Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
147. Rindunya Abang.


__ADS_3

"Berarti dengan kata lain?? Mantan suami istriku yang nggak bisa punya anak??" tanya Brian memastikan pada dokter kandungan Ariani.


"Ya begitulah kira-kira" jawab dokter Ian.


"Kurang ajar. Dulu dia sering menyalahkan bahkan menganiya Ariani. Ternyata selama ini dia yang lapuk" Brian begitu kesal jika mengingat dulu Serma Anang menelantarkan Ariani.


"Sudah Bro.. itu masa lalu. Jangan di ungkit lagi. Yang pasti sekarang kamu sudah bisa membuktikan siapa yang menjadi racun dalam sebuah hubungan" kata Ian.


"Kau benar. Terima kasih banyak ya..!!"


***


Tak terasa pernikahan Rinto dan Anye sudah delapan bulan. Tak ada keributan apapun. Rinto dan Brian tidak membahas persoalan Mawar, Anye atau Ariani lagi. Hari ini mereka berdua pulang dari sekolah kecakapan perwira lanjutan selama tiga bulan kedua di Jawa.


"Itu Papa pulang Bang" Anye menunjukan pada Seno kalau papanya pulang dari pendidikan.


Seno pun menoleh melihat arah yang di tunjuk mamanya. Begitu melihat papanya pulang, Seno langsung menghambur dan berlari memeluk papanya.


"Papaaaa...."


"Waahh.. jagoan papa, makin hitam saja kamu. Main di mana coba??" ledek Bang Rinto.


"Di kebun belakang Batalyon pa" jawab Seno yang sudah pintar.


"Adik-adik kemana??" tanya Bang Rinto.


"Di suapin mama Riani di rumah" jawab Seno.


Bang Brian langsung mempercepat langkahnya, ingin segera melihat Ariani yang kini sedang hamil tujuh bulan.


Bang Rinto melirik Anye yang sedang menatapnya.


"Abang pulang kenapa diam saja?? Nggak kangen??" tanya Bang Rinto langsung memeluk Anye dengan erat dan menciumi wajah istrinya itu.


"Kangen banget Bang" jawab jujur Anye.


"Kenapa nggak bilang kalau mau IB sekarang?"


"Kamu nggak lihat tanggal ya? Ini long weekend sayang. Ya lumayan lah minggu ini Abang punya waktu main sama anak-anak" kata Bang Rinto. Rindu Bang Rinto begitu kental terasa, tangannya mulai nakal mencari kehangatan.


"Jangan usil Bang" kata Anye mengingatkan. Anye bolak balik menyingkirkan tangan Bang Rinto yang menaikan sedikit dasternya.


"Anak-anak nggak tau" suara Bang Rinto sudah terdengar berat.


"Tapi anak-anak bisa tiba-tiba lihat Bang" tolak Anye.

__ADS_1


Bang Rinto pun memasang tampang cemberutnya dan memilih pergi merokok di belakang rumah. Anye menggeleng melihat kelakuan Bang Rinto kalau sedang manja, bahkan manjanya bisa melebihi Bima yang sedang merajuk. Anye membiarkan Bang Rinto duduk sendirian, memberi ruang agar suaminya bisa tenang.


-_-_-_-_-


"Ayo ikut Om Gathan jalan-jalan..!!!" ajak Gathan pada semua keponakannya.


"Mau kemana?" tanya Bang Rinto saat Gathan datang kerumahnya.


"Memberimu waktu biar bisa berduaan dengan Anye. Wajah Abang daritadi suntuk saja. Malas aku lihatnya" jawab Gathan.


"Masa sih??" Bang Rinto tak menyadari wajahnya yang nampak begitu kesal.


"Iya Bang. Ya sudah mana baju anak-anak??"


"Mintalah sama mamanya. Abang mana tau baju anak di tata sebelah mana, mau pasang warna apa" jawab Bang Rinto yang selalu kena omel Anye kalau salah memasangkan warna pakaian untuk anak-anaknya.


"Oke, aku ke mamanya dulu..!!"


#


Rumah nampak sepi tanpa suara anak-anak. Berhubung rumah sepi, Anye membereskan rumah dengan cepat seolah tak peduli dengan Bang Rinto yang sedari tadi wira-wiri minta perhatian.


"Dek.. perut Abang sakit nih" kata Bang Rinto.


"Abang mau di buatkan jahe hangat? Atau teh?" tanya Anye yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


Tak lama Bang Rinto kembali lagi.


