Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
21. Khilaf ( 1 )


__ADS_3

Bang Rinto tidur memeluk Anye, total sekitar dua bulan pernikahan ia baru menyentuh istrinya. Anye ingin bergerak dari tidurnya tapi tangan kekar Bang Rinto seolah tidak ingin melepasnya.


Hari sudah menunjukan pukul empat lewat empat puluh sore.


"Bang, Abang nggak sholat?" tanya Anye.


"Sebentar lagi" jawabnya dengan suara parau.


"Sudah sore sekali Bang. Keburu habis waktunya"


Rinto sedikit mengintip jam tangannya, ia pun bangun perlahan.


...


"Kalau kamu nggak kuat kembali kesana dan ikut kegiatan, kita tidur disini aja malam ini. Besok pagi baru kembali" kata Rinto.


"Nggak enak sama yang lain Bang. Masa Abang sebagai penanggung jawab kegiatan nggak ada di tempat, hilang bersama seorang peserta Diklat. Khan nggak baik Bang"


Rinto tersenyum mendengar perkataan Anye. Istrinya itu bijak menghadapi situasi.


"Itu benar dek, tapi kamu nggak enak badan.. masa di paksa"


"Anye nggak apa-apa Bang"


"Oke.. kita fight sekali lagi" ajak Bang Rinto menggoda Anye.


"Jangan Bang.. Sakiiiitt" Anye takut sampai menangis lagi.


Rinto tertawa melihat ekspresi takut istrinya.


"Abang bercanda dek. Enam kali naik turun sudah cukup" ucapnya sambil mencium kening Anye.


***


byuuuurrrrr..


"Dasar pelayan bodoh.. Bersihkan kakiku!!" kata seorang wanita.


Saat pelayan itu akan membersihkan sepatu gadis sombong itu. Tangan seorang pria mencegahnya. Dia adalah Gathan.


"Jangan kamu bersihkan. Setiap manusia memiliki harga diri. Dia yang salah" kata Rinto menarik tangan gadis itu.


"Ada keributan apa ini??" tanya pemilik restoran.


"Pelayan anda ini menumpahkan teh ke kaki saya. Sepatu saya ini mahal harganya" kata wanita itu dengan sombong.


"Kenapa kamu nggak bersihkan. Restoran ini adalah restoran elit. Kalau kamu nggak mau lakukan permintaan pelanggan. Potong gaji lima puluh persen atau pecat" kata pemilik restoran.


"Akan saya lakukan Bu" kata gadis itu.


"Jangan..!!" Gathan menarik tangan gadis itu.


"Fix.. kamu di pecat. Ambil barangmu.. keluar dari asrama" kata pemilik restoran.


"Kenapa bapak membuatku kehilangan pekerjaan?" tanya gadis itu menangis menatap Gathan.


"Kenapa ini???" Ayah Rama dan Mama Dinda baru saja selesai acara dengan pejabat kantor.


"Kamu ikut saya" Gathan menarik tangan gadis itu.


Ayah Rama sampai bengong melihat ulah putranya.


"Heh Gathan.. mau di bawa kemana itu anak orang????"


"Bawa ke rumah ayah" jawab Gathan.


"Astaga... sinting" jawab Rama langsung pening.


***


Para mahasiswa sedang melaksanakan api unggun dan bernyanyi. Anye hanya berbaring di dalam tenda dengan wajah pucat.


"Darimana kamu sore baru kembali?" tanya Ivana. Bintang hanya memijat kaki Anye.

__ADS_1


"Di warung atas" jawab Anye tak punya pilihan.


"Kamu ijin saja sama pelatih Rinto tidak ikut kegiatan jrit malam." saran Bintang.


...


"Ijin pelatih.. sepertinya malam ini Anye kurang sehat. Bisakah Anye tidak ikut kegiatan??" tanya Bintang.


"Silakan.."


"Kalian harus ikut kegiatan sekarang juga..!!" kata pelatih Rinto mengarahkan Bintang dan Ivana.


...


Brian mengarahkan seluruhnya agar ikut kegiatan. Rinto hanya meminta tiga orang anggota saja yang tersisa di lokasi untuk patroli, berarti empat bersama dirinya.


"Bangun dek..!!" Rinto masuk ke tenda Anye mengajak istrinya itu untuk melihat suasana malam.


"Lihat dulu suasana malam disini. Bagus sekali" kata Rinto.


...


"Ngomong-ngomong darimana Abang bisa tau tempat ini? Abang khan masih baru disini?" tanya Anye.


"Abang sama Seruni ke bendungan rawa" ucap jujur Rinto sambil mendekap erat tubuh Anye seperti kemarin malam.


"Apa Bang???? terus Abang berenang sama Seruni dan menginap disana???" Anye melepas kasar tangan Rinto yang mendekapnya.


"Hmm.. mulutnya mulai lagi. Buang itu pikiran negatif nya" Rinto menjitak kepala Anye lalu kembali mendekap istrinya lagi.


"Terus apa????" nada Anye mulai meninggi. Rinto mendengarnya seperti ada nada kecemburuan disana.


"Apa ya? 🤔" Rinto semakin menggoda Anye.


Lirikan Anye sudah menunjukan kalau ia sangat kesal mendengarnya.


"Nggak usah cemburu. Abang hanya jalan-jalan saja. Pacaran seperti umumnya" jawab Rinto.


"Nggak usah menerka dan membayangkan lagi. Yang jelas.. Yang Abang sentuh hanya kamu saja" kata Rinto seolah tau isi hati Anye.


