Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 116. Nyaris putus.


__ADS_3

Tubuh Arnes masih begitu lemah. Sedikit bicara dan lebih banyak memejamkan mata. Evakuasi baru bisa di laksanakan tiga jam setelahnya. Tak ada akses jalan darat yang bisa membawa istrinya me rumah sakit kota. Bang Zaldi sampai harus menyiapkan tandu karena tidak mungkin Arnes menunggu bantuan hingga air surut.


...


Arnes hanya sedikit menggeliat bahkan saat bidan memberinya penanganan. Satu kantong darah juga mengalir di urat nadinya, selang oksigen membantu jalan nafasnya.


Bang Zaldi mengusap kening dan bolak balik mencium kening istrinya sambil menggendong si kecil Zafia. Rasa lelahnya seakan sirna melihat si kecil cantik berbobot empat setengah kilogram itu. Hanya berbeda seratus gram saja dengan sang Abang.


"Selamat ya sayangku, kamu sudah berhasil melahirkannya dengan selamat. Mama Fia memang yang terhebat" bisiknya di telinga Arnes.


"Abaang, terasa sekali saat-saat Arnes mengandung putri kita Zafia. Maafkan istrimu ini Bang. Arnes selalu menyusahkan dan merepotkan Abang.. tapi sungguh, Arnes selalu menyadari setelahnya. Maaf Bang" ucapnya lirih.


"Nggak sayang. Itu sudah tanggung jawab dan konsekuensi Abang karena mengharapkan hadirnya anak-anak di tengah kita. Malah Abang yang harusnya minta maaf karena menyakitimu" jawab Bang Zaldi sampai menitikkan air mata.


"Arnes mau melihat anak kita Bang"


Bang Zaldi mendekatkan bayi mungilnya pada Arnes. Putri kecil itu menangis saat air mata ibunya mengenai wajah kecilnya.


"Sulit sekali mempertahankanmu di perut mama sayang, bahkan saat papa menghajarmu.. kamu masih tetap bertahan. Terima kasih putri kecil mama. Mama sangat menyayangimu nak. Apapun mama lakukan untuk mempertahankanmu..!!"


"Jangan banyak bicara, kamu masih sakit..!!" Bang Zaldi mencium pipi Arnes.


"Papa cinta kamu ma"


"Mama juga cinta sama papa" ucap Arnes saat itu seiring dengan matanya yang tertutup sempurna.


"Kenapa ini?" tanya Bang Zaldi meminta kejelasan pada dokter Immanuel.


"Ijin Bang, saya periksa dulu"


Bang Zaldi mengambil Zafia lalu menyerahkan pada bidan. Pikiran Bang Zaldi sudah berantakan dan kalut. Bunyi suara di alat medis begitu menakutinya.


"Lemah dok..!!" kata seorang perawat.


Bang Zaldi bersandar pada dinding, menyangga tubuhnya agar tetap bisa berdiri meskipun hatinya sudah tak sanggup bersandar.


"Hilang..!!!"


Bang Zaldi bagai tersambar petir, hatinya terasa tertindih batu besar. Ia terpaku melihat raga sang istri terdiam. Penanganan dari dokter Immanuel seolah tidak membuahkan hasil. Teringat detik demi detik kebersamaannya dengan istri tercinta.


Kakinya terasa berat melangkah mendekati Arnes yang tengah tertidur. Telunjuknya mengusap pipi putih pucat istri tercintanya.


"Kamu lelah sayang?? tidurlah yang nyenyak. Tapi cepatlah bangun lagi. Fia sangat membutuhkan mamanya. Abang pun tak sanggup hidup tanpamu"


Bang Zaldi sudah hampir tak sanggup menopang beban tubuhnya. Terlalu pedih ia membayangkan dan merasakan sakitnya kehilangan.

__ADS_1


"Apa kamu sedang membalas semua sakit yang Abang berikan padamu?" bisiknya di telinga Arnes.


"Abang minta maaf, sungguh minta maaf" Bang Zaldi menggenggam erat tangan Arnes.


"Bang.. saya periksa istri Abang dulu..!!"


"Jangan sentuh istri saya, biar saya membujuknya" jawab Bang Zaldi sambil memandang wajah Arnes.


"Allah Maha segalanya. Jika Dia belum mengijinkanmu pergi, Dia pasti akan mengembalikanmu padaku" tak lupa Bang Zaldi membacakan doa-doa.


Bang Zaldi mengecup bibir manis melepas rasa rindunya.


