. Restu orang tua sangat penting untuk kita" Bang Zaldi mengecup kening Arnes cukup lama.
"Ini dulu ya. Kalau sudah halal Abang kasih lebih" ucap Bang Zaldi kemudian secepatnya menyusul rekannya menuju pesawat.
.
__ADS_1
.
.