Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
141. Tamu tak terduga.


__ADS_3

Pov Rinto.


Saat kelahiran Righan, aku sudah memutuskan untuk 'mengamankan' Anye di dokter kandungannya. Aku sudah tau pasti bahwa aku tidak akan punya anak lagi hingga delapan tahun kedepan dan sebaiknya aku harus ikhlas untuk tidak membuat Anye hamil lagi bahkan setelah melewati delapan tahun itu. Perjuangan panjang Anye saat mengandung Seno, Bima dan Righan sudah membuat hatiku tersayat perih. Tidak tega.. tidak sanggup melihat Anye kesakitan lagi.


Kubelai sayang punggung istri yang amat kusayangi. Dia sudah nyaman dan tenang dalam pelukanku. Aku tau dia tidak seperti dulu lagi, yang terbiasa bebas mengutarakan maksud isi di hatinya. Apa yang terjadi pada rumah tangga kami, begitu dia sesali.


Tak lama setelah itu, aku pun ikut tidur dengan nyenyak.


***


"Apa Bang Rinto bertengkar dengan Anye?" tanya Sekar saat pagi hari Bang Gathan sedang sarapan.


"Nggak, biasalah mereka masih adaptasi"


"Apa Bang Brian belum bisa melupakan Anye?" tanya Sekar lagi.


"Tidak apa jika belum bisa melupakan, namanya juga pernah jadi suami istri. Tapi daripada itu, yang terpenting adalah Bang Brian tidak mengganggu hubungan Bang Rinto dan Anye" jawab Ghara.


"Ya sudah kamu cepat sarapan. Nanti Abang jemput saat pertemuan di aula. Satu minggu nggak enak badan terus. Di ajak ke rumah sakit nggak mau. Apa coba maunya? Mau tambah sakit?" gerutu Gathan.


"Kalau Sekar nggak kuat pasti bilang Abang" kata Sekar.


"Abang hanya penasaran, setiap malam kamu suruh Abang keluar rumah. Di luar dingin dek. Untung Bang Rinto dan Bang Brian mau temani Abang. Kalau nggak ada mereka sudah seperti patung selamat datang aja Abang di teras"


"Maaf lah Bang. Sekar bukannya nggak sengaja. Anak Abang yang usil" jawab Sekar.


"Putra mana tau. Dia sudah tidur"


"Jangan ngomel terus lah Bang. Nanti anak Abang kaget" Sekar meraih tangan Gathan lalu menempelkan di perutnya yang kini mengikuti tubuhnya yang sedikit subur usai melahirkan Putra.


"Apa maksudnya??? Kamu hamil dek???" tanya Gathan belum percaya.


"Iya Bang"


"Kenapa nggak bilang. Kalau Abang tau kamu lagi hamil, Abang khan nggak perlu marah-marah tiap hari. Abang rela kok duduk di luar tiap malam asal anak Abang sehat" Gathan tersenyum sumringah saking bahagianya.


"Sekar juga baru tau Bang. Kalau tau Abang bahagia, lebih baik Sekar bilang dari kemarin saja"


"Ya senang donk. Istri hamil pasti senang lah, itu menunjukan seberapa hebatnya Abang" ucap Gathan dengan sombongnya.


***


Di lapangan semua sedang berkumpul. Rinto akhirnya ikut masuk karena dekorasi taman dan dance anggota adalah urusannya.


"Bagaimana ini Bang. Saya masih dalam masa cuti menikah" protes Rinto.


"Nanti saya ganti dua hari masa cutimu. Ini penting karena Komandan Markas minta kamu sendiri yang mendekor penyambutannya" kata Bang Ucok.


"Ijin Bang, ini acara formal atau tidak?? Kenapa minta di sambut pakai kembang tujuh rupa? Belum lagi minta ada konvoi sepeda hias memutari Batalyon" Rinto tak habis pikir dengan permintaan Komandan markas yang sangat merepotkan.


Macam apa Komandan markas ini. Baru kali ini ada Komandan yang begitu ribet minta di sambut. Kepalaku mau pecah rasanya memikirkan permintaan komandan satu ini. Permintaan dekorasi nya rumit sekali.


"Semi formal. Kerjakan saja perintahnya. Dia sudah dengar namamu dan ingin kamu yang handle sertijab Komandan Markas" kata Bang Ucok.


"Ijin Bang. Apa kita tidak berlebihan ikut menyambut komandan Markas???" tanya Rinto lagi.


"Saya tidak begitu paham Rin. Beliau hanya minta kamu yang tangani semua" jawab Bang Ucok.

__ADS_1


"Siap Bang" jawab Rinto meskipun tidak begitu paham.


-_-_-_-_-


"Kenapa istrimu?" tanya Brian saat melihat Gathan sibuk mengambilkan Sekar ini dan itu.


"Hamil lagi Bang" jawab Gathan.


"Alhamdulillah.. rejekimu cepat juga" Bang Rinto menyahut di sela kesibukannya mendekorasi halaman depan kebun di samping aula.


"Nggak pengen punya lagi Bang??" tanya Gathan setengah meledek.


"Nggak..!! Anak tiga pas..!!" jawab Bang Rinto yakin meskipun yang mendengar tidak yakin Bang Rinto berkata jujur.


Brian hanya tersenyum mendengar percakapan Rinto dan Gathan. Baginya Righan saja sudah cukup karena seperti yang ia ketahui Ariani tidak bisa memberinya keturunan.


Dari jauh Bang Rinto melihat Anye sibuk mengintip rok belakangnya di samping toilet. Bang Rinto pun meletakan peralatannya dan segera menghampiri istrinya.


"Kenapa dek??" Bang Rinto memastikan keadaan Anye sambil mencuci tangannya yang kotor di wastafel.


