
Masuk Konflik, sabar.. jangan baper n spoiler..!! Banyak orang bernasib sama. Tapi tentu garis hidup semua orang berbeda. Percayakan segalanya pada penulisnya.
🌹🌹🌹
"Tolong panggilkan dokter Immanuel. Saya ingin memastikan keadaan istri saya" perintah Bang Zaldi.
:
"Semua dalam keadaan baik Bang.. Ibu dan bayinya. Ada syok itu hal biasa Bang"
"Alhamdulillah.. kamu yakin??" tanya Bang Zaldi memastikan sekali lagi.
"Yakin lah Bang. Baby Abang ini kuat sekali. Kalau nggak kuat mana bisa ngerjain papanya sampai begini" jawab Dokter Immanuel.
...
"Pulanglah Nes, Abang ingin sendirian" kata Bang Bima.
"Ini pertama kalinya Bang Bima tidak ingin Arnes ada di dekatnya.
"Arnes ingin menemani Abang"
Bang Bima mencengkeram kuat pergelangan tangan Arnes. Tatapan matanya penuh amarah dan kebencian.
"Pulanglah..!!!! Abang sedang tidak baik-baik saja Arnes. Jangan salahkan Abang kalau Abang jadi kasar sama kamu" Bang Bima menghempaskan Arnes begitu saja hingga Arnes tersungkur.
"Dek.. kamu kenapa?" Bang Righan membantu Arnes untuk berdiri, Bang Righan merasa Bang Bima sudah berlaku kasar pada Arnes karena adiknya itu merasa kesakitan.
-_-_-_-_-
Saat di pemakaman. Bang Bima tetap terdiam seolah air matanya sudah kering dan habis. Matanya terus menatap pusara sang istri dan putrinya.
Papa Rinto dan Papa Brian mendampingi Bang Bima yang terlihat tegar tapi di dalamnya sudah begitu hancur. Kaki Bang Bima melangkah tak tentu arah meninggalkan makam.
Bang Zaldi mengangkat ponselnya yang bergetar sejak tadi.
"Assalamualaikum ma, gimana?" tanya Bang Zaldi berbisik sambil mengawasi Bang Bima.
"Wa'alaikumsalam Zal. Kamu cepat kembali ke rumah. Mama sama bibi nggak tau bagaimana caranya menenangkan Arnes. Dia terus mengurung diri dan menyalahkan dirinya soal meninggalnya Livi" kata Mama Anye.
"Iya ma. Saya pulang sekarang"
Mendengar itu, Papa Rinto ikut pulang sedangkan Bang Righan dan Papa Brian mencari Bang Bima sebelum kehilangan jejak.
...
Dengan sekali tendang pintu kamar terbuka, Bang Zaldi melihat Arnes terkapar dengan mulut berbusa.
"Arness...!!!!"
"Ibuuuu..!!!!!" pekik Bibi sangat syok melihat Arnes tak sadar.
Bang Zaldi mengangkat tubuh Arnes dan membawanya ke rumah sakit.
-_-_-_-_-_-
Bang Bima berhenti di sebuah tempat hiburan malam di pusat kota. Di sana ia melihat seorang wanita yang sedang tarik menarik dengan dua orang pria. Matanya memicing seolah pernah melihat wanita itu.
Aku belum mabuk khan? Apa aku salah lihat?.
Dengan langkah sempoyongan ia mendekati keributan tersebut.
"Grace.. kamu Grace khan? anak buah Guntur??" tanya Bang Bima.
__ADS_1
"Pak Bima??"
"Malam ini biarkan dia bersama saya. Berapa saya harus bayar??" Bang Bima menatap mata Grace.
"Satu juta" jawab anak buah mucikari.
"Saya mau sampai pagi..!!"
"Lima juta"
Bang Bima mengeluarkan uang dari dompetnya lalu merangkul pundak Grace dan masuk ke dalam ruangan yang sudah di tunjuk para algojo.
:
Grace menampari pipi Bang Bima, entah kenapa hatinya begitu sakit melihat Bang Bima mabuk dan membooking dirinya.
"Semua pria sama saja. Hidung belang, kami wanita hanya budak ***** belaka, tadinya saya bangga dengan bapak.. tapi sekarang saya paham, laki-laki hanya ingin tubuh wanita saja tanpa pernah mencintainya" Grace membuka pakaiannya di hadapan Bang Bima, kini Bang Bima bisa melihat setiap jengkal ttubuh itu dengan jelas.
Bang Bima meraih selimut lalu melemparpada Grace agar wanita itu menutup tubuhnya.
"Saya kesini hanya ingin tenang. Istri dan anak saya meninggal dunia hari ini. Kenapa dunia ini begitu kejam"
Grace duduk di sebelah Bang Bima, ia menuang minuman kemudian meneguknya.
"Iya pak. Hidup ini sangat kejam. Aku salah pergaulan hingga terperosok dalam lembah hitam, tak bisa keluar. Ingin mati tapi takut, tapi hidup pun tiada berguna" ucapnya kemudian meneguk lagi minuman haram itu. Ia menyodorkan gelasnya di bibir Bang Bima, tanpa pikir panjang.. dalam kekalutan batinnya. Bang Bayu menenggak minuman tersebut.
Gelas demi gelas mereka habiskan dan saling mencurahkan perasaan.