"Dek, punggung Abang sakit"


"Abang tiduran saja di kamar, jangan mondar-mandir" jawab Anye dengan tenang.


Bang Rinto yang kesal segera masuk ke dalam kamar dan membanting dirinya di atas ranjang.


"Masih enak tiga bulan pertama pendidikan bisa curi waktu pulang. Ini sudah tiga bulan nggak pulang, aku di anggurin" gumamnya kesal.


"Jahat kamu dek, anak-anak di bawa pergi, kamu masih saja nggak peduli sama Abang" Bang Rinto bergeser kesana kemari, kepalanya terasa pening, bernafas pun rasanya tidak nyaman. Ia melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul dua belas siang.


...


Bang Rinto baru saja terbangun dari tidurnya dan melihat Anye selesai sholat dhuhur. Karena kesal akhirnya Bang Rinto pun ikut sholat dhuhur.


#


Bang Rinto mengusap wajahnya usai sholat. Anye masih saja duduk memakai mukenanya. Bang Rinto hanya meliriknya sekilas. Anye pun memeluk Bang Rinto dari belakang lalu mencium pipi suaminya.

__ADS_1


"Jangan marah lah Bang" bujuk Anye.


Ciuman sayang dari Anye seketika meluluhkan hati Bang Rinto.


"Terus kenapa kamu nggak peduli sama Abang" tanya Bang Rinto.


"Bukan nggak peduli Bang. Tadi masih pagi, mepet waktu siang.. masih ada anak-anak juga"


"Anak-anak jalan sama omnya"


"Ada Opa sama Omanya disini. Mereka pergi lama. Sampai besok siang. Apa waktu untuk kita berduaan masih kurang?" tanya Anye.


"Anak Abang di bawa pergi lama sekali..!!" ada rasa senang bisa berduaan dengan Anye tapi rasa sepi saat tak melihat anak-anak juga membuatnya sedih.


"Hanya sampai besok siang Bang. Abang khan juga nggak bilang mau datang. Oma Opa mau bawa anak-anak jalan keluar kota" kata Anye.


Bang Rinto menghela nafas.


Andai saja ada putri kecil di sampingku, mungkin saat para jagoanku sedang bermain, aku tak kesepian seperti ini. Entah kenapa aku sangat menginginkan gadis kecil yang bisa kupeluk erat. Tapi semua harus kutelan, aku tidak tega melihat Anye kesakitan lagi saat persalinannya.


Bang Rinto menarik Anye agar bisa tidur di pahanya.


"Ya sudah Abang godain sama momong mamanya aja" Bang Rinto mengecup kening Anye lalu turun ke bibir. Merasa dirinya sudah tergoda, Bang Rinto membuka mukena Anye.


"Mau di sayang aja kok bertele-tele sih ndhuk, kamu ini jangan menguji Abang terus...!!" Bang Rinto mengusap pipi lembut Anye.


Sekali lagi Bang Rinto mengecup bibir Anye. Matanya terpejam dan mulai rileks menyalurkan secercah kerinduan. Semakin lama, Bang Rinto semakin tidak tahan dengan pagutannya apalagi Anye membalasnya penuh rasa sayang. Bang Rinto membuka matanya menatap wajah ayu sang istri.


"Panasin mesin dek??" ajak Bang Rinto dan langsung membawa Anye ke atas ranjang.


"Panas terus Bang" jawab Anye yang sekarang berganti mulai nakal menggoda Bang Rinto.


Bang Rinto tersenyum geli melihat istrinya jadi agresif. Tapi saat Bang menatap Anye.. istrinya itu menghentikan permainannya.


"Kenapa berhenti??" tanya Bang Rinto saat Anye malu-malu padanya.


"Berapa tahun kamu menikah sama Abang? Kamu tau nggak.. suami itu senang sekali kalau istrinya pintar menyenangkan suami. Nggak akan sempat Abang lihat yang lain karena yang di rumah sudah segalanya untuk Abang"


"Benar nih Bang?" tanya Anye.


"Benar lah. Laki itu nggak susah obatnya dek. Penuhi mata, perut dan bawahnya" kata Bang Rinto sambil mencolek hidung Anye.


"Kalau laki sudah kenyang. Jangankan lihat perempuan lain, masuk lokalisasi pun nggak ada artinya. Insya Allah Abang begitu" ucapnya kemudian menyelesaikan rindunya bersama Anye.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2