"Eehmm.. perut Anye nyeri sekali Bang..!!" jawab Anye.


"Tamunya datang??" tanya Bang Rinto.


"Nggak Bang" jawab Anye ragu.


"Terus??" Bang Rinto mengerutkan dahinya.


"Nggak tau, hanya nyeri saja"


"Kamu pulang saja kalau nggak ada pekerjaan. Atau Abang antar??" Bang Rinto sudah mencari kunci motor bebeknya.


"Ya sudah cepat di kerjakan. Jangan memaksakan diri. Kalau nggak enak badan cepat hubungi Abang" perintah Bang Rinto sambil berlalu pergi, punggung jarinya mengusap pelan pipi Anye.


-_-_-_-


Waktu sudah semakin sore. Anye meremas perutnya yang terasa nyeri seperti di remas. Obat pereda nyeri pun tak bisa mengurangi rasa sakitnya. Matanya sudah sembab karena merasakan sakit.


"Masih sakit???" sampai Bang Rinto datang, Anye juga tidak menyadarinya.


"Nggak juga Bang" jawab Anye.


"Jangan bohong..!!" pita suara Bang Rinto semakin meninggi menegur Anye. Kancing baju seragam yang sempat ia buka, di pasangnya kembali.


"Ayo ke rumah sakit sekarang..!!" ajak Bang Rinto sambil meraih tangan Anye.


"Tapi Bang.....!!" Anye menarik tangannya kembali.


"SEKARANG DEK..!!!!!!!!!!!" ucap tajam Bang Rinto yang tidak berani di bantah Anye.


#


"Istri saya kenapa Bang?" tanya Bang Rinto pada dokter yang juga seniornya itu.


"Kurang istirahat saja, dan kurangilah di gempurnya" tegur dokter secara terang-terangan sambil sekilas melirik Anye yang menatapnya sejak tadi.


"Siap.. Siap Bang..!!" jawab Bang Rinto menyembunyikan wajah malunya. Ia baru menyadari sejak kembali bersama Anye lagi, ia memang seperti tidak pernah lelah. Pagi siang malam cek lokasi dan ia harus mengakui rasa rindunya sungguh sulit ia tahan.

__ADS_1


#


"Naahh.. Anye nggak apa-apa khan? Abang tuh harus kurangi penasarannya" tegur Anye.


"Yaa.. harap maklum lah sayang. Lama sekali Abang sendirian. Kamu pikir gampang jadi Abang. Berusaha nggak jelalatan, nahan sampai kepala puyeng.. mau cuti start nanti kamu marah. Serba salah jadi Abang. Maaf ya..!!" kata Bang Rinto sambil mengawasi spion untuk berbelok arah menuju jalan pulang.


"Kamu juga, kalau Abang keterlaluan ya bilang..!! Suami istri itu berdua, bukan hanya Abang atau kamu saja. Perbanyak komunikasi, kalau nggak berbagi perasaan sama Abang.. kamu mau cerita sama siapa?? Brian?????" tanya Bang Rinto.


"Nggak lah Bang"


"Ya makanya bilang dek"


Anye tidak menjawab omelan Bang Rinto. Ia memilih diam saja.


ddrrrtttt.. ddrrrtttt..ddrrrtttt...


Bang Rinto mengangkat panggilan teleponnya.


"Wa'alaikumsalam.. kamu sudah tau siapa orangnya???" tanya Bang Rinto.


//


"Asem.. benar khan dugaan gue..!!" Bang Rinto menghantam kemudi mobilnya dengan kesal.


"Gathan, tolong kamu siapkan..............."


***


Hari penyambutan Komandan Markas sudah tiba. Anye terkejut saat melihat Bang Arben turut serta dalam rombongan itu. Senyumnya merekah saat melihat Mbak Dira ada disana juga.


Bang Rinto mondar-mandir karena ia menata, juga memberi arahan yel-yel pada anggota. Tak lama pintu mobil markas terbuka. Seseorang melepas kacamata hitam dan turun dari mobil. Bang Rinto tersenyum licik.


Komandan Markas yang baru mengerutkan dahi melihat hiasan yang di buat Rinto untuk penyambutan dirinya.


"Mana Rinto??" tanyanya pada salah seorang anggota.


"Ijin Komandan.. saya menyambut disini sejak tadi" jawab Rinto sambil membawa baki kuningan berisi beberapa bunga, namun baki tersebut sudah penuh dengan daun sirih lengkap dengan lampu minyak di tengahnya.


"Apa-apaan ini Rin. Saya minta di sambut dengan bunga tujuh rupa" tegur Komandan markas yang baru.


"Ijin Bang Sat.. itu sudah saya siapkan jambangan bunga isi bunga tujuh rupa, saya juga sudah lengkapi bunga tujuh rupanya dengan daun sirih sekalian. Mau saya nyalakan lilinnya sekarang Bang??" tanya Bang Rinto yang sengaja menyewa segala perabotan dari penyewaan alat pesta.


Bang Satriyo nyengir kuda menoleh ke kanan dan ke kiri menghalau rasa malu karena para anggota sudah menatapnya.


"Gila kamu Rin. Memangnya saya mau ngepet??????" tegur Bang Rinto dengan kesal.


"Kali aja saya tugas jaga lilin, Abang yang keliling..!!!!" jawab Bang Rinto memasang wajah tanpa dosa.


"Kamu kira saya B2. Push up kamu Rin, lanjut guling botol...!!!!!!" rambut Bang Satriyo rasanya panas terbakar karena sudah di kerjai Rinto.


"Siap salah. Laksanakan..!!"


Para anggota bingung menyembunyikan tawanya karena dilarang keras menertawakan Komandan yang sedang apes. Mereka tau itu adalah kedekatan pada sesama anggota.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2