"Aku rindu istriku" ucap Bang Bima meracau.
"Aku ingin Abang sayangi"
Ucapan itu begitu menghujam ulu hati Bang Bima.
Grace menyambar bibir Bang Bima, sebelah tangannya memainkan kelemahan Bang Bima sedangkan sebelah tangannya lagi mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyelipkan di tangan Bang Bima. Pria itu meliriknya sekilas, antara miliknyaa dan benda di tangannya
"Saya nggak suka memakainya" bisiknya di sela gairahnya yang mulai merangkak naik apalagi Grace sudah 'mengunci' miliknya.
"Tapi ini aturannya"
"Saya tidak ingin bermain dengan wanita malam"
"Tapi aku p*****r"
Bang Bima tidak peduli, ia mengangkat tubuh Grace. Wanita itu meronta dan ketakutan, ia menendang berusaha lepas dari kungkungan Bang Bima.
"Saya tidak melihatmu seperti itu" pelan tapi pasti, Bang Bima menyentuh Grace.. memberi kehangatan dan kasih sayang pada wanita itu, Grace pun terbuai. Selama ia bertemu dengan banyak pria, tak ada yang memperlakukannya semanis Bang Bima melakukannya.
"Balas perasaanku..!!" pinta Bang Bima yang selama ini memang tidak terlalu banyak merasakan manisnya madu ranjangg. Terus terang ia jarang menyentuh Livi.
Meskipun masih ragu. Grace melaksanakan apapun permintaan Bang Bima.
:
"Panggil aku Puri.. Grace adalah nama panggung ku" ucapnya sambil bersandar di dada Bang Bima.
"Berapa biaya untuk melepaskanmu?" tanya Bang Bima.
"Apaa.. kenapa Abang tanya itu??"
"Abang akan membebaskanmu"
"Apa sih Bang. Untuk apa Abang membebaskan wanita sepertiku? Aku ini sampah masyarakat, wanita tidak berguna"
__ADS_1
"Abang mampu mencintai wanita malam sepertimu. Tapi berjanjilah, jangan pria lain lagi yang menyentuhmu selain Abang" ucap Bang Bima.
Seketika Puri duduk dan menatap mata Bang Bima. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya.
Puri tertawa mendengarnya meskipun tawanya itu mengurai tangis.
"Abang baru kehilangan istri dan sekarang Abang katakan itu pada wanita lain? Kenapa laki-laki di dunia ini semuanya buaya? Bangun Bang.. dunia ini tidak hanya berisi ucapan kata cinta"
"Apa menurutmu Abang sedang bercanda. Abang melakukannya denganmu secara sadar dan sudah siap menanggung segala resikonya"
"Keluarlah Bang, tenangkan dirimu. Tidak perlu berjanji karena aku sudah bosan mendengarnya. Terima kasih sudah memperlakukan aku dengan manis" ucap Puri tanpa ingin menatap mata Bang Bima.
....
Para anggota tidak ada satupun yang bisa menemukan keberadaan Bang Bima. Malam itu Mereka kembali ke Kompi.
...
Bang Zaldi mondar-mandir tidak tenang di luar ruang tindakan. Berjam-jam Arnes mendapat perawatan hingga membuatnya frustasi.
Pintu ruang tindakan akhirnya terbuka.
Bang Zaldi menghampiri dokter Immanuel. Dokter menatap wajah Bang Zaldi dengan lekat.
"Saya sudah bilang, anak Abang itu kuat, dia tangguh sekali. Saya salut dengan anak Abang"
"Bagaimana dengan istri saya"
"Bang.. tidak ada wanita yang kuat mendapatkan masalah bertubi-tubi seperti ini. Jika sampai Mbak Arnes salah langkah.. itu hanya bentuk 'protes' karena sudah lelah. Kondisi hamil dengan tidak hamil itu berbeda Bang" jawab dokter Immanuel.
"Hhkkk.. Hhkkkk.." Bang Zaldi berlari mencari toilet di rumah sakit. Papa Rinto mengikuti menantunya.
:
"Ini gimana sih Zal. Ketularan mabuk apa masuk angin kamu ini" sudah setengah jam Bang Zaldi terus berada di toilet.
"Besok ada Panglima. Bima kabur entah kemana, kamu malah mabuk nggak karuan. Kalau sampai ada perkara lagi dalam rumah tanggamu, pasti ada catatan merah lagi dalam RH mu Zal"
"Kita bisa beralasan Arnes sakit awal kehamilan"
"Jangan bodoh Zal. Perut Arnes sudah besar. Masalah sekecil apapun tidak bisa di tutupi dari mata militer" kata Papa Rinto.
"Tidak semua kehamilan itu kuat Pa. Papa tenanglah biar saya yang beralasan" jawab Bang Rinto sambil meremas perutnya.
dddrrtt.. ddrrrtttt.. ddrrrtttt..
"Selamat malam.. ijin..!!"
"Ono opo Brewok??" tanya Bang Zaldi.
"Bang Bima sudah masuk sangkar, berantakan dan mabuk berat" ucap Om Adi.
"Duuuhh Bimaaa..!!" Bang Zaldi menepuk dahinya.
.
.
.
.
Sesuai dengan judulnya.. KESALAHAN.. Tolong kebijakan dalam membaca..!!.
__ADS_1