"Syukurlah kalau nggak cemburu.. Abang bisa ajak Seruni datang kesini donk ya??"


"Awas saja kalau Abang berani ajak dia. Anye hajar Abang habis-habisan" ancam Anye.


"Masa?? Siapa hajar siapa?? Ini aja kamu KO" ledek Rinto dengan wajah datarnya.


"Anye khan nggak tau caranya buat Abang senang"


Wajah Rinto mendekat pada wajah Anye.


"Mau tau caranya menyenangkan Abang??"


"Apa???"


Tanpa banyak bicara, Rinto menyambar bibir manis Anye. Kejadian tadi agaknya membuatnya begitu ketagihan. Ia tidak tau apakah karena usia istrinya yang masih terlalu muda atau dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri hingga saat mengulangnya bersama Anye rasanya Rinto seakan lupa daratan.


"Ke tenda Abang yuk..!! Disini banyak angin" bujuk Rinto.


Melihat istrinya masih tidak nyaman, Rinto pun mengangkat Anye sampai ke tendanya.


"Jangan beri cahaya di sekitar tenda saya.!! Kalian dilarang mendekat..!! Jauhi tenda dengan jarak minimal tiga puluh meter. Bu Danki sedang tidak enak badan" perintah Rinto dengan tegas.


...


"Banyak orang Bang. Jangan macam-macam" Anye takut saat Rinto kembali menindih tubuhnya.


"Katanya mau tau bagaimana cara menyenangkan Abang??"


"Apa hanya begini satu-satunya cara untuk menyenangkan Om Rinto????" suara Anye terdengar sedikit kesal.


"Abang janji nggak seperti tadi. Hanya begini saja..!!" ucap Rinto sambil melonggarkan pakaiannya.


...

__ADS_1


"Ijin Dan.. Perintah Pak Rinto tidak boleh mendekat ke tendanya" kata seorang anggota menghadang Brian.


"Apa-apaan ini?? Saya mau ambil jaket..!!" Brian tidak peduli dan tetap berjalan menuju tendanya.


"Ijin.. Ibu Danki sedang sakit"


"Haah.. Pasti si Rinto itu yang 'sakit' " gumam Brian dengan kesal.


***


Malam ini tak tau bagaimana Rama harus menghadapi Gathan yang sungguh membawa seorang gadis ke rumah dinasnya.


"Ayah nggak mau tau, bawa gadis itu pergi dari sini" perintah Rama.


"Kalau ayah nggak mau dia disini. Lebih baik aku bawa saja dia ke mess" ancam Gathan.


"Astaga Gathan..!! Itu pelanggaran. Mau di taruh dimana muka ayah kalau kamu bawa gadis ke dalam mess????"


"Ya makanya aku titip dia disini" kata Gathan.


Rama membuang nafasnya dengan kasar. Lalu menghampiri gadis pelayan restoran yang di bawa Gathan pulang.


"Siapa namamu?" tanya Rama.


"Nama saya Tunjung Sekar Atmaja. Saya kost dan bekerja disana karena mama saya sakit sejak papa meninggal dalam tugas" kata Sekar.


"Tugas??? Apa pekerjaan papamu"


"Tentara pak"


Rama mengerutkan keningnya. "Siapa nama papamu?"


"Danu.. Papa saya.. Danu Atmaja"


"Astagfirullah hal adzim.." seketika Rama memeluk Sekar. Air matanya menetes mendengar Danu Atmaja. Dinda ikut memeluk dan mencium puncak kepala gadis itu.


"Kalau saya tau siapa kamu, saya nggak akan berbelit seperti ini. Maaf saya benar-benar tidak tahu" Rama menahan sesalnya lalu menghubungi Ardi.


***


"Abaaaanngg bohoong..!!!" pekik Anye pelan tapi masih terdengar oleh Brian. Rinto segera membekap bibir Anye.


"Abang kelepasan dek..nggak sengaja!!" Lagi-lagi Rinto membuat Anye menangis. Di hapusnya air mata yang meleleh di pipi Anye.


Brian segera menjauh dari tempat itu. Tiba-tiba saja ia jadi merindukan Shisi istrinya.


Anye terus menggeliat dan menangis dalam dekapan Rinto. Rinto melihat hari semakin larut. Sebentar lagi pasti para mahasiswa kembali. Ia memutuskan membawa Anye ke tendanya sebelum para mahasiswa itu kembali.


...


"Ijin pelatih..!! Anye demam tinggi" Bintang melapor pada pelatih Rinto.


"Yang benar kamu Bintang?????"


"Benar pelatih, sekarang Anye menggigil" ucap Bintang dengan panik.


"Kamu kembali kesana dulu. Saya ambil peralatan kesehatan" kata pelatih Rinto.


Bintang pun segera berlari kembali ke tenda.


"Waahh.. parah lu. Ini kegiatan kampus. Bukan honeymoon. Main terkam aja nggak lihat sikon. Sembrono lu boy" tegur Brian pada Rinto yang sedang panik mengacak-acak kotak kesehatan.


"Terus saja ngomongnya. Yang kencang biar semua orang dengar..!!!" jawab Rinto menegur Brian.


"Lagian.. tunggu pulang khan bisa. Ganas banget sih lu" gerutu Brian tak abis pikir.


Rinto menoleh pada Brian.


"Maaf... aku juga nggak sengaja dengar. Mulai dari Anye nangis sampai kamu bawa ke tenda"


"B*****t... bukannya minggir malah di situ aja lu Bri" Rinto melempar apa saja yang ada di sekitarnya ke arah Brian.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2