
Malam hari Arnes membangunkan Bang Zaldi. Rasa nyeri tak terkira membuatnya sulit tidur. Ia melihat Bang Zaldi sedang tidur dalam posisi duduk dan menggenggam tangannya.
"Mau apa dek??" Bang Zaldi refleks terbangun dari tidurnya merasakan Arnes yang menggeliat di ranjangnya.
"Arnes pengen ke toilet, tapiiii......"
"Ayo..!!" Bang Zaldi mengambil infus Arnes lalu membawanya ke toilet.
:
Arnes bersandar lemas mengagetkan Bang Zaldi hingga membuatnya kelabakan melihat banyaknya darah sampai menembus pakaian Arnes. Ia segera menghubungi pihak kesehatan.
"Duuhh.. sepertinya pendarahan kamu dek"
//
Bang Zaldi tidur di samping Arnes sambil mengamati darah yang mengalir di tubuh istrinya. Darahnya mengalir pada tubuh sang istri. Seperti dugaannya.. Arnes kehilangan banyak darah pasca persalinan.
"Sudah cukup pak..!!" kata seorang perawat sambil melepas jarum dari lipatan siku Bang Zaldi.
"Apa setelah transfer darah ini istri saya akan baik-baik saja?" tanya Bang Zaldi.
"Saya rasa semua proses tetap butuh waktu pak. Saya permisi dulu pak..!!" kata perawat tersebut kemudian meninggalkan Bang Zaldi.
"Silakan.. Terima kasih..!!"
Papa Rinto menatap mata Bang Zaldi yang sembab memerah. Sebagai seorang pria tentu ia merasakan apa yang dirasakan Bang Zaldi saat ini. Papa Rinto membawakan jus buah dan kacang hijau untuk Bang Zaldi.
"Terima kasih pa. Nanti saja..!!" Bang Zaldi menolak saat papa Rinto menyuapinya kacang hijau.
"Kami harus makan biar tenagamu segera pulih. Dari tadi papa nggak lihat kamu makan. Perjalanan dari Sudan pasti juga melelahkan. Baru sekarang khan kamu istirahat??" kata Papa Rinto.
"Mana bisa santai dan makan tenang pa. Istri masih seperti ini" jawab Bang Zaldi.
"Kalau kamu nggak makan, bagaimana ada tenaga?? Arnes sangat butuh kamu. Apalagi si bomber mu itu. Siapa lah mau gendong si kuncung gendut itu..!! Buat anak kok besar banget"
Bang Zaldi tertawa mendengarnya. Wajah cemas Papa Rinto membuatnya terkikik geli. Sesaat kemudian Arnes bangun.
"Bang.. haus..!!"
Bang Zaldi segera bangkit tak peduli dengan dirinya sendiri.
"Alhamdulillah.. Assalamualaikum cantik. Nyenyak tidurnya??" Bang Zaldi menyambar mix juice yang Papa Rinto bawakan untuknya.
"Wa'alaikumsalam.. Sakit sekali Bang. Ini di jahit berapa sih" Arnes meringis merasakan sakit luar biasa sampai ia tidak berani banyak bergerak dari posisinya.
"Obras, neci plus bordir dek" jawab Bang Zaldi sambil menyelipkan sedotan ke bibir Arnes.
__ADS_1
"Makan dulu ya. Abang pesankan makanan dari luar. Setelah itu minum obat anti nyerinya" ucap Bang Zaldi dengan senyum tampannya. Papa Rinto tersenyum melihat perhatian Bang Zaldi pada putrinya. Sesaat tadi Bang Zaldi benar-benar hancur melihat Arnes belum sadar juga. Tapi saat Arnes bangun.. pria berusia dua puluh delapan tahun itu tak peduli dengan dirinya sendiri.
"Mau makan apa??"
"Mau Kapurung"
"Yang benar saja dek, tersedak kamu nanti masih sakit begini makan kapurung. Kalau sudah sembuh saja ya" bujuk Bang Zaldi.
"Ya sudah, nasi kuning saja" jawab Arnes.
"Siap Bu..!!!" Bang Zaldi mengangkat ponsel lalu menghubungi seorang ajudan yang menjaganya.
//
"Astaga.. besar sekali. Ini bayi atau anak panda??" ledek Bang Seno saat melihat keponakannya untuk pertama kali. Mbak Brina pun tak kalah kagetnya.
"Kamu jangan makan aneh-aneh dek. Begini jadinya malah repot sendiri. Jahit muter" Bang Seno bergidik ngeri tak sanggup membayangkan apa yang terjadi saat di ruang bersalin. Matanya melihat Bang Righan yang tidur di sofa seperti pasien.
"Righan kenapa??" tanya Mbak Brina.