"Abang sangat menyayangimu" air mata Bang Zaldi berlelehan di pelupuk mata.


Tiba-tiba Bang Zaldi merasakan tangan Arnes berganti menggenggam tangan nya.


"Sebentar Bang, saya cek dulu" kata Noe pada Bang Zaldi yang masih diam tanpa reaksi.


-_-_-_-_-


Opa Rama memijat pelipis Bang Zaldi yang masih lemas duduk di kursi roda. Jangankan untuk berdiri, menggerakan jari saja rasanya begitu berat.


"Kata Noe tadi khan hal ini bisa saja terjadi, henti jantung sementara karena beberapa faktor. Kamu jangan terlalu berpikir keras, yang penting Fia dan Arnes baik-baik saja."


"Arnees.. Arneeess" gumamnya masih tak hentinya memanggil nama sang istri. Matanya masih sembab. Badannya panas tinggi sedangkan diranjangnya, Arnes duduk bersandar sambil menikmati suapan dari Oma Dinda.


braaakk...


Pintu terbuka dengan kencang.


"Mana cucuku. Bagaimana dia???" tanya Papa Rinto panik sambil menggendong Ryan. Tapi pandangan matanya langsung tertuju pada Bang Zaldi.


"Zaldi.. " Papa Rinto langsung melihat keadaan menantunya.


:


Di dalam ruangan yang tidak begitu besar itu ada tiga pasien yang sedang di infus. Pertama.. Arnes yang baru melahirkan, kedua.. Bang Zaldi yang syok berat dan ketiga.. Bang Righan yang trauma dengan tahap persalinan Arnes.


"Bang Bayu.. nanti acc pengajuan nikahku ya..!! Aku juga mau nikah deh biar ada yang urus" ucap Bang Righan pada Bang Bayu.


"Hmm.. cepat sembuh. Nanti kuurus berkasnya" jawab Bang Bayu.


Arnes masih terjaga menatap Bang Zaldi yang masih mengigau memanggil namanya. Demam suaminya mencapai empat puluh derajat hingga hidungnya berdarah. Hatinya trenyuh dan tidak tega melihat sang suami. Jika saja dirinya benar-benar pergi meninggalkan Bang Zaldi, tak tau bagaimana suaminya akan bisa bertahan.


"Mau kemana Nes?"

__ADS_1


"Lihat Abang pa" jawabnya sambil memercing karena tubuhnya sangat sakit.


" Jangan lama-lama..!!" Papa Rinto langsung menggendong putrinya lalu mendudukannya di samping velbed Bang Zaldi. Usia tua bukan penghalang bagi stamina primanya.


"Bang.. cepat sehat ya. Arnes sudah nggak apa-apa" ucapnya sambil mengusap rambut cepak suaminya.


Bang Zaldi hanya samar mendengar. Raganya sangat di ajak bekerja sama. Kejadian tadi benar-benar memukul jiwanya hingga tumbang.


-_-_-_-_-


Tengah malam saat semua orang tengah tertidur, Bang Zaldi menggendong si kecil Fia. Betapa bahagia dirinya bisa memeluk gadis cilik yang benar-benar ia perjuangkan meskipun di dalamnya banyak tangis pilu.


"Dedek mau main sama papa ya? Anak papa gendut sekali. Di perut mama nyemil apa?" goda Bang Zaldi.


Bibir baby Fia mencebik sedih seolah tak terima papanya mengatainya gendut.


"Oooooohh.. nggak..!! Papa minta maaf. Anak Papa yang cantik jelita. Suka dandan sama mama ya?" setelah Bang Zaldi mengatakan hal itu pada putrinya. Fia tersenyum kecil kemudian kembali tidur.


"Eeehh dasar Arnes kecil.. centil, suka cari ribut" gumam Bang Zaldi pelan.


"Fia tidur Bang?" tanya Arnes.


"Bangun dek?? Anakmu tidur nih, tadi marah dia waktu Abang katain gendut" protes Bang Zaldi.


"Mana ada perempuan mau di katain gendut. Abang ada-ada saja" perlahan Arnes menurunkan kakinya.


"Mau kemana??" tanya Bang Zaldi.


"Lihat Fia Bang"


"Jangan turun..!! Keadaanmu beda dek.." Bang Zaldi kembali menaikan kaki Arnes kemudian menidurkan Fia di box bayi.


Bang Zaldi menutup semua gorden lalu menyingkap kain Arnes.


"Abang mau apa?"


"Mau lakukan yang sudah seharusnya" jawab Bang Zaldi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2