Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 124. Memori akhir cerita.


__ADS_3

Malam itu Bang Zaldi dan Bang Jajang menuju kantor polisi untuk membebaskan anak-anak mereka. Kepala polisi sampai kaget karena ternyata mereka adalah anak perwira tinggi tentara yang cukup disegani.


"Maaf, saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata mereka adalah putra Pak Zaldi dan Pak Jajang"


"Nggak masalah Pak. Anak-anak memang harus di beri pelajaran." jawab Bang Zaldi dengan marahnya.


Sebenarnya Bang Jajang juga marah menghadapi ulah anak-anak. Tapi daripada dirinya, anak-anak ternyata lebih takut dan tunduk pada Bang Zaldi. Jangankan bentakan, baru berdehem saja jantung mereka sudah terasa melenceng dari tempatnya.


-_-_-_-_-


Bang Zaldi mencambuk kedua putranya tak terkecuali Ujang putra Bang Jajang yang sudah pasrah padanya untuk di didik.


"Mau jadi apa kalian lihat film porno seperti itu??? Itu belum waktunya kalian cerna. Belum lagi kalian sebar di teman-teman untuk nobar. Dimana akal kalian?????" bentak Bang Zaldi.


"Ampuun paa.." pekik Bang Ibra.


"Nggak lagi paaa" Bang Ryan kelojotan menahan sakitnya.


"Ujang kapok Oomm" Ujang sampai menangis melihat amarah Om Zaldi.


"Mau bertindak itu di pikir dulu. Hal ini baik atau tidak untuk kalian. Adik kalian jadi penasaran dan mencoba mencari tau" Bang Zaldi benar-benar emosi menghadapi anak-anak yang mulai mencari jati diri itu.


"Ayo bilang, apa yang sudah kalian lihat disana?"


"Hanya perempuan tel****ng pa, sama laki-laki dan perempuan sedang main........"


"Astagfirullah hal adzim.. sudah jangan di teruskan..!!!!" Bang Zaldi memutuskan penjelasan Bang Ibra padahal dirinya sendiri yang bertanya.


"Jangan sampai kalian lakukan hal seperti itu. Itu dosa besar. Hanya yang sudah menikah yang boleh melakukan nya" dengan sangat terpaksa Bang Zaldi menjelaskan pada ketiga remaja bermasalah itu.


"Aku tau lah Pa. Hanya penasaran saja" jawab Bang Ryan.


"Aku juga Pa"


"Deeeehh.. ada-ada saja kalian ini" Bang Zaldi masih menekan rasa geramnya.


...

__ADS_1


"Aaawwhh.. sakit Fi." pekik Bang Ryan saat Fia mengoles salep di punggung Abangnya itu.


"Lagian jadi perempuan kok ember banget sih kamu dek. Abang jadi di hajar papa nih" protes Bang Ibra.


"Memangnya itu video apa sih Bang? Fia Khan juga mau lihat, sudah Abang bawa aja" kata Fia tidak terima.


"Pokoknya nggak boleh tau, dasar.. perempuan ini hanya bikin celaka saja" gumam kesal Bang Ibra.


"Sudah cepat sini..!! Gantian oles di punggung Abang. Perih nih"


~


Sejak saat itu Bang Zaldi menutup akses apapun yang mengarah pada hal berbau kekerasan dan pornografi.


flashback off..


***


Beberapa tahun kemudian.


Bang Ryan menatap dirinya pada pantulan cermin. Ia mengusap pakaiannya, pakaian kebesaran dan kebanggaan nya sebagai prajurit. Tangannya mengepal kuat.


...


"Matanya jangan jelalatan dek. Abang colok baru tau rasa" tegur Bang Ibra pada Fia yang menoleh kesana kemari.


"Ini prajurit baru pada ganteng-ganteng. Fia suka lihatnya Bang"


"Eeeehh.. ini cewek satu. Nggak usah neko-neko kamu. Abang yang paling tau watak pria" tegur Bang Ibra kemudian menggandeng tangan Fia.


Tiba-tiba langkah mereka terhenti karena Arnes sudah terpaku disana. Bang Ibra menatap sosok yang sangat di kenalnya. Ia pun berdiri tegak disana.


Bang Ryan memberi hormat pada Papa dan Abangnya. Air mata menggenang di pelupuk hendak tumpah mengurai rasa. Papa Zaldi dan Bang Ibra membalas penghormatan itu.


"Aku sudah menunjukan kalau aku mampu pa. Aku putramu, putra Erzaldi. Banggakah papa padaku?" tanya Bang Ryan menguatkan batinnya.


"Papa sangat bangga padamu. Kamu putra Papa yang hebat, sangat hebat. Sampai kamu sedewasa ini, tak sehari pun papa lepas dari rasa penyesalan karena membuatmu tidak memiliki ayah dan ibu. Tapi percayalah.. Papa mendidikmu sama seperti papa mendidik Ibra, tak ada bedanya apa yang papa berikan untukmu juga untuk Ibra."

__ADS_1


Seketika Bang Ryan memeluk Papa Zaldi.


"Jangan katakan itu pa. Aku sangat berterima kasih karena papa bersedia merawatku padahal papa tau masa lalu orang tuaku. Jika saja aku tidak berada di dalam keluarga ini.. mungkin aku tidak akan pernah menjadi apa-apa. Terima kasih pa, papa sudah mengambil tanggung jawab besar untuk mendidik ku." Bang Ryan pun memeluk Bang Ibra.


"Terima kasih banyak Bang, Abang sudah sudi menerimaku sebagai adikmu"


"Bicara apa kamu ini. Kita adik kakak. Nggak usah banyak drama kamu" tegur Bang Ibra di sana tapi tidak ada yang tau bagaimana isi hati mereka yang bergelud menahan air mata.


Bang Ryan seketika merosot memeluk kaki Mama Arnes.


"Mama adalah ibu terbaik yang pernah kumiliki. Jika diberi kesempatan untuk memilih, aku akan memilih terlahir dari mama yang hebat sepertimu. Terima kasih sudah mau menjadi mama terbaik untuk ku, biarkan aku mencintai Mama. Mungkin tidak bisa kubalas semua kebaikan hati mama, biar Allah saja yang membalas hati bidadari seperti mama" Bang Ryan memeluk kaki sang Mama.


Mama Arnes tak kuat lagi, ia menarik Bang Ryan dan memeluknya dengan erat.


"Ryan anakku, mama sayang kamu nak, mama bangga memiliki putra sepertimu"


Mereka berempat berpelukan menangis bersama, sungguh hari ini begitu luar biasa. Perjuangan dan doa yang tidak pernah sia-sia.


"Ngomong-ngomong Fia kemana pa?" tanya Mama Arnes.


Refleks papa Zaldi, Bang Ibra dan Bang Ryan langsung mengedarkan pandangan mencari Fia.


"Itu Fia" tunjuk Bang Ryan.


"Astaga Tuhan.. itu anak" Papa Zaldi menepuk dahinya.


~


"Namanya siapa?"


"Fia Bang" jawab Fia tersenyum malu.


"Fiaaa.. Abang hajar juga kamu" suara Bang Ibra menegur adiknya yang tebar pesona.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2