"Begitulah rupa pasien tak tau diri" jawab Papa Rinto.
"Arnes yang melahirkan, dia yang baby blues. Sejak Arnes melahirkan, dia merepotkan sekali. Mana tidak mau makan kalau bukan Icha yang menyuapi"
"Siapa Icha??"
"Astaga. Modus pencitraan model baru" Bang Seno menggeleng melihat Bang Righan yang meringkuk anteng di sofa.
"Selamat pagi semua..!!" sapa seorang bidan cantik disana. Ia membawa sekotak nasi yang pastinya untuk Bang Righan.
"Pagiiiiii..!!" jawab Bang Zaldi mengawali dengan senyuman.
"Pagi jugaaa" jawab yang lain.
Mata Arnes langsung menunjukan rasa kesalnya saat bang Zaldi tersenyum pada wanita lain. Bang Zaldi pun akhirnya paham ketidak sukaan sang istri pada hal yang ia lakukan barusan.
"Nggak usah ngambek. Abang seleranya bukan bidan, tapi atlet kempo. Abang nggak butuh yang bisa nyuntik, Abang butuhnya yang bisa pegang tongkat" bisik Bang Zaldi di telinga Arnes.
Seketika Papa Rinto menjitak kepala Bang Zaldi.
"Istri baru lahiran sudah mikir kempo. Mau Papa lipat kamu Zal?????"
"Istilah pa. Ya mana tega saya ajak duel. Kalau dedel malah saya yang repot. Ya kaliii saya gk paham taman hiburan masih di rehab" jawab Bang Zaldi santai.
"Abaaaaaang iiihhh.. malu-maluin" Arnes menutupi wajahnya dengan kedua tangan saking malunya mendengar celotehan sang suami.
Seisi ruangan tersenyum melihat Arnes tapi pandangan mereka langsung beralih pada Bang Righan yang sedang disuapi makan.
__ADS_1
"Tanganmu kenapa??" tegur Bang Seno.
"Lemas Bang. Aku drop sampai tremor" alasannya.
"Sini Abang tampar bolak-balik dulu, sekalian guling botol biar nggak gemetar" kata Bang Seno.
"Nggak apa-apa Pak. Saya lepas piket hari ini. jadi bisa urus pasien saya" jawab Icha dengan malu-malu.
"Sejak kapan kalian dekat??"
"Yang jelas bukan saat Abang kontraksi" jawab bidan Icha.
Papa Rinto menggeleng saat melihat kelakuan Righan yang manja melebihi pada mamanya.
tok..tok..tok..
Tak lama makanan Arnes datang. Bang Zaldi menerimanya.
"Ijin Dan.. ini pesanan nasi kuningnya"
"Terima kasih ya" Bang Zaldi memberi anggotanya itu selembar uang berwarna biru.
"Oke.. kita makan boss..!!"
***
Bang Zaldi terus memperhatikan wajah Arnes. Satu minggu lagi ia harus kembali ke Sudan meninggalkan istri dan anaknya. Rasa sedih tak dapat ia hindari. Ingin rasanya tidak berangkat karena ingin tetap terus bersama Arnes
"Kamu harus kuat demi anak istrimu Zal" Papa Rinto memberi semangat pada Bang Zaldi. Manusiawi sekali jika suami ingin terus dekat dengan keluarga. Apalagi putra pertamanya baru saja lahir.
"Tujuh bulan disana itu bukan waktu yang sebentar pa. Arnes belum pulih tapi sudah harus kutinggalkan. Belum lagi selama tujuh bulan dia harus membesarkan anak sendirian tanpa saya" ucap Bang Zaldi terdengar sedih.
"Mau bagaimana lagi Zal. Inilah resiko kita sebagai Abdi negara. Jiwa raga kita untuk negara meskipun dalam hati berontak dan ingin lepas. Tapi kita harus melaksanakan apa yang sudah kita pilih sebagai jalan hidup" kata Papa Rinto.
"Dulu setiap Papa meninggalkan Mama, hati ini selalu sedih Rin"
"Sama pa. Memaksa hati untuk kuat dan ikhlas itu sangat menyiksa" Bang Zaldi menunduk menautkan keningnya di sisi ranjang Arnes.
"Saya ingin membawa Arnes kemanapun saya pergi"
"Tahan sedikit rasa rindunya. Usai kenaikan pangkatmu, kamu langsung masuk kompi di daerah Jawa" kata Papa Rinto.
"Itu yang saya tunggu Pa. Rasanya kapok banget saya jauh dari Arnes" ucap Bang Zaldi meraba dadanya merasakan tidak ikhlas harus segera kembali lagi ke Sudan.
.
.
__ADS_1
.